kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 21 Nopember 2007

 Surat Pembaca


Pembaruan
dan Perubahan 

Berdasarkan dialektika kehidupan setiap insan yang berpikiran normal selalu menghendaki adanya perubahan dan pembaruan. Ia merupakan spirit dari dinamika kehidupan, yaitu masa kini lebih baik daripada masa lalu dan masa yang akan datang lebih baik dari masa kini. Itu berarti perubahan dan pembaruan dimaksud berkesinambungan, berkeseimbangan antara keinginan, kemampuan dana dan sarana-prasarana penunjangnya, terutama dalam perencanaan yang realistis dan pragmatis. Namun perubahan dan pembaruan yang dimaksud, haruslah yang tidak bertentangan dengan tatanan budaya, adat yang bernapaskan agama Hindu.

Apalagi jika dikaitkan dengan keberadaan desa pakraman, karena masing-masing desa pakraman senantiasa menjaga kesucian palemahan yang terdiri atas Tri Mandala yaitu utama, madya dan nista mandala. Setiap pelanggaran yang sampai menodai kesucian dimaksud, misalnya dengan perilaku asusila (mamitra ngalang atau berselingkuh) dikenai danda yang disebut Sangaskara Danda, mengembalikan kesucian desa pakraman.

Karenanya diperlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap perilaku, memberlakukan sanksi hukuman yang lebih berat, di samping dapat diimbangi dengan budi pekerti, moral keagamaan.

Bali yang dikenal sebagai Pulau Sorga, Pulau Seribu Kahyangan. Kalau berbicara tentang perubahan dan pembaruansetiap perubahan dan pembaruan yang tidak cocok diterapkan di Bali, patut ditolak.

Berbicara tentang pembaruan tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena realisasinya perlu skala prioritas, memerlukan waktu dan dukungan semua pihak, tidak saling menyalahkan tetapi saling membantu baik moral maupun material, dilaksanakan oleh pemimpin yang sudah berpengalaman, terbukti kejujurannya, terbukti keberpihakannya kepada rakyat.

I Gusti Agung Putu Yadnya
Jl
. Manik Candi Baru, Gianyar

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)