Perkawinan Manusia dengan Makhluk Lain
Joko Tarub (1)
DALAM
media massa sering dikisahkan pengalaman orang yang kawin dengan
makhluk lain. Pasangan kawinnya adalah jin atau peri. Apakah
peristiwa itu kenyataan atau tidak, sulit ditangkap dengan
pancaindra. Kisah aneh itu hanya dapat dirasakan dan dialami oleh
orang yang bersangkutan.
----------
Kisah-kisah klasik juga banyak menceritakan hal
itu. Ikuti misalnya epos Mahabharata. Siapa istri Bima? Seorang
raksasa bernama Hidimbi. Siapa istri Arjuna? Banyak! Seorang di
antaranya adalah bidadari bernama Supraba. Seorang spiritualis
seperti Jaratkaru pun ditakdirkan kawin dengan seekor naga, karena
ia menginginkan keturunan. Kisah-kisah seperti itu bukan saja
terdapat dalam sastra Timur tetapi juga dalam sastra Barat.
Perkawinan manusia dengan makhluk setengah dewa misalnya terdapat
dalam mitos-mitos Yunani.
Bagaimana dengan dongeng? Perkawinan aneh itu bukan
saja sering terjadi, tetapi juga bervariasi! Ada manusia yang
kawin dengan raksasa, naga, kera, burung, kodok, bahkan dengan
ikan yang bernama ikan duyung.
Di Bali sangat terkenal dengan Rajapala. Untuk
menunjukkan bahwa kisah perkawinan pemuda dengan bidadari itu
tidak saja terdapat di Bali, berikut diceritakan dongeng ''Joko
Tarub'' yang berasal dari Jawa.
***
Di dalam hutan tinggal seorang pemuda miskin.
Namanya Joko Tarub. Di samping bertani, ia sangat gemar berburu.
Ke mana-mana ia selalu membawa sumpit. Walaupun hidupnya tidak
terurus, namun ia kelihatan sangat tampan.
Waktu itu musim kemarau panjang. Ia cukup jauh
menyelusup meninggalkan gubuknya. Sudah puluhan kali ia
membidikkan sumpit, tetapi tak seekor hewan yang kena. Perutnya
lapar dan tenggorokannya haus. Ketika melepas lelah di bawah pohon
yang rindang, ia menoleh ke balik semak.
''Telaga!'' teriaknya kegirangan.
Ia segera bangkit menuju air telaga yang jernih
itu. Beberapa langkah sebelum mencapai air, ia mendengar gemuruh
angin di angkasa. Awan tebal tergulung-gulung, bercerai-cerai,
akhirnya terang-benderang.
''Burung!'' teriaknya sambil mengarahkan sumpitnya.
Aneh, burung-burung yang mengepakkan sayapnya itu
menukik dan melayang-layang makin rendah. Joko Tarub curiga,
jangan-jangan makhluk aneh itu bukan burung, tetapi bidadari yang
turun dari kayangan. Ia segera bersembunyi ke dalam semak-semak.
Timbul keinginannya untuk mengetahui makhluk aneh apakah yang
sedang disaksikannya itu.
Dugaannya benar. Makhluk itu adalah bidadari yang
sangat cantik. Jumlahnya tujuh orang. Setelah menginjakkan kaki di
pigngir telaga, mereka melepas sayap dan selendang masing-masing.
Lalu menyangkutkannya di dahan-dahan ranting.
Betapa gembiranya mereka. Mencebur, berenang,
menyelam dan bersembur-semburan air. Lalu bermain kejar-kejaran
sambil tertawa. Sekejap pun Joko Tarub tidak mau kehilangan
pemandangan yang indah itu. Ia terpesona melihat kecantikan
makhluk-makhluk kayangan itu. Timbul niatnya yang aneh. Ia ingin
memiliki salah seorang bidadari itu.
Bagaimana akalnya? Perlahan-lahan ia merangkak
mendekati sayap dan selendang tergantung di sebuah ranting. Dengan
ujung sumpitnya ia mengait lalu menariknya perlaan-lahan. Kemudian
menyembunyikannya di balik pohon. Ketika ia kembali mengintip,
sumpit yang dipegangnya tersangkut. Suaranya berisik.
Bidadari-bidadari itu curiga.
''Ada yang mencurigakan!'' seru seorang bidadari.
''Pasti ada yang mengintip kita!'' jawab yang lain.
Makhluk kayangan itu ketakutan lalu berlomba-lomba
menepi, mengambil sayap dan selendang masing-masing. Mereka
terbang ke angkasa.
Kasihan! Seorang bidadari tidak menemukan sayap dan
selendangnya. Ia hanya berkain kemben. Bidadari cantik itu
mondar-mandir mencari alat terbangnya, namun sia-sia. Berkali-kali
ia berteriak memanggil teman-temannya, tetapi teman-temannya sudah
jauh menembus awan. Ia kehabisan akal lalu menangis
sejadi-jadinya.
''Mengapa nasibku seperti ini? Apakah dosaku,
sehingga aku mendapatkan hukuman seperti ini?'' demikian keluhnya
berkali-kali.
''Tolonglah aku, wahai penghuni hutan dan telaga!
Kembalikanlah sayap dan selendangku! Apabila engkau seekor hewan,
engkau akan kupelihara dengan kasih sayang. Apabila engkau seorang
pemuda, aku bersedia menjadi suamimu,'' katanya.
* made taro