kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Pon, 9 Agustus 2006

 Ekonomi


Khawatir Sapi Bali Kalah Saing, MoU Direvisi

Denpasar (Bali Post) -
Akhirnya
bantuan Dirjen Peternakan untuk pembangunan Unit Pelaksana Teknis Nasional (UPTN) Rp 107 milyar diterima sebagaimana terungkap pada rapat dengar pendapat Komisi B DPRD Bali dengan jajaran Dinas Peternakan Bali, Tim Ahli Pemprop Bali, Selasa (8/8) kemarin. Sementara MoU (kesepakatan bersama) antara Dirjen Peternakan dengan Pemprop Bali diminta direvisi isinya, menyusul adanya kekhawatiran Ketua Bappeda Bali Drs. Adijaya.

Dia menolak sapi Bali dikembangkan ke luar Bali, sebab daya saing peternak Bali akan kalah. Akibatnya, upaya mensejahterakan peternak sapi tak tercapai.

Menurutnya, sapi Bali akan mudah berkembang di luar daerah karena tak digembalakan dan pakar ternaknya banyak. Jika produksi sapi luar Bali itu banyak, otomatis akan diantarpulaukan ke Jakarta yang sama-sama menjadi tujuan pengiriman sapi Bali. Akibatnya sapi dari Bali akan kalah bersaing dari sapi sejenis dari luar karena harga lebih murah. Namun, Adijaya tak mempermasalahkan pembangunan UPT tersebut. ''Saya setuju UPT pembibitan sapi Bali,'' tegasnya.

Prof. Dewa Suprapta, tim ahli Bappeda Bali, memahami kekhawatiran itu. Oleh karena itu, ia berpendapat, MoU tersebut direvisi. Dalam MoU tersebut disebutkan pihak pertama (UPT) ditugaskan melakukan program pembibitan sapi Bali, menetapkan standar teknis dan manajemen pemeliharaan bibit sapi Bali murni unggul. Ketiga, mengembangkan sapi Bali di daerah-daerah seluruh Indonesia. Selanjutnya menetapkan Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Bali sebagai pusat pembibitan sapi Bali murni unggul. Sedangkan Gubernur Bali sebagai pihak kedua diminta menyiapkan lahan 150 hektar dan sumber daya manusianya. Lahan itu berada di Desa Pulukan, Pekutatan, Jembrana.

Dewa Suprapta mengusulkan agar poin mengembangkan sapi Bali ke seluruh Indonesia dihilangkan. Sebab, fokus dari hasil pembibitan sapi unggul itu mesti memberikan kesejahteraan lebih kepada peternak di Bali. Tim Ahli Komisi B Prof. Dr. Suparta sependapat MoU direvisi karena banyak celah yang merugikan Bali. Dia sependapat perlunya pemurnian sapi Bali. Selain itu, cross breeding sapi Bali perlu dikaji untuk mendapatkan mutu atau sapi Bali murni.

Ketua HKTI Bali Prof. Nyoman Suparta juga berpendapat konsep MoU itu masih perlu disempurnakan agar tak menjadi bumerang bagi peternak di Bali.

Kadis Peternakan Bali Ir. IB Raka menyatakan konsep MoU ini masih bisa direvisi sebelum diajukan kembali ke pusat. Sementara Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Sapi Bali drh. Ketut Sarjana Putra sesaat sebelum pertemuan menyatakan bahwa UPT ini mendesak untuk dibentuk dan paling ideal bermarkas di Bali. Alasannya, Bali adalah habitat sapi Bali yang masih murni. Selain itu, Bali sudah berkiprah pada proyek pembibitan dan pengembangan sapi Bali. Namun terbentur status masih proyek sehingga belum bisa brtindak optimal. Saat ini populasi sapi Bali mencapai 3,5 juta ekor tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut 550.000 ekor berada di Bali, 700.000 ekor di NTT, 900.000 ekor di Sulawesi Selatan, 500.000 ekor di NTB dan 300.000 ekor di Lampung. Sisanya tersebar di sejumlah daerah bahkan sampai Malaysia dan Australia. (029)

 

 

Populasi sapi Bali di Indonesia

===============================

 

Bali               550.000 ekor

NTT                700.000 ekor

Sulawesi Selatan   900.000 ekor

NTB                500.000 ekor

Lampung            300.000 ekor

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)