kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Pon, 9 Agustus 2006

 Budaya


Membangun Hidup Sehat
 

Dhanikah strotriyo raja
nadi vaidyastu pancamah
panca yatra na vidyate
na tatra divasam vaset.
(Canakya Nitisastra. I.9)
 

Maksudnya:

Di mana tidak ada orang kaya (dhanikah), orang suci yang mahir Veda (strotriya), pemimpin (raja), ahli kesehatan (vaidya) dan sungai dengan airnya mengalir (nadi). Sehari pun hendaknya Anda jangan bermukim di tempat itu. 

Kehidupan yang layak dan wajar hanya bisa diwujudkan dalam suatu pemukiman yang memiliki lima unsur seperti dinyatakan dalam kutipan Canakya Nitisastra I.9 tersebut di atas. Salah satu unsur tersebut adalah adanya Vaidya atau ahli ilmu kesehatan. Mereka yang bekerja untuk melayani masyarakat dalam membina hidup sehat inilah yang disebut Vaidya.  

Sakit atau gangguan kesehatan itu berasal dari tiga sumber yaitu Adibautika Vyadi yaitu sakit yang disebabkan oleh serangan penyakit yang berasal dari luar diri manusia. Adyatmika Viyadi yaitu sakit yang bersumber dari dalam diri manusia. Adi Dewika Vyadi yaitu sakit yang berasal dari karma-karma pada penjelmaan masa lalu. 

Menjadi Vaidya atau ahli kesehatan tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang ilmu kesehatan dan ilmu penyakit yang berasal dari dunia nyata ini. Tiga sumber penyakit tersebut harus dipahami oleh seorang Vaidya. Tuhan adalah sumber semua ilmu pengetahuan. 

Pemujaan Tuhan di Pura Tamba Waras di Desa Sangketan Kecamatan Penebel merupakan salah satu pura di Bali yang berfungsi sebagai sarana memuja Tuhan sebagai Dewa Pengobatan dan Kesehatan. Di jeroan Pura Tamba Waras ini terdapat Pelinggih Padma Tiga sebagai Pelinggih Utama sebagai media memuja Ida Batara Tamba Waras sebagai menifestasi Tuhan yang menuntun manusia mendapatkan hidup sehat lahir batin.  

Pelinggih Padma Tiga ini Ida Batara Tamba Waras dipuja di Padma bagian tengah dengan diapit oleh dua Padma yaitu di timurnya dan di baratnya. Padma bagian barat sebagai pelinggih untuk memuja Ida Batara di Puncak Kedaton. Sedangkan Padma yang di timurnya sebagai pelinggih Ida Batara di Gunung Agung. Busana Padma Tiga yang di bagian barat berwarna merah.  

Di tengah stana Ida Batara Tamba Waras dengan busana serbahitam. Padma bagian tengah ini terdapat batu pingit berbentuk telapak kaki. Mungkin lambang telapak kaki Ida Batara Tamba Waras dalam melindungi kesehatan masyarakat. Sedangkan Padma di bagian timur dengan warna serba putih. Tiga warna ini simbol proses Tri Kona yaitu Utpati, Stithi dan Pralina. Hal ini melukiskan bahwa dalam membina kehidupan sehat tanpa penyakit perlu adanya konsep yang dinamis, seimbang dan konsisten antara menciptakan, memelihara dan meniadakan dalam bidang kesehatan.  

Ada hal-hal yang patut diciptakan sebagai suatu kreasi untuk membina hidup sehat. Ada juga sesuatu yang patut dipelihara dan dilindungi. Tetapi ada juga harus di-pralina karena sudah usang. Demikianlah dalam memelihara kesehatan harus dilakukan dengan proses Tri Kona tersebut. Proses Utpati di Pura Tamba Waras dimohonkan di Pura Puncak Kedaton. Pemeliharaan kesehatan dan pengobatan di Padma Tiga bagian tengah Ida Batara Tamba Waras. Sedangkan untuk mralina yang sudah tidak sesuai dengan zaman dalam membangun hidup sehat itu di Padma Tiga bagian timurnya. 

Di areal bagian timur jeroan Pura Tamba Waras terdapat Pelinggih Gedong. Gedong ini sesungguhnya Meru beratap satu. Dalam konsep pengelukunan Dasaksara, Meru Tumpang Satu ini lambang aksara Omkara pinaka uriping bhuwana. 

Menurut Drs. Sugiarta, salah seorang manggala tukang banten Karya Ngenteg Linggih Pura Tamba Waras, Pelinggih Gedong ini media nedungan, nyineb dan pesamuan Ida Batara Tamba Waras. Dalam tradisi ritual Hindu, Tuhan itu disimbolkan bagaikan Raja Diraja dengan aparatur kerajaannya. Tuhan diibaratkan bertempat tinggal di istana diiringi oleh aparaturnya. Tetapi itu semuanya simbolisasi dan visualisasi agar umat lebih mudah dapat menyerap makna dan nilai-nilai suci dari kehidupan berketuhanan tersebut.  

Saat nedunan Ida Batara divisualkan beliau turun ke dunia memberikan berbagai anugerah kepada umat manusia yang berbuat Subha karma. Tuhan juga akan ''menghukum'' umatnya yang berbuat dosa sebagai pendidikan agar umat kembali sadar pada jati dirinya sebagai Atman yang suci. Setelah memberikan anugerah dan hukuman divisualisasikan Tuhan itu kembali ke istananya. Saat kembali inilah disebut dengan istilah nyineb.  

Di samping itu, Pelinggih Gedong itu sebagai Pelinggih Pesamuan. Tuhan saat akan turun ke bumi disimbolkan bertemu dengan para dewa aparatur kerajaan Tuhan. Di Pelinggih Pesamuan itulah divisualisasikan ada rapat atau pesamuan untuk menentukan bentuk anugerah dan hukuman yang akan diturunkan kepada umat manusia saat Tuhan turun ke bumi. Demikianlah fungsi Pelinggih Gedong di areal timur jeroan Pura Tamba Waras. Kata Tamba artinya obat dan waras artinya sehat.  

Jadinya di Pura Tamba Waras, Tuhan dipuja untuk membangun kecerdasan spiritual khusus membina kehidupan yang sehat lahir batin. Upacara piodalan di Pura Tamba Waras ini setiap enam bulan wuku yaitu pada Buda Manis Prangbakat. 

Di areal bagian barat agak ke selatan terdapat suatu bangunan suci yang oleh masyarakat disebut Pasepan. Sesungguhnya Pasepan itu adalah Kunda untuk menyelenggarakan upacara Homa Yadnya yang populer dilakukan oleh umat Hindu dari abad X Masehi di Bali. Karena upacara Homa Yadnya itu sebagai media pemujaan Dewa Agni untuk menyinari umatnya yang bakti pada Tuhan sesuai dengan petunjuk kitab suci Weda.* I Ketut Gobiah

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)