Tuangkan Gagasan, Anak-anak Itu Sudah
Mandiri
Pada April s.d. Agustus 2006, Tabloid Anak-anak
Lintang bekerja sama dengan "Ubud Writers and Readers Festival"
mengadakan lomba menulis puisi dan cerita untuk anak-anak SD
se-Bali. Puisi dan cerita pemenang lomba itu kini telah
diterbitkan dalam dua buku -- kumpulan puisi "Bianglala" dan
kumpulan cerita "Korang Boring". Kedua buku itu lantas diluncurkan
baru-baru ini.
----------
BUKU
"Bianglala" memuat 18 puisi -- 10 puisi terbaik dan 18 nominasi.
Sedangkan "Korang Boring" memuat 16 cerita -- 10 cerita terbaik
dan 6 cerita nominasi.
Sebagai pemenang lomba tingkat propinsi, puisi dan
cerita karya anak-anak yang termuat dalam kedua buku itu tentulah
memiliki kualitas yang memadai. Pasalnya, puisi dan cerita itu
telah lolos menyisihkan ratusan karya lain dalam lomba yang
diikuti ratusan anak-anak SD se-Bali. Puisi yang masuk dalam
"Bianglala", misalnya, telah menyisihkan sekitar 1.000 puisi
lainnya, sedangkan cerita di "Korang Boring" menyisihkan 700-an
cerita lainnya.
Saat menjadi pembicara dalam acara peluncuran buku
kedua yang diterbitkan Lintang dan Tarukan Agung itu di Toko Buku
Toga Mas (Museum Sidik Jari) pada 30 Desember 2006, sastrawan
senior Bali Made Taro menyampaikan kesannya. Menurut Taro, puisi
maupun cerita yang termuat dalam buku itu memiliki kualitas
mengagumkan, baik dari segi gagasan maupun bahasa ungkapnya. Dalam
karangan cerita misalnya, para pengarangnya telah menunjukkan
kemandirian dan kemampuannya dalam menuangkan gagasan dan pesan.
"Anak-anak sudah mampu menuangkan gagasannya dalam
alur cerita yang berangkai, lancar dan tidak terputus. Juga dalam
menghadirkan tokoh dan karakternya dalam cerita, itu bisa menjadi
teman dialog bagi pembaca. Saya juga melihat telah ada keragaman
gaya yang berbeda dari sekian karangan anak. Itulah keberhasilan
karangan anak-anak yang patut dipelihara," kata Taro yang juga
pengasuh Sanggar Kukuruyuk ini. Ia yakin, di kemudian hari
anak-anak itu bisa menjadi pengarang andal yang bisa melebihi
kemampuan pengarang generasi tua.
Sedangkan sastrawan Adnyana Ole yang juga menjadi
pembicara dalam diskusi itu melihat karya anak-anak di buku itu
masih murni dan jernih. Dari segi ide, nilai Ole, juga banyak yang
mengejutkan. Mereka juga mampu menyampaikan gagasannya secara
jujur dengan bahasa ungkap yang lancar. "Puisi anak-anak masih
nampak lugu dan murni. Saya namakan saja sebagai puisi yang
beraliran terang-benderang. Saya mengerti apa yang diceritakan
anak-anak karena mereka menggunakan bahasa yang terang," papar
Ole.
Meski begitu, lanjut Ole, disadari atau tidak,
puisi anak-anak sebenarnya sudah mengandung unsur metafor meski
masih terang. "Peristiwa indah yang dialami, dirasakan, dan
diceritakan anak-anak bisa memberi peristiwa pemaknaan bagi
pembaca. Penulisnya sendiri juga bisa masuk dalam puisi. Dalam
dunia puisi anak-anak banyak hal yang mengejutkan seperti dalam
buku ini," terangnya.
Penangung jawab Lintang Mas Ruscitadewi menjelaskan
karangan anak-anak di buku itu memiliki banyak kelebihan terutama
dalam hal ide dan kreativitas. "Kami mengutamakan kreativitas dan
keberanian anak dalam mengungkapkan ide dan gagasan yang menarik,
bukan melihat dari sisi tata bahasanya. Sering dalam lomba juri
menilai dari segi tata bahasa dan teknik menulis, padahal untuk
anak-anak yang lebih penting adalah kreativitasnya," tandas Mas.
Dalam diskusi peluncuran "Bianglala" dan Korang
Boring" juga ada beberapa anak, guru, dan orangtua yang mengajukan
pertanyaan seputar dunia karang-mengarang, terutama mengenai
pembinaan mengarang anak-anak di sekolah. Menjawab pertanyaan
mereka, Taro, Ole, maupun Mas sepakat mengatakan betapa pentingnya
memberi ruang kreativitas bagi anak-anak lewat dunia mengarang.
Pengadaan lomba dan penerbitan buku karya anak-anak, kata mereka,
menjadi salah satu alternatif mendukung dan mendorong anak-anak
untuk mengasah diri dan mengembangkan potensinya.
Cerita dan puisi dalam buku yang diterbitkan dalam
dua bahasa -- Inggris dan Indonesia -- itu rata-rata memang
menarik dan juga beragam. Temanya seputar dunia anak-anak mulai
dari soal sekolah, keluarga, sabahat, hingga alam lingkungan, yang
diungkapkan dalam bahasa anak-anak yang masih murni, jernih, lugu,
dan jujur.
Dalam karangan cerita, misalnya, ada yang bercerita
tentang anak orang berada yang memiliki HP tetapi akhirnya
menyuruh orangtuanya menjualnya karena ingin berhemat dan tak mau
dirinya terlalu bergaya. Ada juga cerita tentang anak yang ingin
memiliki sepeda tapi orangtuanya tak punya uang, akhirnya dia bisa
membeli sepeda dengan uang sendiri berkat tabungan dan hasil
menang lomba mengarang. Pun ada cerita tentang anak yang sakit
gara-gara terlalu dipaksa oleh ibunya untuk mengikuti banyak les
privat di tengah padatnya pelajaran dan les di sekolah. Pun dalam
puisi. Ada puisi yang bercerita tentang ikan mas, cinta kasih,
lukisan, pak sopir, persahabatan, kehidupan di laut, hingga
layang-layang. * nuryana asmaudi