kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 10 Desember 2007

 Bali


Gunarsa
Dorong Upaya Menduniakan Nyepi

LANGKAH kalangan politisi maupun tokoh masyarakat Bali menjadikan hari raya Nyepi sebagai libur dunia, tak berhenti sampai di sini. Di tengah Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim (UNCCC) di Nusa Dua, tokoh seniman Bali Drs. Nyoman Gunarsa mendorong delegasi Indonesia supaya terus menggelorakan semangat menduniakan Nyepi.

Menurut dia, pelaksanaan UNCCC di Bali harus melahirkan suatu momentum bermanfaat bagi dunia, dan salah satu momentum itu memasyarakatkan Nyepi ke seluruh jagat raya. Dengan adanya Nyepi di seluruh dunia, kata pelukis kelahiran Klungkung tersebut, jelas akan mengurangi gas emisi yang selama ini mengancam bumi. ''Nyepi di Bali harus mampu memberikan sesuatu nilai yang bermanfaat bagi dunia. Hal ini harus tetap kita gelorakan dalam konferensi,'' tegas Gunarsa, Minggu (9/12) kemarin.

Dia menambahkan, menduniakan Nyepi bukan berarti memaksakan suatu ajaran agama kepada penganut agama lainnya. Hal itu semata-mata sebagai suatu upaya menyelamatkan umat manusia dari pengaruh buruk duniawi. ''Yang kita tekankan dalam Nyepi di dunia bukan seremonial atau tatanan upacara, tetapi lebih pada makna Nyepi yang bersifat universal. Biarkan dunia bernapas seharian saja,'' tegasnya.

Gunarsa juga menolak anggapan kalau melaksanakan Nyepi di seluruh dunia akan mendorong umat lain membuat sesajen atau mabanten. Sebaliknya, saat libur sehari itu umat manusia diam di rumah, tidak menghidupkan mesin atau mencemari udara, sambil merenung. Selama ini memang ada salah pengertian di antara delegasi Indonesia dalam UNCCC mengenai makna Nyepi, sehingga timbul kesan saling serang. Bahkan mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim sempat mengatakan, sebelum mencetuskan upaya menduniakan Nyepi di UNCCC, perlu suatu kajian-kajian lebih mandalam.

''Sekali lagi saya tekankan, Nyepi bukan dalam hal upacaranya, tetapi lebih pada hakikatnya menekan emisi gas yang bisa mencemari dunia. Kita yakinkan bahwa negara-negara lain di dunia bisa mengambil makna dari perayaan Nyepi di Bali, itu saja,'' ucap Gunarsa berapi-api.

Tak hanya pada Nyepi, tambahnya, konsep Tri Hita Karana pun sesungguhnya bisa diperkenalkan di dunia internasional, karena merupakan salah satu upaya menjaga keharmonisan alam. ''Bila perlu Nyepi dan THK ini dipatenkan saja, karena punya kekhasan yang tidak dimiliki bangsa lain. Dengan demikian keduanya punya sugesti yang bisa dipahami dan dilaksanakan orang lain,'' tandasnya. (kmb/*)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)