Perbaikan Bali Dimulai dari Pemda
Saya hendak meneruskan sebuah surat dari pembaca
Bali Post edisi Jumat 5 Januari 2007 tentang Bali. Tiga tahun lalu
saya pernah ke Prancis, saya sempat bertanya kepada seorang warga
mengenai Bali. Dia menjawab bahwa Bali adalah impian setiap orang
di Prancis. Saya merasa sangat bangga mendengar jawaban ini.
---------
Saya juga membaca sebuah buletin edisi Oktober 2006
dari KBRI Kuala Lumpur, bahwa menurut hasil survai sebuah majalah
pariwisata terkenal di Amerika, Bali terpilih sebagai daerah
tujuan wisata nomor satu dari warga negara Paman Sam ini.
Institusi saya juga mendapat kunjungan dari seorang
guru di Perth, Australia. Saya tanyakan pula tentang Bali, dia
menjawab Bali adalah daerah tujuan utama dari warga Australia
(saya rasa semua warga Bali sudah mengetahui hal ini). Dia juga
menjawab bahwa bagi warga Australia, Bali adalah Sister City (Kota
Kembar, menganggap seperti rumah sendiri) dari Australia. Masih
banyak lagi komentar positif dan kekaguman yang kita dengar
mengenai Bali, baik di TV, media cetak, ataupun perorangan.
Tetapi di balik semua kebanggaan itu, saya
merasakan kekecewaan, bahwa Pemda Bali, komponen pariwisata, dan
sebagian warga seakan tidak menyadari potensi yang dimilikinya.
Pemda, komponen pariwisata, dan sebagian masyarakat seakan lupa
bahwa payuk jakan berada pada industri pariwista, mereka tidak
berusaha untuk berinvestasi dan memelihara untuk masa depan
pemeliharaan aset wisata Bali, baik sumber daya manusia, sumber
daya alam dan budaya. Semua diekspos dan dieksploitasi tanpa
memperhatikan batas-batas yang harus dipatuhi demi pelestarian
sumber daya itu sendiri.
Warga Bali sebenarnya sudah bisa mengelola
daerahnya sendiri secara otonom (banjar, desa adat) tanpa bantuan
pemda. Tapi, antardesa adat perlu bersatu dalam visi misi yang
sama, dan terkoordinasi satu sama lain untuk pemeliharaan sumber
daya Bali. Fungsi inilah yang seharusnya diperankan pemda sebagai
aparat pemersatu pemerintahan-pemerintahan adat di Bali. Tetapi
bagaimana kenyataannya? Pemda-pemda hanya sebagai aparatur atasan
yang terlepas (disfungsi, disorder) dari masyarakat adat yang
seharusnya dinaunginya, bahkan institusi gubernur hanya sebuah
posisi mandul yang selama ini tidak berperan signifikan dalam
pengembangan dan konservasi Bali. Seharusnya gubernur dijabat oleh
seorang yang proaktif dan bervisi kerakyatan, yang berusaha
membina Bali yang kian terpecah-pecah ini.
Jadi menurut saya, perbaikan Bali harus dimulai
dari pemda, terutama gubernur yang visioner dan merakyat. Dengan
kepemimpinan yang solid dan produktif, otomatis
pemerintahan-pemerintahan adat akan lebih terorganisir dan bersatu
menuju masa depan Bali.
I Kadek
Suparta
Sekolah Indonesia Kuala Lumpur
Jl. Lorong Tun Ismail No. 1
KL 50480, Malaysia