Wisman
ke Bali
Bukan
hanya
karena
Pantai
ISU
flu burung
dikhawatirkan
jadi
bom ketiga
bagi Bali.
Artinya,
dampak yang
ditimbulkan
terhadap
sektor
pariwisata relatif
sama
dengan
bom Bali I dan
Bom Bali II.
Akibat
kekhawatiran
itu,
sejumlah kepala
daerah
mengklaim daerahnya
bebas flu
burung.
Sudah
cukupkah
itu
untuk meyakinkan
wisatawan
untuk
tetap datang
ke
Bali?
Tentu
tidak.
Mereka
ingin
melihat bukti
nyata
terhadap langkah yang
dilakukan
untuk
mencegah penyebaran
penyakit yang
kini
merebak di
sejumlah
daerah
di Indonesia.
Penyemprotan
yang dilakukan
Disnak Kota
Denpasar
di
sejumlah pasar
burung,
tentu kita
sambut
positif.
Artinya
telah
ada yang peduli
dengan
keselamatan warga
Bali.
Tindakan
ini
semestinya dilakukan
merata
di setiap
kabupaten
di
Bali, sehingga Bali
benar-benar
bebas flu
burung.
Namun,
di
balik itu
ada yang
menyatakan
bahwa
klaim dan
tindakan
penyemprotan
tersebut
untuk
meyakinkan wisatawan
bahwa Bali
layak
dikunjungi karena
bebas flu
burung.
Alasan
yang terakhir
tersebut
tentu
tidak tepat.
Sebab,
pemberantasan virus flu
burung
harus dilakukan
bukan
hanya demi
kepentingan
sektor
pariwisata atau pun
perdagangan
internasional,
tetapi
untuk kepentingan
yang lebih
luas
lagi yaitu
keselamatan
rakyat
itu sendiri.
Terhadap
kecenderungan
menurunkan
kunjungan
wisatawan
akibat
merebaknya flu burung
tentu
harus mendapat
perhatian
komponen
pariwisata.
Perhatian
ini
tidak semata
mempromosikan
Bali
aman flu
burung,
tetapi lebih
kepada
langkah nyata
untuk
mencegah flu burung.
Misalnya,
ikut
membantu masyarakat
dalam
memperbaiki lingkungan.
Tidak
seperti
saat ini,
komponen
pariwisata
lebih
banyak memperhatikan
kebersihan
pantai.
Memang
pantai
sangat erat
hubungannya
dengan
pariwisata, tetapi
bukan
itu satu-satunya yang
jadi
penentu kedatangan
wisatawan.
Misalnya
flu burung.
Isu
ini
sangat sensitif
bagi
wisatawan.
Artinya,
komponen
pariwisata
Bali
harus
ikut memperhatikan
masalah yang
kini
dihadapi Indonesia.
Tidak
saja
membersihkan pantai,
juga
menghijaukan hutan,
memberdayakan
petani
dan melestarikan
lingkungan
sekitar.
Kalau
itu
tidak dilakukan,
maka
pengaruhnya
akan
sangat
dirasakan oleh ''mesin''
ekonomi Bali;
pariwisata.
Orang
luar
negeri takut
datang
sehingga angka
wisatawan yang
datang
terus turun
dan
juga perdagangan
dunia
merosot.
Karena
itu,
seluruh jajaran
pemerintahan
dan
komponen swasta
untuk
bersama-sama rakyat
berkoordinasi
guna
memberantas penyakit
flu burung
ini.
Hal itu
juga menjadi
harapan
Presiden Susilo
Bambang
Yudhoyono.
Katanya,
pariwisata
Indonesia
bisa
anjlok dan
perdagangan
ekonomi
merosot tajam,
jika
masalah flu burung
tidak
ditangani dan
diberantas
secara
serius.
Karena
itu,
pemerintah harus
memusnahkan
berbagai
jenis
unggas ternak
di
tempat penularan
untuk
mencegah penyebaran
virus flu burung
lebih
luas lagi.
''Kita terpaksa
memusnahkan
unggas
sehingga orang
tidak
takut datang
ke
Indonesia,''
ungkap
Presiden di
hadapan
peserta penerima
penghargaan
Satyalancana Donor
Darah
Sukarela, di Hotel
Borobudur
Jakarta, Kamis (25/1).
Apa
yang menjadi
tekad
Presiden tersebut
tentu
harus disambut
oleh
semua komponen
bangsa.
Tujuannya
agar keselamatan
jiwa
rakyat dan
bangsa
Indonesia
terjamin.
Caranya,
masing-masing
gubernur,
bupati
dan wali
kota
terus-menerus
melakukan
tindakan
nyata.
Misalnya,
melakukan
penyuluhan
kepada
masyarakat, melakukan
penyemprotan virus
antiflu
burung, bahkan
melakukan
pemusnahan
berbagai
unggas.
Selain
itu,
pemimpin-pemimpin di
daerah
harus aktif
turun
ke lapangan
untuk
mengatasi masalah flu
burung.
Artinya
semua
pihak harus
berani
berkorban untuk
mencegah agar
endemi
penyakit ini
tidak
meluas.