Pedestrian di
Jalan
Kamboja Jebol
Sebelum
Diserahkan
"Black List" Rekanan yang
Abaikan
Kualitas ---
Denpasar
(Bali Post) -
Sejumlah
proyek
penataan kawasan
perkotaan
di
Denpasar, seperti
pedestrian Jalan
Gajah
Mada, Jalan
Kamboja,
serta
proyek penataan
median jalan
di
beberapa lokasi,
menjadi
perhatian serius
jajaran DPRD
Denpasar.
Pasalnya,
kualitas
proyek yang
digarap
beberapa rekanan
banyak
dikeluhkan masyarakat.
Karena
itu,
muncul harapan agar
Pemkot
Denpasar bisa
mengambil
tindakan
tegas
dengan mem-black-list
rekanan yang
mengabaikan
kualitas
pekerjaan.
Pernyataan
tersebut
disampaikan
Wakil
Ketua DPRD Denpasar I
Ketut
Suwandhi, S.Sos.
yang
ditemui di
Denpasar,
Minggu (9/12)
kemarin.
Ia
mengakui
sejumlah
proyek yang
digarap
rekanan saat
ini
banyak yang tidak
memperhatikan
kualitas.
Disebutkannya,
pedestrian di
Jalan
Kamboja sudah
jebol
sebelum sempat
diserahkan.
''Ini
membuktikan
kualitas
proyek
tidak baik,''
ujarnya.
Seperti
diketahui,
proyek pedestrian
tahap I
Jalan Gajah
Mada yang
digarap PT
Adi
Luhung Abadi
juga
mengalami keterlambatan
penyelesaian
dari
jadwal yang telah
ditetapkan
pada
surat
perjanjian
kerja.
Hal serupa
juga
terjadi pada
proyek pedestrian
di
Jalan Kamboja,
Denpasar.
Proyek
yang digarap CV
Wira
Karya Sari juga
molor
dari waktu yang
ditentukan.
Selain
itu,
pimpro pedestrian Jalan
Kamboja Ir.
Putu
Sukardja terpaksa
mengganti
buruh
proyek agar kualitasnya
bisa
terjaga.
Pihaknya
berharap
Pemkot
Denpasar bisa
menjatuhkan
sanksi
terhadap rekanan yang
mengabaikan
kualitas.
Paling tidak,
kata
dia, rekanan yang
sering
pekerjaannya dikeluhkan
masyarakat agar
di-black-list
saja.
Masalahnya,
pengenaan
penalti
tidak cukup
untuk
memperbaiki kinerja
para
rekanan, sehingga
berbuntut
pada
kualitas pekerjaan.
Hal sama
disampaikan
Fraksi
Demokrat DPRD Denpasar.
Melalui
juru bicaranya
Nyoman
Sukadana, S.H., fraksi
ini
memberikan saran kepada
Dinas
Tata Kota dan
Bangunan
Denpasar
untuk
lebih memperhatikan
aspek
keseriusan dan
ketepatan
manfaat
bagi warga
kota.
Masalahnya,
fraksi
ini melihat
kualitas
pekerjaan
beberapa
rekanan
tidak memberikan
kepuasan
kepada
masyarakat.
Ketua
Fraksi
Golkar A.A. Ngurah
Gede
Widiada menilai
pengawasan
terhadap
pelaksanaan
proyek
di Denpasar
harus
diefektifkan.
Pihaknya
khawatir
bila
pengawasan dilakukan
tidak
maksimal,
akan
berdampak
pada
kualitas proyek.
Akibat
dari
semua itu,
tujuan
penataan kawasan
tidak
tercapai.
''Di
sinilah
perlunya pengawas
pembangunan Kota
Denpasar
bekerja
ekstra untuk
melakukan
pemantauan
setiap
saat,'' katanya.
Di
sisi
lain, juru
bicara
Fraksi Amanat
Bangkit
Sejahtera (ABS) Halawani
Al Ghofiri
meminta
eksekutif selalu
mengadakan
koordinasi
dalam
mengerjakan proyek,
seperti pedestrian
di
Jalan Kamboja
dan
lainnya.
Halawani
mengingatkan
pentingnya
koordinasi
dengan PLN,
Telkom,
serta PDAM dalam
menggarap
penataan
kawasan,
terutama
di
badan jalan.
Mengingat,
beberapa
instansi
tersebut
sering kali
melakukan
galian
untuk pemasangan
instalasi
masing-masing
bidang
kerjanya. (kmb12)