Membangun Hidup Sehat
Dhanikah strotriyo raja
nadi vaidyastu pancamah
panca yatra na vidyate
na tatra divasam vaset.
(Canakya Nitisastra. I.9)
Maksudnya:
Di mana tidak ada orang kaya (dhanikah), orang suci yang
mahir Veda (strotriya), pemimpin (raja), ahli kesehatan
(vaidya) dan sungai dengan airnya mengalir (nadi).
Sehari pun hendaknya Anda jangan bermukim di tempat itu.
Kehidupan yang layak dan wajar hanya bisa diwujudkan
dalam suatu pemukiman yang memiliki lima unsur seperti
dinyatakan dalam kutipan Canakya Nitisastra I.9 tersebut
di atas. Salah satu unsur tersebut adalah adanya Vaidya
atau ahli ilmu kesehatan. Mereka yang bekerja untuk
melayani masyarakat dalam membina hidup sehat inilah
yang disebut Vaidya.
Sakit atau gangguan kesehatan itu berasal dari tiga
sumber yaitu Adibautika Vyadi yaitu sakit yang
disebabkan oleh serangan penyakit yang berasal dari luar
diri manusia. Adyatmika Viyadi yaitu sakit yang
bersumber dari dalam diri manusia. Adi Dewika Vyadi
yaitu sakit yang berasal dari karma-karma pada
penjelmaan masa lalu.
Menjadi Vaidya atau ahli kesehatan tidak cukup hanya
memiliki pengetahuan tentang ilmu kesehatan dan ilmu
penyakit yang berasal dari dunia nyata ini. Tiga sumber
penyakit tersebut harus dipahami oleh seorang Vaidya.
Tuhan adalah sumber semua ilmu pengetahuan.
Pemujaan Tuhan di Pura Tamba Waras di Desa Sangketan
Kecamatan Penebel merupakan salah satu pura di Bali yang
berfungsi sebagai sarana memuja Tuhan sebagai Dewa
Pengobatan dan Kesehatan. Di jeroan Pura Tamba Waras ini
terdapat Pelinggih Padma Tiga sebagai Pelinggih Utama
sebagai media memuja Ida Batara Tamba Waras sebagai
menifestasi Tuhan yang menuntun manusia mendapatkan
hidup sehat lahir batin.
Pelinggih Padma Tiga ini Ida Batara Tamba Waras dipuja
di Padma bagian tengah dengan diapit oleh dua Padma
yaitu di timurnya dan di baratnya. Padma bagian barat
sebagai pelinggih untuk memuja Ida Batara di Puncak
Kedaton. Sedangkan Padma yang di timurnya sebagai
pelinggih Ida Batara di Gunung Agung. Busana Padma Tiga
yang di bagian barat berwarna merah.
Di tengah stana Ida Batara Tamba Waras dengan busana
serbahitam. Padma bagian tengah ini terdapat batu pingit
berbentuk telapak kaki. Mungkin lambang telapak kaki Ida
Batara Tamba Waras dalam melindungi kesehatan masyarakat.
Sedangkan Padma di bagian timur dengan warna serba putih.
Tiga warna ini simbol proses Tri Kona yaitu Utpati,
Stithi dan Pralina. Hal ini melukiskan bahwa dalam
membina kehidupan sehat tanpa penyakit perlu adanya
konsep yang dinamis, seimbang dan konsisten antara
menciptakan, memelihara dan meniadakan dalam bidang
kesehatan.
Ada hal-hal yang patut diciptakan sebagai suatu kreasi
untuk membina hidup sehat. Ada juga sesuatu yang patut
dipelihara dan dilindungi. Tetapi ada juga harus
di-pralina karena sudah usang. Demikianlah dalam
memelihara kesehatan harus dilakukan dengan proses Tri
Kona tersebut. Proses Utpati di Pura Tamba Waras
dimohonkan di Pura Puncak Kedaton. Pemeliharaan
kesehatan dan pengobatan di Padma Tiga bagian tengah Ida
Batara Tamba Waras. Sedangkan untuk mralina yang sudah
tidak sesuai dengan zaman dalam membangun hidup sehat
itu di Padma Tiga bagian timurnya.
Di areal bagian timur jeroan Pura Tamba Waras terdapat
Pelinggih Gedong. Gedong ini sesungguhnya Meru beratap
satu. Dalam konsep pengelukunan Dasaksara, Meru Tumpang
Satu ini lambang aksara Omkara pinaka uriping bhuwana.
Menurut Drs. Sugiarta, salah seorang manggala tukang
banten Karya Ngenteg Linggih Pura Tamba Waras, Pelinggih
Gedong ini media nedungan, nyineb dan pesamuan Ida
Batara Tamba Waras. Dalam tradisi ritual Hindu, Tuhan
itu disimbolkan bagaikan Raja Diraja dengan aparatur
kerajaannya. Tuhan diibaratkan bertempat tinggal di
istana diiringi oleh aparaturnya. Tetapi itu semuanya
simbolisasi dan visualisasi agar umat lebih mudah dapat
menyerap makna dan nilai-nilai suci dari kehidupan
berketuhanan tersebut.
Saat nedunan Ida Batara divisualkan beliau turun ke
dunia memberikan berbagai anugerah kepada umat manusia
yang berbuat Subha karma. Tuhan juga akan ''menghukum''
umatnya yang berbuat dosa sebagai pendidikan agar umat
kembali sadar pada jati dirinya sebagai Atman yang suci.
Setelah memberikan anugerah dan hukuman divisualisasikan
Tuhan itu kembali ke istananya. Saat kembali inilah
disebut dengan istilah nyineb.
Di samping itu, Pelinggih Gedong itu sebagai Pelinggih
Pesamuan. Tuhan saat akan turun ke bumi disimbolkan
bertemu dengan para dewa aparatur kerajaan Tuhan. Di
Pelinggih Pesamuan itulah divisualisasikan ada rapat
atau pesamuan untuk menentukan bentuk anugerah dan
hukuman yang akan diturunkan kepada umat manusia saat
Tuhan turun ke bumi. Demikianlah fungsi Pelinggih Gedong
di areal timur jeroan Pura Tamba Waras. Kata Tamba
artinya obat dan waras artinya sehat.
Jadinya di Pura Tamba Waras, Tuhan dipuja untuk
membangun kecerdasan spiritual khusus membina kehidupan
yang sehat lahir batin. Upacara piodalan di Pura Tamba
Waras ini setiap enam bulan wuku yaitu pada Buda Manis
Prangbakat.
Di areal bagian barat agak ke selatan terdapat suatu
bangunan suci yang oleh masyarakat disebut Pasepan.
Sesungguhnya Pasepan itu adalah Kunda untuk
menyelenggarakan upacara Homa Yadnya yang populer
dilakukan oleh umat Hindu dari abad X Masehi di Bali.
Karena upacara Homa Yadnya itu sebagai media pemujaan
Dewa Agni untuk menyinari umatnya yang bakti pada Tuhan
sesuai dengan petunjuk kitab suci Weda.*
I Ketut Gobiah