kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 10 Desember 2007

 Bali


ASI Tercemar Pestisida --

Pertanian
Ramah Lingkungan harus Diusung

 Ada fakta mengejutkan yang dilontarkan Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S. pada acara rembug publik di Wantilan DPRD Bali, Sabtu (8/12) lalu. Konon, air susu ibu (ASI) di seluruh dunia sudah tercemar pestisida lantaran mengonsumsi produk pertanian yang tidak ramah lingkungan. Ditegaskan, seorang ibu akan memberikan 20% racun kepada anaknya pada saat disusui maupun masih dalam kandungan. Betapa mengerikan!

-------------

 

"BISA kita bayangkan apa yang akan terjadi jika kondisi ini terus berlanjut. Makanya, pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan harus tetap diusung. Hanya dengan sistem pertanian yang ramah lingkungan tanpa pestisida dan pupuk buatan itu yang bisa mengembalikan rantai kehidupan di bumi ini," katanya.

Kartini mengingatkan, umat manusia di seluruh dunia tidak bisa makan tanpa pertanian. Ironisnya, sektor pertanian terkesan dimarginalkan. Saat ini, kata dia, kondisi petani benar-benar sekarat karena air di muka bumi sudah hampir habis sehingga lahan pertanian mereka terancam. Krisis air ini merupakan konsekuensi logis dari tindak perusakan lingkungan yang terus berlangsung.

"Lingkungan itu harus diposisikan nomor satu, bukan nomor yang terakhir. Semuanya harus berpikir tentang lingkungan. Selama ini yang dipikirkan hanya uang, ekonomi, sehingga semuanya dieksploitasi. Gunung, laut, sungai, danau dan semua sumber-sumber kehidupan sudah mau dihabiskan. Kondisi ini jelas tidak boleh dibiarkan terus berlanjut," tegasnya.

Keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan yang makin parah juga dilontarkan Bhagawan Dwija. Ditegaskannya, segenap komponen masyarakat dunia harus melakukan aksi nyata untuk menyelamatkan kehidupan di planet bumi ini. Untuk lingkup lokal Bali, misalnya, Bhagawan Dwija menyerukan agar masyarakat Bali berhenti menjual tanah pertanian mereka kepada investor. Pasalnya, para investor itu jelas akan "menyulap" lahan pertanian yang sejatinya merupakan "paru-paru" bumi dalam sekejap mata menjadi kawasan yang peruntukannya tidak lagi untuk kepentingan agraris.

Sebaliknya, mereka punya kecenderungan untuk membangun pabrik-pabrik maupun usaha-usaha lainnya yang justru memperparah kerusakan lingkungan. "Masyarakat Bali, berhentilah menjual tanah kepada investor yang tidak ramah lingkungan. Ingat, leluhur kita mewariskan tanah pertanian itu kepada kita untuk kita jaga dan rawat dengan baik guna melangsungkan kehidupan kita. Ingat menjual tanah warisan leluhur itu dosa, apalagi jika dijual kepada investor perusak lingkungan," katanya mengingatkan. (ian)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)