kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 27 Januari 2007

 Kultur


Sejarah
Sinema yang harus Dicatat 

GARAPAN sineas masa kini tentu saja tak bisa dibandingkan dengan garapan film dari orang-orang lokal masa lampau. Kini dunia sinema bergelimang sponsor, alat yang canggih dan talenta filmmaker yang dengan pendidikan profesional tak mungkin bisa diragukan lagi. Dulu, 36 tahun yang lalu, di kota kecil Singaraja, orang-orang film hanya mempunyai semangat yang menyala-nyala, namun tak memiliki pendidikan dan pengalaman yang semelimpah orang film pada zaman sekarang.  

"Saat mengambil gambar, kadang-kadang kami ragu-ragu, karena tak begitu tahu tentang mana yang benar dan mana yang bisa dianggap keliru. Semuanya seperti sebuah eksperimen, namun kami yakin bahwa kami sedang melakukan sesuatu, yakni film," kata Sentanu.  

Sesederhana apa pun proses yang dilakukan orang film di zaman lampau, segalanya memang harus dicatat. Bahwa Bali, khususnya Buleleng, pernah menorehkan sejarah dalam perkembangan dunia sinema. Dulu, mungkin peristiwa itu tak terpantau oleh Badan Perfilman Nasional atau apa pun nama lembaganya.

 

Bahkan mungkin tak tercatat dalam katalog perfilman nasional. Namun kini, segalanya harus mulai digali kembali, mulai dicatat dengan baik. Siapa tahu generasi lokal zaman sekarang, terutama yang punya minat dalam dunia sinema, bisa belajar dari semangat perfilman yang pernah menyala di suatu tempat di Singaraja.   

 

Penggalian itu kini mulai dilakukan Anak Agung Dino Suprayogi, putra dari Ngurah Sentanu. Dino mulai mengumpulkan berbagai benda yang berkaitan dengan proses pembuatan film yang dilakukan bapaknya tahun 1970-an. Ia pun kini mulai melakukan proses pengalihan master film ke DVD agar bisa diputar kembali tanpa menggunakan proyektor yang rumit itu. "Sudah dua film yang dialihkan ke DVD," kata Dino.

 

Setelah bisa diputar dengan mudah melalui DVD, rencana Dino bersama sejumlah pengemar film di Buleleng akan menggelar acara nonton bersama film-film masa lampau Buleleng. "Dari pemutaran ini bisa diharapkan tumbuh kembali semangat generasi muda untuk memasuki dunia sinema," ujarnya.  

 

Menurut Dino, banyak hal sesungguhnya bisa dipelajari dari proses pembuatan film tahun 1970-an itu. Misalnya tentang kesabaran dan kekompakan yang merupakan faktor utama dari proses terjadi sebuah film yang bagus. Saat itu semua pemain tampak sabar menghadapi proses pengambilan gambar yang penuh ragu, karena dilakukan oleh orang-orang amatir, dan sabar juga menunggu sampai film itu bisa dinikmati. Proses pengisian suara dilakukan di rumah Sentanu di Banyumala, lalu proses selanjutnya dilakukan di Australia.

 

"Saya masih kecil saat itu, tapi saya ingat betapa mereka begitu sabar mengisi suara, mengulang, salah lagi dan mengulang lagi, sampai film itu bisa dinikmati," kata Dino.

Masalahnya sekarang, siapakah yang memulai membantu untuk mencatat sejarah perfilman di Buleleng itu? (ole)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)