kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 27 Januari 2007

 Kultur


Industri
Film Buleleng Tahun 1970------
Diproduksi
Sendiri, Diputar Keliling Desa 

Mungkin banyak orang kaget jika mengetahui Buleleng pada awal tahun 1970 pernah memiliki semacam pusat industri film. Lokasinya di sebuah rumah sederhana di kawasan Banyumala, Jalan Ahmad Yani, Singaraja. Meski tak bisa disandingkan dengan industri film di Jakarta, apalagi dengan Bollywood di India atau Hollywood di AS. Namun untuk ukuran sebuah kota kecil, geliat industri film di Singaraja pada masa lampau itu bisa dijadikan sebuah tonggak sejarah besar dalam perkembangan sinema di Bali, bahkan Indonesia. Bagaimana sejarah munculnya industri film di Singaraja dan kenapa iklim yang sempat tumbuh itu kemudian hilang?

============================================================ 

SULIT membayangkan pada tahun 1970-an berbagai desa di Buleleng, Karangasem, Jembrana dan kabupaten lain di Bali sempat disuguhi film produksi lokal Buleleng. Meski saat itu film nasional dengan pemain-pemain terkenal, seperti Bing Slamet bersama grup lawak Kwartet Jaya, sudah melanda dunia hiburan di pedesaan Bali, namun film produksi Singaraja tetap mendapat sambutan meriah. Justru karena film Bali Utara itu tak bisa dibandingkan dengan film nasional saat itu, terutama dari segi kekhasannya.

 

"Film dengan pemain orang-orang lokal Buleleng itu menggunakan bahasa Bali dengan kostum serta setting yang khas Buleleng, sehingga secara emosi para penonton merasa lebih dekat, akrab bahkan seperti ikut bermain di dalamnya," kata Anak Agung Ngurah Sentanu saat ditemui sedang mengumpulkan master film-film lama di rumahnya di Banyumala.

 

Ngurah Sentanu memang tak bisa dipisahkan dengan munculnya industri perfilman di Singaraja tahun 1970-an. Berawal dari kesukaannya bereksperimen dengan kamera, ia kemudian mendirinya semacam production house dengan nama Bhaskara Film, di mana ia sendiri bertindak sebagai produser, sutradara, penulis skenario, pencatat adegan, dan pekerjaan lainnya. Memang selama lima tahun ia hanya mampu memproduksi empat film, ''Karmapala'' (1970), ''Mayadenawa'' (1972), ''Jaya Umbara'' (1973) dan ''Titah Dewata'' (1974), namun demam film lokal yang ia ciptakan sempat mewabah hingga ke berbagai desa di Bali.

 

Awal kemunculan industri film di Singaraja itu diakui Sentanu sebagai sesuatu yang serba kebetulan. Begitu lulus dari STM elektro di Surabaya, ia bekerja serabutan sebagai bengkel radio dan alat-alat elektronik lainnya. Secara kebetulan ia kemudian bertemu dengan Drs. Kuna Winaya dari FKIP Unud (kini Undiksha). Saat itu ia diminta membuat pemancar radio Kumarastana di Jalan Pramuka Singaraja.

 

Kebetulan juga saat itu FKIP memiliki kamera yang oleh Kuna Winaya diberikan kepadanya untuk melakukan eksperimen.

Dari sekadar bermain-main dengan kamera itu kemudian terbersit di benak Sentanu untuk belajar memproduksi film. Kebetulan juga ia mendapat dukungan dari sejumlah teman seniman yang bersedia menjadi pemain tanpa memperhitungkan bayaran. Seperti sejumlah seniman di Banyuning, Tukadmungga dan Kalibukbuk. Ada juga pemain drama gong dari Penarungan yang sangat terkenal kala itu. Merasa mendapat dukungan, Sentanu kemudian memberanikan diri membeli sejumlah peralatan, seprti proyektor, alat dubbing, dan lain-lainnya.

 

Dengan modal semangat dan kekompakan, mulailah mereka membuat film "Karmapala". Dengan hasil yang tak bisa dibilang sempurna, film itu diputar keliling desa di Buleleng. Sungguh mengejutkan, film itu laku, penontonnya selalu melimpah. Bahkan, film itu bisa diputar dua kali dalam semalam di dua desa yang berjauhan.

 

Merasa dapat sambutan, Sentanu kemudian membuat film kedua dengan judul ''Mayadenawa''. Film ini dibuat secara kolosal dengan kisah klasik yang menceritakan perlawanan antara tokoh kebajikan dan kebatilan. Durasi film ini pun dua kali lipat lebih panjang dari ''Karmapala''. Jika ''Karmapala'' durasinya 1,5 jam, ''Mayadenawa'' 3 jam. "Ini karena penonton terbiasa menonton drama gong, sehingga minta durasinya diperpanjang," kenang Sentanu yang lahir 24 Desember 1937 itu.

 

Proses produksi ''Mayadenawa'' ini diakui sangat melelahkan. Proses pembuatannya pun dilakukan lebih dari 1,5 tahun. Selain karena kolosal, proses pembuatan film ini sempat dilanda masalah. Proses syuting sudah berjalan setengahnya, tiba-tiba pemain utama wanitanya mengundurkan diri karena menikah. Maka terpaksa pengambilan gambar diulang kembali dari awal. Namun, meski melelahkan, para kru dan pemain akhirnya menikmati kepuasan karena film kedua itu mendapat sambutan luar biasa dari penonton.

 

Film ketiga, ''Jaya Umbara'' (1973), dibuat dengan cerita dan setting lebih modern. Namun, film jenis ini ternyata kurang laku. Penonton tampaknya lebih suka cerita-serita klasik seperti ''Mayadenawa''. Maka pada produksi keempat kembali dibuat film gaya klasik berjudul ''Titah Dewata''. Film ini pun kembali mendapat sambutan, apalagi di dalamnya diselipi sejumlah adegan romantis yang bisa mengharu-biru penonton

 

Bagi Hasil

 

Bhaskara Film yang dikelola Sentanu ini bisa dikatakan sebagai production house yang menggarap semua proses dari produksi hingga pemutaran keliling desa. Biasanya film itu diputar di desa-desa dengan sistem bagi hasil. Dari hasil penjualan tiket, Bhaskara dapat pembagian setengah, dan setengah lagi diambil panitia.

 

Harga tiket saat itu paling mahal sekitar Rp 25. Setiap kali pemutaran, biasanya terkumpul hasil penjualan tiket sekitar Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Hasil pembagian yang diperoleh Bhaskara, setelah dipotong ongkos minyak mobil, makan dan minum sejumlah kru, paling tersisa bersih sekitar Rp 125 hingga Rp 150. Itu pun belum dihitung untuk biaya penyusutan alat-alat produski, kostum dan honor pemain. "Syukurnya, saat itu pemain tak banyak menuntut honor, apalagi royalti. Semua bekerja dengan senang dan penuh kekompakan," kata Sentanu.

 

Hasil pembagian untuk panitia biasanya dipakai untuk membangun fasilitas umum, seperti pembangunan pura, balai desa dan sekolah. Sentanu masih ingat, di Desa Tukadsumaga, Gerokgak, panitia sampai bisa membeli jendela untuk melengkapi peralatan sekolah di desa itu.

 

"Baru-baru ini saya bertemu seorang guru di Tukadsumaga yang mengaku masih terharu karena bisa membeli jendela sekolah dari hasil pemutaran film made in Buleleng," ujar Sentanu.

 

Namun setlah film keempat, produksi Bhaskara pun terhenti. Itu terjadi ketika film-film impor begitu mudah masuk ke desa-desa. Melalui seorang broker di Singaraja, film-film nasional maupun film India dan Hongkong mulai merajalela di Buleleng.

 

Selain biayanya murah karena hanya menyewa dan bukan memproduksi, judul-judul film itu bisa berganti-ganti setiap minggu. Penonton kala itu sesungguhnya masih kangen untuk menonton film produksi lokal, namun mereka menginginkan agar setiap minggu bisa berganti judul. "Itu mustahil, satu film saja harus dikerjakan selama setahun," tandas Sentanu.

* adnyana ole

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)