Haji, tak sekadar Napak Tilas
Waman ahsanau diinan (m) mimman aslama wajhahul
lillaahi wahuwa muhsinun wat taba'a millata ibrahiima haniifa.
--------------
PELUKAN
hangat dan senyum bahagia akan makin mudah kita jumpai, manakala
para jamaah haji kita yang berdatangan dari Tanah Suci kembali
bertemu dengan sanak keluarga dan para sahabatnya di Tanah Air.
Aneka kisah pengalaman perjalanan ibadah haji mereka pun, tentu
dikisahkan dengan penuh gairah.
Bukan tidak mungkin, kisah kelaparan yang dialami
sebagian besar jamaah asal Indonesia sewaktu di padang Arafah,
merupakan topik pembincangan yang punya daya tarik tersendiri.
Maklum, baru kali ini jamaah haji kita mengalami ''kelaparan
massal'' lantaran perusahaan penyuplai makanan untuk mereka tidak
memberikan pelayanan yang semestinya. Mudah-mudahan insiden
menyedihkan itu tak akan terjadi lagi di masa-masa mendatang.
Melaksanakan ibadah haji, pada hakikatnya adalah
mengikuti jejak Nabiyullah Ibrahim 'alaihissalam. Tentu saja tidak
sekadar napak tilas, lalu pulang, kemudian selesai. Haji menuntut
sikap istiqomah (konsisten) dalam memelihara kebaikan sepanjang
hidup. Haji pun menuntut keikhlasan dari pelakunya.
Sikap ikhlas, bagi siapa pun yang mengikuti jejak
Ibrahim adalah suatu keniscayaan, sebagaimana ditegaskan oleh ayat
yang dikutip di atas, artinya: ''Dan siapakah yang lebih baik
agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada
Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan dia mengikuti
agama Ibrahim yang lurus?''.
Keridhoan Allah SWT, adalah hal yang diinginkan
oleh Ibrahim 'alaihissalam. Keridhoan-Nya itu pula yang tentunya
merupakan target yang diinginkan oleh mereka yang berhaji dan oleh
siapa pun yang dengan ikhlas mengabdi (beribadah) kepada Allah SWT
melalui berbagai bentuk pengabdian yang ada, apakah shalat, zakat,
infak dan yang lainnya. Dalam konteks inilah, pergi haji, jelas
bukan untuk memperoleh gelar haji atau hajah, namun untuk
mendapatkan ridho-Nya. Inilah niat hakiki dan tujuan sejati
berhaji yang, apabila tercapai, tentulah akan tercermin dalam
perilaku sehari-hari.
Ihwal ciri-ciri haji mabrur (haji yang diterima),
Rasulullah SAW menginformasikan: Pertama, berucap dengan
kalimat-kalimat toyyibah (baik). Saat sebelum berhaji, boleh jadi
suka menggunakan kata-kata yang kasar maupun keras, atau mungkin
suka mencela, namun setelah meraih predikat haji mabrur, tutur
katanya menggunakan kalimat-kalimat yang bernas dan enak didengar,
dengan nada yang lemah lembut dan santun.
Ciri kedua, menebar salam. Salam berarti selamat,
sejahtera. Karenanya seseorang yang menebar salam sikap dan
perilakunya tentulah penuh kedamaian. Akan senantiasa menghindari
tindakan yang merugikan seseorang atau banyak orang, apalagi
sampai menyakiti atau mencelakakan orang lain.
Sedangkan ciri yang ketiga adalah memberi makan
fakir miskin. Penyandang predikat haji mabrur tentu tidak akan
kikir atau pelit kepada sesamanya yang memerlukan bantuannya. Ia
akan senantiasa terdorong untuk menolong, mengulurkan bantuan
kepada sesamanya yang terbelit dalam kemiskinan atau kesulitan.
Jelas, ketiga ciri haji mabrur yang disampaikan
oleh Rasulullah SAW itu bukanlah hal yang abstrak (gaib). Ketiga
ciri itu adalah sesuatu yang riil, bisa dilihat dan dirasakan oleh
siapa saja. Juga dapat dirasakan manfaatnya oleh diri sendiri,
orang-orang di sekitarnya dan masyarakatnya.
Dalam kondisi masyarakat seperti saat ini, di mana
jumlah warga miskin dilaporkan meningkat tajam, maka kehadiran
para hujjaj (haji dan hajjah) yang mabrur, sungguh sangat kita
perlukan. Apalagi jika dicermati, eskalasi konflik, bahkan tindak
kriminal yang juga ditengarai meningkat, tentu kehadiran mereka
yang ''terampil'' menebar salam (kedamaian), memang kita rindukan.
Ciri-ciri moralitas haji mabrur tadi,
sesungguhnyalah dengan jelas terdapat pada diri Ibrahim 'alaihissalam,
maupun Rasulullah SAW yang ''mengkristal'' dalam misinya sebagai
rahmatan lil'alaamin (rahmat bagi sekalian alam). Misi itulah yang
mesti diperjuangkan untuk diwujudkan oleh orang-orang beriman,
baik yang telah maupun yang belum berhaji.