Tangkal
Krisis Air
Bersih--------
Bangun
Sumur
Resapan
DIREKTUR
Program Pascasarjana
Universitas
Udayana Prof. Dr. Ir.
Dewa
Suprapta mengatakan
sudah
saatnya pemerintah
membangun
sumur-sumur
resapan
di seluruh
kabupaten/kota
guna
menangkal terjadinya
krisis air
bersih
di
Bali. Program ini
sangat
mendesak direalisasikan
mengingat
luasan
hutan di Bali
terus
menyusut, sehingga
limpahan air yang
bisa
ditangkap saat
musim
hujan sangat
terbatas.
Di
lain pihak,
upaya-upaya
reboisasi
atau
menghijaukan kembali
hutan-hutan yang
rusak
dijarah penebang liar
wajib
menjadi prioritas
Pemprop Bali
maupun
pemerintah kabupaten/kota
di
seluruh Bali. ''Estimasi
bahwa Bali
akan
mengalami krisis air
bersih yang
parah
dalam rentang
waktu
dua puluh
tahun
ke depan
bukan
sesuatu yang mengada-ada.
Bahkan,
tidak tertutup
kemungkinan
krisis air
bersih
itu akan
datang
lebih cepat
dari yang
diperkirakan
jika
kita tidak
mengambil
langkah-langkah
preventif
dan
proaktif secara
dini,''
kata Suprapta,
Selasa (8/8)
kemarin.
Untuk
program jangka
pendek,
katanya, pembangunan
sumur-sumur
resapan
di sejumlah
titik
di seluruh
kabupaten/kota
di Bali
itu wajib
secepatnya
direalisasikan.
Dengan
begitu, pada
musim
hujan tidak
semua
limpahan air hujan
itu
mengalir begitu
saja di
permukaan
dan
terbuang percuma
ke laut.
Namun,
ada yang masuk
ke
dalam tanah yang
selanjutnya
menjadi air
tanah
untuk cadangan
persediaan air
di
musim kemarau. ''Itu
salah
satu metode yang
bisa
dilakukan untuk
menangkal
terjadinya
krisis air
bersih
tersebut. Mengingat
pembangunan
sumur-sumur
resapan
itu biayanya
tidak
sedikit, tentu
saja
pembangunan fasilitas
penahan air
hujan
ini wajib
difasilitasi
oleh
pemerintah,'' katanya.
Secara
teori,
katanya, ancaman
krisis air
bersih
di Bali semestinya
bisa
dihindari. Pasalnya,
musim
hujan di
sini
lumayan panjang.
Persoalannya
sekarang,
mampu
tidak masyarakat Bali
mengelola air
hujan
itu. Menangkap air
hujan
itu sebanyak-banyaknya
pada
musim hujan,
muncul
sebagai air tanah
untuk
selanjutnya dimanfaatkan
pada
musim kemarau. ''Sejatinya,
Bali tidak
perlu
sampai kekurangan air
jika
masyarakatnya mampu
mengelola
alam
lingkungan dengan
bijaksana.
Karena
hutan terus
digunduli,
sementara
upaya-upaya
reboisasi
tidak
menunjukkan hasil
yang signifikan,
timbullah
kekhawatiran
krisis air
bersih
itu karena
reservoar air paling
strategis
itu
sudah porak-poranda,''
katanya
seraya mendesak
pemerintah
secepatnya
melakukan
kajian
guna menentukan
titik-titik
pembangunan
sumur
resapan itu.
Guna
menjamin
keberlangsungan
persediaan air,
katanya, Bali
memang
harus memiliki
hutan yang
memadai.
Saat
ini, wilayah Bali
yang tertutupi
hutan
hanya tersisa 20%.
Padahal, Bali
setidaknya
harus
memiliki kawasan
hutan
seluas 30% dari total
luas
wilayah jika
ingin
menjaga kestabilan
persediaan air
itu.
Ironisnya lagi,
luasan
hutan yang sudah
kritis
itu masih ''dibelenggu''
dengan
aktivitas-aktivitas
penebangan liar dan
juga
alih fungsi
lahan yang
tak
terkendali. ''Jika
begini
terus, Bali akan
mengalami
krisis air
tinggal
menghitung hari,''
katanya
tanpa pretensi
menakut-nakuti.
Mengingat
perluasan
kawasan
hutan di Bali
sangat
sulit dilakukan,
Suprapta
mendesak
pemerintah
punya
komitmen tegas
dalam
menegakkan peraturan
tata
ruang. Dalam
membangun
rumah,
misalnya, dikenal
adanya
pemberlakuan koefisien
dasar
bangunan (KDB) yang
mewajibkan setiap
pemilik
rumah untuk
menyisakan
sebagian
lahannya
untuk
ruang terbuka
hijau yang
berfungsi
sebagai
daerah resapan air.
Dalam
praktiknya, ketentuan
itu
seringkali dilanggar.
''Aturan
sebenarnya
kita
sudah punya.
Tetapi,
bagaimana menegakkan
aturan,
itu yang kita
tidak
punya karena
toleransi-toleransi
masih
sering terjadi.
Penegakan
aturan yang
bisa
ditawar-tawar ini
akan
mempercepat Bali menuju
krisis air,''
tegasnya.
(ian)