Sejarah
Sinema yang
harus
Dicatat
GARAPAN
sineas
masa kini
tentu
saja tak
bisa
dibandingkan dengan
garapan film
dari
orang-orang lokal
masa
lampau.
Kini
dunia sinema
bergelimang sponsor,
alat yang
canggih
dan talenta filmmaker
yang dengan
pendidikan
profesional
tak
mungkin bisa
diragukan
lagi.
Dulu, 36 tahun yang
lalu,
di
kota
kecil
Singaraja, orang-orang
film hanya
mempunyai
semangat yang
menyala-nyala,
namun
tak memiliki
pendidikan
dan
pengalaman yang semelimpah
orang film
pada
zaman sekarang.
"Saat
mengambil
gambar,
kadang-kadang kami
ragu-ragu,
karena
tak begitu
tahu
tentang mana yang
benar
dan mana yang
bisa
dianggap keliru.
Semuanya
seperti
sebuah eksperimen,
namun
kami yakin
bahwa
kami sedang
melakukan
sesuatu,
yakni film,"
kata
Sentanu.
Sesederhana
apa
pun proses yang
dilakukan
orang film
di
zaman lampau,
segalanya
memang
harus dicatat.
Bahwa Bali,
khususnya
Buleleng,
pernah
menorehkan sejarah
dalam
perkembangan dunia
sinema.
Dulu, mungkin
peristiwa
itu tak
terpantau
oleh
Badan Perfilman
Nasional
atau
apa pun
nama
lembaganya.
Bahkan
mungkin
tak tercatat
dalam
katalog perfilman
nasional.
Namun
kini,
segalanya harus
mulai
digali kembali,
mulai
dicatat dengan
baik.
Siapa
tahu
generasi lokal
zaman
sekarang, terutama
yang punya
minat
dalam dunia
sinema,
bisa belajar
dari
semangat perfilman
yang pernah
menyala
di suatu
tempat
di Singaraja.
Penggalian
itu
kini mulai
dilakukan
Anak
Agung Dino Suprayogi,
putra
dari Ngurah
Sentanu.
Dino mulai
mengumpulkan
berbagai
benda yang
berkaitan
dengan
proses pembuatan film
yang dilakukan
bapaknya
tahun 1970-an.
Ia
pun kini
mulai
melakukan proses
pengalihan master film
ke DVD agar
bisa
diputar kembali
tanpa
menggunakan proyektor
yang rumit
itu.
"Sudah
dua film yang
dialihkan
ke DVD,"
kata Dino.
Setelah
bisa
diputar dengan
mudah
melalui DVD, rencana
Dino bersama
sejumlah
pengemar film
di
Buleleng
akan
menggelar
acara
nonton bersama
film-film masa
lampau
Buleleng. "Dari
pemutaran
ini
bisa diharapkan
tumbuh
kembali semangat
generasi
muda
untuk memasuki
dunia
sinema," ujarnya.
Menurut
Dino, banyak
hal
sesungguhnya bisa
dipelajari
dari
proses pembuatan film
tahun 1970-an
itu.
Misalnya tentang
kesabaran
dan
kekompakan yang merupakan
faktor
utama dari
proses
terjadi sebuah film
yang bagus.
Saat
itu semua
pemain
tampak sabar
menghadapi
proses
pengambilan gambar
yang penuh
ragu,
karena dilakukan
oleh
orang-orang amatir,
dan
sabar juga
menunggu
sampai film
itu
bisa dinikmati.
Proses
pengisian suara
dilakukan
di
rumah Sentanu
di
Banyumala, lalu
proses
selanjutnya dilakukan
di Australia.
"Saya
masih
kecil saat
itu,
tapi saya
ingat
betapa mereka
begitu
sabar mengisi
suara,
mengulang, salah
lagi
dan mengulang
lagi,
sampai film itu
bisa
dinikmati," kata
Dino.
Masalahnya
sekarang,
siapakah yang
memulai
membantu untuk
mencatat
sejarah
perfilman di
Buleleng
itu?
(ole)