kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 21 Nopember 2007

 Ajeg Bali


Mengendalikan
Nafsu Pemimpin 

Kemungkinan pada zaman pemerintahan Raja Udayana sudah amat menyadari bahwa memimpin diri sendiri jauh lebih sulit daripada memimpin orang lain. Karena itu, ada Pura Mangening yakni sebagai wujud kepedulian Raja agar para pemimpin itu senantiasa berusaha mengendalikan gejolak hawa nafsunya sebagai upaya awal sebelum memimpin rakyat. Ada apa di balik Pura Mengening itu? Saat kapan para pemimpin zaman dulu membangun keheningan?

========================================================== 

Melalui Rerahinan dan Pujawali di Pura Mengening itu akan terbuka kesempatan untuk terus-menerus mengingatkan para pemimpin dan masyarakat pada umumnya agar terus-menerus berupaya untuk membangun keheningan diri. Karena pada diri yang hening itulah akan muncul gagasan-gagasan mulia untuk membenahi kehidupan di kolong langit ini. Dalam diri yang hening itu hawa nafsu berada di bawah kendali pikiran dan kesadaran budhi. Ibarat kuda kereta yang patuh pada arahan kusir kereta dengan tali kekangnya.

Kejahatan itu berasal dari hawa nafsu yang tidak terdidik dan tidak terlatih. Ibarat kuda, kalau ia terdidik dan terlatih dengan baik maka kuda tersebut akan melancarkan kereta Atman menuju jalan rohani dan membawa ke alam Brahman. Apalagi swadharma seorang pemimpin yang amat berat. Pergi ke tempat-tempat pemujaan seperti ke pura secara teratur dengan baik, benar dan tepat akan membawa manfaat yang baik.

Tentunya sembahyang di tempat pemujaan di masing-masing rumah tinggal tidak pernah dilupakan juga. Semoga adanya banyak pemimpin dewasa ini senang ke tempat-tempat pemujaan itu sebagai upaya untuk mendapatkan keheningan diri. Diri yang hening itu adalah diri yang sehat secara jasmani, pikirannya kuat mengendalikan dinamika indrianya dan kesadaran budhinya jernih keberadaan diri yang hening itulah akan dapat menjadi media mengejawantahkan kesucian Atman dalam prilaku sehari-hari.

Manawa Dharmasastra I.89 menyatakan pemimpin sebagai Ksatria Varna wajib mengupayakan terwujudnya kondisi yang dapat memberikan rasa aman (Raksanam) dan kesejahtraan (Danam) kepada masyarakat. Untuk mensukseskan swadharmanya tersebut mereka wajib mendalami ajaran suci, melakukan ritual yang menguatkan daya spiritual dan melakukan upaya yang disebut wisayeswaprasaktatih, artinya senantiasa mengontrol dinamika wisaya-nya.

Kata ''wisaya'' dalam bahasa Sansekerta artinya hawa nafsu. Kata ''wisaya'' itu berasal dari akar kata ''wisa'' atau ''bisa'' yang artinya racun. Nafsu itu bisa menjadi racun, tetapi kalau racun itu kalau ia diramu oleh orang yang ahli maka ia bisa menjadi obat. Demikian juga keberadaan wisaya itu. Kalau wisaya itu dikendalikan dengan baik, benar dan tepat, maka wisaya akan menjadi sumber motivasi semangat hidup yang selalu bergairah untuk melakukan apa yang disebut Subha Karma.

Pemimpin itu perlu memiliki nafsu yang selalu bergairah, tetapi gairah tersebut senantiasa patuh dan tunduk pada kendali kecerdasan pikiran dan kesadaran budi. Dengan demikian gairah seorang pemimpin adalah untuk berbuat jasa pada rakyat. Tanpa keheningan diri, justru gairah tersebut akan membuat pemimpin itu menjadi semakin serakah dan hanya untuk hidup bersenang-senang memenuhi gejolak hawa nafsunya. Hal itu bagaikan kuda kereta tanpa kendali dengan kusir yang mabuk tak tahu arah.

Menciptakan kondisi yang aman dan memajukan kesejahteraan yang adil itu bukanlah suatu pekerjaan yang gampang di lakukan. Banyak tantangan dan hambatan yang akan muncul sebagai penggoda. Apalagi bagi pemimpin yang bergelimangan uang dan wewenang. Ia bisa lupa diri bahwa uang dan wewenang itu bukan untuk dirinya. Uang dan wewenang itu adalah dibatasi untuk membahagiakan rakyat yang dipimpinnya.

Uang dan wewenang seperti mereka yang menjadi pejabat negara adalah untuk melayani warga negara. Sampai sekarang masih ada sementara pejabat negara bukan menjadi pelayan warga negara bahkan justru sebaliknya pejabat negara dilayani oleh warga negara. Hal itu terjadi karena masih banyak mereka yang menjadi pejabat negara tidak melakukan upaya mengheningkan diri sebagai salah satu kegiatannya. Meskipun ada yang rajin ke tempat-tempat pemujaan, tetapi mencari spirit power untuk melanggengkan kekuasaannya. Apalagi mereka salah memahami apa itu kekuasaan.

Tujuan didirikan Pura Mengening itu bukan untuk tempat memohon magic power untuk melanggengkan kekuasaan untuk tujuan yang hedonis atau kenikmatan bagi pemimpin yang ke pura tersebut. Kalau demikian dasarnya ke tempat-tempat pemujaan, yakinlah bukan karunia Tuhan yang akan didapat, tetapi mereka akan menjadi alatnya roh yang rendah atau di Bali disebut menjadi alatnya Bhuta Kala saja.

Pada zaman dahulu sering disebut orang-orang yang ke tempat-tempat pemujaan waktu-waktu malam saat tidak ada upacara disebut madewasraya. Sesungguhnya istilah madewasraya itu memiliki maksud yang sangat mulia. Kata ''dewasraya'' artinya menyerahkan diri dan mencari perlindungan dewa sinar suci Tuhan. Karena banyak yang menyalahgunakan acara ke tempat-tempat suci saat larut malam itu, sampai istilah madewasraya menimbulkan konotasi negatif.

Madewasraya sering dikonotasikan mencari kesaktian yang bermakna negatif. Karena itu perlu ada upaya ke depan untuk mengembalikan istilah madewasraya itu sesuai dengan artinya yang sebenarnya. Makna spiritual di balik adanya Pura Mengening itu perlu dijadikan landasan untuk kembali pada pengertian madewasraya itu sebagai tradisi para pemimpin ke tempat-tempat pemujaan untuk mengheningkan diri agar bisa berjiwa jernih mengabdi pada kepentingan rakyat banyak memberikan rasa aman dan menciptakan iklim hidup yang dapat mendorong rakyat mengembangkan kehidupan yang sejahtera.

Tentunya tempat pemujaan tersebut bukanlah hanya Pura Mengening saja. Banyak Pura Kahyangan Jagat sudah sering dikunjungi para pemimpin pada larut malam. Semoga Beliau-beliau itu melakukan dewasraya. Artinya menyerahkan dan mencari perlindungan dewa sinar suci Tuhan untuk membina diri menjadi yang ''maha ening''. * wiana

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)