Desa
Wisata
Kedewatan---
Mensinergikan
Pertanian
dan
Pariwisata
dalam
Membangun
Desa
Keberadaan
sektor
pertanian di
tengah
pesatnya perkembangan
sektor
pariwisata, kini
terkadang
dipandang
sebelah
mata.
Alih
fungsi
lahan pertanian
ke
nonpertanian saat
ini
semakin tak
terbendung.
Lahan
produktif
tak
lagi menghasilkan
tanaman
untuk kebutuhan
manusia.
Bahkan,
sebagian
lagi
dibiarkan telantar
setelah
dikuasai investor.
Ironisnya,
sektor
pertanian yang diwarisi
turun-temurun
kini
kehilangan generasi
penerus.
Sedikit
generasi
muda yang
mau
terjun ke
sektor yang
terkesan
berlumpur,
hasilnya
rendah
dan perlu
waktu lama. Dan,
hamparan
sawah yang
ada
kini hanya
dikerjakan
oleh
orang yang berusia
senja yang
memang
sangat menekuni
hal
tersebut di
tengah
godaan gemericik
dolar
dari pariwisata
atau
karena memang
tak ada
pilihan lain.
Bagaimana
dengan
Desa Pakraman
Kedewatan
Ubud?
--------------
DESA
Pakraman
Kedewatan,
Kecamatan
Ubud,
Gianyar mempunyai
luas
wilayah mencapai 150
hektar.
Dari jumlah
tersebut,
sepertiganya
kini
masih merupakan
hamparan
sawah yang
mempunyai
potensi
sendiri di
tengah
maraknya Kedewatan
sebagai
bagian dari
desa
pariwisata.
Desa
yang pernah
disinggahi Sri
Mpu
Markandya ini
mempunyai
krama
desa berjumlah 2.237
tersebar
di dua
banjar,
yakni Banjar
Kedewatan
dan
Banjar Kedewatan
Anyar.
Dalam
kehidupan
warga yang
heterogen,
berbagai
profesi
juga dilakoni
oleh
krama Desa
Kedewatan.
Mulai
dari bertani
sebanyak 710
orang,
pegawai swasta 415
orang,
pedagang 76 orang,
sektor
pertukangan sebanyak
50 orang
dan PNS/Polri
sebanyak 40
orang.
Batas desa
sebelah
barat yang merupakan
Sungai
Ayung, menjadikan
Kedewatan
sebagai
daerah yang asri
sehingga
banyak investor
melirik
untuk berinvestasi
membangun
usaha
dalam sektor
pariwisata.
Hadir
hotel berbintang,
vila,
penginapan,
serta
artshop yang berada
di
wewidangan desa
pakraman
menjadi
salah satu
pendapatan
desa yang
cukup
menjanjikan.
Di
samping
sektor pariwisata,
keberadaan
sektor
pertanian di
Kedewatan
juga
memberikan keuntungan
dalam
menunjang pariwisata.
Meski
tidak dimungkiri
akan
konversi
lahan yang
terjadi,
Desa
Pakraman Kedewatan
masih
mempunyai lahan
produktif
untuk
bertani.
Walaupun,
yang menggarap
lahan
pertanian tersebut
lebih
banyak dari
penyakap.
Petajuh
Desa
Pakraman Kedewatan
Dewa Made
Erawan,
Minggu (11/11) kemarin
mengatakan
hamparan
sawah yang
ada
juga
dimanfaatkan
sebagai
objek untuk
menambah
nilai
estetika usaha
jasa
pariwisata yang ada.
Erawan
sendiri
menegaskan untuk
sektor
pertanian sampai
saat
ini masih
cukup
banyak digeluti
oleh
warganya. ''Walaupun,
banyak
serbuan usaha
jasa
pariwisata, lahan
pertanian
masih
menjadi perhatian
masyarakat
Kedewatan,''
katanya.
Ini
karena
warga menyadari
kalau
sektor pertanian
memiliki
peran yang
penting.
Selain
sebagai
lahan penghidupan,
juga
desa ini
banyak
didatangi turis
karena
kondisi alam
dan
pertaniannya yang masih
cukup
asri.
Maka
tak
mengherankan banyak
investor pariwisata yang
datang
ke desa
ini.
Pihak
hotel, menurut
Erawan,
untuk kepentingan
bisnis
pariwisata telah
menjadikan
lahan
persawahan sebagai
objek.
Dan, ini
bisa
menghasilkan uang
sebagai
pendapatan Desa
Pakraman
Kedewatan.
Seperti
lahan laba
pura
sekitar 69 are yang sampai
kini
masih dikelola
sebagai
lahan pertanian
dimanfaatkan
oleh
salah satu hotel
berbintang
dijadikan
sebagai view.
Dari pemanfaatan
lahan
pertanian tersebut,
pihak
desa pakraman
mendapatkan
keuntungan yang
cukup
besar di
dalam
menunjang kegiatan
pembangunan
Desa
Pakraman Kedewatan.
Lahan
pertanian
milik
desa yang dikontrak
hotel selama
tiga
puluh tahun
nilainya
Rp 96
juta.
''Hal ini
dilakukan
oleh investor
untuk
menunjang view milik
hotel,'' tandasnya.
Keberadaan
hotel dan
vila
di
wewengkon desa
pakraman
menjadi
salah satu
pendapatan
desa yang
cukup
potensial selain
keuntungan
dari LPD yang
saat
ini mempunyai
aset Rp
3,2
milyar. Pendapatan
desa
pakraman yang diperoleh
dari
keberadaan usaha
jasa
baik hotel,
vila,
penginapan,
artshop,
termasuk
pungutan
terhadap
pendatang
dan
sektor lainnya,
jumlahnya
sebesar
Rp 7 juta per
bulan. ''Semua
dana
yang diperoleh
dalam
hal ini
seutuhnya
dipergunakan
untuk
kegiatan pembangunan
pura
dan pemberdayaan
desa
pakraman,'' katanya.
Bendesa
Pakraman
Kedewatan Sang
Putu
Eka Pertama yang
ditemui
di sela
kesibukannya
mempersiapkan
piodalan
di Pura
Puseh/Bale
Agung
dan pawintenan
prajuru
desa mengungkapkan,
potensi
pariwisata dalam
hal ini
dilakukan
tanpa
harus merusak
alam.
Konsep
menyatu
dengan alam
dilakukan
sehingga
lingkungan
Kedewatan
sangat
tertata.
Dalam
hal ini
konsep Tri
Hita
Karana masih
dipegang
teguh
oleh masyarakat.
''Kepemimpinan
yang dilakukan
tetap
berbasis budaya yang
di-back-up
dengan
manajemen modern,'' katanya.
*gung
darmada