Menata Artistik Bangunan Pengaman Tebing
HUJAN
badai dan tanah longsor sudah mengawali tahun 2007 ini. Sikap awas
para pengendara yang melintasi jalan bertebing mulai nampak.
Maklumlah, akibat hujan lebat belakangan ini, banyak tebing di
pinggiran jalan-jalan di Bali mengalami longsor dan menutupi badan
jalan. Hal ini tentu membuat trauma sebagian pengguna jalan --
takut bila sewaktu-waktu tebing itu longsor menimpa pengendara
mobil dan motor.
--------------
Kenyataannya memang belum semua tebing di pinggir
jalan raya dibangun senderan pengaman. Tebing-tebing yang banyak
bisa dijumpai di jalan-jalan di Bali ini menjadi momok tersendiri.
Padahal, jika dibangun dengan sentuhan arsitektural, bangunan
tebing ini bisa menjadi bagian indah dari pemandangan jalan. Ini
bisa dijumpai di Ubud, Gianyar, misalnya.
Ubud sebagai jantung pariwisata di Kabupaten
Gianyar memang areal pariwisata yang tak pernah surut dengan
kreativitas seni. Tak heran jika penataan kekinian Ubud sebagai
daerah tujuan wisatawan tak bisa lepas dari unsur seni. Tengok
saja penataan tebing kota yang terletak di jalan dari Puri Ubud ke
arah barat hingga ke kawasan Campuan, natural dan artistik.
Berbeda dengan umumnya pengerjaan pengamanan atau
penataan tebing yang dilakukan pemerintah selama ini, penataan
tebing di Ubud ini memberi kesan serius, menonjolkan sisi artistik
dan keserasian ruang. Jauh dari kesan proyek asal-asalan yang
selama ini sering dikeluhkan masyarakat seperti proyek trotoar,
senderan, jalan dan bangunan fisik lainnya.
Wajah pariwisata Ubud dikenal sebagai wajah
pariwisata yang dekat dengan alam. Dengan wilayah yang masih
menyisakan tebing, sangat memungkinkan Ubud menata tebing dengan
penonjolan kesan natural dan alami. Dari segi bahan/material yang
digunakan juga menunjukkan perbedaan. Umumnya proyek senderan atau
penguatan tebing dibuat seragam dan monoton, bermaterialkan batu
kali atau batu gunung dengan ukuran besar, dengan pola pemasangan
yang seragam pula.
Sisi Artistik
Citra sebagai kota budaya dan pariwisata,
menjadikan penataan tebing di Ubud berbeda. Penataan bertujuan tak
semata untuk pengamanan dan penguatan tebing, tapi juga
mengedepankan sisi artistik. Akan menjadi teduh, jika hal serupa
bisa diterapkan pada daerah lain, terutama pada kawasan yang
tengah menata tebingnya untuk penguatan citra wilayah.
Jika ke Campuan melewati jalan dari perempatan Puri
Ubud ke arah barat, sebelum mencapai pintu masuk Museum Lukisan
Antonio Blanco, maka orang melintasi jalan yang diapit dua tebing
tinggi yang ditata apik. Pemandangan ini masih bisa dilihat di
sisi timur jalan hingga mendekati Museum Neka Campuan. Nuansa
tropis makin tercipta tatkala pohon-pohon besar serta belukar
dibiarkan hidup liar, memperkuat kesan asri dan rindang.
Bangunan-bangunan di sekitarnya -- prasarana wisata
atau bangunan huniannya -- dibangun dengan pola arsitektur seirama
warna alam. Bahwa kelaluan jalan-jalan itu secara alami didominasi
tekstur alam seperti kecoklatan tanah, kehijauan lumut dan
akar-akar pepohonan besar yang menggantung menjuntai jalan,
menjadi inspirasi penataan tebing. Tekstur alam ini lantas
diterjemahkan ke dalam penataan tebing yang berupaya
mempertahankan keaslian alam sebelumnya.
Material batu pun dipilih dekat dengan warna alam
Ubud, sehingga antara bangunan senderan dengan tebing tanah di
belakangnya seolah menyatu. Pola pemasangan serta ragam arsitektur
pun diselaraskan dengan kekinian arsitektur fasilitas pariwisata
di Ubud yang didominasi arsitektur tradisional Bali tropis.
Jalan-jalan di antara tebing kota Ubud ini
memberikan kesan yang mendalam akan suasana Ubud yang asri dan
tropis. Penataan pada kedua tebing ini yang digarap cukup artistik
membuai pemakai jalan seolah tengah melewati jalan masuk menuju
sebuah hotel berbintang. Karena, pemandangan yang tercipta dari
penataan tebing itu biasa ditemui pada fasilitas pariwisata
seperti tembok hotel, spa, restoran dan galeri.
Perkembangan kekinian arsitektur yang dekat dengan
alam memungkinkan seniman bangunan ini menggali kembali bahan atau
material yang dekat dengan karakter alam. Untuk Ubud, fasilitas
pariwisata yang bercorak Bali tak semata didominasi penggunaan
batu padas dan bata peripian (bata merah halus) seperti umumnya
bangunan berstil Bali. Justru trend-nya mengarah pada penggunaan
bahan-bahan yang tergolong anyar dalam langgam arsitektur
tradisional Bali.
Kreasi yang tetap berpijak pada basic arsitektur
Bali menjadikan bahan-bahan "impor" seperti yang digunakan dalam
bangunan berarsitektur Bali tersebut menyatu padu. Tak terlihat
bahan itu seperti batu palimanan, batu gunung berwarna tanah
adalah bahan yang berasal dari luar Bali.
Manfaatkan Topografi
Kota atau kawasan di Bali yang memiliki kesamaan
dengan Ubud seperti topografi daerah yang tak merata, berada di
kawasan perbukitan dengan ciri jalan-jalan yang berdinding tebing
tinggi, ada baiknya mencontoh Ubud. Jauh sebelumnya, beberapa
daerah sebenarnya telah memulai upaya penataan tebing dengan pola
dan gaya yang berbeda.
Contoh Kota Tabanan. Jika memasuki kota "lumbung
padi" ini dari arah Denpasar, orang akan disambut dengan
tebing-tebing kota yang ditata bagai sebuah diorama. Ini lantaran
adanya patung-patung besar yang diletakkan di bawah tebing
dipadukan dengan taman. Sementara tebing-tebing di belakangnya
dibiarkan alami tanpa perlakuan khusus. Penataan serupa juga
dilakukan Pemkab Tabanan pada sudut kota lainnya yang kebetulan
memiliki tebing yang sama. Secara tak sengaja, upaya ini justu
membentuk identitas atau citra tertentu yang alami.
Daerah lainnya yang memiliki potensi besar dalam
penataan tebing yang berada di sekitar wilayah kota adalah
Kabupaten Klungkung. Kabupaten berjuluk "Bumi Serombotan" ini
secara geografis memiliki topografi yang memungkinkan penataan
yang dibarengi dengan penonjolan aspek artistik tebing. Sebagian
wilayahnya merupakan perbukitan, termasuk jalan arteri utama yang
menghubungkan Klungkung dengan kabupaten lainnya.
Masuk dari barat, dari Kecamatan Banjarangkan,
deretan tebing-tebing tinggi menyapa. Di bawahnya mengalir Tukad
(sungai) Jinah yang cukup dalam. Sekitar 5 km ke arah timur, di
daerah Koripan, sekitar kawasan peninggalan Goa Jepang, terdapat
tebing di kedua sisi jalan yang dikenal sebagai tebing Tukad
Bubuh. Di sini terdapat objek wisata sejarah Goa Jepang dan sebuah
sanggar seni milik seorang perupa. Setelah melewati jembatan Tukad
Bubuh di Koripan, Klungkung, kembali jalanan dihiasi tebing yang
ditumbuhi belukar lebat, sebelum lokasi Museum Nyoman Gunarsa di
daerah pertigaan Banda-Takmung.
Sementara ke arah timur dari ibukota Klungkung,
Semarapura, tepatnya setelah jembatan panjang Tukad Unda, masih
dijumpai tebing yang lebih tinggi. Tebing di Kecamatan
Banjarangkan, di tengah kota Semarapura, maupun di pinggiran timur
kota Semarapura telah mendapatkan penataan dari Pemkab. Hanya
saja, penataan itu masih konvensional, baru sebatas pengamanan
atau penguatan tebing, belum ditata lebih lanjut dengan ragam
kreasi.
Maklum saja, daerah seperti ini sangat rawan
bencana tanah longsor. Terlebih di bawah tebing terdapat jalan
propinsi yang cukup vital yang menjadi jalan utama arus
transportasi pulau Jawa, Bali dan Lombok. Sebelum mengalami
penataan penguatan tebing, kerap terjadi jatuhnya material dinding
berupa tanah, batu dan pasir yang menutup badan jalan.
* jung
iryana