Sisi
Lain Dunia
Pendidikan
TAWURAN,
perkelahian,
persaingan
tidak
sehat antarpelajar
masih
mewarnai aktivitas
dunia
pendidikan kita.
Seringkali
para
pelajar yang tawuran
itu
masih mengenakan
atribut
sekolahnya. Baju
putih
abu-abu, lencana
sekolah,
lencana OSIS,
tas
sekolah, dan
lainnya.
Tetapi
di tangan
mereka
tergenggam senjata:
batu,
galah, pisau,
rantai
dan lainnya.
Aparat
mencoba melerai,
tetapi
keberingasan para
pelajar
itu susah,
tidak
mudah dikendalikan.
Sisi
brutalitas
kalangan
pelajar
ini adalah
sebuah
potensi terus-menerus
memerlukan
perhatian
pihak-pihak yang
terkait. Paling
tidak
kita dapat
mencari
tiga akar
penyebabnya.
Pertama,
sadar-tidak
sadar
terkadang sekolah
sendiri
menanam benih-benih
arogansi
berlebihan
pada
para siswanya.
Entah
karena prestasi-prestasi
yang diraih,
fasilitas
sekolah yang
dimiliki,
keunggulan
finansial,
dan
faktor-faktor lain, yang
ditanamkan secara
berlebihan,
dan
kurang diimbangi
penyadaran moral
dan
budi pekerti,
bisa
jadi membentuk ''karakter'',
atau
identitas secara
keseluruhan.
Ketika
keluar dari
lingkungan
sekolah
dan berhadapan
dengan
siswa dari
sekolah lain ''identitas''
dan ''karakter''
itu
terbawa-bawa. Maka
bukan
mustahil ia
berpotensi
menjadi
benturan.
Kedua,
terjadi
kesalahan dalam
memahami
makna
solidaritas sehingga
ia
menjadi solidaritas
buta.
Tidak dilandasi
perhitungan-perhitungan
jernih
dan rasional.
Maka
ketika terjadi
perselisihan
antarpelajar,
solidaritas
buta
ini mengemuka,
dalam
wujud tindakan
brutal. Yang penting
membela
teman, salah
atau
benar tidak
penting. Yang
bukan
teman adalah
lawan yang
harus
dihajar. Kita memprihatinkan
solidaritas
buta
ini, apabila
tidak
mendapat pembenahan
sejak
dini, di
belakang
hari
tidak akan
menghilang,
namun
justru kian
berkembang
menjadi
bentuk-bentuk premanisme.
Dia
bisa bermetamorfosis
menjadi
premanisme kekuasaan
misalnya, yang
pelaku
dan dampaknya
jauh
lebih serius
dan
luas. Arenanya, guru,
pihak
sekolah, dan
instansi yang
terkait
dengan pendidikan
generasi
muda
kita sudah
seharusnya
bisa
membaca potensi
ini agar
tidak
berkembang jadi
penghancur SDM
masa
depan.
Ketiga,
mereka? Para
pelajar,
generasi
penerus
bangsa kita
itu?
Kehilangan cermin
keteladanan
untuk
melihat nilai-nilai
yang bisa
membentuk
keluhuran
budi,
moralitas dan
intelektualitasnya.
Ketika
sejak awal,
di
lingkungan internal sekolah
mereka
tidak menemukan
bentuk-bentuk
kejujuran
misalnya
penerimaan
siswa
baru yang sarat KKN,
main belakang,
uang
pelicin, katebelece
pejabat
dan lainnya,
hal itu
bukan
mustahil membenihkan
frustrasi
akan
nilai-nilai moralitas,
kejujuran,
simpati
dan empati
terhadap
pihak lain.
Lalu
ketika keluar
lingkungan
sekolah,
demikian
terbiasa
mereka
menyimak informasi
mengenai
kebejatan
oknum-oknum yang
seharusnya
berada
pada posisi
terdepan
dalam
hal penegakan
nilai-nilai
moralitas,
bukan
mustahil akan
mengakibatkan
tumbangnya
kepercayaan
dan
kepedulian pada
nilai-nilai
moralitas
itu.
Misalnya, ketika
seorang
tokoh panutan,
oknum
pejabat, atau
penegak
hukum yang tiba-tiba
tertangkap
dengan
tuduhan korupsi.
Atau
para wakil
rakyat
kita yang
baku
pukul
di gedung
parlemen.
Padahal
mereka merupakan
warga
terhormat di
mana
masyarakat meletakkan
aspirasinya.
Atau
ada elite yang beradegan
porno, berselingkuh
dan
sebagainya.
Cerminan-cerminan seperti
itu
tentunya lebih
mudah
ditiru oleh
remaja
kita yang sedang
dalam
proses pencarian
jati
diri.
Menyalahkan
sekolah
sebagai ujung
tombak
dalam mendidik
siswa
jelas tidak
adil.
Pada dasarnya,
pendidikan
merupakan
tanggung
jawab
bersama; lingkungan
keluarga,
sekolah,
dan
pemerintah. Proses
pembelajaran
tidak
cukup dengan
menggarap
sisi
kecerdasan akademis
semata.
Faktor kejiwaan
peserta
didik sama
pentingnya
untuk
diarahkan secara
positif
sejak dini.
Ini
menjadi tugas
berat
kita bersama,
melalui
transformasi nilai,
dan
lebih penting
lagi
melalui keteladanan
perilaku.