kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 21 Nopember 2007

 Nusantara


Kurang
Akurat, Sistem Peringatan Dini Tsunami 

Surabaya (Bali Post)-
 Badan Meteorologi Dan Geofisika/BMG mengaku sistem Tsunami Early Warning System (TEWS) atau sistem peringatan dini tsunami masih kurang tingkat akuratannya. Selama periode Januari hingga Oktober 2007, BMG Pusat telah mengeluarkan 13 kali TEWS.
Dari 13 peringatan tsunami ini, hanya dua yang benar-benar terjadi tsunami.

Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Seismologi Teknik dan Tsunami BMG Pusat Fauzi, MSi, PhD, dalam sosialisasi Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia di kampus Institut Teknologi 10 November (ITS) Surabaya Selasa (20/11) kemarin.

 Menurut dia, dua bencana tsunami tersebut terjadi di Bitung pada Januari dan Bengkulu September lalu. ''Kami mengakui tingkat ketelitian sistem peringatan dini ini kurang,'' katanya. Ia menyatakan, BMG terus berupaya meningkatkan ketelitian TEWS. Sebab, dampak pengeluaran TEWS ini adalah evakuasi. Sehingga, jika TEWS sudah dikeluarkan dan tidak terjadi tsunami, evakuasi sudah terlanjur dijalankan.

 Karenanya, kata dia, BMG terus menambah jumlah sensor seismik hingga memenuhi standar. Untuk luasan wilayah seperti Indonesia yang termasuk rawan gempa dan Tsunami membutuhkan 160 sensor seismik. Sementara saat ini baru terpasang 73 sensor seismic saja. ''Baru separuh dari kebutuhan. Itupun kebanyakan kita dapatkan sensor seismik dari hibah luar negeri seperti Jepang dan Jerman,'' ujarnya.

 2007 ini, menurut dia, BMG menargetkan memasang 35 sistem sensor seismik. Sehingga akhir 2007 ini sudah terpasang lebih dari 100 sensor seismik. Meski begitu, dalam memberikan TEWS selama ini BMG sudah mengumpulkan sebanyak mungkin informasi. ''Sebelum kita memutuskan memberikan TEWS pasti kita sudah menjaring informasi sebanyak mungkin,'' tambahnya.

 Diseluruh dunia, kata dia, TEWS tidak ada yang dapat memberikan data akurat 100 persen. Meski begitu, BMG akan meningkatkan tingkat keakuratan TEWS untuk mendapatkan tingkat kepercayaan tinggi dari masyarakat. Saat ini, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap TEWS hanya 50 persen. Meski demikian ditilik dari kecepatan waktu memberikan peringatan dini, TEWS cukup berhasil. Sebab, Rata-rata TEWS diberikan berselang 4-5 menit setelah gempa terjadi.

Tsunami di Indonesia ini termasuk tsunami lokal, jadi hanya berselang beberapa menit dari gempa. ''Untuk kecepatan TEWS kita sudah berhasil,'' katanya.  Ia menambahkan, sosialisasi TEWS kepada setiap lapisan masyarakat sangat diperlukan mengingat Indonesia sangat rawan Tsunami. Tercatat dari kurun waktu 1991-2007 terjadi 23 kali gempa. Dari jumlah tersebut 10 kali terjadi Tsunami. Dalam kurun waktu 16 tahun rata-rata setiap tahun terjadi gempa dan terjadi tsunami. (059)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)