Pembaruan
dan
Perubahan
Berdasarkan
dialektika
kehidupan
setiap
insan yang berpikiran
normal selalu
menghendaki
adanya
perubahan dan
pembaruan.
Ia
merupakan spirit
dari
dinamika kehidupan,
yaitu
masa kini
lebih
baik daripada
masa
lalu dan
masa yang
akan
datang lebih
baik
dari masa
kini.
Itu berarti
perubahan
dan
pembaruan dimaksud
berkesinambungan,
berkeseimbangan
antara
keinginan, kemampuan
dana
dan
sarana-prasarana
penunjangnya, terutama
dalam
perencanaan yang realistis
dan
pragmatis.
Namun
perubahan
dan
pembaruan yang dimaksud,
haruslah yang
tidak
bertentangan dengan
tatanan
budaya, adat yang
bernapaskan agama Hindu.
Apalagi
jika
dikaitkan dengan
keberadaan
desa
pakraman, karena
masing-masing
desa
pakraman senantiasa
menjaga
kesucian palemahan
yang terdiri
atas Tri
Mandala
yaitu utama,
madya
dan nista
mandala.
Setiap
pelanggaran yang
sampai
menodai kesucian
dimaksud,
misalnya
dengan
perilaku asusila (mamitra
ngalang
atau berselingkuh)
dikenai
danda yang disebut
Sangaskara
Danda,
mengembalikan kesucian
desa
pakraman.
Karenanya
diperlukan
pengawasan yang
lebih
ketat terhadap
perilaku,
memberlakukan
sanksi
hukuman yang lebih
berat,
di samping
dapat
diimbangi dengan
budi
pekerti, moral keagamaan.
Bali
yang dikenal
sebagai
Pulau Sorga,
Pulau
Seribu Kahyangan.
Kalau
berbicara tentang
perubahan
dan
pembaruan,
setiap
perubahan
dan
pembaruan yang tidak
cocok
diterapkan di Bali,
patut
ditolak.
Berbicara
tentang
pembaruan tidak
semudah
membalikkan telapak
tangan,
karena realisasinya
perlu
skala prioritas,
memerlukan
waktu
dan dukungan
semua
pihak, tidak
saling
menyalahkan tetapi
saling
membantu baik moral
maupun material,
dilaksanakan
oleh
pemimpin yang sudah
berpengalaman,
terbukti
kejujurannya,
terbukti
keberpihakannya
kepada
rakyat.
I Gusti
Agung
Putu Yadnya
Jl.
Manik
Candi Baru,
Gianyar