Catatan
Pariwisata
Sepekan--------------
Penyelamatan
Alam Bali
dan
Krisis ''Leadership''
BELAKANGAN ini
isu lingkungan
makin
mengemuka, baik
dalam
sekala global, regional,
nasional maupun
lokal.
Intinya,
kondisi
lingkungan semakin
tidak
menentu akibat
ulah
manusia dan
manusia pula yang
menunai
akibatnya.
Banjir
dan
tanah longsor
menelan
korban, kekeringan,
pergeseran
musim,
pemanasan global dan
berbagai
pencemaran
lainnya.
-------------
Kondisi
lingkungan yang
memprihatinkan
juga
terjadi di Bali.
Beberapa kali
harian
ini mengangkat
head-line seputar
masalah
lingkungan: persediaan
air tanah yang
makin
menipis, terjadinya
konversi
lahan
produktif, penjarahan
hutan
lindung, menyusutnya
subak
dan pencemaran air
danau.
Dari
waktu
ke waktu
kondisinya
makin
memprihatinkan.
Penyebabnya,
tidak
ada keseriusan
untuk
menyelesaikan persoalan
lingkungan
secara
komprehensif.
Kepala
Pusat Pengelolaan
Lingkungan
Hidup Regional Bali -
Nusra Ir.
Raden
Sudirman, M.M.
menengarai
salah
satu penyebabnya
karena
krisis leadership.
Artinya,
para
pemimpin, baik
eksekutif
maupun
legislatif kurang
peduli
terhadap pelestarian
alam
dan lingkungan.
Dalam
diskusi
terbatas dengan
sejumlah
wartawan
di
Denpasar, Sabtu
(26/1) kemarin,
Sudirman
menyodorkan
hasil
survai Kementerian
Lingkungan
Hidup
bekerja
sama dengan
Lembaga
Survai Nasional
Sugeng
Sarjadi.
Hasil
survai yang
dilakukan
tahun 2005
ini
cukup mencengangkan.
Antara
lain 47 persen
responden
memilih
bahwa kepala
daerah
kurang peduli
terhadap
pengelolaan
lingkungan
hidup.
Data di
atas
menggambarkan bahwa
hampir
separo kepala
daerah
di Indonesia, rendah
kepeduliannya
terhadap
lingkungan
hidup.
Sebagaimana
diketahui
jumlah
kabupaten/kota di
Tanah Air
mencapai 400-an
dan
propinsi berjumlah
33, maka
jumlah
bupati/wali
kota
yang kurang
peduli
itu mencapai 200-an
dan 16
gubernur. "Mudah-mudahan
tidak
termasuk yang di
Bali," ujar
Sudirman.
Dalam
konteks
ini, Kepala
Pusat
Pengelolaan Lingkungan
Hidup Regional Bali -
Nusra
ingin menegaskan
bahwa
isu lingkungan
perlu
diusung dalam
proses
politik, khususnya
pilkada.
Artinya,
sejauh
mana komitmen
para
kandidat untuk
melestarikan
lingkungan.
Melalui
proses demokrasi
itu,
baik parpol (termasuk
kandidat)
maupun
para konsistuen
perlu
diedukasi tentang
lingkungan.
Yang menarik,
Sudirman
juga
menganalisis kemungkinan
kekalahan
Partai
Republik (partainya
George Bush) di AS
karena
isu lingkungan.
Partai
Republik kalah
oleh
Partai Demokrat
dalam
kongres (house of representative)
dan
Senat.
Partai
Demokrat
di AS
merupakan representasi
dari
paham liberalisme
modern, sedangkan
Partai
Republik representasi
liberalisme
klasik.
·
gregorius