kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 10 Oktober 2007

 Bali


DARI WARUNG GLOBAL

Petani
jangan Selalu Dianaktirikan 

LAGI-LAGI petani harus menerima kenyataan pahit. Tahun 2008 nanti Departemen Pertanian berencana mengurangi subsidi untuk pupuk urea. Ini artinya harga pupuk akan naik. Lalu mana komitmen pemerintah yang selalu menggembar-gemborkan akan menyejahterakan kehidupan petani? Ketika akan mencari suara petani selalu mendapatkan sanjungan, selalu mendapat perhatian istimewa, selalu akan dibantu. Lalu bantuan macam apa yang mereka dapatkan? Seandainya saja negeri ini memang tidak mampu untuk memberikan tunjangan, baik untuk pejabat maupun PNS, tentu petani akan maklum. Pemerintah hendaknya bertindak adil. Kesejahteraan PNS dan pejabat memang harus diperhatikan tetapi petani tidak boleh dianaktirikan. Kepentingan mereka pun tetap harus diperhatikan. Tetapi melihat kenyataan, pejabat tunjangannya makin naik, tidak salah jika petani merasakan bahwa tidak ada niat baik dari pemerintah untuk memperhatikan nasib mereka. Demikian salah satu opini yang muncul dalan acara Warung Global yang disiarkan Radio Global 96,5 FM, Selasa (9/10) kemarin. Berikut rangkuman selengkapnya.

----------------------------------

Gede Biasa di Denpasar memaparkan, Indonesia berada pada tempat yang strategis dengan iklim tropis dan kekayaan alam yang melimpah. Memiliki lahan yang luas dan subur sehingga sangat potensial untuk mengembangkan usaha pertanian. Tetapi kenapa Indonesia sampai mengimpor beras dari negara lain? Di mana letak masalahnya? Sejauh ini benarkah pemerintah telah berbuat sesuatu untuk kesejahteraan petani? Hanya petani yang bisa merasakannya. Apakah kebijakan yang dibuat pemerintah telah mampu menyejahterakan mereka atau justru sebaliknya, membunuh mereka secara pelan-pelan.

Ledang Asmara di Denpasar mengajak masyarakat memaklumi beban yang ditanggung pemerintah sangat berat sehingga subsidi untuk berbagai bidang pembangunan harus dikurangi. Memang kebijakan yang diambil pemerintah tidak berpihak kepada rakyat kecil. Tetapi sebagai petani masyarakat harus cerdas. Untuk menyikapi berkurangnya subsidi pupuk, petani harus melakukan perubahan secara besar-besaran dan mulai harus berpikir mencari alternaif lain untuk mengganti pupuk buatan.

Sudarma di Peguyangan Kaja mengimbau pemerintah untuk bertindak adil. Kesejahteraan PNS dan pejabat harus diperhatikan tetapi petani tidak boleh dianaktirikan. Kepentingan mereka pun tetap harus diperhatikan.

Menurut Sulu di Denpasar, selama pemerintah yang mengatur negara ini tidak cerdas maka selama itu pula segala permasalahan tidak akan terselesaikan. Melihat dari keadaan alam Indonesia tanpa bantuan pemerintah pun petani dapat berdiri sendiri. Karena selama ini dibantu pun petani tidak pernah merasakan manfaatnya. Karena belum sampai di tujuan, bantuan telah dimakan duluan oleh oknum-oknum yang hanya memikirkan kesejahteraan pribadi.

Nang Tut Su di Tabanan mengajak petani kembali menoleh ke belakang. Pada era sebelum tahun 70-an pupuk buatan tidak begitu banyak digunakan. Petani masih menggunakan pupuk organik. Berkat ketekunan dan kerja keras mereka cukup berhasil. Sekarang tanpa pupuk buatan pun sebenarnya petani masih bisa berproduksi tinggi, dengan kerja keras dan dengan cara-cara lama. Keberhasilan seorang petani terletak di tangan mereka sendiri. Seberapa besar usaha mereka untuk berusaha dengan keras sehingga segala biaya dapat ditekan.

Hal berbeda disampaikan Ketut kari di Kintamani. Membandingkan dulu dengan sekarang; zaman dulu petani masih dapat memilih lahan yang bagus dan subur untuk bertani. Tanpa bantuan pupuk pun usaha mereka akan berhasil. Tetapi seiring berjalannya waktu, di mana perkembangan manusia sangat pesat, sehingga lahan pertanian tidak bisa lagi dipilih sesuai keinginan di samping kesuburan tanah makin hari makin berkurang. Oleh karena itu walau harus menelan kenyataan pahit, suka tidak suka, pupuk harus tetap dibeli.

Nasib petani memang selalu seperti ini. Tetapi Sutama di Kerobokan menyarankan agar petani tidak cepat berputus asa. Banyak hal yang masih dapat dilakukan. Yang penting ada kemauan untuk berusaha. Di mana ada kemauan di sana pasti ada jalan.

Jujur di Sanglah mengaku tidak mengerti dengan segala kebijakan yang dibuat pemerintah. Di satu sisi pemerintah banyak mengeluarkan tunjangan, ada tunjangan partai, ada tunjangan ini itu untuk pejabat dan PNS. Di sisi lain subsidi untuk pendidikan, untuk petani selalu diturunkan. Mana komitmen pemerintah yang selalu mengatakan akan menyejahtrakan kehidupan petani? Ketika akan mencari suara petani selalu mendapatkan sanjungan, selalu mendapat perhatian istimewa, selalu katanya akan dibantu. Lalu bantuan macam apa yang mereka dapatkan? Seandainya saja negeri ini memang tidak mampu untuk memberikan tunjangan baik untuk pejabat maupun PNS, tentu petani akan maklum. Tetapi melihat kenyataan, pejabat tunjangannya makin naik, tidak salah jika petani merasakan bahwa tidak ada niat baik dari pemerintah untuk memperhatikan nasib mereka.

Wayan Gubar di Klungkung dan Pekak Lenong di Soka mengaku tidak pernah merasakan subsidi pupuk yang diberikan pemerintah. Memang pada kulit pembungkus pupuk yang mereka beli tercantum harga subsidi tetapi yang mereka bayar tetap dengan harga lebih tinggi dari harga subsidi. Jadi disubsidi ataupun tidak bagi mereka tidak ada masalah. Cuma yang mereka harapkan air yang menjadi kebutuhan mereka jangan dimonopoli. Air jangan hanya didistribusikan untuk kebutuhan perusahaan air minum karena petani juga memiliki hak atas air yang merupakan kekayaan negara.·         wati Ananta

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)