Pura
Gunung
Raung di Taro
...acara
sang sista, dharma
ta
ngarannika.
Sista
ngaran sang
hyang
satya wadi,
sang
apta, sang
patirthan, sang
pana
dahan
upadesa (Sarasamuscaya
40).
Maksudnya:
Tradisi
hidup
orang utama yang
disebut sang
Sista
juga disebut Dharma.
Orang
yang disebut
Sista
itu adalah
orang yang
selalu
menyatakan kebenaran
(Satyavadi),
orang yang
dapat
dipercaya karena
cakap
dan bijaksana (apta),
orang yang
menjadi
tempat penyucian
diri (sang
patirthan)
dan
orang yang selalu
mengajarkan
pendidikan
kerohanian (penadahan
upadesa).
Keberadaan
Pura
Gunung Raung
di Desa
Taro berhubungan
dengan
perjalanan Dang Hyang
Markandya,
seorang
resi dari
Pasraman
Gunung
Raung Jawa
Timur
ke Bali.
Sebagai
seorang ''dang
hyang'' yang
sudah
berstatus orang
suci
tentunya beliau
terpanggil
untuk
melakukan penyebaran
pendidikan
kerohanian yang
dalam
Sarasamuscaya 40 disebut
''panadahan
upadesa''.
Penyebaran
pendidikan
rohani
tersebut dilakukan
untuk
membangun umat agar
memiliki
kemampuan
hidup
mandiri.
Karena
kendali
kehidupan di
dunia
ini diawali
dengan
membangun kesadaran
rohani
untuk menata
kehidupan
duniawi.
Dang Hyang
Markandya
disamping
beliau
seorang yang Sista
atau
orang utama
karena
ahli kitab
suci
Weda, juga
beliau
adalah
orang
suci yang sudah
apta
atau dapat
kepercayaan
umat.
Dang Hyang
Markandya pun
menjadi
sosok orang
suci yang
senantiasa
dijadikan
tumpuan
untuk memohon
penyucian
diri
oleh umat.
Dalam
perjalanan
sucinya
beliau sebagai
cikal
bakalnya mendirikan
Pura
Basukian sebagai
pura yang paling
awal
didirikan di
Pura
Besakih.
Setelah
itu
barulah Dang Hyang
Markandya
berasrama
di Taro yang
kemudian
menjadi
cikal bakal
berdirinya
Pura
Gunung Raung
di Desa
Taro tersebut.
Pura
Gunung
Raung ini
terletak
di
antara Banjar Taro
Kaja
dan Banjar Taro
Kelod.
Pura
ini
menjadi perbatasan
dari
kedua banjar
tersebut.
Desa
Taro ini
terletak
di
Kecamatan Tegallalang
Kabupaten
Gianyar,
pada
umumnya letak
pura di
Desa Kuna
di Bali
adalah di
hulu
dan di
hilir
desa.
Pura
Gunung
Raung ini
terletak
di
hilir atau
teben
dari Banjar Taro
Kaja
dan di
hulu
atau luwan
Banjar Taro
Kaja.
Pendirian
pura
inilah yang ada
kaitannya
dengan
riwayat perjalanan
Resi
atau Dang Hyang
Markandya
dari
Jawa Timur
ke
Bali.
Dalam
lontar Bali
Tatwa
diceritakan perjalanan
Resi
Markandya dari
Jawa
Timur ke Bali.
Pada
mulanya
Resi Markandya
berasrama
di
Damalung Jawa
Timur.
Beliau
mengadakan
perjalanan
suci (tirthayatra)
ke arah
timur
dan sampailah
beliau
di Gunung
Hyang.
Di
tempat
ini beliau
tidak
mendapatkan tempat
yang ideal.
Selanjutnya,
Resi
Markandya melakukan
perjalanannya
ke arah
timur
lagi.
Dalam
perjalanan
menuju
ke timur
itu
beliau menemukan
tempat
di Gunung
Raung
Jawa Timur.
Di
tempat
inilah beliau
membangun
asrama
untuk beberapa lama.
Di
Asrama Gunung
Raung,
Resi Markandya
melakukan
samadi.
Dalam
samadinya
beliau
mendapatkan petunjuk
agar beliau
mengadakan
perjalanan
ke
Pulau Bali.
Petunjuk
gaib
itu beliau
laksanakan.
Pada
suatu
hari yang baik
beliau
mengadakan perjalanan
ke
Bali
diikuti
oleh 8.000 pengikut.
Sampai
di
suatu tempat
dengan
hutannya yang lebat
beliau
berkemah dan
membangun
areal
pertanian.
Namun
entah
apa sebabnya
sebagian
besar
pengikut beliau
kena
wabah penyakit
dan
meninggal.
Tinggal
hanya 4.000
pengikut
saja.
Resi
Markandya
kembali
ke Jawa
Timur
mohon petunjuk
pada Sang
Hyang
Pasupati.
Setelah
melalui
samadi Resi
Markandya
mendapatkan
petunjuk
bahwa
kesalahannya adalah
tidak
mengaturkan sesaji
untuk
mohon izin
merabas
hutan.
Setelah
itu
Resi Markandya
kembali
menuju
Bali
dan
terus menuju
Gunung
Agung atau
disebut
juga Ukir Raja.
Beliau
diikuti
lagi oleh
pengiring yang
disebut Wong Age.
Sampai
di
Gunung Agung
beliau
mengadakan upacara
dengan
menanam Panca
Datu di
Besakih
yaitu di
Pura
Basukian sekarang.
Setelah
itu
barulah beliau
membangun
lahan
pertanian dengan
hati-hati
untuk
mengembangkan kehidupan
agraris.
Pengembangan
areal
pertanian terus
dilakukan
oleh
rombongan Resi
Markandya
sampai
ke Gunung
Lebah.
Sampai
ke Desa
Puakan,
di desa
inilah
beliau mengadakan
penataan
kehidupan
petani
seperti pembagian
tanah,
dll.
Desa
itulah
terus bernama
Desa
Puakan.
Ada
juga
beliau mengadakan
pembukaan
areal
pertanian sampai
di Desa
Sarwa
Ada.
Setelah
semua
pengikutnya mendapatkan
areal
pertanian untuk
mengembangan
kehidupan
agraris
lalu beliau
membangun
suatu
pasraman yang mirip
dengan
pasramannya di
Gunung
Raung Jawa
Timur.
Setelah
itu
kembali Resi
Markandya
mendapatkan
beberapa
kesulitan.
Untuk
itu
Resi Markandya
kembali
ke Jatim
dan
mengadakan samadi.
Dalam
samadi
itulah beliau
mendapat
petunjuk agar
melakukan
samadi
di pasraman
beliau
di Bali.
Setelah
kembali
ke
Bali
lalu
beliau mengadakan
samadi
ternyata Resi
Markandya
melihat
ada sinar
di
suatu tempat.
Nyala
itu
ternyata berasal
dari
sebatang pohon yang
menyala.
Di
pohon yang
menyala
itulah Resi
Markandya
mendirikan
Pura
Gunung Raung
sekarang.
Karena
berasal
dari pohon yang
menyala
akhirnya tempat
itu
dinamakan Desa Taro
yang berasal
dari
kata ''taru''
artinya
pohon.
Pura
dan
pasramannya dibuat
mirip
dengan yang ada
di
Gunung Raung.
Karena
itulah pasraman
dengan
puranya diberi
nama
Pura
Gunung Raung
di Desa
Taro sekarang.
Di
Desa Taro
ada
sapi putih
konon
keturunan Lembu
Nandini.
Sampai
tahun 1974
keturunan
sapi
putih itu
masih
ada beberapa
ekor
saja.
Sapi
putih
itu sangat
dikeramatkan
oleh
penduduk di
Desa Taro.
Dang Hyang
Markandya
adalah
seorang resi yang
menganut
paham
Waisnawa.
Tetapi
dengan
adanya sapi
putih
itu dapat
ditarik
kesimpulan bahwan
Resi
Markandya juga
amat
menghormati keberadaan
paham
Siwaistis yang memang
merupakan
suatu
sekte dalam agama
Hindu.
Sekte
itu
adalah sampradaya
atau
perkumpulan perguruan
nonformal
untuk
mendalami ajaran
agama Hindu yang merupakan
agama yang terbuka
untuk
siapa saja.
Masing-masing
sampradya
memang
memiliki ciri
khasnya
sendiri seperti
Ista
Dewata yang dipilih
dan
sistem Adikari
atau
metode pendalaman
kerohanian.
Tetapi
dasarnya semuanya
sama
yaitu
kitab suci
Weda.
Menurut
Swami Siwanandaa, agama
Hindu menyiapkan
hidangan spiritual
kepada
setiap orang
sesuai
dengan perkembangan
hidupnya.
Karena
itu
tidak ada
pertentangan
dalam
keanekaragaman sistem
sampradaya
dalam
beragama Hindu tersebut.
* I Ketut
Gobyah