kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 10 Desember 2007

 Bali


Jro
Gede Karang Panen
Padi
Organik di Wangaya Betan

Tabanan, (Bali Post) -
Direktur
Eksekutif Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Bali Pulina Jro Gede Karang Tangkid Suarshana panen padi organik menandai dimulainya musim panen terakhir tahun ini di Subak Wangaya Betan, Tabanan, Jumat (8/12). Krama Subak dengan lahan pertanian seluas 210 hektar ini merupakan salah satu binaan LPM Bali Pulina dan PT Desa Bali yang telah menerapkan konsep pertanian organik dan sedang mengalami pembaruan manajemen.

Jro Gede Karang mengemukakan bahwa pembaruan manajemen dan penerapan pertanian organik yang ditujukan untuk memberi nilai tambah pada produksi dan pendapatan, dilakukan secara bertahap melalui perubahan sikap dan perilaku, konsolidasi tanah garapan, efisiensi dan diversifikasi.

Dikatakan, untuk mencapai pendapatan optimal seorang petani menggarap 1 ha lahan, dan kelebihan tenaga bekerja dalam peternakan, pemrosesan pupuk dan pestisida organik serta pascaproduksi. Petani menjadi pemegang saham sekaligus pekerja pertanian dan peternakan di PT Subak Wangaya Betan, dan secara bersama mengoptimalkan produktivitas secara keseluruhan.

Dalam periode masa tanam ini, katanya, semua dapat mencapai sasaran. ''Dengan hasil 7-8 ton/ha, dengan biaya produksi yang lebih rendah, petani mulai memetik manfaat dari pendampingan kita,'' ungkap anak petani yang juga Wakil Ketua HKTI Bali ini.

Mulanya petani enggan menggunakan pupuk kandang karena dipandang rumit, susah dan kotor proses produksinya. Demikian pula pembuatan ''pestisida'' yang berbahan baku urine sapi dan dedaunan yang memiliki sifat pestisida. Namun setelah berkali-kali dicoba dan hasilnya baik, mereka dengan sukacita menerapkannya. Apalagi bahan baku cukup tersedia, mereka tidak lagi tergantung pengadaan pupuk dan pestisida kimiawi yang sering langka dan mahal di pasaran.

''Kita memang harus presisten, sabar dan banyak memberi contoh. Kita harus maklumi bahwa mengubah sikap dan perilaku untuk mendukung proses ini memerlukan waktu. Saya kira ini bagian dari social-workership juga,'' ungkapnya.

Sementara itu, Klian Subak Paselatan Made Suaba mengatakan bahwa meski terserang hama tikus, hasil produksi tetap lebih baik daripada sebelumnya. ''Kami telah yakin, konsep Jro Gede Karang dapat meningkatkan produksi, dan kami mantap melebur lahan kami untuk dikelola bersama dalam PT milik kami bersama,'' katanya mantap (r/*)   

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)