Mengendalikan
Nafsu
Pemimpin
Kemungkinan
pada
zaman pemerintahan
Raja Udayana
sudah
amat menyadari
bahwa
memimpin diri
sendiri
jauh lebih
sulit
daripada memimpin
orang lain.
Karena
itu,
ada Pura
Mangening
yakni
sebagai wujud
kepedulian Raja agar
para
pemimpin itu
senantiasa
berusaha
mengendalikan
gejolak
hawa nafsunya
sebagai
upaya awal
sebelum
memimpin rakyat.
Ada
apa
di
balik Pura
Mengening
itu?
Saat
kapan
para pemimpin
zaman
dulu membangun
keheningan?
==========================================================
Melalui
Rerahinan
dan
Pujawali di
Pura
Mengening itu
akan
terbuka
kesempatan untuk
terus-menerus
mengingatkan
para
pemimpin dan
masyarakat
pada
umumnya agar terus-menerus
berupaya
untuk
membangun keheningan
diri.
Karena pada
diri yang
hening
itulah
akan muncul
gagasan-gagasan
mulia
untuk membenahi
kehidupan
di
kolong langit
ini.
Dalam
diri yang
hening
itu hawa
nafsu
berada di
bawah
kendali pikiran
dan
kesadaran budhi.
Ibarat
kuda
kereta yang patuh
pada
arahan kusir
kereta
dengan tali
kekangnya.
Kejahatan
itu
berasal dari
hawa
nafsu yang tidak
terdidik
dan
tidak terlatih.
Ibarat
kuda, kalau
ia
terdidik
dan
terlatih dengan
baik
maka kuda
tersebut
akan
melancarkan kereta
Atman menuju
jalan
rohani dan
membawa
ke alam Brahman.
Apalagi
swadharma
seorang
pemimpin yang amat
berat.
Pergi
ke tempat-tempat
pemujaan
seperti
ke pura
secara
teratur dengan
baik,
benar dan
tepat
akan
membawa
manfaat yang baik.
Tentunya
sembahyang
di
tempat pemujaan
di
masing-masing rumah
tinggal
tidak pernah
dilupakan
juga.
Semoga
adanya
banyak pemimpin
dewasa
ini senang
ke
tempat-tempat pemujaan
itu
sebagai upaya
untuk
mendapatkan keheningan
diri.
Diri yang
hening
itu adalah
diri yang
sehat
secara jasmani,
pikirannya
kuat
mengendalikan dinamika
indrianya
dan
kesadaran budhinya
jernih
keberadaan diri yang
hening
itulah
akan dapat
menjadi media
mengejawantahkan
kesucian Atman
dalam
prilaku sehari-hari.
Manawa Dharmasastra I.89
menyatakan
pemimpin
sebagai
Ksatria Varna
wajib
mengupayakan terwujudnya
kondisi yang
dapat
memberikan rasa
aman (Raksanam)
dan
kesejahtraan (Danam)
kepada
masyarakat.
Untuk
mensukseskan
swadharmanya
tersebut
mereka
wajib mendalami
ajaran
suci, melakukan
ritual yang menguatkan
daya spiritual
dan
melakukan upaya yang
disebut
wisayeswaprasaktatih,
artinya senantiasa
mengontrol
dinamika
wisaya-nya.
Kata
''wisaya''
dalam
bahasa Sansekerta
artinya
hawa nafsu.
Kata
''wisaya''
itu
berasal dari
akar
kata ''wisa''
atau ''bisa''
yang artinya
racun.
Nafsu
itu bisa
menjadi
racun, tetapi
kalau
racun itu
kalau
ia
diramu
oleh orang yang
ahli
maka ia
bisa
menjadi obat.
Demikian
juga
keberadaan wisaya
itu.
Kalau
wisaya itu
dikendalikan
dengan
baik, benar
dan
tepat, maka
wisaya
akan
menjadi
sumber motivasi
semangat
hidup yang
selalu
bergairah untuk
melakukan
apa yang
disebut
Subha Karma.
Pemimpin
itu
perlu memiliki
nafsu yang
selalu
bergairah, tetapi
gairah
tersebut senantiasa
patuh
dan tunduk
pada
kendali kecerdasan
pikiran
dan kesadaran
budi.
Dengan
demikian
gairah
seorang pemimpin
adalah
untuk berbuat
jasa
pada rakyat.
Tanpa
keheningan diri,
justru
gairah tersebut
akan
membuat
pemimpin itu
menjadi
semakin serakah
dan
hanya untuk
hidup
bersenang-senang memenuhi
gejolak
hawa nafsunya.
Hal
itu
bagaikan kuda
kereta
tanpa kendali
dengan
kusir yang mabuk
tak
tahu arah.
Menciptakan
kondisi yang
aman
dan memajukan
kesejahteraan yang
adil
itu bukanlah
suatu
pekerjaan yang gampang
di
lakukan.
Banyak
tantangan dan
hambatan yang
akan
muncul
sebagai penggoda.
Apalagi
bagi
pemimpin yang bergelimangan
uang
dan wewenang.
Ia
bisa
lupa diri
bahwa
uang dan
wewenang
itu
bukan untuk
dirinya.
Uang
dan
wewenang itu
adalah
dibatasi untuk
membahagiakan
rakyat yang
dipimpinnya.
Uang
dan
wewenang seperti
mereka yang
menjadi
pejabat negara
adalah
untuk melayani
warga
negara.
Sampai
sekarang
masih
ada sementara
pejabat
negara bukan
menjadi
pelayan warga
negara
bahkan justru
sebaliknya
pejabat
negara dilayani
oleh
warga negara.
Hal itu
terjadi
karena masih
banyak
mereka yang menjadi
pejabat
negara tidak
melakukan
upaya
mengheningkan diri
sebagai
salah satu
kegiatannya.
Meskipun
ada yang
rajin
ke tempat-tempat
pemujaan,
tetapi
mencari spirit power untuk
melanggengkan
kekuasaannya.
Apalagi
mereka salah
memahami
apa
itu
kekuasaan.
Tujuan
didirikan
Pura
Mengening itu
bukan
untuk tempat
memohon magic power
untuk
melanggengkan kekuasaan
untuk
tujuan yang hedonis
atau
kenikmatan bagi
pemimpin yang
ke pura
tersebut.
Kalau
demikian dasarnya
ke
tempat-tempat pemujaan,
yakinlah
bukan
karunia Tuhan yang
akan
didapat,
tetapi
mereka akan
menjadi
alatnya roh yang
rendah
atau di Bali
disebut
menjadi alatnya
Bhuta
Kala saja.
Pada
zaman
dahulu sering
disebut
orang-orang yang ke
tempat-tempat
pemujaan
waktu-waktu
malam
saat tidak
ada
upacara disebut
madewasraya.
Sesungguhnya
istilah
madewasraya itu
memiliki
maksud yang
sangat
mulia.
Kata
''dewasraya''
artinya
menyerahkan diri
dan
mencari perlindungan
dewa
sinar suci
Tuhan.
Karena
banyak yang
menyalahgunakan
acara
ke tempat-tempat
suci
saat larut
malam
itu, sampai
istilah
madewasraya menimbulkan
konotasi
negatif.
Madewasraya
sering
dikonotasikan mencari
kesaktian yang
bermakna
negatif.
Karena
itu perlu
ada
upaya ke
depan
untuk mengembalikan
istilah
madewasraya itu
sesuai
dengan artinya yang
sebenarnya.
Makna
spiritual di
balik
adanya Pura
Mengening
itu
perlu dijadikan
landasan
untuk
kembali pada
pengertian
madewasraya
itu
sebagai tradisi
para
pemimpin ke
tempat-tempat
pemujaan
untuk
mengheningkan diri
agar bisa
berjiwa
jernih mengabdi
pada
kepentingan rakyat
banyak
memberikan rasa
aman
dan menciptakan
iklim
hidup yang dapat
mendorong
rakyat
mengembangkan kehidupan
yang sejahtera.
Tentunya
tempat
pemujaan tersebut
bukanlah
hanya
Pura Mengening
saja.
Banyak
Pura
Kahyangan Jagat
sudah
sering dikunjungi
para
pemimpin pada
larut
malam.
Semoga
Beliau-beliau
itu
melakukan dewasraya.
Artinya
menyerahkan
dan
mencari perlindungan
dewa
sinar suci
Tuhan
untuk membina
diri
menjadi yang ''maha
ening''.
*
wiana