Tranfusi Darah Menyelamatkan Thalassemia
Memang menyedikhan dan memprihatinkan penderita
thalassemia. Sepanjang hidupnya sangat tergantung pada
transfusi darah. Tak bisa disembuhkan sama sekali karena
pengobatan lebih pada mempertahankan dan memperpanjang
usia.
"Tetapi
saya tak boleh putus asa. Saya tak akan berhenti
melakukan pengobatan. Demi kelangsungan hidup Faris,
saya akan terus berupaya melakukan transfusi darah,"
tutur Ny. Bambang, salah satu orangtua penderita
thalassemia.
Apa sebetulnya thalassemia?
=================================================
Dokter Bulan Ginting Munthe, Sp.AK. dari Bagian
Kesehatan Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta
mengatakan saat ini thalassemia merupakan penyakit
keturunan yang paling banyak di dunia, termasuk
Indonesia. Di Indonesia, diperkirakan jumlah pembawa
sifat thalassemia sekitar 5-6 persen dari jumlah
populasi. Jumlah pembawa sifat ini berbeda-beda dari
satu propinsi ke propinsi lain. Yang tertinggi Palembang
yakni 10 persen. Menyusul kemudian Ujungpandang 7,8
persen, Ambon 5,8 persen, Jawa 3-4 persen, Sumatera
Utara 1-1,5 persen.
Thalassemia merupakan suatu kelainan genetik di mana
usia butir-butir eritrosit (sel-sel darah merah) menjadi
pendek. Normalnya eritrosit berusia 120 hari (sekitar 4
bulan). Setelah itu sel darah merah akan pecah dan
berganti kembali dengan yang baru. "Nah, pada penderita
thalassemia, umur eritrosit menjadi lebih pendek,
tergantung berat ringannya penyakit. Ada yang 6 minggu,
8 minggu, dan seterusnya. Bahkan kadang-kadang pada
kasus yang lebih berat, umur eritrosit bisa 3 minggu
sekali sudah hancur. "Akibatnya, karena butir darah
merah hancur, anak mengalami anemia atau kekurangan
darah.
Secara klinis, thalassemia terbagi dua; thalassemia
mayor dan thalassemia minor. Seseorang menjadi penderita
thalassemia mayor karena kedua orangtuanya menjadi
pembawa sifat. Jadi, thalassemia mayor adalah anemia
yang diturunkan. "Penderita thalassemia mayor tidak
dapat membentuk hemoglobin yang cukup di tulang
sumsumnya. Akibatnya, ia harus mendapatkan transfusi
darah seumur hidupnya." Sedangkan thalassemia minor
termasuk ringan dan hanya sebagai pembawa sifat.
Muka Pucat
Yang perlu diketahui, gejala pertama thalassemia adalah
wajah anak pucat akibat kekurangan darah merah (anemia).
"Gejala ini sudah bisa tampak sejak anak berusia 3 bulan.
Ada juga yang baru ketahuan setelah anak agak besar."
Memang tak gampang bagi orangtua untuk mendeteksi apakah
anaknya menderita thalassemia atau tidak. "Belum tentu
anak yang pucat itu karena ia menderita thalassemia.
Mungkin saja anak anemia karena kekurangan gizi atau
cacingan." Dengan demikian, jika timbul gejala tersebut,
segera bawa anak ke dokter supaya bisa diobservasi lebih
jauh.
Yang jelas, gejala lain pada penderita thalassemia
adalah jantung mudah berdebar-debar. Hal ini karena
tugas hemoglobin membawa oksigen ke seluruh tubuh. Pada
thalassemia, karena oksigen yang dibawa hemoglobin
kurang, maka jantung juga akan berusaha bekerja lebih
keras, sehingga jantung penderita akan mudah berdebar-debar.
Lama-kelamaan jantung akan bekerja lebih keras, sehingga
cepat lelah. Akibatnya terjadi lemah jantung. "Limpa
penderita juga bisa menjadi besar, karena penghancuran
darah merah terjadi di sana."
Selain itu, sumsum tulang juga bekerja lebih keras,
karena berusaha mengkompensasi kekurangan hemoglobin.
Akibatnya, tulang menjadi tipis dan rapuh. Jika
kerusakan tulang terjadi pada tulang muka, misalnya,
pada tulang hidung, maka bentuk muka pun akan berubah.
Batang hidung menjadi hilang/melesak ke dalam (facies
cooley). "Ini merupakan salah satu tanda khas penderita
thalassemia."
Deposit Zat Besi
Satu-satunya pengobatan anemia pada penderita
thalassemia hanya bisa dibantu dengan transfusi darah.
Ironisnya, transfusi darah pun bukan tanpa risiko. "Risikonya
terjadi pemindahan penyakit dari darah donor ke penerima,
misalnya, penyakit Hepatitis B, Hepatitis C, atau HIV.
Reaksi transfusi juga bisa membuat penderita menggigil
dan panas."
Yang lebih berbahaya, karena memerlukan transfusi darah
seumur hidup, maka anak bisa menderita kelebihan zat
besi karena transfusi yang terus-menerus tadi. Akibatnya,
terjadi deposit zat besi. "Karena jumlahnya yang
berlebih, maka zat besi ini akhirnya ditempatkan di
mana-mana." Misalnya, di kulit yang mengakibatkan kulit
penderita menjadi hitam.
Deposit zat besi juga bisa merembet ke jantung, hati,
ginjal, paru, dan alat kelamin sekunder, sehingga
terjadi gangguan fungsi organ. Misalnya, tak bisa
menstruasi pada anak perempuan karena ovariumnya
terganggu. Jika mengenai kelenjar ginjal, maka anak akan
menderita diabetes atau kencing manis. Tumpukan zat besi
juga bisa terjadi di lever yang bisa mengakibatkan
kematian. "Jadi, ironisnya, penderita diselamatkan oleh
darah tetapi dibunuh oleh darah juga."
Umumnya, dengan transfusi yang baik, interval transfusi
akan tetap dan tidak memendek. Misalnya, jika biasanya
penderita mendapat transfusi setiap 6 minggu, maka akan
tetap 6 minggu, tidak memendek menjadi 4 atau 5 minggu.
"Bila trend-nya memendek, tentunya akan makin berbahaya
karena makin banyak zat besi yang tertimbun."
Nah, untuk menetralisasi penimbunan zat besi dilakukan
penyuntikan obat desferal di bawah kulit dari suatu
pompa kecil selama 5 sampai 7 hari per minggu. "Desferal
akan mengambil zat besi dan mengeluarkannya melalui air
kencing." Bisa juga dilakukan dengan alat syringe drive.
"Tapi alat ini harganya sangat mahal, sekitar 3-4 juta
rupiah."
Di Pusat Thalassaemia RSCM sendiri, saat ini hanya
tersedia sekitar 60 buah alat desferal. "Padahal, satu
alat hanya bisa dipakai untuk satu penderita. Sementara
jumlah penderita kita 800 orang lebih." Sedangkan untuk
obatnya, Yayasan Thalassaemia hanya mampu menyediakan
100 botol gratis per bulan.
Kendati demikian, pengobatan thalassemia sendiri sudah
cukup baik sehingga harapan hidup penderita bisa lebih
lama dibandingkan sebelumnya. "Jika pengobatan dilakukan
dengan baik dan orangtua patuh, maka usia harapan hidup
bisa lebih lama. Produktivitas penderita pun dapat
berjalan dengan baik."
Bahkan, dengan adanya Pusat Thalassaemia, orangtua yang
mempunyai anak penderita thalassemia juga akan diberi
penyuluhan bagaimana merawat anaknya yang sakit.
Misalnya, ibu diajarkan memasangkan alat syringe drive
yang dipinjamkan, supaya mereka tak harus setiap hari
datang ke rumah sakit. Juga diajarkan hal lainnya,
misalnya melihat gejala dini thalassemia, seperti muka
lesu, tak berwarna kemerahan seperti biasanya. "Jadi,
orangtua bisa memperkirakan HB anaknya. Jumlah HB anak
perempuan harus tak kurang dari 11 dan 12 untuk anak
laki-laki." (sut, dari
berbagai sumber)