kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 7 Januari 2007 tarukan valas
 

OPINI


Manusia Kelas Dua

WARGA Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara, Isa (50) mengadukan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi, Jawa Barat, ke Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPRD Kota Bekasi, Selasa (2/1). RSUD itu sempat menolak merawat Maman Suparman (30), putra Isa.

Lead berita berjudul "RSU Daerah Tolak Warga Miskin" yang termuat koran terbitan Jakarta edisi Rabu (3/1) itu menarik perhatian Rubag. Maman, karyawan reparasi AC pengidap penyakit usus buntu yang memerlukan operasi segera itu ternyata ditolak RSUD Kota Bekasi karena menggunakan fasilitas keluarga miskin (Gakin). Dengan alasan kamar kelas III sudah penuh, petugas RSUD mengusulkan agar Isa merawat anaknya di RS Cipto Mangunkusumo.

Kelanjutan dari berita itu membuat hati Rubag miris. Karena tak tahan melihat penderitaan anaknya, Isa mendaftarkan Maman sebagai pasien umum, siap membayar sendiri seluruh biaya kamar dan perawatan. Dengan kesanggupan itu, petugas RSU baru mau melayani Maman dan menempatkannya di kamar kelas II selama dua hari, selanjutnya enam hari di kamar kelas III. Selama delapan hari perawatan, Isa harus membayar tagihan sebesar Rp 6,3 juta, yang tak bisa dilunaskannya secara tunai. Sisa utang Rp 1,7 juta yang belum terbayar ditundanya dengan jaminan Surat Akta Jual-Beli Rumah di RSUD Kota Bekasi. Itu berarti, Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang dipegang keluarga Isa jadi mubazir.

Meskipun tidak sama, namun kisah Isa dan anaknya Maman di Bekasi yang terjadi 13 Desember tahun lalu serupa dengan cerita yang dituturkan seorang warga kota Denpasar pada Rubag. Beberapa hari menjelang tutup tahun 2006, ketika Rubag sedang duduk istirahat siang di bale sakanem di rumahnya, seorang laki-laki berkaos oblong datang tergopoh-gopoh diikuti seorang wanita dengan bayi yang tertidur lelap  dalam gendongannya.

"Om Swastyastu, Pak Rubag! Maaf saya mengganggu istirahat Anda," ujar pria yang ternyata Made Jirna, kenalan Rubag yang juga mantan kiper kawakan di Denpasar tahun 1980-an, sembari memperkenalkan istri dan bayinya yang baru berusia dua minggu.

"Saya tidak tahu ke mana harus mengadu, tapi cuma ingin mendengar dari Anda, apa di negeri ini orang-orang miskin seperti kami tak punya kesempatan untuk hidup layaknya manusia? Atau mungkinkah ada aturan yang melarang orang miskin melahirkan anak? Miskin bukanlah pilihan hidup saya, tapi takdir yang tidak bisa dielakkan, namun mengapa orang miskin diperlakukan seperti sampah? Syukur kehendak Tuhan tidak bisa dibatalkan kesewenang-wenangan manusia, sehingga bayi saya masih hidup," lanjut Jirna

.
"Wah, saya seperti terguyur hujan lebat di bawah terik matahari. Apa yang terjadi?" tanya Rubag heran.

"Bayi yang dipangku istri saya itu lahir pukul tiga subuh di pinggir Jalan Nangka, Denpasar, di emper sebuah toko.   Kalau saja bukan atas pituduh Widi, dia dan ibunya yang masih bersimbah darah ketika saya tinggalkan untuk mencari pertolongan bidan, bisa jadi dilalap anjing yang banyak berkeliaran di sekitarnya," tutur pria yang menghidupkan keluarganya dengan berjualan soto itu.

Selanjutnya, Jirna mengisahkan, beberapa bulan sebelum melahirkan, istrinya memeriksakan kandungan dan mendapat perawatan di sebuah RSUD di Denpasar, berbekalkan SKTM dengan fasilitas pasien Gakin. Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa posisi janin dan plasenta tidak normal, sehingga dari seorang petugas kesehatan RSUD yang berkompeten dinyatakan bahwa kelahiran diperkirakan melalui bedah caesar.

Berdasarkan surat keterangan paramedis itu, Jirna mengantarkan istrinya yang mengeluarkan banyak air ketuban ke RSUD itu, suatu malam menjelang subuh.

 "Saya menggonceng istri yang terus meringis dan mengaduh, mungkin tak kuat menahan sakit. Apa lacur, di tempat penerimaan hanya ada Satpam, yang setelah melihat SKTM dan Gakin yang saya sodorkan, mengatakan tidak ada kamar alias penuh. Kemudian pembantu dokter yang bertugas malam itu juga mengatakan hal yang sama. Malah setelah menelepon seseorang, saya disarankan membawa istri ke RSUP Sanglah. Padahal surat-surat yang saya bawa menyatakan bahwa RSUD itu yang wajib melayani. Saya kehabisan akal," ujar Jirna terbata-bata.

Ditambah alasan kedua petugas yang mengaku tidak berani melanggar aturan pimpinan RSUD, Jirna terpaksa melarikan istrinya yang tak henti-hentinya meringis, pulang. Sebab untuk membawa istrinya ke RSUP tanpa surat rujukan RSUD, dia khawatir akan ditolak pula. Dia juga tak tahu, apakah SKTM dan Gakin berlaku di tempat lain. Sedangkan di kantongnya tidak tersedia cukup uang, apalagi untuk kepentingan operasi caesar.

"Setiba di rumah, saya tinggalkan istri yang terus mengerang kesakitan, dengan tujuan meminjam uang dari dua kawan.  Sayang, mereka pun tidak bisa saya temui, mungkin tidur terlalu lelap sehingga pintunya tidak dibuka saat saya ketuk berkali-kali. Saya baru sadar kalau pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada kondisi yang lebih jelek daripada miskin di zaman materialistik ini, bukanlah pendapat berlebihan. Tapi menjadi miskin bukan pilihan saya, cuma nasib baik yang tidak mau bersahabat," keluh Jirna menyesali diri.

Ketika balik pulang, lanjut Jirna, dia mendapatkan banyak tetangga mendatangi rumahnya. Perasaannya kian tak menentu karena suara erang dan tangis istrinya kian menjadi-jadi. Seorang tetangganya menasihati agar Jirna membawa istrinya ke rumah praktik bidan di kawasan Jalan Nangka. Karena tak tahan melihat penderitaan istrinya, dia ikuti saran itu meski tahu kalau uang di sakunya tak akan cukup untuk membayar ongkos bidan.

Lagi-lagi setelah sang bidan meneliti surat keterangan dari RSUD yang diperlihatkan, Jirna kembali diminta membawa istrinya ke RSUD. Alasannya, di tempat itu tidak tersedia peralatan bedah caesar, karena biasanya hanya melayani kelahiran normal.

 "Coba bayangkan Pak Rubag, bagaimana kalau Anda menjadi saya! Saat itu saya merasa bukan seperti manusia lagi lantaran salah saya jadi orang miskin. Tanah yang saya pijak sudah tak terasa lagi dan hati saya seperti remuk," urainya tanpa sadar kalau dari kelopak matanya menetes air.

Baru beberapa ratus meter sepeda motornya melaju, tiba-tiba istrinya minta turun karena sakitnya sudah tidak tertahan lagi. Jirna memarkir motornya di pinggir jalan dan menuntun istrinya ke emper sebuah toko. Di situlah, dengan hanya beralaskan lantai dingin dan kotor, berkat kebesaran Tuhan, seorang bayi laki-laki lahir. Ternyata, bayi yang didiagnose secara medis akan lahir lewat caesar, nongol ke dunia secara normal lewat mukjizat.

Jirna bergegas meninggalkan bayi dan istrinya yang bersimbah darah untuk balik ke rumah bidan minta pertolongan. Setelah empat hari dirawat di rumah bidan, kesehatan anak dan istrinya pulih kembali, namun Jirna harus membayar biaya perawatan sebesar Rp 1.750.000. Untung, kendati baru mampu membayar Rp 500 ribu, buah hatinya diperkenankan diboyong pulang, meski tidak harus menyetor jaminan seperti Isa di Bekasi.

"Mudah-mudahan nasib seperti ini tidak terjadi pada orang-orang miskin lainnya. Tidak enak kok jadi orang miskin di negeri ini. Di sini, orang miskin sepertinya dilarang sekolah, dilarang sakit dan dilarang punya anak, seakan-akan  mereka manusia kelas dua. Syukur, Tuhan berkehendak lain,"  komentar Jirna dengan mimik geram sembari permisi pada Rubag.

* aridus

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com