Jro
Gede
Karang
Panen
Padi
Organik
di Wangaya
Betan
Tabanan,
(Bali Post) -
Direktur
Eksekutif
Lembaga
Pemberdayaan Masyarakat
(LPM) Bali Pulina
Jro
Gede Karang
Tangkid
Suarshana panen
padi
organik menandai
dimulainya
musim
panen terakhir
tahun
ini di
Subak
Wangaya Betan,
Tabanan,
Jumat (8/12).
Krama
Subak dengan
lahan
pertanian seluas 210
hektar
ini merupakan
salah
satu binaan LPM Bali
Pulina
dan PT Desa Bali yang
telah
menerapkan konsep
pertanian
organik
dan sedang
mengalami
pembaruan
manajemen.
Jro
Gede
Karang mengemukakan
bahwa
pembaruan manajemen
dan
penerapan pertanian
organik yang
ditujukan
untuk
memberi nilai
tambah
pada produksi
dan
pendapatan, dilakukan
secara
bertahap melalui
perubahan
sikap
dan perilaku,
konsolidasi
tanah
garapan, efisiensi
dan
diversifikasi.
Dikatakan,
untuk
mencapai pendapatan
optimal seorang
petani
menggarap 1 ha lahan,
dan
kelebihan tenaga
bekerja
dalam peternakan,
pemrosesan
pupuk
dan pestisida
organik
serta pascaproduksi.
Petani
menjadi
pemegang saham
sekaligus
pekerja
pertanian dan
peternakan
di PT
Subak Wangaya
Betan,
dan secara
bersama
mengoptimalkan produktivitas
secara
keseluruhan.
Dalam
periode
masa tanam
ini,
katanya, semua
dapat
mencapai sasaran.
''Dengan
hasil 7-8 ton/ha,
dengan
biaya produksi yang
lebih
rendah, petani
mulai
memetik manfaat
dari
pendampingan kita,''
ungkap
anak petani yang
juga
Wakil Ketua HKTI Bali
ini.
Mulanya
petani
enggan menggunakan
pupuk
kandang karena
dipandang
rumit,
susah
dan
kotor proses
produksinya.
Demikian pula
pembuatan ''pestisida''
yang berbahan
baku
urine sapi
dan
dedaunan yang memiliki
sifat
pestisida.
Namun
setelah
berkali-kali dicoba
dan
hasilnya baik,
mereka
dengan sukacita
menerapkannya.
Apalagi
bahan
baku
cukup
tersedia, mereka
tidak
lagi tergantung
pengadaan
pupuk
dan pestisida
kimiawi yang
sering
langka dan
mahal
di pasaran.
''Kita memang
harus
presisten, sabar
dan
banyak memberi
contoh.
Kita harus
maklumi
bahwa mengubah
sikap
dan perilaku
untuk
mendukung proses
ini
memerlukan waktu.
Saya
kira
ini bagian
dari social-workership
juga,''
ungkapnya.
Sementara
itu,
Klian Subak
Paselatan Made
Suaba
mengatakan bahwa
meski
terserang
hama
tikus,
hasil produksi
tetap
lebih baik
daripada
sebelumnya. ''Kami
telah
yakin, konsep
Jro
Gede Karang
dapat
meningkatkan produksi,
dan
kami mantap
melebur
lahan kami
untuk
dikelola bersama
dalam PT
milik
kami bersama,''
katanya
mantap (r/*)