kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 7 Januari 2007 tarukan valas
 

Mimbar Agama Islam


Haji, tak sekadar Napak Tilas

Waman ahsanau diinan (m) mimman aslama wajhahul lillaahi wahuwa muhsinun wat taba'a millata ibrahiima haniifa.

--------------

 

PELUKAN hangat dan senyum bahagia akan makin mudah kita jumpai, manakala para jamaah haji kita yang berdatangan dari Tanah Suci kembali bertemu dengan sanak keluarga dan para sahabatnya di Tanah Air. Aneka kisah pengalaman perjalanan ibadah haji mereka pun, tentu dikisahkan dengan penuh gairah.

Bukan tidak mungkin, kisah kelaparan yang dialami sebagian besar jamaah asal Indonesia sewaktu di padang Arafah, merupakan topik pembincangan yang punya daya tarik tersendiri. Maklum, baru kali ini jamaah haji kita mengalami ''kelaparan massal'' lantaran perusahaan penyuplai makanan untuk mereka tidak memberikan pelayanan yang semestinya. Mudah-mudahan insiden menyedihkan itu tak akan terjadi lagi di masa-masa mendatang.

Melaksanakan ibadah haji, pada hakikatnya adalah mengikuti jejak Nabiyullah Ibrahim 'alaihissalam. Tentu saja tidak sekadar napak tilas, lalu pulang, kemudian selesai. Haji menuntut sikap istiqomah (konsisten) dalam memelihara kebaikan sepanjang hidup. Haji pun menuntut keikhlasan dari pelakunya.

Sikap ikhlas, bagi siapa pun yang mengikuti jejak Ibrahim adalah suatu keniscayaan, sebagaimana ditegaskan oleh ayat yang dikutip di atas, artinya: ''Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan dia mengikuti agama Ibrahim yang lurus?''.

Keridhoan Allah SWT, adalah hal yang diinginkan oleh Ibrahim 'alaihissalam. Keridhoan-Nya itu pula yang tentunya merupakan target yang diinginkan oleh mereka yang berhaji dan oleh siapa pun yang dengan ikhlas mengabdi (beribadah) kepada Allah SWT melalui berbagai bentuk pengabdian yang ada, apakah shalat, zakat, infak dan yang lainnya. Dalam konteks inilah, pergi haji, jelas bukan untuk memperoleh gelar haji atau hajah, namun untuk mendapatkan ridho-Nya. Inilah niat hakiki dan tujuan sejati berhaji yang, apabila tercapai, tentulah akan tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Ihwal ciri-ciri haji mabrur (haji yang diterima), Rasulullah SAW menginformasikan: Pertama, berucap dengan kalimat-kalimat toyyibah (baik). Saat sebelum berhaji, boleh jadi suka menggunakan kata-kata yang kasar maupun keras, atau mungkin suka mencela, namun setelah meraih predikat haji mabrur, tutur katanya menggunakan kalimat-kalimat yang bernas dan enak didengar, dengan nada yang lemah lembut dan santun.

Ciri kedua, menebar salam. Salam berarti selamat, sejahtera.  Karenanya seseorang yang menebar salam sikap dan perilakunya tentulah penuh kedamaian. Akan senantiasa menghindari tindakan yang merugikan seseorang atau banyak orang, apalagi sampai menyakiti atau mencelakakan orang lain.

Sedangkan ciri yang ketiga adalah memberi makan fakir miskin. Penyandang predikat haji mabrur tentu tidak akan kikir atau pelit kepada sesamanya yang memerlukan bantuannya. Ia akan senantiasa terdorong untuk menolong, mengulurkan bantuan kepada sesamanya yang terbelit dalam kemiskinan atau kesulitan.

Jelas, ketiga ciri haji mabrur yang disampaikan oleh Rasulullah SAW itu bukanlah hal yang abstrak (gaib). Ketiga ciri itu adalah sesuatu yang riil, bisa dilihat dan dirasakan oleh siapa saja. Juga dapat dirasakan manfaatnya oleh diri sendiri, orang-orang di sekitarnya dan masyarakatnya.

Dalam kondisi masyarakat seperti saat ini, di mana jumlah warga miskin dilaporkan meningkat tajam, maka kehadiran para hujjaj (haji dan hajjah) yang mabrur, sungguh sangat kita perlukan. Apalagi jika dicermati, eskalasi konflik, bahkan tindak kriminal yang juga ditengarai meningkat, tentu kehadiran mereka yang ''terampil'' menebar salam (kedamaian), memang kita rindukan.

Ciri-ciri moralitas haji mabrur tadi, sesungguhnyalah dengan jelas terdapat pada diri Ibrahim 'alaihissalam, maupun Rasulullah SAW yang ''mengkristal'' dalam misinya sebagai rahmatan lil'alaamin (rahmat bagi sekalian alam). Misi itulah yang mesti diperjuangkan untuk diwujudkan oleh orang-orang beriman, baik yang telah maupun yang belum berhaji.

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com