Pura
Gunung
Raung sebagai
Pasraman
Pura
Gunung
Raung ini
agak
lain daripada
Pura
Kahyangan Jagat
pada
umumnya. Pura
ini
menghadap ke
timur,
sehingga kalau
kita
sembahyang kita
akan
menghadap
ke arah
barat
seperti halnya
di Pura
Luhur
Ulu Watu.
Keunikan yang
lain
adalah Pura
Gunung
Raung memiliki
empat
pintu masuk
dari
empat penjuru.
Pintu
masuk dari
arah
timur, utara
dan
selatan dibuat
dari
Candi Bentar
dengan
ukirannya.
Sedangkan
pintu
dari arah
barat
hanya dengan
pintu
kecil saja.
Apa
makna
ada empat
pintu
masuk ini
belum
ada sumber yang
secara
pasti menjelaskan.
====================================================
Karena
Pura
Gunung Raung
ini
sebagai pasraman
tempat
mendalami ilmu
kerohanian (Para
Vidya)
dan ilmu
keduniaan (Apara
Vidya)
maka ada
kemungkinan
empat
pintu kesemua
arah
sebagai pengejawantahan
pentanyaan Mantra
Rgveda I.89.1 yang
menyatakan: A no
bhadarah
kratavo
yantu visavanta.
Artinya:
Semoga
pemikiran yang mulia
datang
dari semua
arah.
Sepertinya
demikianlah
makna
adanya empat
pintu
Pura Gunung
Raung
sebagai Pasraman Dang
Hyang
Markandya.
Keunikan yang lain
adalah
areal pura
ini
juga sangat
berbeda
dengan pura
lainnya
di Bali.
Umumnya
letak
jaba sisi
menuju
jaba tengah
terus
menuju jeroan
pura
terletak satu
arah.
Namun,
Pura
Gunung Raung
sedikit
berbeda.
Masuk
dari
jaba sisi
dari
arah utara
menuju
ke selatan.
Sebelah
barat
jaba sisi
ini
terdapat dapur
dan
hutan kecil.
Jaba
tengahnya
terletak
di
selatan jaba
sisi.
Namun
jeroan
puranya tidak
terletak
di
selatan jaba
tengah
namun terletak
di
barat jaba
tengah.
Di
areal
jaba sisi
terdapat
bangunan
Titi
Gonggang, balai
kulkul
dan gedong
tempat
busana. Di
jaba
tengah terdapat 10
bangunan
antara lain
balai
pertemuan, Pelinggih
Dalem
Purwa Bumi,
Pelinggih
Ratu
Pasek, Pelinggih
Ratu
Ngerurah, Balai Gong,
Titi
Gonggang, Balai
Kulkul
dari pohon
Salagui,
Balai
Pegat, Palinggih
Batara Sri
dan
Pelinggih Bale Agung.
Sementara
di
jeroan pura
tidak
kurang dari 20
macam
bangunan suci.
Antara
lain yang paling penting
adalah
Pelinggih Batara
Gunung
Raung.
Keberadaan
Pura
Kahyangan Jagat
di Bali
umumnya terus
tumbuh
dari generasi
ke
generasi.
Berdasarkan
prasasti yang
dijumpai
di Pura
Gunung
Raung diduga
zaman
pemerintahan Raja Anak
Wungsu.
Kemungkinan
Pura
Gunung Raung
di Taro
ini sudah
ada
sebelum abad ke-11
Masehi.
Karena
pura
ini terus
dikembangkan
sesuai
dengan perkembangan
zaman
maka ada
dijumpai
Pelinggih
Penyawangan
Bathara
Majapahit.
Padahal
zaman
Majapahit itu
ratusan
tahun setelah
pemerintahan Raja
Anak
Wungsu.
Selanjutnya
ada
Pelinggih Mundar
Mandir,
pelinggih ini
juga
disebut Pelinggih
Omkara.
Fungsi
pelinggih ini
untuk
mengingatkan umat
agar setiap
memanjatkan
doa
agar senantiasa
mengucapkan
Omkara
saat awal
berdoa
dan saat
menutup
doa. Hal
itu memang
diajarkan
dalam Manawa
Dharmasastra II.74.
Omkara
awal untuk
mengarahkan agar
doa
tersebut
mengarah
pada
sasaran yang benar
dan
suci, sedangkan
Omkara
sebagai akhir
pengucapan
doa agar
makna
memuja itu
tidak
lepas begitu
saja.
Selanjutnya
Pelinggih
Ratu
Penyarikan adalah
pelinggih
untuk
memuja Tuhan agar
kita
mendapatkan tuntunan
Hyang
Widhi agar bisa
menjalani
hidup
sesuai dengan
tahapan
hidup sebagaimana
diajarkan
dalam
ajaran Catur
Asrama.
Kata
''nyarik''
dalam
bahasa
Bali
artinya
tahapan.
Pelinggih
Ratu
Rambut Sedhana.
Makna
pemujaan
Tuhan
sebagai Rambut
Sedhana
sebagai wujud
motivasi agar
umat
manusia mengolah
isi
bumi ini agar
dapat
menumbuhkan sarana
hidup yang
tak
terhingga.
Kata
rambut
bermakna sesuatu
tak
terhitung banyaknya.
Sedhana
artinya
sarana hidup yang
tak
terhitung jumlahnya.
Mengolah
alam agar
senantiasa
menghasilkan
sarana
hidup yang tak
terhingga
tentunya
tidak
mudah.
Namun
demikian,
itulah yang
wajib
diupayakan oleh
umat
manusia dalam
mengolah
kesuburan
alam
ini.
Ada
penyawangan
sebagai
Pelinggih Masceti.
Pura
ini untuk
memuja
Tuhan dalam
memohon agar
tidak
terjadi wabah
penyakit
seperti
hama
bagi
tanaman dan
hama,
sebab
hewan karena
sumber
alam itu yang
dijadikan
tumpuan
hidup masyarakat.
Selanjutnya
ada
Balai Pengeraos
sebagai
simbol
apa pun yang akan
dilakukan
hendaknya
didahului
dengan
musyawarah.
Selanjutnya
ada
Kamulan Agung
sebagai
pemujaan leluhur
atau
Dewa Pitara
dari Dang
Hyang
Markandiya sebagai
seorang
pandita utama
tentunya
harus
memberi contoh
dalam
memuja Tuhan
dan
Dewa Pitara
dari
leluhur beliau.
Di
Pura
Gunung Raung
ini
terdapat juga
Pelinggih
Penyawangan
seperti
ke Pura
Luhur
Ulu Watu,
Gunung
Batur, Gunung Sari,
Gunung
Agung, Penyawangan
ke
Campuan Ubud
Padmasana
dan ada
juga
Balai Pingit
umumnya
sebagai menempatkan
Tirtha
Pingit.
Pelinggih
Penyawangan
tersebut
nampaknya
didirikan
setelah
pengaruh Majapahit
masuk
ke Bali.
Upacara
piodalan
di Pura
Gunung
Raung ini
lakukan
setiap 210 hari
yaitu
setiap Buda Kliwon
Ugu.
Setiap
hari
purnama diadakan
upacara
Mesangkepan para
pengurus
desa.
Pemangku
dan
anggota desa
hadir
dalam upacara
Mesangkepan
itu.
Yang agak
unik di
pura
ini upacara
piodalan
dan
upacara lainnya
cukup
dipimpin oleh
pemangku
pura.
Pemangku
dalam
memimpin upacara
kecil,
menengah maupun
upacara
besar tidak
memakai
genta.
Suara
genta
sebagai pengantar
upacara
sebagai simbol Nada
Brahman untuk
mengantarkan
bahwa
getaran sabda
Tuhan
itu merasuk
ke
dalam lubuk
hati
nurani umat yang
memuja.
Ke
depan
tentunya hal
ini
dapat saja
dikembangkan
lebih
lanjut dengan
menggunakan
genta
dengan
cara melakukan
pembahasan
sebagai
upaya kreasi
sistem
beragama Hindu untuk
ke
depan sepanjang
untuk
menajamkan kedalaman
penerapan
tattwa agama Hindu yang
bersifat
langgeng
atau
Sanatana Dharma.
Pura
Kahyangan
Jagat yang
sudah
berada sebelum
pengaruh
Majapahit
ke Bali
umumnya dalam
memimpin
upacara
tidak menggunakan
pandita
dwijati dari
keturunan Dang
Hyang
Dwijendra yang bergelar
Ida Pedanda.
Hal ini
pun dapat
dibahas
kembali dalam
melakukan
penyempurnaan
sistem
kepanditaan Hindu yang
benar-benar bersumber
dari
sastra agama Hindu yang ada.
Karena agama
itu
sebagaimana dinyatakan
dalam
Sarasamuscaya 181: Agama
ngaran kawarah Sang
Hyang
Aji. Artinya agama
adalah
apa yang
dinyatakan
dalam
kitab suci. *
wiana