Gunarsa
Dorong
Upaya Menduniakan
Nyepi
LANGKAH
kalangan
politisi
maupun
tokoh masyarakat
Bali
menjadikan
hari
raya Nyepi
sebagai
libur dunia,
tak
berhenti sampai
di sini.
Di
tengah
Konferensi PBB mengenai
Perubahan
Iklim (UNCCC)
di Nusa
Dua,
tokoh seniman Bali
Drs. Nyoman
Gunarsa
mendorong delegasi
Indonesia
supaya
terus menggelorakan
semangat
menduniakan
Nyepi.
Menurut
dia,
pelaksanaan UNCCC di
Bali harus
melahirkan
suatu momentum
bermanfaat
bagi
dunia, dan
salah
satu momentum itu
memasyarakatkan
Nyepi
ke seluruh
jagat
raya.
Dengan
adanya Nyepi
di
seluruh dunia,
kata
pelukis kelahiran
Klungkung
tersebut,
jelas
akan
mengurangi gas
emisi yang
selama
ini mengancam
bumi. ''Nyepi
di Bali
harus mampu
memberikan
sesuatu
nilai yang bermanfaat
bagi
dunia.
Hal ini
harus
tetap kita
gelorakan
dalam
konferensi,'' tegas
Gunarsa,
Minggu (9/12)
kemarin.
Dia
menambahkan,
menduniakan
Nyepi
bukan berarti
memaksakan
suatu
ajaran agama kepada
penganut agama
lainnya.
Hal itu
semata-mata
sebagai
suatu upaya
menyelamatkan
umat
manusia dari
pengaruh
buruk
duniawi. ''Yang
kita
tekankan dalam
Nyepi
di dunia
bukan
seremonial atau
tatanan
upacara, tetapi
lebih
pada makna
Nyepi yang
bersifat universal.
Biarkan
dunia
bernapas seharian
saja,''
tegasnya.
Gunarsa
juga
menolak anggapan
kalau
melaksanakan Nyepi
di
seluruh dunia
akan
mendorong
umat lain
membuat
sesajen atau
mabanten.
Sebaliknya,
saat
libur sehari
itu
umat manusia
diam di
rumah,
tidak menghidupkan
mesin
atau mencemari
udara,
sambil merenung.
Selama
ini
memang ada
salah
pengertian di
antara
delegasi
Indonesia
dalam UNCCC
mengenai
makna
Nyepi, sehingga
timbul
kesan saling
serang.
Bahkan
mantan
Menteri Lingkungan
Hidup Emil
Salim
sempat mengatakan,
sebelum
mencetuskan upaya
menduniakan
Nyepi
di UNCCC, perlu
suatu
kajian-kajian lebih
mandalam.
''Sekali
lagi
saya tekankan,
Nyepi
bukan dalam
hal
upacaranya, tetapi
lebih
pada hakikatnya
menekan
emisi gas yang bisa
mencemari
dunia.
Kita
yakinkan
bahwa
negara-negara lain di
dunia
bisa mengambil
makna
dari perayaan
Nyepi
di Bali, itu
saja,''
ucap Gunarsa
berapi-api.
Tak
hanya
pada Nyepi,
tambahnya,
konsep Tri
Hita
Karana pun sesungguhnya
bisa
diperkenalkan di
dunia
internasional, karena
merupakan
salah
satu upaya
menjaga
keharmonisan alam. ''Bila
perlu
Nyepi dan THK
ini
dipatenkan saja,
karena
punya kekhasan yang
tidak
dimiliki bangsa lain.
Dengan
demikian keduanya
punya
sugesti yang bisa
dipahami
dan
dilaksanakan orang
lain,'' tandasnya.
(kmb/*)