kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 27 Januari 2007

 Kultur


Bondres

Lecutan Jayaprana
 

Masyarakat Buleleng, khususnya yang tinggal di Singaraja, kembali bisa menyaksikan kisah klasik ''Karmapala'' (1970), ''Mayadenawa'' (1972), ''Jaya Umbara'' (1973) dan ''Titah Dewata'' (1974). Bukan lewat pertunjukan drama gong, tetapi melalui layar film. Kedua film itu uniknya bukan produksi baru, tetapi buatan lawas di tahun 1970-an. Masih hitam putih. 

Pemutaran nostalgia ini dimaksudkan untuk merangsang para seniman di Buleleng, khususnya seniman-seniman muda yang berminat di bidang teater dan perfilman, bahwa daerah mereka itu di masa lalu sudah terbukti mampu memproduksi film. Film ''Mayadenawa'' itu demikian historisnya, dan justru menjadi monumental karena dibuat dalam keadaan yang sangat sederhana dengan peralatan seadanya. Di tahun 1970-an film itu diputar berkeliling oleh Jawatan Penerangan, waktu itu, untuk hiburan masyarakat di sela-sela pemerintah menyampaikan kebijaksanaan pembangunan dan sosial.

 

Jika para seniman tua di Buleleng mampu memproduksi film dalam kesederhanaannya, kenapa seniman-seniman masa kini yang sudah dimanja oleh kemajuan teknologi tidak mampu membuat film layar lebar yang mengharumkan Buleleng? Potensi itu, jika masih tumbuh, perlu dibangkitkan kembali. Tentu kita tidak berambisi untuk membuat semacam Bulelengwood untuk menyaingi Hollywood (di Kalifornia, Amerika Serikat) dan Bollywood (di Bombay, India), namun setidak-tidaknya ada sesuatu yang mencuat dari Bumi Ki Panji Sakti ini, yakni menjadi pusat perfilman di Bali. Harus ada sesuatu yang direbut dari Bali Selatan.

 

Sesungguhnya seniman di Buleleng punya dasar-dasar sinematografi yang kuat. Teater modern di Bali masa lalu, lebih mencuat di Buleleng. Tokohnya seperti Gde Darna masih ada sampai saat ini. Ketika drama gong mewabah di Bali, teknik pemanggungan drama gong Buleleng sudah memakai dasar-dasar perfilman dengan layar yang berganti-ganti. Teknik tipuan panggung pun mereka kuasai, bagaimana penari kelihatan terbang di awan, bagaimana perahu layar seperti bergerak di laut. Artinya, mereka sudah memahami (meski mungkin secara alami) tata panggung dan artistik, bagian yang penting dalam penggarapan film. Bukankah adegan dalam film kebanyakan tipuan?

 

Lalu, seniman yang muncul belakangan, katakanlah seperti Putu Satria Kusuma sudah menguasai teknik-teknik sinematografi. Karya mereka pun sudah ada. Lalu, apalagi yang ditunggu?

 

Yang ditunggu sekarang ini adalah kemauan dan dorongan dari orang-orang tua. Orang tua kita seringkali memanjakan anaknya dengan barang mahal yang kegunaannya tidak optimal, katakanlah handphone dengan kamera resolusi tinggi, perangkat audio yang menggelegar menyaingi suasana kafe. Budaya kita terjebak dalam budaya kafe, kegirangan semu. Nah, kenapa itu tidak diganti dengan handycam, misalnya, yang harganya tidak terpaut banyak. Teknologi handycam saat ini sudah mampu untuk membuat film-film eksperimen. Begitu pula ''mesin editing'' hanya dibutuhkan sebuah komputer yang dilengkapi perangkat editing.

 

Sofware untuk transfer dan editing ini tersedia di toko komputer dengan harga murah dari tingkat pemula yang sangat mudah dioperasikan seperti Pinnacle, sampai tingkat mahir semacam Adobe Premier. Belajar sendiri dari buku panduan sudah cukup untuk mengoperasikannya.

 

Kalau teknik dasar itu sudah dikuasai, bolehlah kemudian kamera yang lebih canggih dibeli. Peralatan ini pun sudah semakin murah saat ini. Sebuah kamera seharga sekitar Rp 20 juta sudah cukup. Klip-klip lagu pop Bali semuanya dibuat dengan peralatan seperti ini. Hasilnya sudah bagus.

 

Tentu kita tidak boleh macet berkarya hanya sampai pada tahap seperti klip lagu pop Bali. Dunia sinematografi tidak sesederhana itu. Film yang digarap dengan serius, dari skenario yang serius sampai pembuatannya yang serius, harus lahir dari Bali. Ini membutuhkan perenungan yang dalam, memerlukan diskusi panjang, dan mencari perbandingan untuk memperlebar wawasan. Di sinilah pentingnya sebuah diskusi yang berkesinambungan. Klub-klub diskusi semacam Kine Klub harus dibuat di Bali, dan kota Singaraja yang masih belum parah diserang komersialisasi, bisa mengambil peran.

 

Alam Bali yang indah (meski sudah bopeng tetapi dari sisi sinematografi masih lumayan indah) harus dimanfaatkan sebagai modal dasar bagi sineas Bali. Jangan sampai orang luar yang lebih banyak memanfaatkan alam Bali itu. Karena orang luar hanya memakai alamnya saja, mereka tentu kurang paham akan jiwa dan hati orang Bali yang lekat dengan alam dan budaya Bali. Karena itu, jika produksi film di Bali bisa hidup dan dikemudikan sendiri oleh seniman-seniman berdarah Bali, akan memberikan nuansa lain pada perfilman di Indonesia.

 

Orang Bali jangan hanya puas menjadi ''pelengkap'' atau asisten atau artis lokal yang dibayar murah. Lihatlah film seperti ''Kabut di Kintamani'', ''Misteri Goa Gajah'', ''Panji Tengkorak'', ''Nusa Penida''. Tenaga intinya semua orang luar Bali. Kenapa insan perfilman di Bali tetap saja tenggelam tanpa bunyi? Padahal sudah berdiri Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia) Bali, bahkan ada juga Parsi (Persatuan Artis Sinetron Indonesia) Bali. Nah, di sinilah lemahnya, organisasi itu kurang melakukan komunikasi dengan seniman lainnya, dan dialog-dialog bermutu masalah dunia perfilman jarang diselenggarakan.

Semoga ''Jayaprana'' yang diputar di Singaraja bisa melecut kita dari kekurangan itu.

* Putu Setia

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)