kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 10 Desember 2007

 Desa Pekraman


Warga Munti Gunung Temukan
Sumber
Air kian Mengering

MASYARAKAT Munti Gunung, Kubu beberapa bulan lalu menemukan sumber mata air di Tukad Papad di atas pusat desa. Mata air ditemukan sangat kecil dan dikhawatirkan bakal mengering. Dengan harapan mata air itu membesar, warga setempat merencanakan membangun Padmasana di sana untuk tempat sembahyang dan mohon tirta.

Hal itu disampaikan salah seorang tokoh pemuda Munti Gunung Gede Agung Pasrisak Juliawan, beberapa waktu lalu di desa setempat. Agung menambahkan, pemuda asal desa setempat yang termasuk sudah sukses di perantauan seperti bekerja di kapal pesiar sudah ngaturang dana punia ke desa. Dana punia itu diharapkan dipakai membangun tempat suci seperti Padmasana untuk tempat persembahyangan di mata air Papad itu. ''Dulu memang ada tempat suci yang sangat sederhana dan telah lama rusak lalu roboh,'' kata Agung yang baru pulang dari liburan kerja di sebuah kapal pesiar di Eropa itu.

Ketua Kelompok Tani Bukit Kresek, Munti Gunung Jro Serianti menambahkan, mata air di Papad itu dulu kucuran airnya sebesar lengan orang dewasa. Namun tak dimengerti kenapa mata air itu terus mengecil. Kini karena sangat kecil satu hari belum tentu mendapatkan satu ember kecil.

Agung menduga mata air tersebut kurang diperhatikan warga. Dulu saat ada aci atau pujawali di Pura Desa Munti Gunung, desa langsung nunas tirta (air suci) ke mata air itu. Belakangan nunas tirta hanya lewat ngayeng (simbolis dari jarak jauh).

Dikatakan, selain mengandalkan satu cubang (tempat penampungan air hujan) bantuan pemerintah warga yang bermukim terpencar di perbukitan tandus di bukit Kresek, Munti Gunung terpaksa mencari air dengan naik ke gunung dan turun di Songan. Namun, dari keran umum di wilayah Songan, pasokan airnya juga sangat kecil. Guna mendapatkan air satu ember, warga mesti antre beberapa jam. Padahal guna mencapai lokasi itu sudah mesti berjalan kaki menaiki bukit sekitar empat kilometer.

''Kami mengandalkan air dari cubang. Namun tiga bulan setelah selesai musim hujan, kami sudah mengalami krisis air karena persediaan di cubang sudah hampir habis,'' kata Jero Serianti.

Sebenarnya jumlah cubang milik pribadi penduduk cukup banyak. Hampir semua warga yang mempunyai sedikit uang membuat cubang untuk menampung air hujan. Total cubang milik penduduk di Munti Gunung mencapai sekitar 1.000 buah. Namun ada juga yang sudah rusak, bocor akibat pecah karena tak tahan panas matahari yang menyengat.

Jro Serianti berharap ada bantuan lebih banyak cubang bagi warganya. Selama ini warga jarang mandi karena krisis air. Meski begitu, mereka relatif tetap sehat. Air bersih yang ada diirit dan diprioritaskan untuk memasak dan minum. Air bekas mencuci muka, kerap ditampung untuk minum ternak sapi.

''Warga juga sangat jarang memelihara ternak sapi atau babi, karena tak ada air yang cukup. Kalau air sudah cukup untuk memelihara ternak sapi atau babi, tentu keadaan ekonomi keluarga masyarakat kami lebih baik. Apalagi kalau sampai ada air yang bisa dipakai menyiram atau irigasi sistem tetes tanaman hortikultura seperti bawang merah tentu masyarakat Munti Gunung lebih suka bercocok tanam dibandingkan ke luar desa menjadi peminta-minta,'' kata warga lainnya. (bud)

                                                                                                                           

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)