Kurang
Akurat,
Sistem Peringatan
Dini Tsunami
Surabaya (Bali Post)-
Badan
Meteorologi Dan
Geofisika/BMG
mengaku
sistem Tsunami Early Warning System (TEWS)
atau
sistem peringatan
dini tsunami
masih
kurang tingkat
akuratannya.
Selama
periode
Januari hingga
Oktober 2007, BMG
Pusat
telah mengeluarkan 13
kali TEWS.
Dari 13 peringatan
tsunami ini,
hanya
dua yang benar-benar
terjadi tsunami.
Hal ini
diungkapkan Kepala
Bidang
Seismologi Teknik
dan Tsunami BMG
Pusat
Fauzi, MSi, PhD,
dalam
sosialisasi Sistem
Peringatan
Dini Tsunami Indonesia
di
kampus Institut
Teknologi 10 November (ITS)
Surabaya Selasa (20/11)
kemarin.
Menurut
dia,
dua bencana tsunami
tersebut
terjadi
di Bitung
pada
Januari dan
Bengkulu September
lalu.
''Kami
mengakui
tingkat
ketelitian sistem
peringatan
dini
ini kurang,''
katanya.
Ia
menyatakan, BMG
terus
berupaya meningkatkan
ketelitian TEWS.
Sebab,
dampak
pengeluaran TEWS ini
adalah
evakuasi.
Sehingga,
jika TEWS
sudah
dikeluarkan dan
tidak
terjadi tsunami, evakuasi
sudah
terlanjur dijalankan.
Karenanya,
kata
dia, BMG terus
menambah
jumlah sensor
seismik
hingga memenuhi
standar.
Untuk
luasan
wilayah seperti
Indonesia yang
termasuk
rawan
gempa dan Tsunami
membutuhkan 160 sensor
seismik.
Sementara
saat
ini baru
terpasang 73 sensor seismic
saja.
''Baru
separuh
dari kebutuhan.
Itupun
kebanyakan
kita
dapatkan sensor seismik
dari
hibah luar
negeri
seperti Jepang
dan
Jerman,'' ujarnya.
2007
ini,
menurut dia, BMG
menargetkan
memasang 35
sistem sensor
seismik.
Sehingga
akhir 2007
ini
sudah terpasang
lebih
dari 100 sensor seismik.
Meski
begitu,
dalam memberikan TEWS
selama
ini BMG sudah
mengumpulkan
sebanyak
mungkin
informasi.
''Sebelum
kita
memutuskan memberikan
TEWS pasti
kita
sudah menjaring
informasi
sebanyak
mungkin,''
tambahnya.
Diseluruh
dunia,
kata dia, TEWS
tidak
ada yang dapat
memberikan data
akurat 100
persen.
Meski
begitu, BMG
akan
meningkatkan
tingkat
keakuratan TEWS untuk
mendapatkan
tingkat
kepercayaan tinggi
dari
masyarakat.
Saat
ini,
tingkat kepercayaan
masyarakat
terhadap TEWS
hanya 50
persen.
Meski
demikian
ditilik
dari kecepatan
waktu
memberikan peringatan
dini, TEWS
cukup
berhasil.
Sebab,
Rata-rata TEWS diberikan
berselang 4-5
menit
setelah gempa
terjadi.
Tsunami di Indonesia
ini
termasuk tsunami lokal,
jadi
hanya berselang
beberapa
menit
dari gempa.
''Untuk
kecepatan TEWS
kita
sudah berhasil,''
katanya.
Ia
menambahkan,
sosialisasi TEWS
kepada
setiap lapisan
masyarakat
sangat
diperlukan mengingat
Indonesia sangat
rawan Tsunami.
Tercatat
dari
kurun waktu 1991-2007
terjadi 23 kali
gempa.
Dari jumlah
tersebut 10 kali
terjadi Tsunami.
Dalam
kurun
waktu 16 tahun
rata-rata setiap
tahun
terjadi gempa
dan
terjadi tsunami.
(059)