kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 10 Oktober 2007

 Tajuk


Sisi
Lain Dunia Pendidikan 

TAWURAN, perkelahian, persaingan tidak sehat antarpelajar masih mewarnai aktivitas dunia pendidikan kita. Seringkali para pelajar yang tawuran itu masih mengenakan atribut sekolahnya. Baju putih abu-abu, lencana sekolah, lencana OSIS, tas sekolah, dan lainnya. Tetapi di tangan mereka tergenggam senjata: batu, galah, pisau, rantai dan lainnya. Aparat mencoba melerai, tetapi keberingasan  para pelajar itu susah, tidak mudah dikendalikan.

Sisi brutalitas kalangan pelajar ini adalah sebuah potensi terus-menerus memerlukan perhatian pihak-pihak yang terkait. Paling tidak kita dapat mencari tiga akar penyebabnya. Pertama, sadar-tidak sadar terkadang sekolah sendiri menanam benih-benih arogansi berlebihan pada para siswanya. Entah karena prestasi-prestasi yang diraih, fasilitas sekolah yang dimiliki, keunggulan finansial, dan faktor-faktor lain, yang ditanamkan secara berlebihan, dan kurang diimbangi penyadaran moral dan budi pekerti, bisa jadi membentuk ''karakter'', atau identitas secara keseluruhan. Ketika keluar dari lingkungan sekolah dan berhadapan dengan siswa dari sekolah lain ''identitas'' dan ''karakter'' itu terbawa-bawa. Maka bukan mustahil ia berpotensi menjadi benturan.

Kedua, terjadi kesalahan dalam memahami makna solidaritas sehingga ia menjadi solidaritas buta. Tidak dilandasi perhitungan-perhitungan jernih dan rasional. Maka ketika terjadi perselisihan antarpelajar, solidaritas buta ini mengemuka, dalam wujud tindakan brutal. Yang penting membela teman, salah atau benar tidak penting. Yang bukan teman adalah lawan yang harus dihajar. Kita memprihatinkan solidaritas buta ini, apabila tidak mendapat pembenahan sejak dini, di belakang hari tidak akan menghilang, namun justru kian berkembang menjadi bentuk-bentuk premanisme. Dia bisa bermetamorfosis menjadi premanisme kekuasaan misalnya, yang pelaku dan dampaknya jauh lebih serius dan luas. Arenanya, guru, pihak sekolah, dan instansi yang terkait dengan pendidikan generasi muda kita sudah seharusnya bisa membaca potensi ini agar tidak berkembang jadi penghancur SDM masa depan.

Ketiga, mereka? Para pelajar, generasi penerus bangsa kita itu? Kehilangan cermin keteladanan untuk melihat nilai-nilai yang bisa membentuk keluhuran budi, moralitas dan intelektualitasnya. Ketika sejak awal, di lingkungan internal sekolah mereka tidak menemukan bentuk-bentuk kejujuran misalnya penerimaan siswa baru yang sarat KKN, main belakang, uang pelicin, katebelece pejabat dan lainnya, hal itu bukan mustahil membenihkan frustrasi akan nilai-nilai moralitas, kejujuran, simpati dan empati terhadap pihak lain. Lalu ketika keluar lingkungan sekolah, demikian terbiasa mereka menyimak informasi mengenai kebejatan oknum-oknum yang seharusnya berada pada posisi terdepan dalam hal penegakan nilai-nilai moralitas, bukan mustahil akan mengakibatkan tumbangnya kepercayaan dan kepedulian pada nilai-nilai moralitas itu. Misalnya, ketika seorang tokoh panutan, oknum pejabat, atau penegak hukum yang tiba-tiba tertangkap dengan tuduhan korupsi. Atau para wakil rakyat kita yang baku pukul di gedung parlemen. Padahal mereka merupakan warga terhormat di mana masyarakat meletakkan aspirasinya. Atau ada elite yang beradegan porno, berselingkuh dan sebagainya. Cerminan-cerminan seperti itu tentunya lebih mudah ditiru oleh remaja kita yang sedang dalam proses pencarian jati diri.

Menyalahkan sekolah sebagai ujung tombak dalam mendidik siswa jelas tidak adil. Pada dasarnya, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama; lingkungan keluarga, sekolah, dan pemerintah. Proses pembelajaran tidak cukup dengan menggarap sisi kecerdasan akademis semata. Faktor kejiwaan peserta didik sama pentingnya untuk diarahkan secara positif sejak dini. Ini menjadi tugas berat kita bersama, melalui transformasi nilai, dan lebih penting lagi melalui keteladanan perilaku.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)