Tekan
Buta
Huruf-----------------
Karangasem
Peroleh
Anugerah Aksara
Pratama
Amlapura
(Bali Post)-
Karangasem
berupaya
menekan
angka buta
aksara
dan angka
sampai
ke pelosok
pedesaan.
Hal itu
membuahkan
hasil,
jumlah penduduk
buta
aksara menurun
drastis
dan Karangasem
memperoleh
penghargaan
Anugrah
Aksara Pratama
dari
Presiden
RI yang diterima
beberapa
waktu
lalu di NTB.
Hal itu
disampaikan Kasi
Pendidikan
Luar
Sekolah (PLS) Dinas
Pendidikan
Karangasem Drs.
Putu
Arnawa, S.Ag.
M.Si.,
didampingi
Kabag
Humas dan
Protokol
Setdakab
Karangasem
Komang
Agus Sukasena, SIP.,
Selasa (20/11)
kemarin
di Amlapura.
Arnawa
dan
Kadis Pendidikan
Karangasem Drs.
Wayan
Wirta mengatakan,
pihaknya
gencar
menggarap program penuntasan
buta
aksara dan
angka
melalui program keaksaraan
fungsional (KF).
Program itu
digelar
di kecamatan
Kubu yang
selama
ini dikenal paling
banyak
angka buta
huruf
dan kemiskinan.
Dua
kelompok
belajar
fungsional yang aktif
saat
ini di
banjar
persiapan Eka
Darma
Pilihan, Tianyar
Timur
dan empat
Kelompok
terdiri 40
orang
di Kresek,
Munti
Gunung, Kubu.
Saat
ditinjau
Kasi PLS
Arnawa,
warga belajar
di
Kresek Munti
Gunug
minta dibantu
buku-buku agama Hindu
terutama
untuk
kelas
V SD yang
mudah
dipelajari.
Tujuannya
agar masyarakat yang
di
wilayahnya sulit
menerima
siaran Bali TV yang
banyak
menyiarkan darma
wacana
bisa lebih
banyak
mendapat pelajaran
agama Hindu. Hal itu
penting, agar
masyarakat
setempat
kuat
secara sradha
dan
bakti,
sehingga
tahan
menghadapi
tantangan
hidup.
Petugas
Pusat
Kegiatan Belajar
Masyarakat (PKBM)
kecamatan
Kubu
Gede Surata
menyampaikan
di
Munti Gunung
beberapa
hari
lalu, warga
belajar
dari anak-anak,
remaja,
ibu rumah
tangga (RT)
dan
kepala RT berbaur
belajar
di balai
banjar
tiga kali seminggu.
Mereka
tak
malu, justru
bersemangat.
''Saya
kagum dengan
semangat
belajar
warga buta
huruf
di Kubu.
Keinginannya
untuk
bisa membaca
sangat
tinggi, bahkan
kalau
mereka sudah bias
membaca
mengatakan bakal
membeli HP agar
bisa SMS (mengirim
layanan
pesan singkat,''
katanya.
Selain
belajar
juga diberikan
keterampilan
hidup,
seperti menganyam
kerajinan yang
bahannya
ada di
alam
sekitarnya, seperti
lontar
di Kubu.
Warga
itu
juga minta
diberikan
keterampilan
menganyam
dengan
desain yang lebih
bervariasi
sesuai
kebutuhan pasar,
sehingga
hasil
kerajinan mereka
tak
hanya bisa
dipasarkan
di
pasar local, tetapi
juga ke
luar
daerah bahkan
ekspor.
(013/*)