kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 7 Januari 2007 tarukan valas
 

APRESIASI


Menata Artistik Bangunan Pengaman Tebing

HUJAN badai dan tanah longsor sudah mengawali tahun 2007 ini. Sikap awas para pengendara yang melintasi jalan bertebing mulai nampak. Maklumlah, akibat hujan lebat belakangan ini, banyak tebing di pinggiran jalan-jalan di Bali mengalami longsor dan menutupi badan jalan. Hal ini tentu membuat trauma sebagian pengguna jalan -- takut bila sewaktu-waktu tebing itu longsor menimpa pengendara mobil dan motor.

--------------

 

Kenyataannya memang belum semua tebing di pinggir jalan raya dibangun senderan pengaman. Tebing-tebing yang banyak bisa dijumpai di jalan-jalan di Bali ini menjadi momok tersendiri. Padahal, jika dibangun dengan sentuhan arsitektural, bangunan tebing ini bisa menjadi bagian indah dari pemandangan jalan. Ini bisa dijumpai di Ubud, Gianyar, misalnya.

Ubud sebagai jantung pariwisata di Kabupaten Gianyar memang areal pariwisata yang tak pernah surut dengan kreativitas seni. Tak heran jika penataan kekinian Ubud sebagai daerah tujuan wisatawan tak bisa lepas dari unsur seni. Tengok saja penataan tebing kota yang terletak di jalan dari Puri Ubud ke arah barat hingga ke kawasan Campuan, natural dan artistik.

Berbeda dengan umumnya pengerjaan pengamanan atau penataan tebing yang dilakukan pemerintah selama ini, penataan tebing di Ubud ini memberi kesan serius, menonjolkan sisi artistik dan keserasian ruang. Jauh dari kesan proyek asal-asalan yang selama ini sering dikeluhkan masyarakat seperti proyek trotoar, senderan, jalan dan bangunan fisik lainnya.

Wajah pariwisata Ubud dikenal sebagai wajah pariwisata yang dekat dengan alam. Dengan wilayah yang masih menyisakan tebing, sangat memungkinkan Ubud menata tebing dengan penonjolan kesan natural dan alami. Dari segi bahan/material yang digunakan juga menunjukkan perbedaan. Umumnya proyek senderan atau penguatan tebing dibuat seragam dan monoton, bermaterialkan batu kali atau batu gunung dengan ukuran besar, dengan pola pemasangan yang seragam pula.

 

Sisi Artistik

Citra sebagai kota budaya dan pariwisata, menjadikan penataan tebing di Ubud berbeda. Penataan bertujuan tak semata untuk pengamanan dan penguatan tebing, tapi juga mengedepankan sisi artistik. Akan menjadi teduh, jika hal serupa bisa diterapkan pada daerah lain, terutama pada kawasan yang tengah menata tebingnya untuk penguatan citra wilayah.

Jika ke Campuan melewati jalan dari perempatan Puri Ubud ke arah barat, sebelum mencapai pintu masuk Museum Lukisan Antonio Blanco, maka orang melintasi jalan yang diapit dua tebing tinggi yang ditata apik. Pemandangan ini masih bisa dilihat di sisi timur jalan hingga mendekati Museum Neka Campuan. Nuansa tropis makin tercipta tatkala pohon-pohon besar serta belukar dibiarkan hidup liar, memperkuat kesan asri dan rindang.

Bangunan-bangunan di sekitarnya -- prasarana wisata atau bangunan huniannya -- dibangun dengan pola arsitektur seirama warna alam. Bahwa kelaluan jalan-jalan itu secara alami didominasi tekstur alam seperti kecoklatan tanah, kehijauan lumut dan akar-akar pepohonan besar yang menggantung menjuntai jalan, menjadi inspirasi penataan tebing. Tekstur alam ini lantas diterjemahkan ke dalam penataan tebing yang berupaya mempertahankan keaslian alam sebelumnya.

Material batu pun dipilih dekat dengan warna alam Ubud, sehingga antara bangunan senderan dengan tebing tanah di belakangnya seolah menyatu. Pola pemasangan serta ragam arsitektur pun diselaraskan dengan kekinian arsitektur fasilitas pariwisata di Ubud yang didominasi arsitektur tradisional Bali tropis.

Jalan-jalan di antara tebing kota Ubud ini memberikan kesan yang mendalam akan suasana Ubud yang asri dan tropis. Penataan pada kedua tebing ini yang digarap cukup artistik membuai pemakai jalan seolah tengah melewati jalan masuk menuju sebuah hotel berbintang. Karena, pemandangan yang tercipta dari penataan tebing itu biasa ditemui pada fasilitas pariwisata seperti tembok hotel, spa, restoran dan galeri.

Perkembangan kekinian arsitektur yang dekat dengan alam memungkinkan seniman bangunan ini menggali kembali bahan atau material yang dekat dengan karakter alam. Untuk Ubud, fasilitas pariwisata yang bercorak Bali tak semata didominasi penggunaan batu padas dan bata peripian (bata merah halus) seperti umumnya bangunan berstil Bali. Justru trend-nya mengarah pada penggunaan bahan-bahan yang tergolong anyar dalam langgam arsitektur tradisional Bali.

Kreasi yang tetap berpijak pada basic arsitektur Bali menjadikan bahan-bahan "impor" seperti yang digunakan dalam bangunan berarsitektur Bali tersebut menyatu padu. Tak terlihat bahan itu seperti batu palimanan, batu gunung berwarna tanah adalah bahan yang berasal dari luar Bali.

 

Manfaatkan Topografi

Kota atau kawasan di Bali yang memiliki kesamaan dengan Ubud seperti topografi daerah yang tak merata, berada di kawasan perbukitan dengan ciri jalan-jalan yang berdinding tebing tinggi, ada baiknya mencontoh Ubud. Jauh sebelumnya, beberapa daerah sebenarnya telah memulai upaya penataan tebing dengan pola dan gaya yang berbeda.

Contoh Kota Tabanan. Jika memasuki kota "lumbung padi" ini dari arah Denpasar, orang akan disambut dengan tebing-tebing kota yang ditata bagai sebuah diorama. Ini lantaran adanya patung-patung besar yang diletakkan di bawah tebing dipadukan dengan taman. Sementara tebing-tebing di belakangnya dibiarkan alami tanpa perlakuan khusus. Penataan serupa juga dilakukan Pemkab Tabanan pada sudut kota lainnya yang kebetulan memiliki tebing yang sama. Secara tak sengaja, upaya ini justu membentuk identitas atau citra tertentu yang alami.

Daerah lainnya yang memiliki potensi besar dalam penataan tebing yang berada di sekitar wilayah kota adalah Kabupaten Klungkung. Kabupaten berjuluk "Bumi Serombotan" ini secara geografis memiliki topografi yang memungkinkan penataan yang dibarengi dengan penonjolan aspek artistik tebing. Sebagian wilayahnya merupakan perbukitan, termasuk jalan arteri utama yang menghubungkan Klungkung dengan kabupaten lainnya.

Masuk dari barat, dari Kecamatan Banjarangkan, deretan tebing-tebing tinggi menyapa. Di bawahnya mengalir Tukad (sungai) Jinah yang cukup dalam. Sekitar 5 km ke arah timur, di daerah Koripan, sekitar kawasan peninggalan Goa Jepang, terdapat tebing di kedua sisi jalan yang dikenal sebagai tebing Tukad Bubuh. Di sini terdapat objek wisata sejarah Goa Jepang dan sebuah sanggar seni milik seorang perupa. Setelah melewati jembatan Tukad Bubuh di Koripan, Klungkung, kembali jalanan dihiasi tebing yang ditumbuhi belukar lebat, sebelum lokasi Museum Nyoman Gunarsa di daerah pertigaan Banda-Takmung.

Sementara ke arah timur dari ibukota Klungkung, Semarapura, tepatnya setelah jembatan panjang Tukad Unda, masih dijumpai tebing yang lebih tinggi. Tebing di Kecamatan Banjarangkan, di tengah kota Semarapura, maupun di pinggiran timur kota Semarapura telah mendapatkan penataan dari Pemkab. Hanya saja, penataan itu masih konvensional, baru sebatas pengamanan atau penguatan tebing, belum ditata lebih lanjut dengan ragam kreasi.

Maklum saja, daerah seperti ini sangat rawan bencana tanah longsor. Terlebih di bawah tebing terdapat jalan propinsi yang cukup vital yang menjadi jalan utama arus transportasi pulau Jawa, Bali dan Lombok. Sebelum mengalami penataan penguatan tebing, kerap terjadi jatuhnya material dinding berupa tanah, batu dan pasir yang menutup badan jalan.

* jung iryana

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com