kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 27 Januari 2007

 Tajuk


Wisman
ke Bali Bukan hanya karena Pantai

ISU flu burung dikhawatirkan jadi bom ketiga bagi Bali. Artinya, dampak yang ditimbulkan terhadap sektor pariwisata relatif sama dengan bom Bali I dan Bom Bali II. Akibat kekhawatiran itu, sejumlah kepala daerah mengklaim daerahnya bebas flu burung. Sudah cukupkah itu untuk meyakinkan wisatawan untuk tetap datang ke Bali? Tentu tidak.

Mereka ingin melihat bukti nyata terhadap langkah yang dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit yang kini merebak di sejumlah daerah di Indonesia.

Penyemprotan yang dilakukan Disnak Kota Denpasar di sejumlah pasar burung, tentu kita sambut positif. Artinya telah ada yang peduli dengan keselamatan warga Bali. Tindakan ini semestinya dilakukan merata di setiap kabupaten di Bali, sehingga Bali benar-benar bebas flu burung.

Namun, di balik itu ada yang menyatakan bahwa klaim dan tindakan penyemprotan tersebut untuk meyakinkan wisatawan bahwa Bali layak dikunjungi karena bebas flu burung.

Alasan yang terakhir tersebut tentu tidak tepat. Sebab, pemberantasan virus flu burung harus dilakukan bukan hanya demi kepentingan sektor pariwisata atau pun perdagangan internasional, tetapi untuk kepentingan yang lebih luas lagi yaitu keselamatan rakyat itu sendiri.

Terhadap kecenderungan menurunkan kunjungan wisatawan akibat merebaknya flu burung tentu harus mendapat perhatian komponen pariwisata. Perhatian ini tidak semata mempromosikan Bali aman flu burung, tetapi lebih kepada langkah nyata untuk mencegah flu burung. Misalnya, ikut membantu masyarakat dalam memperbaiki lingkungan. Tidak seperti saat ini, komponen pariwisata lebih banyak memperhatikan kebersihan pantai. Memang pantai sangat erat hubungannya dengan pariwisata, tetapi bukan itu satu-satunya yang jadi penentu kedatangan wisatawan.

Misalnya flu burung. Isu ini sangat sensitif bagi wisatawan. Artinya, komponen pariwisata Bali harus ikut memperhatikan masalah yang kini dihadapi Indonesia. Tidak saja membersihkan pantai, juga menghijaukan hutan, memberdayakan petani dan melestarikan lingkungan sekitar.

Kalau itu tidak dilakukan, maka pengaruhnya akan sangat dirasakan oleh ''mesin'' ekonomi Bali; pariwisata. Orang luar negeri takut datang sehingga angka wisatawan yang datang terus turun dan juga perdagangan dunia merosot.    Karena itu, seluruh jajaran pemerintahan dan komponen swasta untuk bersama-sama rakyat berkoordinasi guna memberantas penyakit flu burung ini.

Hal itu juga menjadi harapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Katanya, pariwisata Indonesia bisa anjlok dan perdagangan ekonomi merosot tajam, jika masalah flu burung tidak ditangani dan diberantas secara serius. Karena itu, pemerintah harus memusnahkan berbagai jenis unggas ternak di tempat penularan untuk mencegah penyebaran virus flu burung lebih luas lagi. ''Kita terpaksa memusnahkan unggas sehingga orang tidak takut datang ke Indonesia,'' ungkap Presiden di hadapan peserta penerima penghargaan Satyalancana Donor Darah Sukarela, di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (25/1).

Apa yang menjadi tekad Presiden tersebut tentu harus disambut oleh semua komponen bangsa. Tujuannya agar keselamatan jiwa rakyat dan bangsa Indonesia terjamin. Caranya, masing-masing gubernur, bupati dan wali kota terus-menerus melakukan tindakan nyata. Misalnya, melakukan penyuluhan kepada masyarakat, melakukan penyemprotan virus antiflu burung, bahkan melakukan pemusnahan berbagai unggas. Selain itu, pemimpin-pemimpin di daerah harus aktif turun ke lapangan untuk mengatasi masalah flu burung. Artinya semua pihak harus berani berkorban untuk mencegah agar endemi penyakit ini tidak meluas.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)