kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 7 Januari 2007 tarukan valas
 

BERITA


Model LCC Cenderung Abaikan Keselamatan

PESAWAT Adam Air jenis Boeing 737-400 dengan nomor penerbangan KI 574 hingga kini belum ditemukan. Semua pihak kebingungan, mengapa pesawat ini tiba-tiba hilang dari pantauan. Padahal, pemerintah memiliki regulasi dan alat pendeteksi jalannya pesawat. Pertanyaan besar muncul, apakah manajemen pernebangan nasional begitu amburadul?

Pertanyaan itu sejatinya bisa dijawab dari perbandingan angka kecelakaan berikut ini. Angka kecelakaan pesawat udara di Indonesia tiga kali lipat dibanding di Asia yang hanya tiga kali per tahun. Indeks kecelakaan pesawat udara di Indonesia sebesar 2,46 lebih tinggi dibandingkan indeks di Asia (1), kawasan Eropa (0,6), dan Amerika Serikat (0,8).

Dari data ini bisa diambil kesimpulan sederhana bahwa ada yang tidak beres dari operasionalisasi penerbangan sipil nasional. Maskapai berlomba-lomba mencari keuntungan dengan menjual tiket secara murah dengan mengabaikan standar prosedur keamanan dan keselamatan penumpang. Pemerintah juga berlomba-lomba memperbanyak maskapai penerbengan sipil dan tidak melakukan pengawasan super ketat terhadap prosedur keamanan dan keselamatan penerbangan.

Fakta sederhana yang bisa dilihat adalah masih banyaknya pesawat yang dipakai oleh hampir sebagian besar maskapai di Indonesia adalah pesawat yang usianya sekitar 18 tahun ke atas. Selain itu, banyak pula yang melakukan sistem kanibalisme spare parts. Yang lebih parah, banyak pula pesawat yang dibeli second bukan baru. Adam Air bahkan sama sekali tidak memiliki pesawat. "Kami hanya sewa di sebuah perusahaan di Amerika. Jumlahnya sekitar 21 pesawat," tegas Alex, salah satu manajemen Adam Air kepada Bali Post. Nama perusahaan di Amerika itu sengaja disembunyikan oleh Adam Air. "Tidak usah disebutkanlah," tambah kuasa hukum Adam Air Ali Leonardi.

Ketua MPR Hidayat Nurwahid menuding adanya ketidakberesan dalam manajemen pengelolaan transportasi udara. "Kasus kecelakaan pesawat merupakan petunjuk adanya ketidakberesan dalam manajemen pengelolaan transportasi," tegas Hidayat Nurwahid.

Buruknya manajemen dituding sebagai penyebab utama, baik udara, laut, maupun kereta api. Akibatnya mutu pelayanan terutama keamanan dan keselamatan pengguna jasa transportasi diabaikan, rendahnya kualitas armada transportasi, dan kelalaian atau terlalu percaya dirinya sejumlah operator menghadapi keadaan dan situasi cuaca.

Pengamat penerbangan K. Martono menunjuk pemerintah sebagai biang kerok masalah. Martono menyatakan pengawasan pemerintah sangat lemah. Pemerintah juga tidak tegas menerapkan peraturan, terutama sanksi kepada maskapai penerbangan atau operator jasa transportasi lainnya. Regulasi cuma macan kertas tapi ompong di lapangan.

"Pengawasan harus diperketat. Sebab, faktor penunjang keselamatan itu banyak faktor, antara lain sumber daya manusia, peralatan, kondisi pesawat, hingga terkait jenis barang yang dibawa penumpang, dan masih banyak lagi," tegas Martono. Selain itu, sarana penunjang keselamatan yang disiapkan pemerintah juga tidak sempurna diterapkan.

Sebenarnya, tahun 2007 ini merupakan tahun harapan bagi dunia penerbangan sipil nasional. Jumlah penumpang yang terus meningkat menyebabkan banyak operator penerbangan yang ngiler. Mereka berlomba-omba menarik untung sebanyak-banyaknya dengan menerapkan sistem low cost carriers (LCC) alias tarif murah.

Sistem LCC diawali lima tahun yang lalu saat Air Asia mulai beroperasi dengan menawarkan konsep LCC dan tercatat sebagai LCC pertama di Asia. Trend LCC pun meruak, bahkan ke Malaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina. Banyak pihak, termasuk DPR menuding LCC sebagai biang pengabaian keamanan dan keselamatan.

 

Model LCC

Model LCC antara lain menerakan satu kelas penumpang dengan banyak sub kelas. Menetapkan satu jenis pesawat (biasanya B 737 atau A320) untuk mengurangi biaya pelatihan dan servis. Skema tarif juga sederhana. Biasanya tarif meningkat saat pesawat bertambah penuh. Memberi keuntungan bagi pemesan awal. Strategi ini dikenal sebagai yield management.

Kursi juga dibuat tanpa nomor untuk mendorong penumpang lebih awal dan bergegas saat naik pesawat. Pendaratan pesawat dilakukan di bandara sekunder yang murah dan tidak terlalu ramai untuk menghindari penundaan akibat lalu lintas yang padat sekaligus mengambil untung dari biaya mendarat yang rendah.

Penerbangan lebih baik dilakukan jarak pendek dan waktu perputaran cepat memungkinkan utilisasi pesawat secara maksimum. Rutenya sederhana, lebih menekankan pada penerbangan point-to-point daripada transfer demi utilisasi pesawat.

"Pengambilan rute juga dilakukan secara cermat guna mengurangi jam terbang dan lebih hemat BBM," tegas instruktur pilot dan keselamatan pesawat adam Air Kapten Rubi Waterkam.

Cara lain untuk menghemat adalah menekankan penjualan tiket langsung, terutama melalui internet guna menghindari komisi untuk travel agent dan corporate booking systems. Katering gratis di pesawat dan layanan komplinen dihilangkan dan diganti pilihan untuk membeli makanan dan minuman yang dijual di pesawat.

Kendati demikian, meski menerapkan LCC, Kapten Rubi membantah bila Adam Air mengabaikan prosedur keamanan dan keselamatan. "Kami tetap melakukan prosedur keamanan dan keselamatan sesuai peraturan," tegas Rubi Waterkam kepada Bali Post. (heru b. arifin/berbagai sumber)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com