kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 10 Desember 2007

 Bali


Gara-gara Bambu ''Sungge Koling''---
Warga
Desa Adat Bangklet Memanas

Bangli (Bali Post) -
Gara-gara
pemasangan bambu sungge koling (salah satu sarana upacara pecaruan) memohon keselamatan masyarakat, membuat warga Desa Adat Bangklet Desa Kayubihi panas. Masyarakat Bangklet tidak terima lantaran sarana dipasang warga Kayang berada di wewidangan Bangklet. Jajaran Polres Bangli dipimpin langsung Kapolres Bangli AKBP Drs. Onto Cahyono dan Camat Bangli langsung bergerak menuju TKP menghindari terjadinya kejadian yang tak diinginkan.

Suasana panas atas pemasangan itu sudah berlangsung sejak pukul 16.00 wita. Masyarakat Bangklet mulai bergerombol dan tak terima. Setelah polisi turun dan terjadi debat kusir akhirnya warga mau membubarkan diri Minggu (9/12) kemarin, sekitar pukul 01.00 wita. Sarana upacara sungge koling juga dicabut dari lokasinya dipasang.

Informasi di TKP Minggu kemarin, kejadian ini meletus lantaran ketersinggungan warga atas pemasangan sungge koling di dalam wilayah desa adat Bangklet oleh oknum masyarakat Kayang tanpa izin. Kedua desa adat ini masih berseteru lantaran 20 KK warga Tempek Kaja Desa Adat Bangklet bergabung ke Kayang. Sehingga tidak ikut ngempon Pura Puseh, Bale Agung dan Dalem yang berada di wewidangan Desa Adat Bangklet. Sementara 4 KK Tempek Kaja memilih bergabung ke Bangklet dan mengikuti segala aturan di desa adat itu. Perseteruan tersebut sempat meletus beberapa tahun lalu. Ketika ada di antara 20 KK ini meninggal, namun berhasil diredam.

Pascakejadian itu sempat disikapi dalam paruman adat Bangklet. Dalam pertemuan itu warga tetap bersikukuh apabila 20 KK itu tak ikuti aturan adat yang ada di Bangklet maka diberikan sanksi. Jika meninggal dunia tak diberikan fasilitas setra (kuburan). Ternyata 20 KK warga Bangklet itu tetap memilih bergabung ke Kayang.

Bendesa adat Bangklet I Ketut Santika mengakui kejadian yang nyaris meletus menjadi bentrokan itu. Warganya sudah mulai bergerombol tak terima atas pemasangan sarana upakara yadnya itu sejak pukul 16.00 wita. Setelah sejumlah petugas meliputi Kapolres Bangli, camat, majelis alit turun menengahi masalah ini, meminta agar permasalahan ini diselesaikan secara baik akhirnya warga mau menurut. Itu pun dengan catatan agar sungge koling yang terbuat dari bambu itu dicabut.  Suasana baru reda pukul 01.00 wita kemarin.

Dijelaskan, Desa adat Bangklet sejatinya sudah mandiri menjadi desa adat sendiri. Terdiri dari dua tempek meliputi Kaja dan Kelod. Kemelut rumah tangga mulai meletus sekitar tahun 2004. Dari 24 KK warga Tempek Kaja, 20 orang memilih bergabung ke Kayang dan 4 KK ke Bangklet. Padahal dalam peta wilayah Desa Adat 20 KK ini tinggal di Bangklet. Persoalan itu telah berlangsung sejak tahun 2004, namun belum terselesaikan hingga saat ini. Kasusnya sempat diajukan ke Pemkab Bangli, ternyata mentok sampai kini.

Kami sudah berusaha mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan itu. Namun menemui kebuntuan. Terkesan Pemkab Bangli tak serius mengurusnya. 20 KK ini, sepihak pindah ke Kayang dengan adat dan dinasnya. Meski mereka menyatakan diri ke Kayang kami tak pernah melepas. Secara dinas dia diakui oleh kecamatan. Padahal status dinas masih ada di Bangklet, ujarnya.

Kades Kayubihi I Wayan Suganda mengakui kejadian itu. Pemicunya, warga Bangklet tak terima pemasangan sungge koling terkait upacara pecaruan agung di Kayang (Minggu, 9/12), lantaran ada warga Kayang bertempat tinggal di sana. Setelah terjadi rembug kedua belah pihak, akhirnya sarana upacara itu dicabut. (kmb17)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)