kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 7 Januari 2007 tarukan valas
 

BERITA


Tuangkan Gagasan, Anak-anak Itu Sudah Mandiri

Pada April s.d. Agustus 2006, Tabloid Anak-anak Lintang bekerja sama dengan "Ubud Writers and Readers Festival" mengadakan lomba menulis puisi dan cerita untuk anak-anak SD se-Bali. Puisi dan cerita pemenang lomba itu kini telah diterbitkan dalam dua buku -- kumpulan puisi "Bianglala" dan kumpulan cerita "Korang Boring". Kedua buku itu lantas diluncurkan baru-baru ini.

----------

 

BUKU "Bianglala" memuat 18 puisi -- 10 puisi terbaik dan 18 nominasi. Sedangkan "Korang Boring" memuat 16 cerita -- 10 cerita terbaik dan 6 cerita nominasi.

Sebagai pemenang lomba tingkat propinsi, puisi dan cerita karya anak-anak yang termuat dalam kedua buku itu tentulah memiliki kualitas yang memadai. Pasalnya, puisi dan cerita itu telah lolos menyisihkan ratusan karya lain dalam lomba yang diikuti ratusan anak-anak SD se-Bali. Puisi yang masuk dalam "Bianglala", misalnya, telah menyisihkan sekitar 1.000 puisi lainnya, sedangkan cerita di "Korang Boring" menyisihkan 700-an cerita lainnya.

Saat menjadi pembicara dalam acara peluncuran buku kedua yang diterbitkan Lintang dan Tarukan Agung itu di Toko Buku Toga Mas (Museum Sidik Jari) pada 30 Desember 2006, sastrawan senior Bali Made Taro menyampaikan kesannya. Menurut Taro, puisi maupun cerita yang termuat dalam buku itu memiliki kualitas mengagumkan, baik dari segi gagasan maupun bahasa ungkapnya. Dalam karangan cerita misalnya, para pengarangnya telah menunjukkan kemandirian dan kemampuannya dalam menuangkan gagasan dan pesan.

"Anak-anak sudah mampu menuangkan gagasannya dalam alur cerita yang berangkai, lancar dan tidak terputus. Juga dalam menghadirkan tokoh dan karakternya dalam cerita, itu bisa menjadi teman dialog bagi pembaca. Saya juga melihat telah ada keragaman gaya yang berbeda dari sekian karangan anak. Itulah keberhasilan karangan anak-anak yang patut dipelihara," kata Taro yang juga pengasuh Sanggar Kukuruyuk ini. Ia yakin, di kemudian hari anak-anak itu bisa menjadi pengarang andal yang bisa melebihi kemampuan pengarang generasi tua.

Sedangkan sastrawan Adnyana Ole yang juga menjadi pembicara dalam diskusi itu melihat karya anak-anak di buku itu masih murni dan jernih. Dari segi ide, nilai Ole, juga banyak yang mengejutkan. Mereka juga mampu menyampaikan gagasannya secara jujur dengan bahasa ungkap yang lancar. "Puisi anak-anak masih nampak lugu dan murni. Saya namakan saja sebagai puisi yang beraliran terang-benderang. Saya mengerti apa yang diceritakan anak-anak karena mereka menggunakan bahasa yang terang," papar Ole.

Meski begitu, lanjut Ole, disadari atau tidak, puisi anak-anak sebenarnya sudah mengandung unsur metafor meski masih terang. "Peristiwa indah yang dialami, dirasakan, dan diceritakan anak-anak bisa memberi peristiwa pemaknaan bagi pembaca. Penulisnya sendiri juga bisa masuk dalam puisi. Dalam dunia puisi anak-anak banyak hal yang mengejutkan seperti dalam buku ini," terangnya.

Penangung jawab Lintang Mas Ruscitadewi menjelaskan karangan anak-anak di buku itu memiliki banyak kelebihan terutama dalam hal ide dan kreativitas. "Kami mengutamakan kreativitas dan keberanian anak dalam mengungkapkan ide dan gagasan yang menarik, bukan melihat dari sisi tata bahasanya. Sering dalam lomba juri menilai dari segi tata bahasa dan teknik menulis, padahal untuk anak-anak yang lebih penting adalah kreativitasnya," tandas Mas.

Dalam diskusi peluncuran "Bianglala" dan Korang Boring" juga ada beberapa anak, guru, dan orangtua yang mengajukan pertanyaan seputar dunia karang-mengarang, terutama mengenai pembinaan mengarang anak-anak di sekolah. Menjawab pertanyaan mereka, Taro, Ole, maupun Mas sepakat mengatakan betapa pentingnya memberi ruang kreativitas bagi anak-anak lewat dunia mengarang. Pengadaan lomba dan penerbitan buku karya anak-anak, kata mereka, menjadi salah satu alternatif mendukung dan mendorong anak-anak untuk mengasah diri dan mengembangkan potensinya.

Cerita dan puisi dalam buku yang diterbitkan dalam dua bahasa -- Inggris dan Indonesia -- itu rata-rata memang menarik dan juga beragam. Temanya seputar dunia anak-anak mulai dari soal sekolah, keluarga, sabahat, hingga alam lingkungan, yang diungkapkan dalam bahasa anak-anak yang masih murni, jernih, lugu, dan jujur.

Dalam karangan cerita, misalnya, ada yang bercerita tentang anak orang berada yang memiliki HP tetapi akhirnya menyuruh orangtuanya menjualnya karena ingin berhemat dan tak mau dirinya terlalu bergaya. Ada juga cerita tentang anak yang ingin memiliki sepeda tapi orangtuanya tak punya uang, akhirnya dia bisa membeli sepeda dengan uang sendiri berkat tabungan dan hasil menang lomba mengarang. Pun ada cerita tentang anak yang sakit gara-gara terlalu dipaksa oleh ibunya untuk mengikuti banyak les privat di tengah padatnya pelajaran dan les di sekolah. Pun dalam puisi. Ada puisi yang bercerita tentang ikan mas, cinta kasih, lukisan, pak sopir, persahabatan, kehidupan di laut, hingga layang-layang. * nuryana asmaudi
 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com