kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Kliwon, 15 September 2006

 Artikel


Revitalisasi Pasar Tradisional
Oleh
Romi Sudhita 

ANDAIKATA diadakan survai terhadap berbagai lapisan masyarakat di Bali tentang kondisi perekonomian dewasa ini, besar kemungkinan akan diperoleh jawaban; ''Perekonomian Bali dalam keadaan terpuruk, anjlok, dan terseok-seok.'' Barisan penduduk miskin pun kian bertambah panjang. Gejala seperti itu sudah tampak di beberapa desa ujung timur Buleleng yang ditandai dengan jenis makanan yang mereka santap sudah mengarah ke nasi campur. Maksudnya, nasi yang bahannya berasal dari beras bercampur dengan ketela rambat alias sela bun. Kalau toh mereka sempat menikmati tayangan media periklanan yang serba wah di televisi, itu pun hanya sebatas menonton. Mereka tak mampu membeli barang-barang yang diiklankan karena benar-benar miskin. Persis seperti yang diungkapkan oleh Ivan Illich, seorang pakar ekonomi pendidikan, bahwa orang-orang yang disebut miskin adalah mereka yang tidak mampu membeli barang-barang yang diiklankan. Kini, kita mencoba mencari tahu apa yang menjadi pemicu kemiskinan itu?

Jawaban yang tak bisa dimungkiri atas pertanyaan ''kenapa miskin'' tentu saja disebabkan oleh faktor/kasus bom Bali. Pascabom Bali (I, II) memperlihatkan kepada kita bahwa mobilitas sosial semakin menurun lantaran kunjungan wisatawan semakin berkurang. Sopir bemo yang ada di Denpasar sempat mengeluh gara-gara penumpang sepi. Orang-orang yang bepergian jumlahnya sangat sedikit. Ujung-ujungnya uang yang dibawa pulang pun semakin berkurang dari biasanya. Belum lagi jumlah sepeda motor yang terus bertambah di seluruh pelosok sembilan kabupaten/kota membuat penumpang semakin berkurang, sehingga penghasilan para sopir angkutan umum kian menipis.

Dengan semakin bertambahnya sepeda motor dan mobil-mobil pribadi tentu diperlukan penambahan bahan bakar. Dari segi yang satu ini tampak ada penambahan penghasilan. Cuma yang menikmatinya hanya segelintir yakni pemilik SPBU yang umumnya sudah berkantong tebal. Rakyat kecil, gigit jari.

Pertumbuhan ekonomi yang tak merata bisa juga dilihat dari semakin berkembangnya pasar-pasar modern seperti mal, toserba, dan pasar swalayan. Sementara itu yang namanya pasar tradisional (tempat bertransaksinya rakyat kecil) tingkat keramaiannya semakin surut. Akibatnya, roda perekonomian di lapisan bawah semakin tidak lancar. Keuntungan meningkat dan penumpukan modal bertambah, hanya pada tingkat menengah ke atas. Yang ini pun dapat dikategorikan sebagai pemicu terseoknya perekonomian Bali yang boleh dibilang lesu darah.

 

Jalan Keluar

Jalan keluar untuk mengatasi terseoknya perekonomian di Bali ini, tentu saja tidak hanya satu atau dua tetapi banyak cara yang bisa ditempuh. Beberapa di antaranya seperti yang dipaparkan di depan yaitu (1) Membatasi masuknya kendaraan-kendaraan bermotor baru, dan (2) Merevitalisasi atau memberdayakan kembali secara optimal pasar-pasar tradisional termasuk koperasi. Kita sama-sama menyadari bahwa di era global ini yang paling terasa menonjol adalah kebebasan berusaha dan persaingan dalam berbagai aspek kehidupan. Itu berarti, dua cara yang ditawarkan di atas tadi sangat tipis kemungkinannya dapat terlaksana dengan baik. Jika hal itu benar, maka masih ada cara lain yakni meningkatkan kemampuan dan keterampilan warga masyarakat (SDM) terutama mereka yang sampai saat ini masih tergolong pengangguran dan belum memiliki pegangan tetap.

Warga Bali harus segera bangkit dan jangan mau kalah dengan pendatang yang terkadang hanya berbekal semangat dan bermodal dengkul. Untuk mewujudkan harapan ini, keterlibatan pemerintah sangat ditunggu-tunggu mengingat fungsi dan peranan pemerintah sangat besar di bidang yang satu ini.

Penulis, dosen Undiksha Singaraja

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)