Warga
Munti
Gunung
Temukan
Sumber
Air kian
Mengering
MASYARAKAT
Munti
Gunung, Kubu
beberapa
bulan
lalu menemukan
sumber
mata air di
Tukad
Papad di
atas
pusat desa.
Mata air
ditemukan sangat
kecil
dan dikhawatirkan
bakal
mengering. Dengan
harapan
mata air itu
membesar,
warga
setempat merencanakan
membangun
Padmasana
di
sana
untuk
tempat sembahyang
dan
mohon tirta.
Hal itu
disampaikan salah
seorang
tokoh pemuda
Munti
Gunung Gede
Agung
Pasrisak Juliawan,
beberapa
waktu
lalu di
desa
setempat.
Agung
menambahkan, pemuda
asal
desa setempat yang
termasuk
sudah
sukses di
perantauan
seperti
bekerja di
kapal
pesiar sudah
ngaturang
dana
punia
ke desa. Dana
punia
itu diharapkan
dipakai
membangun tempat
suci
seperti Padmasana
untuk
tempat persembahyangan
di mata
air Papad
itu.
''Dulu
memang
ada tempat
suci yang
sangat
sederhana dan
telah lama
rusak
lalu roboh,''
kata
Agung yang baru
pulang
dari liburan
kerja
di sebuah
kapal
pesiar di
Eropa
itu.
Ketua
Kelompok
Tani
Bukit Kresek,
Munti
Gunung Jro
Serianti
menambahkan,
mata air
di
Papad itu
dulu
kucuran airnya
sebesar
lengan orang
dewasa.
Namun
tak
dimengerti kenapa
mata air
itu
terus mengecil.
Kini
karena
sangat kecil
satu
hari belum
tentu
mendapatkan satu
ember kecil.
Agung
menduga
mata air tersebut
kurang
diperhatikan warga.
Dulu
saat
ada aci
atau
pujawali di
Pura
Desa Munti
Gunung,
desa langsung
nunas
tirta (air suci)
ke mata
air itu.
Belakangan
nunas
tirta hanya
lewat
ngayeng (simbolis
dari
jarak jauh).
Dikatakan,
selain
mengandalkan satu
cubang (tempat
penampungan air
hujan)
bantuan pemerintah
warga yang
bermukim
terpencar
di
perbukitan tandus
di
bukit Kresek,
Munti
Gunung terpaksa
mencari air
dengan
naik ke
gunung
dan turun
di
Songan.
Namun,
dari
keran umum
di
wilayah Songan,
pasokan
airnya juga
sangat
kecil.
Guna
mendapatkan air
satu ember,
warga
mesti antre
beberapa jam.
Padahal
guna
mencapai lokasi
itu
sudah mesti
berjalan kaki
menaiki
bukit sekitar
empat kilometer.
''Kami
mengandalkan air dari
cubang.
Namun
tiga
bulan setelah
selesai
musim hujan,
kami
sudah mengalami
krisis air
karena
persediaan di
cubang
sudah hampir
habis,''
kata
Jero Serianti.
Sebenarnya
jumlah
cubang milik
pribadi
penduduk cukup
banyak.
Hampir
semua
warga yang mempunyai
sedikit
uang membuat
cubang
untuk menampung air
hujan. Total
cubang
milik penduduk
di
Munti Gunung
mencapai
sekitar 1.000
buah.
Namun
ada
juga yang sudah
rusak,
bocor akibat
pecah
karena tak
tahan
panas matahari yang
menyengat.
Jro
Serianti
berharap
ada
bantuan lebih
banyak
cubang bagi
warganya.
Selama
ini
warga jarang
mandi
karena krisis air.
Meski
begitu,
mereka relatif
tetap
sehat. Air
bersih yang
ada
diirit dan
diprioritaskan
untuk
memasak dan
minum.
Air bekas
mencuci
muka, kerap
ditampung
untuk
minum ternak
sapi.
''Warga
juga sangat
jarang
memelihara ternak
sapi
atau babi,
karena
tak ada air yang
cukup.
Kalau
air sudah
cukup
untuk memelihara
ternak
sapi atau
babi,
tentu keadaan
ekonomi
keluarga masyarakat
kami
lebih baik.
Apalagi
kalau
sampai ada air yang
bisa
dipakai menyiram
atau
irigasi sistem
tetes
tanaman hortikultura
seperti
bawang merah
tentu
masyarakat Munti
Gunung
lebih suka
bercocok
tanam
dibandingkan ke
luar
desa menjadi
peminta-minta,''
kata
warga lainnya.
(bud)