Bondres
Lecutan Jayaprana
Masyarakat Buleleng, khususnya yang tinggal di Singaraja,
kembali bisa menyaksikan kisah klasik ''Karmapala''
(1970), ''Mayadenawa'' (1972), ''Jaya Umbara'' (1973)
dan ''Titah Dewata'' (1974). Bukan lewat pertunjukan
drama gong, tetapi melalui layar film. Kedua film itu
uniknya bukan produksi baru, tetapi buatan lawas di
tahun 1970-an. Masih hitam putih.
Pemutaran nostalgia ini dimaksudkan untuk merangsang
para seniman di Buleleng, khususnya seniman-seniman muda
yang berminat di bidang teater dan perfilman, bahwa
daerah mereka itu di masa lalu sudah terbukti mampu
memproduksi film. Film ''Mayadenawa'' itu demikian
historisnya, dan justru menjadi monumental karena dibuat
dalam keadaan yang sangat sederhana dengan peralatan
seadanya. Di tahun 1970-an film itu diputar berkeliling
oleh Jawatan Penerangan, waktu itu, untuk hiburan
masyarakat di sela-sela pemerintah menyampaikan
kebijaksanaan pembangunan dan sosial.
Jika para seniman tua di Buleleng mampu memproduksi film
dalam kesederhanaannya, kenapa seniman-seniman masa kini
yang sudah dimanja oleh kemajuan teknologi tidak mampu
membuat film layar lebar yang mengharumkan Buleleng?
Potensi itu, jika masih tumbuh, perlu dibangkitkan
kembali. Tentu kita tidak berambisi untuk membuat
semacam Bulelengwood untuk menyaingi Hollywood (di
Kalifornia, Amerika Serikat) dan Bollywood (di Bombay,
India), namun setidak-tidaknya ada sesuatu yang mencuat
dari Bumi Ki Panji Sakti ini, yakni menjadi pusat
perfilman di Bali. Harus ada sesuatu yang direbut dari
Bali Selatan.
Sesungguhnya seniman di Buleleng punya dasar-dasar
sinematografi yang kuat. Teater modern di Bali masa lalu,
lebih mencuat di Buleleng. Tokohnya seperti Gde Darna
masih ada sampai saat ini. Ketika drama gong mewabah di
Bali, teknik pemanggungan drama gong Buleleng sudah
memakai dasar-dasar perfilman dengan layar yang
berganti-ganti. Teknik tipuan panggung pun mereka kuasai,
bagaimana penari kelihatan terbang di awan, bagaimana
perahu layar seperti bergerak di laut. Artinya, mereka
sudah memahami (meski mungkin secara alami) tata
panggung dan artistik, bagian yang penting dalam
penggarapan film. Bukankah adegan dalam film kebanyakan
tipuan?
Lalu, seniman yang muncul belakangan, katakanlah seperti
Putu Satria Kusuma sudah menguasai teknik-teknik
sinematografi. Karya mereka pun sudah ada. Lalu, apalagi
yang ditunggu?
Yang ditunggu sekarang ini adalah kemauan dan dorongan
dari orang-orang tua. Orang tua kita seringkali
memanjakan anaknya dengan barang mahal yang kegunaannya
tidak optimal, katakanlah handphone dengan kamera
resolusi tinggi, perangkat audio yang menggelegar
menyaingi suasana kafe. Budaya kita terjebak dalam
budaya kafe, kegirangan semu. Nah, kenapa itu tidak
diganti dengan handycam, misalnya, yang harganya tidak
terpaut banyak. Teknologi handycam saat ini sudah mampu
untuk membuat film-film eksperimen. Begitu pula ''mesin
editing'' hanya dibutuhkan sebuah komputer yang
dilengkapi perangkat editing.
Sofware untuk transfer dan editing ini tersedia di toko
komputer dengan harga murah dari tingkat pemula yang
sangat mudah dioperasikan seperti Pinnacle, sampai
tingkat mahir semacam Adobe Premier. Belajar sendiri
dari buku panduan sudah cukup untuk mengoperasikannya.
Kalau teknik dasar itu sudah dikuasai, bolehlah kemudian
kamera yang lebih canggih dibeli. Peralatan ini pun
sudah semakin murah saat ini. Sebuah kamera seharga
sekitar Rp 20 juta sudah cukup. Klip-klip lagu pop Bali
semuanya dibuat dengan peralatan seperti ini. Hasilnya
sudah bagus.
Tentu kita tidak boleh macet berkarya hanya sampai pada
tahap seperti klip lagu pop Bali. Dunia sinematografi
tidak sesederhana itu. Film yang digarap dengan serius,
dari skenario yang serius sampai pembuatannya yang
serius, harus lahir dari Bali. Ini membutuhkan
perenungan yang dalam, memerlukan diskusi panjang, dan
mencari perbandingan untuk memperlebar wawasan. Di
sinilah pentingnya sebuah diskusi yang berkesinambungan.
Klub-klub diskusi semacam Kine Klub harus dibuat di
Bali, dan kota Singaraja yang masih belum parah diserang
komersialisasi, bisa mengambil peran.
Alam Bali yang indah (meski sudah bopeng tetapi dari
sisi sinematografi masih lumayan indah) harus
dimanfaatkan sebagai modal dasar bagi sineas Bali.
Jangan sampai orang luar yang lebih banyak memanfaatkan
alam Bali itu. Karena orang luar hanya memakai alamnya
saja, mereka tentu kurang paham akan jiwa dan hati orang
Bali yang lekat dengan alam dan budaya Bali. Karena itu,
jika produksi film di Bali bisa hidup dan dikemudikan
sendiri oleh seniman-seniman berdarah Bali, akan
memberikan nuansa lain pada perfilman di Indonesia.
Orang Bali jangan hanya puas menjadi ''pelengkap'' atau
asisten atau artis lokal yang dibayar murah. Lihatlah
film seperti ''Kabut di Kintamani'', ''Misteri Goa Gajah'',
''Panji Tengkorak'', ''Nusa Penida''. Tenaga intinya
semua orang luar Bali. Kenapa insan perfilman di Bali
tetap saja tenggelam tanpa bunyi? Padahal sudah berdiri
Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia) Bali, bahkan ada
juga Parsi (Persatuan Artis Sinetron Indonesia) Bali.
Nah, di sinilah lemahnya, organisasi itu kurang
melakukan komunikasi dengan seniman lainnya, dan
dialog-dialog bermutu masalah dunia perfilman jarang
diselenggarakan.
Semoga ''Jayaprana'' yang diputar di Singaraja bisa
melecut kita dari kekurangan itu.
*
Putu Setia