Tuhan Itu Esa dan Berada di Mana-mana
Pelinggih
Sang Hyang Ider Bhuwana berada di sebelah kiri Balai
Pesamuan atau di hulu atau di luanan dari Salu Panjang
di Pura Penataran Agung Besakih. Kalau Balai Pesamuan
simbol alam semesta tempat para dewa manifestasi Tuhan
untuk menurunkan karunia kepada semua ciptaan-Nya,
sedangkan Pelinggih Sang Hyang Ider Bhuwana adalah
simbol alam semesta atau Bhuwana Agung yang tunggal
sebagai stana Tuhan Yang Maha Esa.
==========================================================
Dua pelinggih warisan arsitektur sakral di Pura
Penataran Agung Besakih dapat dijadikan bahan renungan
untuk memahami secuil rahasia Tuhan yang amat luas itu.
Menurut pemahaman Weda, Tuhan itu esa, tetapi
kemahakuasaan Tuhan itu tiada terbatas. Tidak mungkin
manusia dapat memahami demikian luasnya kemahakuasaan
Tuhan itu.
Adanya dewa-dewa itu tiada lain adalah upaya manusia
yang telah berkualifikasi Maharesi untuk menyebutkan
kemahakuasaan Tuhan secara terbatas. Kemahakuasaan Tuhan
sebagai mahapencipta disebut Dewa Brahma, sebagai
pelindung dan pemelihara disebut Dewa Wisnu, sebagai
pemeralina disebut Dewa Siwa. Demikian seterusnya.
Tetapi, kemahakuasaan Tuhan bukanlah sebatas itu. Tuhan
itu ada di mana-mana yang disebut vyapi vyapaka
nirvikara. Artinya, Tuhan ada di mana-mana di tempat
yang amat kecil maupun di tempat yang mahaluas
sekalipun, tetapi Tuhan selalu mengatasi semuanya itu.
Misalnya Tuhan berada di tempat yang busuk, tetapi tidak
terpengaruh oleh busuknya tempat tersebut. Demikian juga
Tuhan berada di tempat yang harum, tetapi Tuhan tidak
terpangaruh oleh harumnya tempat tersebut.
Pelinggih Sang Hyang Ider Bhuwana di Penataran Agung
Besakih adalah sebagai simbol yang dapat memberikan umat
Hindu pemahaman. Tuhan berada di seluruh alam semesta
maupun di luar alam semesta. Apa makna dari perlunya
pemahaman bahwa Tuhan berada di mana-mana itu.
Pelinggih
Sang Hyang Ider Bhuwana itu dapat dijadikan rujukan agar
umat dapat mendayagunakan keyakinan bahwa Tuhan itu
berada di mana-mana. Dapat berdaya guna untuk mengontrol
dinamika manusia saat berpikir, berkata, dan berbuat.
Kalau keyakinan ini kuat eksistensinya dalam diri umat
maka keyakinan itu dapat berfungsi memperbaiki kualitas
hidup manusia menuju kualitas yang semakin religius.
Sementara ini keyakinan bahwa Tuhan berada di mana-mana
mungkin sebatas keyakinan tanpa didayagunakan lebih
lanjut dalam membenahi kehidupan sehari-hari. Beragama
bukan sekadar beragama secara formal semata. Beragama
itu intinya percaya dan bakti pada Tuhan. Beragama harus
dilakukan secara lebih sadar dan berencana, sehingga
akan dapat lebih berdaya guna untuk mengatasi berbagai
persoalan hidup di bumi ini.
Seperti kepercayaan pada Tuhan hendaknya didayagunakan
lebih aktif membangun kesadaran diri. Pernyataan Mpu
Kuturan yang menyatakan bahwa Bali adalah Padma Bhuwana.
Pernyataan ini mengandung makna bahwa Bali sebagai Padma
Bhuwana simbol stana Tuhan Yang Maha Esa.
Pelinggih Sang Hyang Ider Bhuwana adalah lambang Padma
Bhuwana dalam bentuk arsitektur sakral. Hal ini
melambangkan bahwa Tuhan sebagai yang tersuci, tertinggi
dan mahakuasa di alam ini. Karena Tuhan sebagai yang
tersuci, tertinggi dan mahakuasa di alam ini sangat
tidak tepatlah manusia terikat pada dunia ini.
Dunia ini hanyalah media ciptaan Tuhan. Pergunakanlah
dunia ini sebagai sarana untuk mencapai kesucian Tuhan.
Namun demikian sudah diingatkan di Yajurveda, LX. 1 :
Pandanglah dunia ini dengan ketidakterikatan, karena
yang langgeng abadi hanyalah Tuhan. Dunia berada pada
hukum Tri Kona yaitu Utpati, Stiti dan Pralina.
Ikutilah dunia ini dengan pandangan Tri Kona tersebut.
Kalau terikat pada dunia ini umat manusia akan
didominasi oleh dinamika Utpati, Stithi dan Pralina itu
secara negatif. Gelombang Tri Kona itu sesuatu yang
pasti bagi semua ciptaan Tuhan. Manusia harus menerima
dengan sadar bahwa semua ciptaan Tuhan itu tidak ada
yang lepas dengan hukum Tri Kota itu.
Apa saja yang pernah lahir dan hidup, cepat atau lambat
pasti akan mati juga. Semua berada dalam kungkungan
ruang dan waktu. Ruang dan waktu ini pun ada di bawah
kekuasaan Tri Kona, tidak ada yang langgeng. Suatu saat
semua ruang dan waktu itu akan kena hukum Pralaya dari
Tuhan.
Ajaran Weda mengajarkan agar manusia terus-menerus
berupaya mencari yang langgeng yaitu kebenaran Tuhan
Yang Maha Esa. Dengan pemahaman Tuhan itu berada di
mana-mana, umat manusia semestinya meyakini bahwa dalam
segala aspek kehidupannya Tuhan senantiasa menyertainya.
Karunia akan senantiasa dilimpahkan oleh Tuhan kalau
dharma selalu sebagai landasan hidupnya. Derita pun akan
dilimpahkan kalau adharma yang dilakukan dalam hidup
ini. Sikap hidup yang demikian itu akan menjadi suatu
nilai yang utama dalam hidup ini.
Nilai yang diwujudkan adalah nilai menuju kehidupan yang
religius. Nilai religius itu adalah sesuatu yang padat
makna dengan mendayagunakan unsur rohani sebagai
landasan membina kehidupan duniawi. Ini artinya unsur
niskala sebagai jiwa kehidupan sekala. Keseimbangan
mengaplikasikan niskala dengan sekala sebagai konsep
hidup yang didambakan dalam kehidupan ini.
Keyakinan pada keberadaan Tuhan di mana-mana telah
menjadi dasar kehidupan sehari-hari, maka karunia pun
pasti akan dicapai. Tuhan dalam melimpahkan karunianya
melalui dewa-dewa sebagai manifestasinya. Hal ini
disimbolkan dalam Balai Pesamuan. Lewat Balai
Pesamuanlah disimbolkan Tuhan akan menemui umatnya
mencurahkan karunianya sesuai dengan kuantitas,
kualitas, kontinuitas dan kapasitas sradha dan bakti
umat pada Tuhan.
Tuhan Maha Adil akan selalu melimpahkan karunianya
sesuai dengan kadar sradha dan baktinya. Tidak mungkin
orang yang berbuat adharma mendapat karunia mulia dalam
hidupnya. * wiana