kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Paing, 17 September 2006 tarukan valas
 

POTRET

 


I Gusti Nyoman Widnyana 

Hindari Keterpurukan, Seniman Perlukan Manajer

Di dunia seni kartun di Bali, nama Wied N sudah tak asing lagi. Namun di dunia seni lukis, nama Gung Man mungkin belum begitu populer. Pemilik kedua nama "ngepop" itu sesungguhnya adalah I Gusti Nyoman Widnyana. Seniman asal Mengwi, Badung ini kini lebih berkonsentrasi melukis. Karya-karyanya kini justru sedang diminati para kolektor di luar Bali. Berikut petikan wawancara Bali Post dengan I Gusti Nyoman Widnyana.

-----------------

 

SELAMA ini Anda dikenal sebagai kartunis. Nah, sejak kapan Anda merasa sebagai pelukis?

Sebenarnya, sejak kecil saya sudah biasa melukis. Saya sempat sekolah di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Denpasar, jurusan lukis. Lalu saya melanjutkan ke Fakultas Teknik Seni Rupa Unud, jurusan seni rupa. Setelah fakultas itu berganti jadi PSSRD Unud, saya tetap mengambil jurusan lukis. Padahal di sana juga ada jurusan patung, namun saya tetap mengambil jurusan lukis.

 

Dari situ Anda lalu paham betul soal seni lukis?

Jujur saja, pada akhir studi saya merasa belum paham betul terhadap pendidikan seni lukis. Saya merasa serba kurang dan nanggung. Nah, kebetulan saat itu dibuka jurusan desain grafis, maka saya pindah ke situ. Risikonya, banyak mata kuliah yang sudah lulus harus terbuang. Walaupun agak terlambat, akhirnya saya lulus desain grafis angkatan pertama dan mahasiswa satu-satunya pada waktu itu (1980-an). Saya tamat tahun 1987 karena berspekulasi.

 

Ke mana lantas Anda melangkah?

Setamat desain grafis, saya bekerja di bidang cetak-mencetak. Setelah sepuluh tahun, saya berpikir, ternyata kalau di Bali terjun di bidang desain grafis itu susah maju. Jadi orang kaya juga sulit dari situ. Saya juga banyak ditipu orang. Saya mulai bimbang. Mulai tahun 1995, saya mencoba aktif melukis.

 

Setelah mulai melukis lagi, apa yang Anda rasakan?

Sebelum jadi pelukis, saya memang dikenal sebagai kartunis. Ketika memilih menjadi pelukis, saya hanya berpikir ingin melukis sesuatu yang selama ini tersimpan di hati atau apa yang selama ini menjadi obsesi saya, yakni melukis pemandangan. Sejak kecil saya memang senang melukis pemandangan, ada sawahnya, gunung dan yang indah lainnya.

 

Saat itu Anda sudah memikirkan soal aliran?

Begitu selesai melukis, saya tidak pernah berpikir itu aliran apa. Saya hanya suka-suka saja dan ingin mengeluarkan unek-unek yang ada di hati. Apa pun bentuknya, saya hanya keluarkan saja. Kemudian jadinya seperti itu, ya... masa bodoh amat.

 

Setelah lukisan Anda selesai, Anda juga tidak berpikir lukisan Anda mirip aliran si ini atau si itu?

Tidak. Tapi kan saya pernah studi. Pada dasarnya saya orang lukis, secara teknis saya bisa melukis. Dalam lukisan itu saya hanya ingin mengeluarkan unek-unek. Saya tak pernah berpikir untuk membuat sesuatu seperti ini ataupun itu. Soal kemudian karya saya menjadi mirip karya si ini atau itu, itu di luar perkiraan saya.

 

* * *

 

PADA perkembangannya, orang kan melihat karya Anda mirip dengan karya Arie Smit?

Ya, memang. Tetapi itu kan hanya kesan orang. Selanjutnya, saya bertemu dengan Arie Smit dan sempat berdiskusi. Pada waktu itu dia memang mengatakan bahwa hanya gaya saya ada kemiripan dengan gayanya. Arie Smit sendiri bilang, itu sah-sah saja. Makanya saya tak merasa berkecil hati. Malah kemudian saya lebih serius melukis. Untuk meningkatkan kualitas lukisan, saya harus banyak belajar. Karya Arie Smit memiliki pewarnaan yang bagus, sementara karya saya pewarnaan monocrome, warnanya agak miskin. Saya lalu banyak belajar tentang komposisi warna. Dan Arie Smit sendiri men-support saya.

 

Sepintas karya Anda sangat kuat dan hampir sama dengan karya-karya Arie Smit. Menurut Anda, apa persamaan dan perbedaan karya Anda dengan karya Arie Smit?

Persamaannya, mungkin dari segi cara pandang. Saya memandang alam itu seperti orang Barat memandang Bali. Saya tidak memposisikan diri sebagai orang Bali, melainkan sebagai orang asing yang memandang Bali. Perbedaan, mungkin dari sisi olah rasa bentuk. Pada karya Arie Smit, bentuk sudah amat minimalis. Sementara saya masih terikat pada masalah bentuk. Misalnya, sebagai orang Bali, ketika melukis pura, saya tahu betul bagaimana bentuk pura. Saya rasanya kurang enak kalau membuat bentuk pura jadi lain. Ada sedikit pertentangan, tetapi ini sebuah proses.

 

Sekarang, apakah setiap hari Anda melukis?

Saya tidak mau melukis itu sebagai pekerjaan rutin sebagaimana dilakukan pegawai kantoran. Saya melukis tiap hari, tetapi tidak memiliki jadwal pasti, jam berapa mulai atau jam berapa selesai. Saya juga bisa melukis di mana-mana, di kamar tamu, studio, di halaman atau di mana saya rasa enak.

 

Soal pemilihan objek?

Saya biasanya mencari objek ke luar. Untuk mencari objek pura, saya bisa mencari ke Karangasem, Singaraja, Gianyar atau daerah lainnya. Di sana saya membuat sket kasar di atas kertas. Lalu, sket itu saya bawa pulang, selanjutnya saya lukis di kanvas. Dalam proses memindahkan objek itu, saya melukis bukan apa yang saya lihat sesungguhnya, melainkan apa yang saya rasakan. Warna dan bentuk saya olah sedemikian rupa sesuai tangkapan atau selera rasa saya. Sket awal itu hanya batu loncatan saja.

 

Dalam konsep Anda, objek itu adalah realita atau khayalan?

Begini, misalnya saya melukis pura. Objek pura itu memang ada, tetapi di lukisan saya itu tidak akan persis seperti aslinya. Begitu pula masalah pewarnaan, tidak akan persis sama seperti aslinya. Jadi, apa yang saya rasakan pada saat melukis, itulah yang saya tuangkan. Bentuk juga sering saya ubah, tapi sedikit.

 

Bagaimana Anda memasarkan karya Anda?

Saya tak pernah menjual lukisan ke art shop karena saya tidak kuat mental jadi pedagang. Jadi, pembeli lebih banyak datang langsung ke rumah saya. Kalau ada lukisan, silakan ambil. Kalau tak ada, saya bilang tak ada. Kalau mau pesan, silakan. Tetapi saya tak bisa berjanji kapan jadinya karena saya memang tak punya target apa-apa. Kalau memang lukisan saya laku, syukurlah, berarti saya dapat duit. Saya juga tak pernah merespons pasar. Artinya, ketika permintaan begitu banyak, saya biasa-biasa saja. Belakangan ini memang permintaan banyak, tetapi saya tetap begini saja. Saya ingin menikmati, saya tak mau dikejar-kejar. Saya ingin menikmati hidup dan ingin mengatur hidup sendiri, bukan diatur orang lain.

 

Anda juga memamerkan karya-karya?

Saya sering berpameran. Dalam setahun pasti ada. Pelukis seharusnya memang sering pameran. Namun, saya tak pernah begitu serius atau ngotot harus berpameran. Saya hanya berpikir untuk berkarya dan berkarya agar karya saya mantap. Saya berpameran tunggal baru sekali, di Jakarta pada 1997. Kalau pameran bersama, sering.

 

Di dunia lukis kini, Anda lebih banyak dikenal di luar Bali dibanding di Bali sendiri, mengapa?

Mungkin karena kebetulan lukisan saya lebih banyak beredar di luar Bali, semisal di ajang Bale Lelang di Jakarta. Maka wajar kalau saya lebih dikenal di Jakarta. Sementara di Bali, orang pasti masih bertanya, "Siapa sih Gung Man?" Kalau menyebut nama Wied N kartunis, orang baru kenal.

 

* * *

 

SECARA umum, bagaimana Anda melihat perkembangan pelukis Bali kini?

Terus terang saja, saya banyak melihat pelukis baru bermunculan, kemudian terkenal, dan akhirnya pudar atau terpuruk. Setelah saya amati dari pengalaman mereka, ternyata pelukis atau seniman pada umumnya seharusnya punya manajer. Pelukis memang harus melukis saja. Soal menjual, serahkan saja kepada orang lain atau manajer. Soal hubungan dengan orang lain, publikasi, penjualan, dan lain-lainnya sebaiknya manajer itu yang melakukan, jangan pelukisnya. Kalau pelukis yang melakukan semua itu, lalu kapan kerjanya?

 

Sebagai pelukis, Anda sendiri sudah menerapkan sistem manajerial itu?

Sudah, tapi belum sepenuhnya. Yang jelas, saya sudah mengarah ke sana. Ke depan mungkin lebih ketat lagi.

 

Ada pendapat yang mengatakan bahwa seni lukis Bali kini terpuruk. Menurut Anda?

Mungkin keterpurukan disebabkan kini banyak pelukis tradisional yang karya-karyanya tidak tersalurkan atau tidak laku. Mereka hanya mengandalkan penghasilan dari lukisan saja. Kemudian mereka berpikir, buat apa melukis. Keterpurukan itu juga disebabkan perubahan kecenderungan pasar. Ketika masuk aliran seni lukis abstrak, ekspresionis, pengaruh aliran ini sangat luar biasa di Bali. Anak-anak muda Bali kemudian jadi gandrung melukis, padahal dulu jarang orang mau masuk ke seni rupa.

 

Mengapa kebanyakan pelukis generasi baru sekarang kurang tertarik lukisan tradisional Bali?

Generasi pelukis sudah terputus. Bapak, pelukis tradisi, sudah tua, anaknya yang seharusnya meneruskan tidak mau. Seni lukis tradisional dipandang tidak bergengsi, tidak ada yang mau beli.

 

Apakah sebagai pelukis kini, proses kreatif Anda terpengaruh keterpurukan itu?

Dunia seni rupa Bali terpuruk, bagi saya tak masalah. Saya punyai prinsip atau meyakini bahwa hidup itu ibarat roda, orang kadang-kadang bisa di atas dan bisa pula di bawah. Nah, yang terpuruk sekarang ini mungkin saja karena sedang berada di bawah. Saya yakin nanti pasti akan naik. Makanya saya tak terpengaruh. Melukis tetap merupakan suatu kebahagiaan dan membuat hati saya senang. Namun saya hanya prihatin, mengapa itu sampai bisa terpuruk. Pelaku seni itu introspeksi diri. Kalau memang diri kita penyebabnya, maka perbaikilah diri kita dalam bersikap, bertingkah laku, dan bertutur kata. Intinya, siapa pun yang ingin terjun di bidang seni tetap harus ingat bahwa seni itu adalah taksu dan taksu itu adalah Tuhan.

 

* pewawancara:
  budarsana
  gus martin

-------------

BIODATA

Nama                :  Drs. I Gst. Nyoman Widnyana
Lahir                 :  Denpasar, 14 November 1956
Asal                  :  Desa Sembung, Mengwi, Badung
Pekerjaan         :  Dosen Jurusan Pendidikan Seni Rupa Undiksha,
                            Singaraja

Istri                  :  Putu Arnadi, S.E.
Anak                 :  IGAA Widiari Widyaswari
                           IGAA Widyandari Kameswari
                           IGAA Pramidewi Premaswari

Alamat              :  Jl. Tukad Banyusari II/9 Denpasar

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com