Pura Pucak Mangu
Upahvare giringan samgthe ca
Nadinam dhiya vipro ajayata.
(Rgveda VIII.6.28)
Maksudnya:
Di tempat-tepat yang tergolong hening, di gunung-gunung
dan pertemuan dua sungai, di sanalah orang bijak (viprah)
mendapatkan pemikiran yang jernih.
PURA
Pucak Mangu mungkin sudah ada sejak zaman budaya
megalitikum berkembang di Bali dengan bukti
diketemukannya peninggalan Lingga yang cukup besar. Di
tempat inilah I Gusti Agung Putu, pendiri Kerajaan
Mengwi, melakukan tapa brata mencari keheningan pikiran
setelah kalah dalam perang tanding.
I
Gusti Agung Putu pun menemukan jati dirinya dan bangkit
lagi dari kekalahannya, terus dapat meraih kemenangan
sampai dapat mendirikan Kerajaan Mengwi. Di tempat I Gst.
Agung Putu bertapa brata itulah Pura Pucak Mangu kembali
dipugar dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan umat
Hindu yang terus berkembang. Puncak Gunung Mangu ini
memang sangat hening untuk melakukan tapa brata untuk
perenungkan diri seperti yang pernah dilakukan oleh I
Gst. Agung Putu. Menurutnya, kegagalan bukan untuk
disesalkan dan berputus asa, tetapi untuk dijadikan
pengalaman serta diambil hikmahnya untuk pelajaran diri
selanjutnya. Dengan cara itulah kegagalan dapat diubah
menjadi awal kesuksesan.
Dalam peta Pulau Bali nama Gunung Mangu hampir tidak
dikenal. Mungkin karena Gunung Mangu ini tidak begitu
tinggi. Namun kalau kita baca lontar tentang Pura
Kahyangan Jagat nama Gunung Mangu ini akan mudah
diketemukan. Nama Gunung Mangu ini disebutkan dalam
Lontar Babad Mengwi. Leluhur Raja Mengwi yang bernama I
Gusti Agung Putu kalah secara kesatria dalam pertempuran
melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dari Puri Kekeran.
Karena kalah I Gusti Agung Putu ditawan dan diserahkan
kepada I Gst. Ngurah Tabanan sebagai tawanan perang.
Oleh seorang patih dari Marga bernama I Gusti Bebalang
meminta kepada I Gusti Ngurah Tabanan agar dibolehkan
mengajak I Gusti Agung Putu ke Marga. Setelah di Marga
inilah timbul niatnya I Gusti Agung Putu ingin membalas
kekalahannya dengan cara-cara kestria kepada I Gusti
Ngurah Batu Tumpeng.
Sebelum membalas kekalahannya, I Gusti Agung Putu
terlebih dahulu bertapa di puncak Gunung Mangu tempat
Pura Pucak Mangu sekarang. Di puncak Gunung Mangu inilah
I Gusti Agung Putu mendapat pawisik keagamaan dengan
kekuatan magis religius. Setelah itu I Gusti Agung Putu
kembali menantang I Gusti Ngurah Batu Tumpeng bertempur.
Berkah hasil tapanya di Gunung Mangu itulah I Gusti
Agung Putu meraih kemenangan melawan I Gusti Ngurah Batu
Tumpeng dan musuh-musuhnya yang lain.
Gunung Mangu ini terletak di sebelah timur laut Danau
Beratan. Gunung ini juga bernama Pucak Beratan, Pucak
Pengelengan, dan Pucak Tinggan. Orang dari Desa Beratan
menyebut gunung tersebut Pucak Beratan. Sedangkan orang
yang dari Desa Tinggan menyebutnya Pucak Tinggan. Karena
umat di Desa Tinggan-lah yang ngempon aci-aci di Pura
Pucak Mangu tersebut.
Nama Pucak Pengelengan menurut penuturan keluarga Raja
Mengwi bahwa saat I Gusti Agung Putu bertapa di Pucak
Mangu, Batara Pucak Mangu menulis (ngerajah) lidahnya.
Setelah itu I Gusti Agung Putu disuruh ngelengan (melihat
keseliling). Mana daerah yang dilihat dengan terang
itulah nanti daerah kekuasaannya. Karena itulah Pucak
Mangu ini juga disebut Pucak Pengelengan.
Pura Pucak Mangu memiliki dua Pura Penataran yaitu Pura
Ulun Danu Beratan didirikan oleh I Gusti Agung Putu yang
berada di sebelah barat Gunung Mangu dan Pura Penataran
Agung Tinggan di sebelah timur Gunung Mangu didirikan
oleh keturunannya yaitu Cokorda Nyoman Mayun.
Di Pucak Mangu ini terdapat sebuah pura dengan ukuran 14
x 24 meter. Di dalamnya ada beberapa pelinggih dan
bangunan yang bernilai sejarah kepurbakalaan. Yaitu
sebuah Lingga, dengan ukuran tinggi 60 cm dan garis
tengahnya 30 cm. Bahannya dari batu alam lengkap dengan
bentuk segi 4 (Brahma Bhaga), segi delapan (Wisnu Bhaga)
dan bulat panjang (Siwa Bhaga).
Menurut para ahli purba kala, Lingga ini sezaman dengan
dengan Lingga di Pura Candi Kuning. Para ahli
memperkirakan penggunaan Linga dan Candi sebagai media
pemujaan di Bali berlangsung dari abad X - XIV. Setelah
abad itu pemujaan di Bali menggunakan bentuk Meru dan
Gedong. Kapan tepatnya Pura Pucak Mangu ini didirikan
belum ada prasasti atau sumber lainnya dengan tegas
menyatakannya.
Dari cerita keluarga Raja Mengwi konon ketika I Gusti
Agung Putu akan bersemadi di gunung ini menjumpai
kesulitan karena hutannya sangat lebat. Setelah beliau
berusaha ke sana-ke mari lalu beliau mendengar suara
tawon. I Gusti Agung Putu pun menuju suara tawon itu.
Ternyata di tempat suara tawon itu dijumpai reruntuhan
pelinggih termasuk Lingga tersebut. Setelah itu
kemungkinan pura ini dipugar oleh I Gusti Agung Putu
setelah beliau berhasil menjadi Raja Mengwi serta
mendirikan Pura Penataran-nya di tepi Danau Beratan.
Nampaknya sampai abad XVIII pelinggih utama di Pura
Pucak Mangu adalah Lingga Yoni saja dan bangunan
pelengkap lainnya. Setelah pemerintahan I Gst. Agung
Nyoman Mayun yang bergelar Cokorda Nyoman Mayun
melengkapinya dengan pendirian Meru Tumpang Lima linggih
Batara Pucak Mangu. Meru Tumpang Tiga linggih Batara
Teratai Bang dan Tepasana tempat Lingga.
Ada juga dibangun Padma Capah sebagai Pengubengan,
Pelinggih Panca Resi yang mempunyai lima ruangan yang
menghadap ke empat penjuru dan sebuah ruangan berada di
tengah, dan bangunan lainnya. Menurut Babad Mengwi, atas
perintah Cokorda Nyoman Mayun-lah Pura Penataran Tinggan
didirikan tahun Saka 1752 atau 1830 Masehi. Mungkin
zaman dahulu menuju ke Pura Penataran Ulun Danu Beratan
masih sulit karena keadaan alamnya. Hal itulah barang
kali menyebabkan Pura Pucak Tinggan memiliki dua Pura
Penataran.
Sampai tahun 1896 saat runtuhnya Kerajaan Mengwi tidak
ada tercatat dalam sejarah bahwa Pura Pucak Mangu
direstorasi. Tahun 1927 akibat gempa yang dhasyat Pura
Pucak Mangu ikut runtuh. Pura tersebut baru direstorasi
tahun 1934 - 1935. Tahun 1978 terjadi angin kencang lagi
yang merusak pelinggih dan bangunan lainnya. Pada tahun
itu juga pura tersebut direstorasi kembali.
* I Ketut Gobyah