kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 21 Nopember 2007

 Debat


Dahulukan
Solusi Terbaik bagi Masalah Lingkungan
Oleh
A.A. Made Dewi Anggreni, STP., M.Si. 

BANDARA Ngurah Rai menjadi jalur pembuka bagi pariwisata ke Bali khususnya dan Indonesia bagian timur pada umumnya. Bandara Ngurah Rai selama ini telah membuktikan kemampuannya dalam menerima kunjungan wisatawan asing hingga ribuan orang dalam setiap harinya, baik sebelum tragedi bom Bali maupun setelah proses recovery Bali akibat bom Bali tersebut.

Namun, pemerintah dalam hal ini Wakil Presiden Jusuf Kalla telah menyampaikan instruksi pada bulan lalu yang meminta agar dilakukan perpanjangan runway Bandara Ngurah Rai 600 meter hingga 1 km. Bahkan sebenarnya sekitar 10 tahun yang lalu, usulan ini sudah mengemuka. Kini, usulan serupa kembali mencuat seiring keluarnya instruksi Wapres tersebut dan adanya desakan sejumlah kalangan pelaku pariwisata guna mengantisipasi kunjungan wisatawan ke Bali. Padahal saat ini kondisi Bandara Ngurah Rai masih bisa menampung tingkat kunjungan wisatawan yang datang ke Bali yang menggunakan pesawat dengan ukuran besar. Walaupun untuk ukuran yang sebesar jenis pesawat jumbo seperti Airbus 380, belum bisa dilayani Bandara Ngurah Rai. Melihat tujuan perluasan dari kacamata yang lebih kecil adalah untuk melayani permintaan pesawat jumbo dan membandingkan permasalahan yang timbul pada saat perluasan ini, perlu kiranya dicari titik temu dan solusi terbaik bagi Bali dan kehidupan masyarakatnya.

Permasalahan-permasalahan yang timbul pada saat perluasan Bandara Ngurah Rai meliputi lingkungan hidup dan permasalahan fasilitas infrastruktur. Permasalahan lingkungan hidup menyangkut pembebasan lahan hutan mangrove dan masalah polusi. Hutan mangrove merupakan tembok alam terhadap gelombang pasang yang kerap menerjang daerah pantai di Indonesia termasuk pantai-pantai di Bali. Hutan mangrove juga merupakan paru-paru bagi wilayah Badung Selatan yang kebanyakan lahannya berupa lahan tandus dan lahan berbeton. Penurunan luas hutan ini tentu juga tidak sesuai dengan upaya dunia dalam mencegah dampak buruk global warming yang mengancam kehidupan umat manusia. Belum lagi polusi yang ditimbulkannya saat bandara semakin luas, sedangkan filter semakin berkurang. Polusi udara dan polusi suara adalah pencemaran lingkungan yang berdampak buruk bagi alam Bali yang menjadi andalan pariwisatanya dan tentunya bagi masyarakat Bali. Jadi pihak terkait perlu mengupayakan dulu solusi terbaik terhadap masalah lingkungan hidup ini sebelum melaksanakan perluasan bandara. Misalnya reboisasi lahan tandus dan perluasan lahan hutan mangrove di sekitar batas perluasan bandara terlebih dulu dilaksanakan.

Permasalahan lain adalah fasilitas infrastruktur. Perluasan Bandara Ngurah Rai tanpa peningkatan fasilitas infrastruktur akan menimbulkan permasalahan baru bagi wisatawan dan masyarakat Bali. Terminal domestik yang masih belum memadai, sistem komputerisasi yang belum baik, pelayanan yang belum memuaskan akan mengganggu kenyamanan wisatawan. Demikian juga dengan dengan jalur transportasi dari atau ke bandara yang sangat padat. Karena jalur transportasi tersebut juga digunakan oleh masyarakat luas yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan bandara. Seperti kita ketahui, lalu lintas di sekitar bandara seringkali mengalami kemacetan yang panjang karena padatnya jalur transportasi tersebut apalagi pada saat jam pulang sekolah/kuliah yang bersamaan dengan jam pulang kerja. Tentunya permasalahan infrastruktur ini yang perlu diatasi terlebih dulu sebelum melakukan perluasan landasan pacu Bandara Ngurah Rai.

Bila telah melaksanakan solusi terbaik terhadap permasalahan yang timbul dari perluasan landasan pacu tersebut, maka kita harapkan ada peningkatan manfaat bagi Bali dan masyarakat Bali akibat peningkatan jumlah wisatawan yang datang berkunjung.

Penulis, dosen FTP Unud

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)