Dahulukan
Solusi
Terbaik bagi
Masalah
Lingkungan
Oleh
A.A. Made Dewi
Anggreni,
STP.,
M.Si.
BANDARA
Ngurah
Rai menjadi
jalur
pembuka bagi
pariwisata
ke
Bali khususnya
dan Indonesia
bagian
timur pada
umumnya.
Bandara
Ngurah Rai
selama
ini telah
membuktikan
kemampuannya
dalam
menerima kunjungan
wisatawan
asing
hingga ribuan
orang
dalam setiap
harinya,
baik
sebelum tragedi
bom Bali
maupun
setelah proses
recovery Bali akibat
bom Bali
tersebut.
Namun,
pemerintah
dalam
hal ini
Wakil
Presiden Jusuf
Kalla
telah menyampaikan
instruksi
pada
bulan lalu yang
meminta agar
dilakukan
perpanjangan runway
Bandara
Ngurah Rai 600 meter
hingga 1 km.
Bahkan
sebenarnya sekitar 10
tahun yang
lalu,
usulan ini
sudah
mengemuka.
Kini,
usulan
serupa kembali
mencuat
seiring keluarnya
instruksi
Wapres
tersebut dan
adanya
desakan sejumlah
kalangan
pelaku
pariwisata guna
mengantisipasi
kunjungan
wisatawan
ke
Bali.
Padahal
saat
ini kondisi
Bandara
Ngurah Rai
masih
bisa menampung
tingkat
kunjungan wisatawan
yang datang
ke
Bali yang
menggunakan
pesawat
dengan ukuran
besar.
Walaupun
untuk
ukuran yang sebesar
jenis
pesawat jumbo seperti
Airbus 380, belum
bisa
dilayani Bandara
Ngurah
Rai.
Melihat
tujuan
perluasan dari
kacamata yang
lebih
kecil adalah
untuk
melayani permintaan
pesawat jumbo
dan
membandingkan permasalahan
yang timbul
pada
saat perluasan
ini,
perlu kiranya
dicari
titik temu
dan
solusi terbaik
bagi
Bali dan
kehidupan
masyarakatnya.
Permasalahan-permasalahan
yang timbul
pada
saat perluasan
Bandara
Ngurah Rai
meliputi
lingkungan
hidup
dan permasalahan
fasilitas
infrastruktur.
Permasalahan
lingkungan
hidup
menyangkut pembebasan
lahan
hutan mangrove dan
masalah
polusi.
Hutan
mangrove merupakan
tembok
alam terhadap
gelombang
pasang yang
kerap
menerjang daerah
pantai
di
Indonesia
termasuk
pantai-pantai
di Bali.
Hutan
mangrove juga
merupakan
paru-paru
bagi
wilayah Badung
Selatan yang
kebanyakan
lahannya
berupa
lahan tandus
dan
lahan berbeton.
Penurunan
luas
hutan ini
tentu
juga tidak
sesuai
dengan upaya
dunia
dalam mencegah
dampak
buruk global warming yang
mengancam kehidupan
umat
manusia. Belum
lagi
polusi yang ditimbulkannya
saat
bandara semakin
luas,
sedangkan filter semakin
berkurang.
Polusi
udara
dan polusi
suara
adalah pencemaran
lingkungan yang
berdampak
buruk
bagi alam
Bali yang
menjadi
andalan pariwisatanya
dan
tentunya bagi
masyarakat Bali.
Jadi
pihak
terkait perlu
mengupayakan
dulu
solusi terbaik
terhadap
masalah
lingkungan hidup
ini
sebelum melaksanakan
perluasan
bandara.
Misalnya
reboisasi
lahan
tandus dan
perluasan
lahan
hutan mangrove di
sekitar
batas perluasan
bandara
terlebih dulu
dilaksanakan.
Permasalahan
lain
adalah fasilitas
infrastruktur.
Perluasan
Bandara
Ngurah Rai
tanpa
peningkatan fasilitas
infrastruktur
akan
menimbulkan
permasalahan
baru
bagi wisatawan
dan
masyarakat Bali. Terminal
domestik yang masih
belum
memadai, sistem
komputerisasi yang
belum
baik, pelayanan yang
belum
memuaskan
akan
mengganggu
kenyamanan
wisatawan.
Demikian
juga
dengan dengan
jalur
transportasi dari
atau ke
bandara yang
sangat
padat.
Karena
jalur
transportasi tersebut
juga
digunakan oleh
masyarakat
luas yang
tidak
ada kaitannya
dengan
kegiatan bandara.
Seperti
kita
ketahui, lalu
lintas
di sekitar
bandara
seringkali mengalami
kemacetan yang
panjang
karena padatnya
jalur
transportasi tersebut
apalagi
pada saat jam
pulang
sekolah/kuliah yang
bersamaan dengan jam
pulang
kerja.
Tentunya
permasalahan
infrastruktur
ini yang
perlu
diatasi terlebih
dulu
sebelum melakukan
perluasan
landasan
pacu
Bandara Ngurah
Rai.
Bila
telah
melaksanakan solusi
terbaik
terhadap permasalahan
yang timbul
dari
perluasan landasan
pacu
tersebut, maka
kita
harapkan ada
peningkatan
manfaat
bagi Bali dan
masyarakat Bali
akibat
peningkatan jumlah
wisatawan yang
datang
berkunjung.
Penulis,
dosen FTP
Unud