kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 7 Januari 2007 tarukan valas
 

KELUARGA


Perkawinan Manusia dengan Makhluk Lain

Joko Tarub (1)

DALAM media massa sering dikisahkan pengalaman orang yang kawin dengan makhluk lain. Pasangan kawinnya adalah jin atau peri. Apakah peristiwa itu kenyataan atau tidak, sulit ditangkap dengan pancaindra. Kisah aneh itu hanya dapat dirasakan dan dialami oleh orang yang bersangkutan.

----------

 

Kisah-kisah klasik juga banyak menceritakan hal itu. Ikuti misalnya epos Mahabharata. Siapa istri Bima? Seorang raksasa bernama Hidimbi. Siapa istri Arjuna? Banyak! Seorang di antaranya adalah bidadari bernama Supraba. Seorang spiritualis seperti Jaratkaru pun ditakdirkan kawin dengan seekor naga, karena ia menginginkan keturunan. Kisah-kisah seperti itu bukan saja terdapat dalam sastra Timur tetapi juga dalam sastra Barat. Perkawinan manusia dengan makhluk setengah dewa misalnya terdapat dalam mitos-mitos Yunani.

Bagaimana dengan dongeng? Perkawinan aneh itu bukan saja sering terjadi, tetapi juga bervariasi! Ada manusia yang kawin dengan raksasa, naga, kera, burung, kodok, bahkan dengan ikan yang bernama ikan duyung.

Di Bali sangat terkenal dengan Rajapala. Untuk menunjukkan bahwa kisah perkawinan pemuda dengan bidadari itu tidak saja terdapat di Bali, berikut diceritakan dongeng ''Joko Tarub'' yang berasal dari Jawa.

***

 

Di dalam hutan tinggal seorang pemuda miskin. Namanya Joko Tarub. Di samping bertani, ia sangat gemar berburu. Ke mana-mana ia selalu membawa sumpit. Walaupun hidupnya tidak terurus, namun ia kelihatan sangat tampan.

Waktu itu musim kemarau panjang. Ia cukup jauh menyelusup meninggalkan gubuknya. Sudah puluhan kali ia membidikkan sumpit, tetapi tak seekor hewan yang kena. Perutnya lapar dan tenggorokannya haus. Ketika melepas lelah di bawah pohon yang rindang, ia menoleh ke balik semak.

''Telaga!'' teriaknya kegirangan.

Ia segera bangkit menuju air telaga yang jernih itu. Beberapa langkah sebelum mencapai air, ia mendengar gemuruh angin di angkasa. Awan tebal tergulung-gulung, bercerai-cerai, akhirnya terang-benderang.

''Burung!'' teriaknya sambil mengarahkan sumpitnya.

Aneh, burung-burung yang mengepakkan sayapnya itu menukik dan melayang-layang makin rendah. Joko Tarub curiga, jangan-jangan makhluk aneh itu bukan burung, tetapi bidadari yang turun dari kayangan. Ia segera bersembunyi ke dalam semak-semak. Timbul keinginannya untuk mengetahui makhluk aneh apakah yang sedang disaksikannya itu.

Dugaannya benar. Makhluk itu adalah bidadari yang sangat cantik. Jumlahnya tujuh orang. Setelah menginjakkan kaki di pigngir telaga, mereka melepas sayap dan selendang masing-masing. Lalu menyangkutkannya di dahan-dahan ranting.

Betapa gembiranya mereka. Mencebur, berenang, menyelam dan bersembur-semburan air. Lalu bermain kejar-kejaran sambil tertawa. Sekejap pun Joko Tarub tidak mau kehilangan pemandangan yang indah itu. Ia terpesona melihat kecantikan makhluk-makhluk kayangan itu. Timbul niatnya yang aneh. Ia ingin memiliki salah seorang bidadari itu.

Bagaimana akalnya? Perlahan-lahan ia merangkak mendekati sayap dan selendang tergantung di sebuah ranting. Dengan ujung sumpitnya ia mengait lalu menariknya perlaan-lahan. Kemudian menyembunyikannya di balik pohon. Ketika ia kembali mengintip, sumpit yang dipegangnya tersangkut. Suaranya berisik. Bidadari-bidadari itu curiga.

''Ada yang mencurigakan!'' seru seorang bidadari.

''Pasti ada yang mengintip kita!'' jawab yang lain.

Makhluk kayangan itu ketakutan lalu berlomba-lomba menepi, mengambil sayap dan selendang masing-masing. Mereka terbang ke angkasa.

Kasihan! Seorang bidadari tidak menemukan sayap dan selendangnya. Ia hanya berkain kemben. Bidadari cantik itu mondar-mandir mencari alat terbangnya, namun sia-sia. Berkali-kali ia berteriak memanggil teman-temannya, tetapi teman-temannya sudah jauh menembus awan. Ia kehabisan akal lalu menangis sejadi-jadinya.

''Mengapa nasibku seperti ini? Apakah dosaku, sehingga aku mendapatkan hukuman seperti ini?'' demikian keluhnya berkali-kali.

''Tolonglah aku, wahai penghuni hutan dan telaga! Kembalikanlah sayap dan selendangku! Apabila engkau seekor hewan, engkau akan kupelihara dengan kasih sayang. Apabila engkau seorang pemuda, aku bersedia menjadi suamimu,'' katanya.

* made taro

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com