Manusia Kelas Dua
WARGA Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara,
Isa (50) mengadukan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi,
Jawa Barat, ke Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPRD Kota Bekasi,
Selasa (2/1). RSUD itu sempat menolak merawat Maman Suparman (30),
putra Isa.
Lead berita berjudul "RSU Daerah Tolak Warga Miskin" yang termuat
koran terbitan Jakarta edisi Rabu (3/1) itu menarik perhatian
Rubag. Maman, karyawan reparasi AC pengidap penyakit usus buntu
yang memerlukan operasi segera itu ternyata ditolak RSUD Kota
Bekasi karena menggunakan fasilitas keluarga miskin (Gakin).
Dengan alasan kamar kelas III sudah penuh, petugas RSUD
mengusulkan agar Isa merawat anaknya di RS Cipto Mangunkusumo.
Kelanjutan dari berita itu membuat hati Rubag miris. Karena tak
tahan melihat penderitaan anaknya, Isa mendaftarkan Maman sebagai
pasien umum, siap membayar sendiri seluruh biaya kamar dan
perawatan. Dengan kesanggupan itu, petugas RSU baru mau melayani
Maman dan menempatkannya di kamar kelas II selama dua hari,
selanjutnya enam hari di kamar kelas III. Selama delapan hari
perawatan, Isa harus membayar tagihan sebesar Rp 6,3 juta, yang
tak bisa dilunaskannya secara tunai. Sisa utang Rp 1,7 juta yang
belum terbayar ditundanya dengan jaminan Surat Akta Jual-Beli
Rumah di RSUD Kota Bekasi. Itu berarti, Surat Keterangan Tidak
Mampu (SKTM) yang dipegang keluarga Isa jadi mubazir.
Meskipun tidak sama, namun kisah Isa dan anaknya Maman di Bekasi
yang terjadi 13 Desember tahun lalu serupa dengan cerita yang
dituturkan seorang warga kota Denpasar pada Rubag. Beberapa hari
menjelang tutup tahun 2006, ketika Rubag sedang duduk istirahat
siang di bale sakanem di rumahnya, seorang laki-laki berkaos
oblong datang tergopoh-gopoh diikuti seorang wanita dengan bayi
yang tertidur lelap dalam gendongannya.
"Om Swastyastu, Pak Rubag! Maaf saya mengganggu istirahat Anda,"
ujar pria yang ternyata Made Jirna, kenalan Rubag yang juga mantan
kiper kawakan di Denpasar tahun 1980-an, sembari memperkenalkan
istri dan bayinya yang baru berusia dua minggu.
"Saya tidak tahu ke mana harus mengadu, tapi cuma ingin mendengar
dari Anda, apa di negeri ini orang-orang miskin seperti kami tak
punya kesempatan untuk hidup layaknya manusia? Atau mungkinkah ada
aturan yang melarang orang miskin melahirkan anak? Miskin bukanlah
pilihan hidup saya, tapi takdir yang tidak bisa dielakkan, namun
mengapa orang miskin diperlakukan seperti sampah? Syukur kehendak
Tuhan tidak bisa dibatalkan kesewenang-wenangan manusia, sehingga
bayi saya masih hidup," lanjut Jirna
.
"Wah, saya seperti terguyur hujan lebat di bawah terik matahari.
Apa yang terjadi?" tanya Rubag heran.
"Bayi yang dipangku istri saya itu lahir pukul tiga subuh di
pinggir Jalan Nangka, Denpasar, di emper sebuah toko.
Kalau saja bukan atas pituduh Widi, dia dan ibunya yang masih
bersimbah darah ketika saya tinggalkan untuk mencari pertolongan
bidan, bisa jadi dilalap anjing yang banyak berkeliaran di
sekitarnya," tutur pria yang menghidupkan keluarganya dengan
berjualan soto itu.
Selanjutnya, Jirna mengisahkan, beberapa bulan sebelum melahirkan,
istrinya memeriksakan kandungan dan mendapat perawatan di sebuah
RSUD di Denpasar, berbekalkan SKTM dengan fasilitas pasien Gakin.
Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa posisi janin dan plasenta
tidak normal, sehingga dari seorang petugas kesehatan RSUD yang
berkompeten dinyatakan bahwa kelahiran diperkirakan melalui bedah
caesar.
Berdasarkan surat keterangan paramedis itu, Jirna mengantarkan
istrinya yang mengeluarkan banyak air ketuban ke RSUD itu, suatu
malam menjelang subuh.
"Saya menggonceng istri yang terus meringis dan mengaduh, mungkin
tak kuat menahan sakit. Apa lacur, di tempat penerimaan hanya ada
Satpam, yang setelah melihat SKTM dan Gakin yang saya sodorkan,
mengatakan tidak ada kamar alias penuh. Kemudian pembantu dokter
yang bertugas malam itu juga mengatakan hal yang sama. Malah
setelah menelepon seseorang, saya disarankan membawa istri ke RSUP
Sanglah. Padahal surat-surat yang saya bawa menyatakan bahwa RSUD
itu yang wajib melayani. Saya kehabisan akal," ujar Jirna
terbata-bata.
Ditambah alasan kedua petugas yang mengaku tidak berani melanggar
aturan pimpinan RSUD, Jirna terpaksa melarikan istrinya yang tak
henti-hentinya meringis, pulang. Sebab untuk membawa istrinya ke
RSUP tanpa surat rujukan RSUD, dia khawatir akan ditolak pula. Dia
juga tak tahu, apakah SKTM dan Gakin berlaku di tempat lain.
Sedangkan di kantongnya tidak tersedia cukup uang, apalagi untuk
kepentingan operasi caesar.
"Setiba di rumah, saya tinggalkan istri yang terus mengerang
kesakitan, dengan tujuan meminjam uang dari dua kawan.
Sayang, mereka pun tidak bisa saya temui, mungkin tidur terlalu
lelap sehingga pintunya tidak dibuka saat saya ketuk berkali-kali.
Saya baru sadar kalau pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada
kondisi yang lebih jelek daripada miskin di zaman materialistik
ini, bukanlah pendapat berlebihan. Tapi menjadi miskin bukan
pilihan saya, cuma nasib baik yang tidak mau bersahabat," keluh
Jirna menyesali diri.
Ketika balik pulang, lanjut Jirna, dia mendapatkan banyak tetangga
mendatangi rumahnya. Perasaannya kian tak menentu karena suara
erang dan tangis istrinya kian menjadi-jadi. Seorang tetangganya
menasihati agar Jirna membawa istrinya ke rumah praktik bidan di
kawasan Jalan Nangka. Karena tak tahan melihat penderitaan
istrinya, dia ikuti saran itu meski tahu kalau uang di sakunya tak
akan cukup untuk membayar ongkos bidan.
Lagi-lagi setelah sang bidan meneliti surat keterangan dari RSUD
yang diperlihatkan, Jirna kembali diminta membawa istrinya ke
RSUD. Alasannya, di tempat itu tidak tersedia peralatan bedah
caesar, karena biasanya hanya melayani kelahiran normal.
"Coba bayangkan Pak Rubag, bagaimana kalau Anda menjadi saya!
Saat itu saya merasa bukan seperti manusia lagi lantaran salah
saya jadi orang miskin. Tanah yang saya pijak sudah tak terasa
lagi dan hati saya seperti remuk," urainya tanpa sadar kalau dari
kelopak matanya menetes air.
Baru beberapa ratus meter sepeda motornya melaju, tiba-tiba
istrinya minta turun karena sakitnya sudah tidak tertahan lagi.
Jirna memarkir motornya di pinggir jalan dan menuntun istrinya ke
emper sebuah toko. Di situlah, dengan hanya beralaskan lantai
dingin dan kotor, berkat kebesaran Tuhan, seorang bayi laki-laki
lahir. Ternyata, bayi yang didiagnose secara medis akan lahir
lewat caesar, nongol ke dunia secara normal lewat mukjizat.
Jirna bergegas meninggalkan bayi dan istrinya yang bersimbah darah
untuk balik ke rumah bidan minta pertolongan. Setelah empat hari
dirawat di rumah bidan, kesehatan anak dan istrinya pulih kembali,
namun Jirna harus membayar biaya perawatan sebesar Rp 1.750.000.
Untung, kendati baru mampu membayar Rp 500 ribu, buah hatinya
diperkenankan diboyong pulang, meski tidak harus menyetor jaminan
seperti Isa di Bekasi.
"Mudah-mudahan nasib seperti ini tidak terjadi pada orang-orang
miskin lainnya. Tidak enak kok jadi orang miskin di negeri ini. Di
sini, orang miskin sepertinya dilarang sekolah, dilarang sakit dan
dilarang punya anak, seakan-akan mereka manusia kelas dua.
Syukur, Tuhan berkehendak lain," komentar Jirna dengan mimik
geram sembari permisi pada Rubag.
* aridus