kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 10 Desember 2007

 Desa Pekraman


Desa
Pakraman Munti Gunung--
Krisis
Air, Banyak Warga Menggepeng

Siapa yang tak tahu Desa Munti Gunung, Perbekelan Tianyar Barat, Kubu, Karangasem. Desa berbatasan dengan Songan, Kintamani di barat dan Tejakula di utara ini selain terkenal tandus, dikenal juga ada ratusan warganya suka menjadi gelandangan dan pengemis (gepeng). Gepeng yang umumnya ibu rumah tangga mengajak anak-anaknya meminta-minta hampir di tiap persimpangan jalan di kota besar seperti Denpasar, Kuta, Klungkung dan Gianyar. Seperti apakah potret Desa Pekraman Munti Gunung? Apakah kini sudah berubah atau sama seperti yang dulu?

=============

 

Gepeng yang berkeliaran ini sering diciduk dan dikembalikan Satpol PP atau dinas trantib kabupaten/kota ke pihak Kantor Sosial Karangasem, karena aktivitasnya sering mengganggu warga. Namun setelah dikembalikan pihak kantor sosial ke desa seperti di Munti Gunung, mereka turun gunung lagi menggepeng. Pemerintah pun pusing mengurusi mereka.

Dari data jumlah gepeng yang dikembalikan dari kabupaten/kota lain, tiap tahun cenderung meningkat. Gubernur Bali Dewa Made Beratha saat kunjungan kerja akhir tahun beberapa waktu lalu di depan ratusan warga Munti Gunung minta warga setempat yang masih suka menggepeng menghentikan kebiasaannya itu. Soalnya, meminta-minta merupakan pekerjaan hina dan karenanya bisa menjatuhkan harga diri.

''Cuma orang yang tak memiliki rasa malu atau harga dirinya rendah yang mau menggepeng, tanpa bekerja tetapi berharap orang lain mengasihaninya. Di desa-desa lain di Karangasem atau di NTT kondisinya jauh lebih buruk dan lebih miskin dibandingkan di Munti Gunung, tetapi mereka tak mau cuma meminta-minta karena mereka mempertahankan harga diri,'' ujar Gubernur.

Gubernur mengaku menyayangkan beberapa ibu yang mengajak anak-anaknya menggepeng di persimpangan jalan tak mau menyerahkan anaknya untuk dipungut menjadi anak angkat dan disekolahkan Gubernur. Di lain pihak Dewa Beratha mengaku terkejut, karena ternyata kini sudah banyak warga Munti Gunung yang menamatkan pendidikan tinggi, bahkan dua orang sudah menyandang gelar S2 dan beberapa lagi tengah menempuh pendidikan S2. Lulusan S1 juga ada, dan belasan orang tengah kuliah. ''Pada akhirnya, Munti Gunung juga akan maju. Karena itu, malu kalau masih banyak ada warganya yang melakoni kehidupan sebagai gepeng,'' ujar Gubernur.

 

Penggepeng

Ketua Kelompok Tani Bukit Kresek Jro Serianti dan seorang tokoh pemuda Desa Munti Gunung Gede Agung Pasrisak Juliawan beberapa waktu lalu di desa setempat membantah warga di Munti Gunung masih banyak menggepeng. Penggepeng asli warga Munti Gunung diduga tinggal sekitar 30 KK. Mereka menggepeng karena tuntutan agar bisa bertahan hidup, karena miskin akibat faktor alam di mana musim kemarau sangat panjang.

Umumnya, kata Jro Serianti, hujan baru turun akhir Desember atau pertengahan Januari. Padahal di luar desa, hujan sudah turun beberapa bulan dan mereka sudah bisa bercocok tanam. Sementara warga Munti Gunung masih menunggu musim hujan untuk bercocok tanam. Itu pun cuma bisa menanam jagung atau palawija untuk bahan makanan hidup setahun. Itu kalau tak gagal panen, tetapi kalau nasib apes ibu rumah tangga terpaksa ada yang turun gunung meminta-minta agar bisa menghidupi keluarganya

Dikatakan Serianti, tak semua penggepeng yang diciduk selama ini merupakan warga Munti Gunung. Mereka diduga cuma mengaku-ngaku dari Munti Gunung, padahal mereka bisa saja berasal dari desa perbukitan tandus di desa sebelah wilayah Bangli. Namun mereka saat hendak turun menggepeng melewati wilayah Desa Munti Gunung. Namun, ketika saat diciduk dan dikembalikan aparat pemkab/pemkot lain mengaku dari Munti Gunung, sehingga dikembalikan ke Munti Gunung.

''Warga Munti Gunung yang menggepeng tinggal beberapa orang. Ciri khas mereka meminta-minta tok, tanpa membawa barang atau hasil pertanian untuk dibarter atau ditukar. Soalnya, penggepeng asal Munti Gunung memang miskin. Mereka tak memiliki apa-apa,'' kata Serianti.

Di lain pihak tokoh masyarakat Munti Gunung Made Regeg, S.Pd., M.Si. dan Gede Putu Dana, A.Ma.Pd. mengatakan, tokoh warga tak bisa serta merta menghapus warga setempat yang masih melakoni sebagai penggepeng. Namun, kata Putu Dana yang juga Perbekel Desa Tianyar Barat asal Munti Gunung, penggepeng diupayakan pelan-pelan dihapus lewat jalur pendidikan. Di mana, kini anak-anak Munti Gunung diupayakan lebih banyak mau bersekolah. Soalnya, kalau penggepeng mau dihapus seketika itu seperti melawan api.

Made Regeg beberapa waktu lalu di Munti Gunung mengatakan tak ada kepercayaan tertentu di desa itu agar ada warganya yang terus menggepeng.

Sementara berdasarkan catatan dari Kantor Sosial Karangasem yang dilaprokan dalam Buku Saku Kunjungan Kerja Gubernur Bali bulan lalu, jumlah penggepeng yang dipulangkan ke Munti Gunung sampai Oktober mencapai 960 orang. Dari data tersebut rerjadi peningkatan jumlah penggepeng, di mana tahun 2003 tercatat gepeng yang dipulangkan ke desa itu 962 orang, tahun 2004, 2005 dan 2006 berturut-turut 697 orang, 967 orang dan 1.170 orang

·         gde budana

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)