kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Pon, 12 Nopember 2006

 Debat Publik


Perluasan
Bandara Ngurah Rai--
Dekati
dengan Konsep ''Sustainable Transportation''

Oleh IGP Suparsa

 

JAUH sebelum isu dan berbagai masalah lingkungan muncul ke permukaan, Prof. Dawam Rahardjo, seorang budayawan, pernah mendefinisikan pembangunan adalah merupakan suatu proses ''penghancuran'' yang mengandung ''nilai-nilai kreatif''. Sementara Prof. Emil Salim, ahli lingkungan, sangat terkenal dengan konsepnya yaitu ''etika pembangunan''.

Dari kedua uraian pakar tersebut sudah sangat jelas sinyal yang diberikan untuk mengelola pembangunan saat ini dan di masa yang akan datang. Berkaitan dengan pembangunan/perluasan Bandara Internasional Ngurah Rai sebagai prasarana transportasi, Center for Sustainable Development (1997) mendefinisikan sistem transportasi yang berkelanjutan sebagai sistem yang menyediakan akses terhadap kebutuhan dasar individu atau masyarakat secara aman dan dengan cara yang tetap konsisten terhadap kesehatan manusia dan ekosistem, serta konsisten terhadap keadilan masyarakat saat ini dan di masa yang akan datang, selain juga mendukung laju perkembangan ekonomi.

Jadi sistem transportasi yang berkelanjutan (sustainable transportation) merupakan salah satu aspek keberlanjutan menyeluruh (global sustainability) yang memiliki tiga komponen yang saling berhubungan, yaitu lingkungan -masyarakat - ekonomi. Dalam interaksi tersebut transportasi memegang peranan penting, sehingga perencanaan dan penyediaan sistem transportasi harus memperhatikan aspek ekonomi, lingkungan dan masyarakat. 

 

Kontradiksi Pembangunan

Pembangunan merupakan proses penghancuran/perusakan tatanan  atau nilai-nilai (sebelumnya) dan kreativitas memperbaiki tatanan atau nilai-nilai yang lainnya (sesudahnya). Jadi dalam pembangunan tidak ada satu tatanan atau nilai absolut yang harus dipertahankan, sementara tatanan atau nilai yang  lain harus dikorbankan. Manusia tidak bisa hidup hanya dalam lingkungan yang ideal, tanpa berkeadilan dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan harus terus berjalan, sudah tentu dengan tetap memperhatikan etika pembangunan seperti yang disyaratkan Prof. Emil Salim.

Terkait dengan transportasi berkelanjutan ada etika-etika yang perlu menjadi pertimbangan dalam proses pembangunan, seperti pembangunan transportasi. Ada beberapa prinsip dasar yang harus diterapkan dalam usaha mencapai terciptanya kota/daerah yang mempunyai sistem transportasi yang berkelanjutan.

Pertama, memberikan kenyamanan hidup masyarakat; seperti aksesibilitas dan mobilitas menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kedua, meningkatkan keadilan sosial dan ekonomi. Masyarakat, dalam radius pembangunan sarana transportasi atau secara keseluruhan dalam wilayah kota, kabupaten maupun propinsi, selayaknya memperoleh peluang lebih besar untuk mencari penghidupan atau melancarkan usahanya untuk meningkatkan kondisi sosial ekonominya.

Ketiga, mempunyai kontribusi dan bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah secara ekonomi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keempat, menjamin perkembangan lingkungan yang berkelanjutan. Kelima, meminimalkan dampak lingkungan pada tahap perencanaan, pembangunan dan sesudah pembangunan terutama pada tahap pengoperasiannya.

Dalam konsep pembangunan sistem transportasi berkelanjutan keseimbangan permintaan dengan penyediaan sarana dan prasarana harus selalu ada di dalam bingkai lingkungan. Dalam arti, pembangunan -- dalam hal ini perluasan Bandara Ngurah Rai -- sudah selayaknya mengutamakan pencegahan  terhadap kemungkinan terjadinya perusakan, seperti hutan bakau yang ada dalam radiusnya. Apabila ini tidak diperhatikan perluasan bandara akan menjadi salah satu penyebab terjadinya abrasi yang dapat berdampak lebih luas.

Mengorbankan hutan bakau (mangrove), tentu dipandang dari sisi lingkungan sangat merugikan. Sebab, hutan bakau merupakan salah satu benteng pertahanan untuk menghambat empasan gelombang atau naiknya air laut ke daratan yang dapat mengakibatkan abrasi. Hutan bakau banyak dikonversi menjadi perumahan, tempat usaha, atau pembangunan lainnya akan mengakibatkan air laut setiap waktu naik ke daratan dan mengakibatkan banjir. keberadaan hutan bakau juga merupakan benteng pencegahan yang dapat menahan lagu empasan air laut jika terjadi tsunami. Ancaman ini akan menjadi kenyataan apabila hutan bakau yang masih tersisa di sekitar Bandara Ngurah Rai terus dikonversi untuk berbagai kepentingan. Hutan bakau juga merupakan benteng alami yang dapat mengurangi empasan air laut jika tsunami terjadi.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)