Ekonomi
Membaik,
Kualitas
Hidup
Masyarakat
Gianyar
Turun
Gianyar
(Bali Post) -
Data statistik
tentang
perekonomian dan
Pembangunan
Kabupaten
Gianyar
dari tahun
ke
tahun memang
tak
bisa dipungkiri
bahwa
menunjukkan perkembangan.
Anehnya,
realita
di tengah
masyarakat
justru
memperlihatkan terjadinya
penurunan
kualitas
hidup yang
signifikan.
Wakil
Ketua
Perhimpunan Hotel dan
Restoran Indonesia (PHRI)
Kabupaten
Gianyar,
Tjokorda
Anom,
menyebutkan hal
ini
membuktikan terjadinya
kesalahan
konsep
dalam pembangunan.
''Dalam
ilmu
ekonomi, kejadian
semacam
ini disebut
sebagai
penanaman modal semu,
yang esensinya
merupakan
tujuh
dosa dalam
pembangunan,''
jelas
Tjok Anom
tentang
evaluasi pembangunan
di
Gianyar, kemarin.
Yang lebih
penting
dalam pembangunan
adalah
dampaknya terhadap
kesejahteraan
masyarakat,
baik
itu dalam
bidang
lapangan kerja,
pendidikan,
kesehatan,
dan
sebagainya.
Kalau yang
terjadi
justru sebaliknya,
yakni
penurunan kualitas
hidup
masyarakat, maka
dampaknya
bisa fatal
bagi
kelangsungan pembangunan
ke
depan. Masyarakat
miskin
akan
tetap
miskin atau
bahkan
bertambah miskin,
sedangkan yang
kaya
justru makin
kaya
karena terjadi
penumpukan
aset
pada kelompok
tertentu.
Dikatakan,
dari
penelusuran di
hampir
seluruh Kabupaten
Gianyar
memperlihatkan adanya
peningkatan
jumlah
penduduk miskin,
bertambahnya
pengangguran
dan UKM yang
gulung
tikar.
Hal ini
terbukti
dengan
kondisi sarana
dan
prasarana publik
di
daerah yang cukup
memprihatinkan. ''Kalau
memang
demikian, ke
mana
larinya ekonomi yang
katanya
mengalami pertumbuhan
itu,''
tanya I Made
Rajeg,
seorang petani
di
daerah Payangan.
Rajeg
mengaku
makin sulit
memenuhi
kebutuhan
hidup
sehari-harinya.
''Kalau
dulu
masih bisa
membiayai
sekolah
anak pertama
saya
sampai SMP.
Sekarang
saya
kesulitan membiayai
adiknya yang
baru
duduk di
bangku SD,''
katanya.
Menurut
Tjok
Anom,
apa yang dialami
oleh I Made
Rajeg
tersebut juga
banyak
menimpa masyarakat
Gianyar
lainnya.
Selama
hampir
setahun melakukan
kunjungan
ke
berbagai daerah yang
dijumpai
hanya
keluhan masyarakat
tentang
penurunan kualitas
hidup.
Menurut
saya,
kondisi ini
terjadi
karena pembangunan
yang selama
ini
diterapkan oleh
Pemkab
Gianyar cenderung
bersifat top down planning.
Masyarakat
hanya
dijadikan objek.
Sehingga
partisipasi
masyarakat
baik
dalam perencanaan
pembangunan,
pelaksanaan
maupun
monitoringnya sangat
rendah.
Ini
harus
diubah. (dar/*)