DARI WARUNG GLOBAL
Petani
jangan
Selalu Dianaktirikan
LAGI-LAGI
petani
harus menerima
kenyataan
pahit.
Tahun
2008 nanti
Departemen
Pertanian
berencana
mengurangi
subsidi
untuk pupuk urea.
Ini
artinya harga
pupuk
akan
naik.
Lalu mana
komitmen
pemerintah yang
selalu
menggembar-gemborkan
akan
menyejahterakan
kehidupan
petani?
Ketika
akan mencari
suara
petani selalu
mendapatkan
sanjungan,
selalu
mendapat perhatian
istimewa,
selalu
akan dibantu.
Lalu
bantuan macam
apa
yang mereka
dapatkan?
Seandainya
saja
negeri ini
memang
tidak mampu
untuk
memberikan tunjangan,
baik
untuk pejabat
maupun PNS,
tentu
petani
akan maklum.
Pemerintah
hendaknya
bertindak
adil.
Kesejahteraan
PNS dan
pejabat memang
harus
diperhatikan tetapi
petani
tidak boleh
dianaktirikan.
Kepentingan
mereka pun
tetap
harus diperhatikan.
Tetapi
melihat
kenyataan, pejabat
tunjangannya
makin
naik, tidak
salah
jika petani
merasakan
bahwa
tidak ada
niat
baik dari
pemerintah
untuk
memperhatikan nasib
mereka.
Demikian
salah
satu opini yang
muncul
dalan acara
Warung Global yang
disiarkan Radio Global 96,5
FM, Selasa (9/10)
kemarin.
Berikut
rangkuman
selengkapnya.
----------------------------------
Gede
Biasa
di Denpasar
memaparkan, Indonesia
berada
pada tempat yang
strategis
dengan
iklim tropis
dan
kekayaan alam yang
melimpah.
Memiliki
lahan yang
luas
dan subur
sehingga
sangat
potensial untuk
mengembangkan
usaha
pertanian. Tetapi
kenapa Indonesia
sampai
mengimpor beras
dari
negara lain?
Di
mana
letak masalahnya?
Sejauh
ini
benarkah pemerintah
telah
berbuat sesuatu
untuk
kesejahteraan petani?
Hanya
petani yang
bisa
merasakannya.
Apakah
kebijakan yang
dibuat
pemerintah telah
mampu
menyejahterakan mereka
atau
justru sebaliknya,
membunuh
mereka
secara pelan-pelan.
Ledang
Asmara di
Denpasar
mengajak
masyarakat
memaklumi
beban yang
ditanggung
pemerintah
sangat
berat sehingga
subsidi
untuk berbagai
bidang
pembangunan harus
dikurangi.
Memang
kebijakan yang
diambil
pemerintah tidak
berpihak
kepada
rakyat kecil.
Tetapi
sebagai
petani masyarakat
harus
cerdas. Untuk
menyikapi
berkurangnya
subsidi
pupuk, petani
harus
melakukan perubahan
secara
besar-besaran dan
mulai
harus berpikir
mencari
alternaif lain untuk
mengganti
pupuk
buatan.
Sudarma
di
Peguyangan Kaja
mengimbau
pemerintah
untuk
bertindak adil.
Kesejahteraan
PNS dan
pejabat harus
diperhatikan
tetapi
petani tidak
boleh
dianaktirikan.
Kepentingan
mereka pun
tetap
harus diperhatikan.
Menurut
Sulu di
Denpasar,
selama
pemerintah yang mengatur
negara
ini tidak
cerdas
maka selama
itu pula
segala
permasalahan tidak
akan
terselesaikan.
Melihat
dari
keadaan alam
Indonesia
tanpa
bantuan pemerintah
pun petani
dapat
berdiri sendiri.
Karena
selama
ini dibantu pun
petani
tidak pernah
merasakan
manfaatnya.
Karena
belum
sampai di
tujuan,
bantuan telah
dimakan
duluan oleh
oknum-oknum yang
hanya
memikirkan kesejahteraan
pribadi.
Nang
Tut Su
di Tabanan
mengajak
petani
kembali menoleh
ke
belakang.
Pada era
sebelum
tahun 70-an
pupuk
buatan tidak
begitu
banyak digunakan.
Petani
masih
menggunakan pupuk
organik.
Berkat
ketekunan
dan
kerja keras
mereka
cukup berhasil.
Sekarang
tanpa
pupuk buatan pun
sebenarnya
petani
masih bisa
berproduksi
tinggi,
dengan kerja
keras
dan dengan
cara-cara lama.
Keberhasilan
seorang
petani terletak
di
tangan mereka
sendiri.
Seberapa
besar
usaha mereka
untuk
berusaha dengan
keras
sehingga segala
biaya
dapat ditekan.
Hal berbeda
disampaikan
Ketut
kari
di
Kintamani.
Membandingkan
dulu
dengan sekarang;
zaman
dulu petani
masih
dapat memilih
lahan yang
bagus
dan subur
untuk
bertani. Tanpa
bantuan
pupuk pun usaha
mereka
akan
berhasil.
Tetapi
seiring
berjalannya waktu,
di mana
perkembangan
manusia
sangat pesat,
sehingga
lahan
pertanian tidak
bisa
lagi dipilih
sesuai
keinginan di
samping
kesuburan tanah
makin
hari makin
berkurang.
Oleh
karena
itu walau
harus
menelan kenyataan
pahit,
suka tidak
suka,
pupuk harus
tetap
dibeli.
Nasib
petani
memang selalu
seperti
ini.
Tetapi
Sutama
di Kerobokan
menyarankan agar
petani
tidak cepat
berputus
asa.
Banyak
hal yang
masih
dapat dilakukan.
Yang penting
ada
kemauan untuk
berusaha.
Di mana
ada
kemauan di
sana
pasti
ada jalan.
Jujur
di
Sanglah mengaku
tidak
mengerti dengan
segala
kebijakan yang dibuat
pemerintah.
Di
satu
sisi pemerintah
banyak
mengeluarkan tunjangan,
ada
tunjangan partai,
ada
tunjangan ini
itu
untuk pejabat
dan PNS.
Di sisi
lain
subsidi untuk
pendidikan,
untuk
petani selalu
diturunkan.
Mana
komitmen pemerintah
yang selalu
mengatakan
akan
menyejahtrakan
kehidupan
petani?
Ketika
akan mencari
suara
petani selalu
mendapatkan
sanjungan,
selalu
mendapat perhatian
istimewa,
selalu
katanya akan
dibantu.
Lalu
bantuan macam
apa
yang mereka
dapatkan?
Seandainya
saja
negeri ini
memang
tidak mampu
untuk
memberikan tunjangan
baik
untuk pejabat
maupun PNS,
tentu
petani
akan maklum.
Tetapi
melihat
kenyataan, pejabat
tunjangannya
makin
naik, tidak
salah
jika petani
merasakan
bahwa
tidak ada
niat
baik dari
pemerintah
untuk
memperhatikan nasib
mereka.
Wayan
Gubar
di Klungkung
dan
Pekak Lenong
di Soka
mengaku
tidak pernah
merasakan
subsidi
pupuk yang diberikan
pemerintah.
Memang
pada kulit
pembungkus
pupuk yang
mereka
beli tercantum
harga
subsidi tetapi yang
mereka
bayar
tetap
dengan harga
lebih
tinggi dari
harga
subsidi.
Jadi
disubsidi
ataupun
tidak bagi
mereka
tidak ada
masalah.
Cuma
yang mereka
harapkan air yang
menjadi
kebutuhan mereka
jangan
dimonopoli. Air
jangan
hanya didistribusikan
untuk
kebutuhan perusahaan
air minum
karena
petani juga
memiliki
hak
atas air yang merupakan
kekayaan
negara.·
wati
Ananta