ASI Tercemar
Pestisida --
Pertanian
Ramah Lingkungan
harus
Diusung
Ada
fakta
mengejutkan yang dilontarkan
Dr. Ir. Ni Luh
Kartini, M.S.
pada
acara rembug
publik
di Wantilan DPRD
Bali, Sabtu (8/12)
lalu.
Konon, air
susu
ibu (ASI)
di
seluruh dunia
sudah
tercemar pestisida
lantaran
mengonsumsi
produk
pertanian yang tidak
ramah
lingkungan. Ditegaskan,
seorang
ibu akan
memberikan 20%
racun
kepada anaknya
pada
saat disusui
maupun
masih dalam
kandungan.
Betapa
mengerikan!
-------------
"BISA
kita
bayangkan apa yang
akan
terjadi jika
kondisi
ini terus
berlanjut.
Makanya,
pertanian
ramah
lingkungan yang
berkelanjutan harus
tetap
diusung.
Hanya
dengan
sistem pertanian yang
ramah
lingkungan tanpa
pestisida
dan
pupuk buatan
itu yang
bisa
mengembalikan rantai
kehidupan
di bumi
ini,"
katanya.
Kartini
mengingatkan,
umat
manusia di
seluruh
dunia tidak
bisa
makan tanpa
pertanian.
Ironisnya,
sektor
pertanian terkesan
dimarginalkan.
Saat
ini,
kata dia,
kondisi
petani benar-benar
sekarat
karena air di
muka
bumi sudah
hampir
habis sehingga
lahan
pertanian mereka
terancam.
Krisis air
ini
merupakan konsekuensi
logis
dari tindak
perusakan
lingkungan yang
terus
berlangsung.
"Lingkungan
itu
harus diposisikan
nomor
satu, bukan
nomor yang
terakhir.
Semuanya
harus
berpikir tentang
lingkungan.
Selama
ini yang
dipikirkan
hanya
uang, ekonomi,
sehingga
semuanya
dieksploitasi.
Gunung,
laut,
sungai, danau
dan
semua sumber-sumber
kehidupan
sudah
mau dihabiskan.
Kondisi
ini
jelas tidak
boleh
dibiarkan terus
berlanjut,"
tegasnya.
Keprihatinan
terhadap
kerusakan
lingkungan yang
makin
parah juga
dilontarkan
Bhagawan
Dwija.
Ditegaskannya,
segenap
komponen masyarakat
dunia
harus melakukan
aksi
nyata untuk
menyelamatkan
kehidupan
di planet
bumi
ini.
Untuk
lingkup
lokal
Bali,
misalnya,
Bhagawan
Dwija
menyerukan agar masyarakat
Bali berhenti
menjual
tanah pertanian
mereka
kepada investor.
Pasalnya,
para investor
itu
jelas akan "menyulap"
lahan
pertanian yang sejatinya
merupakan "paru-paru"
bumi
dalam sekejap
mata
menjadi kawasan yang
peruntukannya
tidak
lagi untuk
kepentingan
agraris.
Sebaliknya,
mereka
punya kecenderungan
untuk
membangun pabrik-pabrik
maupun
usaha-usaha lainnya
yang justru
memperparah
kerusakan
lingkungan.
"Masyarakat Bali,
berhentilah
menjual
tanah kepada investor
yang tidak
ramah
lingkungan.
Ingat,
leluhur
kita mewariskan
tanah
pertanian itu
kepada
kita untuk
kita
jaga dan
rawat
dengan baik
guna
melangsungkan kehidupan
kita.
Ingat
menjual
tanah warisan
leluhur
itu dosa,
apalagi
jika dijual
kepada investor
perusak
lingkungan," katanya
mengingatkan.
(ian)