Desa
Pakraman
Munti
Gunung--
Krisis
Air, Banyak
Warga
Menggepeng
Siapa
yang tak
tahu
Desa Munti
Gunung,
Perbekelan Tianyar
Barat,
Kubu, Karangasem.
Desa
berbatasan
dengan
Songan, Kintamani
di
barat dan
Tejakula
di
utara ini
selain
terkenal tandus,
dikenal
juga ada
ratusan
warganya suka
menjadi
gelandangan dan
pengemis (gepeng).
Gepeng yang
umumnya
ibu rumah
tangga
mengajak anak-anaknya
meminta-minta
hampir
di tiap
persimpangan
jalan
di
kota
besar
seperti Denpasar,
Kuta,
Klungkung dan
Gianyar.
Seperti
apakah
potret Desa
Pekraman
Munti
Gunung? Apakah
kini
sudah berubah
atau
sama
seperti yang
dulu?
=============
Gepeng
yang berkeliaran
ini
sering diciduk
dan
dikembalikan Satpol
PP atau
dinas
trantib
kabupaten/kota ke
pihak
Kantor Sosial
Karangasem,
karena
aktivitasnya sering
mengganggu
warga.
Namun setelah
dikembalikan
pihak
kantor
sosial
ke desa
seperti
di Munti
Gunung,
mereka turun
gunung
lagi menggepeng.
Pemerintah
pun pusing
mengurusi
mereka.
Dari data jumlah
gepeng yang
dikembalikan
dari
kabupaten/kota lain,
tiap
tahun cenderung
meningkat.
Gubernur Bali
Dewa Made
Beratha
saat kunjungan
kerja
akhir tahun
beberapa
waktu
lalu di
depan
ratusan
warga Munti
Gunung
minta warga
setempat yang
masih
suka menggepeng
menghentikan
kebiasaannya
itu.
Soalnya,
meminta-minta
merupakan
pekerjaan
hina
dan karenanya
bisa
menjatuhkan harga
diri.
''Cuma
orang yang tak
memiliki
rasa
malu atau
harga
dirinya rendah yang
mau
menggepeng, tanpa
bekerja
tetapi berharap
orang lain
mengasihaninya.
Di
desa-desa lain
di
Karangasem atau
di NTT
kondisinya jauh
lebih
buruk dan
lebih
miskin dibandingkan
di
Munti Gunung,
tetapi
mereka tak
mau
cuma meminta-minta
karena
mereka mempertahankan
harga
diri,'' ujar
Gubernur.
Gubernur
mengaku
menyayangkan beberapa
ibu yang
mengajak
anak-anaknya
menggepeng
di
persimpangan jalan
tak mau
menyerahkan
anaknya
untuk dipungut
menjadi
anak angkat
dan
disekolahkan Gubernur.
Di lain
pihak Dewa
Beratha
mengaku terkejut,
karena
ternyata kini
sudah
banyak warga
Munti
Gunung yang menamatkan
pendidikan
tinggi,
bahkan
dua
orang sudah
menyandang
gelar S2
dan
beberapa lagi
tengah
menempuh pendidikan
S2. Lulusan
S1 juga
ada, dan
belasan
orang tengah
kuliah. ''Pada
akhirnya,
Munti
Gunung juga
akan
maju.
Karena
itu,
malu kalau
masih
banyak ada
warganya yang
melakoni
kehidupan
sebagai
gepeng,'' ujar
Gubernur.
Penggepeng
Ketua
Kelompok
Tani
Bukit Kresek
Jro
Serianti dan
seorang
tokoh pemuda
Desa
Munti Gunung
Gede
Agung Pasrisak
Juliawan
beberapa
waktu
lalu di
desa
setempat membantah
warga
di Munti
Gunung
masih banyak
menggepeng.
Penggepeng
asli
warga Munti
Gunung
diduga tinggal
sekitar 30 KK.
Mereka
menggepeng
karena
tuntutan agar bisa
bertahan
hidup,
karena miskin
akibat
faktor alam
di mana
musim
kemarau sangat
panjang.
Umumnya,
kata
Jro Serianti,
hujan
baru turun
akhir
Desember atau
pertengahan
Januari.
Padahal
di luar
desa,
hujan sudah
turun
beberapa bulan
dan
mereka sudah
bisa
bercocok tanam.
Sementara
warga
Munti Gunung
masih
menunggu musim
hujan
untuk bercocok
tanam.
Itu
pun cuma
bisa
menanam jagung
atau
palawija untuk
bahan
makanan hidup
setahun.
Itu
kalau tak
gagal
panen, tetapi
kalau
nasib apes ibu
rumah
tangga terpaksa
ada yang
turun
gunung meminta-minta
agar bisa
menghidupi
keluarganya.
Dikatakan
Serianti,
tak
semua penggepeng yang
diciduk
selama ini
merupakan
warga
Munti Gunung.
Mereka
diduga
cuma mengaku-ngaku
dari
Munti Gunung,
padahal
mereka bisa
saja
berasal dari
desa
perbukitan tandus
di desa
sebelah
wilayah Bangli.
Namun
mereka
saat hendak
turun
menggepeng melewati
wilayah
Desa Munti
Gunung.
Namun,
ketika saat
diciduk
dan dikembalikan
aparat
pemkab/pemkot lain mengaku
dari
Munti Gunung,
sehingga
dikembalikan
ke
Munti Gunung.
''Warga
Munti Gunung yang
menggepeng
tinggal
beberapa orang.
Ciri
khas
mereka meminta-minta
tok,
tanpa membawa
barang
atau hasil
pertanian
untuk
dibarter atau
ditukar.
Soalnya,
penggepeng
asal
Munti Gunung
memang
miskin.
Mereka
tak
memiliki apa-apa,''
kata
Serianti.
Di
lain pihak
tokoh
masyarakat Munti
Gunung Made
Regeg,
S.Pd.,
M.Si.
dan
Gede
Putu Dana, A.Ma.Pd.
mengatakan,
tokoh
warga tak
bisa
serta merta
menghapus
warga
setempat yang masih
melakoni
sebagai
penggepeng.
Namun,
kata
Putu Dana yang juga
Perbekel
Desa
Tianyar Barat
asal
Munti Gunung,
penggepeng
diupayakan
pelan-pelan
dihapus
lewat jalur
pendidikan.
Di
mana,
kini anak-anak
Munti
Gunung diupayakan
lebih
banyak mau
bersekolah.
Soalnya,
kalau
penggepeng mau
dihapus
seketika itu
seperti
melawan
api.
Made Regeg
beberapa
waktu
lalu di
Munti
Gunung mengatakan
tak ada
kepercayaan
tertentu
di desa
itu agar
ada
warganya yang terus
menggepeng.
Sementara
berdasarkan
catatan
dari Kantor
Sosial
Karangasem yang dilaprokan
dalam
Buku Saku
Kunjungan
Kerja
Gubernur Bali bulan
lalu,
jumlah penggepeng
yang dipulangkan
ke
Munti Gunung
sampai
Oktober mencapai 960
orang. Dari data
tersebut
rerjadi
peningkatan jumlah
penggepeng,
di mana
tahun 2003
tercatat
gepeng yang
dipulangkan
ke desa
itu 962
orang, tahun 2004,
2005 dan 2006
berturut-turut 697
orang, 967
orang
dan 1.170 orang.
·
gde
budana