Pura Pucak Mangu Miliki Dua Penataran
Pura Pucak Mangu adalah Pura Kahyangan Jagat dengan dua
fungsi yaitu sebagai Pura Catur Loka Pala dan Pura Padma
Bhuwana. Pura Catur Loka Pala adalah empat pura sebagai
media pemujaan kepada Tuhan yang melindungi empat
penjuru Bhuwana Agung. Pura Pucak Mangu di arah utara,
arah selatan Pura Andakasa, arah timur Pura Lempuyang
Luhur dan arah barat Pura Luhur Batukaru. Demikian
dinyatakan dalam Lontar Usada Bali. Bagaimana sejarah
berdirinya Pura Pucak Mangu itu?
======================================================
Pura
Padma Bhuwana itu adalah sembilan pura yang berada di
sembilan penjuru Bali sebagai lambang Padma Bhuwana
yaitu simbol alam semesta atau Bhuwana Agung. Pura Pucak
Mangu sebagai Pura Padma Bhuwana berada di arah barat
laut tempat memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai
Batara Sengkara -- dewanya tumbuh-tumbuhan.
Di Pura Pucak Mangu beliau dipuja di Meru Tumpang Lima
dengan sebutan Batara Pucak Mangu dengan upacara
piodalan-nya setiap Purnamaning Sasih Kapat. Sedangkan
upacara melastinya ke Pesiraman Pekebutan yang terletak
di Desa Bukian di sebelah timur Desa Plaga.
Pura Pucak Mangu memiliki dua Pura Penataran yaitu Pura
Penataran di Ulun Danu Beratan di Kabupaten Tabanan dan
Penataran di Desa Tinggan Kecamatan Petang Kabupaten
Badung. Pura Penataran Tinggan terletak di Desa Tinggan
Kecamatan Petang Kabupaten Badung ini didirikan pada
tahun 1752 Saka atau 1830 Masehi oleh Cokorda Nyoman
Mayun.
Di Pura Penataran Tinggan ini terdapat beberapa
pelinggih pokok yaitu Meru Tumpang Sebelas pelinggih
Batara Pucak Mangu. Meru Tumpang sembilan pelinggih
Batara di Teratai Bang, Meru Tumpang Tiga pelinggih
Batara di Pucak Bon, Gedong dengan lima ruang (sejenis
Pelangkiran) pelinggih Batara di Pucak Sangkur, Padma
Rong Tiga untuk Pengubengan, Padmasana sebagai Surya
pelinggih Saksi.
Dengan dibangunnya Pura Penataran Tinggan ini sehingga
Pura Pucak Mangu memiliki dua Pura Penataran. Pura
Penataran yang pertama didirikan oleh I Gst. Agung Putu
yang setelah menjadi Raja Mengwi pertama bergelar
Cokorda Sakti Blambangan. Penataran Pura Puncak Mangu
yang pertama didirikan tahun 1555 Saka atau tahun 1633
Masehi di tepi Danau Beratan karena itu disebut juga
Pura Ulun Danu Beratan. Pura ini berada di sebelah Pura
Dalem Purwa.
Di Pura Penataran pertama ini Ida Batara Puncak Mangu
distanakan di Pelinggih Meru Tumpang Tiga, pelinggih ini
juga disebut Pelinggih Lingga Petak, karena di bawah
Meru itu dijumpai batu putih sebesar manusia diapit oleh
batu hitam dan batu putih. Ada juga Meru Tumpang Pitu
sebagai Pesimpangan Batara Teratai Bang. Meru Tumpang
Sebelas sebagai Pelinggih Batara Ulun Danu atau disebut
Batara Tengahing Segara.
Penataran Pura Pucak Mangu yang kedua didirikan tahun
1752 Saka atau tahun 1830 Masehi oleh Cokorda Nyoman
Mayun. Hal ini disebabkan pada tahun tersebut Kerajaan
Mengwi mengalami kemunduran. Puri Marga menguasai daerah
di sekitar Danau Beratan pernah tidak patuh dan
bermasalah dengan Kerajaan Mengwi.
Karena itu anggota kerajaan dan masyarakat Mengwi
mengalami kesulitan kalau ingin sembahyang ke Pura
Penataran di Ulun Danu Beratan. Karena itu Raja
memutuskan untuk membangun Pura Penataran Pucak Mangu di
Desa Tinggan. Hal itulah yang menyebabkan Pura Pucak
Mangu memiliki dua Pura Penataran.
Upacara di Pucak Mangu dilakukan dua kali setahun. Pada
Purnama Sasih Kapat dilakukan upacara piodalan baik di
Pura Pucak Mangu maupun di Pura Penataran Tinggan.
Sedangkan Purnama Sasih Kapitu dilakukan upacara
Ngebekin di kedua pura tersebut. Upacara piodalan dan
upacara ngebekin di Pura Pucak Mangu diselenggarakan
oleh delapan kelompok pemaksan yaitu Tinggan, Plaga,
Bukian, Kiadan, Nungnung, Semanik, Tiyingan dan Auman.
Delapan pemaksan inilah yang membantu Puri Mengwi untuk
melaksanakan kedua upacara pokok tersebut.
Di samping upacara piodalan setiap tahun juga diadakan
upacara Ngebekin. Fungsi upacara Ngebekin adalah sebagai
sarana pemujaan kepada Tuhan sebagai Dewa Sangkara untuk
memohon agar hasil tumbuh-tumbuhan terutama padi dapat
berhasil dengan baik. Dewa Sangkara adalah manifestasi
Tuhan sebagai penjaga tumbuh-tumbuhan. Banten pokok
dalam upacara Ngebekin yakni Banten Sorohan Pelupuhan.
Upacara Ngebekin ini tujuannya adalah memohon Tirtha
Ngebekin. Umat dari delapan kelompok pemaksan setiap
upacara Ngebekin membawa sujang yaitu potongan bambu
yang masih hijau sebagai tempat tirtha.
Tirtha Ngebekin ini tidak boleh digunakan untuk
nyiratang atau diminumkan kepada manusia. Tirtha
Ngebekin itu hanya untuk kasiratang (dicipratkan) kepada
sawah ladang dan tumbuh-tumbuhan pertanian. Tirtha
Ngebekin itulah sebagai simbol penyucian dan
pemeliharaan segala tumbuh-tumbuhan pertanian sebagai
sumber hidup umat manusia.
Upacara
Ngebekin ini intinya tidak berbeda dengan upacara
memandikan Lingga Yoni dalam sistem Siwa Pasupata. Air
dengan berbagai perlengkapannya yang dijadikan sarana
memandikan Lingga itu menjadi tirtha untuk memercikan
tumbuh-tumbuhan di sawah ladang simbol mohon kesuburan.
Upacara memandikan Lingga inilah dilanjutkan dengan
istilah upacara Ngebekin dalam sistem Siwa Sidhanta.
Meski demikian, keberadaan Lingga di Pura Pucak Mangu
tetap dipertahankan di Pelinggih Tepasana. Yang menarik
di sini adalah banten utama yang digunakan di Pura Pucak
Mangu adalah Banten Pelupuhan Bebek.
Banten-banten yang dipersembahkan ke Pura Pucak Mangu
tidak boleh menggunakan daging babi. Kecuali kalau ada
perbaikan pura terus dilangsungkan upacara Ngeruwak
barulah banten Ngeruwak itu saja yang boleh menggunakan
guling babi. Sedangkan di Pura Penataran Tinggan
dipergunakan Banten Pelupuhan Babi.
Banten Pelupuhan Babi ini menggambarkan cerita Batara
Wisnu turun mencari pangkal Lingga ke bawah dengan
menjadi babi hitam. Terus ketemu dengan Dewi Wasundhari.
Dari pertemuan itu lahirlah Boma. Dewa Wisnu simbol air
dan Dewi Wasundhari simbol pertiwi. Pertemuan air dan
pertiwi melahirkan Boma. Kata Boma dalam bahasa
Sansekerta artinya pohon. Canakya Niti menyatakan bahwa
air, tumbuh-tumbuhan, dan kata-kata bijak adalah tiga
ratna permata bumi. Kalau tiga hal ini diutamakan oleh
manusia maka kehidupan sejahtera itu pasti dicapai.
* wiana