Model LCC Cenderung Abaikan Keselamatan
PESAWAT
Adam Air jenis Boeing 737-400 dengan nomor penerbangan KI 574
hingga kini belum ditemukan. Semua pihak kebingungan, mengapa
pesawat ini tiba-tiba hilang dari pantauan. Padahal, pemerintah
memiliki regulasi dan alat pendeteksi jalannya pesawat. Pertanyaan
besar muncul, apakah manajemen pernebangan nasional begitu
amburadul?
Pertanyaan itu sejatinya bisa dijawab dari
perbandingan angka kecelakaan berikut ini. Angka kecelakaan
pesawat udara di Indonesia tiga kali lipat dibanding di Asia yang
hanya tiga kali per tahun. Indeks kecelakaan pesawat udara di
Indonesia sebesar 2,46 lebih tinggi dibandingkan indeks di Asia
(1), kawasan Eropa (0,6), dan Amerika Serikat (0,8).
Dari data ini bisa diambil kesimpulan sederhana
bahwa ada yang tidak beres dari operasionalisasi penerbangan sipil
nasional. Maskapai berlomba-lomba mencari keuntungan dengan
menjual tiket secara murah dengan mengabaikan standar prosedur
keamanan dan keselamatan penumpang. Pemerintah juga berlomba-lomba
memperbanyak maskapai penerbengan sipil dan tidak melakukan
pengawasan super ketat terhadap prosedur keamanan dan keselamatan
penerbangan.
Fakta sederhana yang bisa dilihat adalah masih
banyaknya pesawat yang dipakai oleh hampir sebagian besar maskapai
di Indonesia adalah pesawat yang usianya sekitar 18 tahun ke atas.
Selain itu, banyak pula yang melakukan sistem kanibalisme spare
parts. Yang lebih parah, banyak pula pesawat yang dibeli second
bukan baru. Adam Air bahkan sama sekali tidak memiliki pesawat.
"Kami hanya sewa di sebuah perusahaan di Amerika. Jumlahnya
sekitar 21 pesawat," tegas Alex, salah satu manajemen Adam Air
kepada Bali Post. Nama perusahaan di Amerika itu sengaja
disembunyikan oleh Adam Air. "Tidak usah disebutkanlah," tambah
kuasa hukum Adam Air Ali Leonardi.
Ketua MPR Hidayat Nurwahid menuding adanya
ketidakberesan dalam manajemen pengelolaan transportasi udara.
"Kasus kecelakaan pesawat merupakan petunjuk adanya ketidakberesan
dalam manajemen pengelolaan transportasi," tegas Hidayat Nurwahid.
Buruknya manajemen dituding sebagai penyebab utama,
baik udara, laut, maupun kereta api. Akibatnya mutu pelayanan
terutama keamanan dan keselamatan pengguna jasa transportasi
diabaikan, rendahnya kualitas armada transportasi, dan kelalaian
atau terlalu percaya dirinya sejumlah operator menghadapi keadaan
dan situasi cuaca.
Pengamat penerbangan K. Martono menunjuk pemerintah
sebagai biang kerok masalah. Martono menyatakan pengawasan
pemerintah sangat lemah. Pemerintah juga tidak tegas menerapkan
peraturan, terutama sanksi kepada maskapai penerbangan atau
operator jasa transportasi lainnya. Regulasi cuma macan kertas
tapi ompong di lapangan.
"Pengawasan harus diperketat. Sebab, faktor
penunjang keselamatan itu banyak faktor, antara lain sumber daya
manusia, peralatan, kondisi pesawat, hingga terkait jenis barang
yang dibawa penumpang, dan masih banyak lagi," tegas Martono.
Selain itu, sarana penunjang keselamatan yang disiapkan pemerintah
juga tidak sempurna diterapkan.
Sebenarnya, tahun 2007 ini merupakan tahun harapan
bagi dunia penerbangan sipil nasional. Jumlah penumpang yang terus
meningkat menyebabkan banyak operator penerbangan yang ngiler.
Mereka berlomba-omba menarik untung sebanyak-banyaknya dengan
menerapkan sistem low cost carriers (LCC) alias tarif murah.
Sistem LCC diawali lima tahun yang lalu saat Air
Asia mulai beroperasi dengan menawarkan konsep LCC dan tercatat
sebagai LCC pertama di Asia. Trend LCC pun meruak, bahkan ke
Malaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina. Banyak pihak,
termasuk DPR menuding LCC sebagai biang pengabaian keamanan dan
keselamatan.
Model LCC
Model LCC antara lain menerakan satu kelas
penumpang dengan banyak sub kelas. Menetapkan satu jenis pesawat
(biasanya B 737 atau A320) untuk mengurangi biaya pelatihan dan
servis. Skema tarif juga sederhana. Biasanya tarif meningkat saat
pesawat bertambah penuh. Memberi keuntungan bagi pemesan awal.
Strategi ini dikenal sebagai yield management.
Kursi juga dibuat tanpa nomor untuk mendorong
penumpang lebih awal dan bergegas saat naik pesawat. Pendaratan
pesawat dilakukan di bandara sekunder yang murah dan tidak terlalu
ramai untuk menghindari penundaan akibat lalu lintas yang padat
sekaligus mengambil untung dari biaya mendarat yang rendah.
Penerbangan lebih baik dilakukan jarak pendek dan
waktu perputaran cepat memungkinkan utilisasi pesawat secara
maksimum. Rutenya sederhana, lebih menekankan pada penerbangan
point-to-point daripada transfer demi utilisasi pesawat.
"Pengambilan rute juga dilakukan secara cermat guna
mengurangi jam terbang dan lebih hemat BBM," tegas instruktur
pilot dan keselamatan pesawat adam Air Kapten Rubi Waterkam.
Cara lain untuk menghemat adalah menekankan
penjualan tiket langsung, terutama melalui internet guna
menghindari komisi untuk travel agent dan corporate booking
systems. Katering gratis di pesawat dan layanan komplinen
dihilangkan dan diganti pilihan untuk membeli makanan dan minuman
yang dijual di pesawat.
Kendati demikian, meski menerapkan LCC, Kapten Rubi
membantah bila Adam Air mengabaikan prosedur keamanan dan
keselamatan. "Kami tetap melakukan prosedur keamanan dan
keselamatan sesuai peraturan," tegas Rubi Waterkam kepada Bali
Post. (heru b. arifin/berbagai sumber)