kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Pon, 9 Agustus 2006

 Bali


Dari Warung Global Interaktif Bali Post

Hindari
Krisis Air, Sisakan Lahan untuk Resapan 

KRISIS air bersih di Bali bukan merupakan persoalan baru bagi masyarakatnya. Pulau Bali yang kecil dan sarat beban ini memang sudah diperkirakan akan mengalami krisis air sejalan dengan tingginya pertambahan penduduk dan alih fungsi lahan. Sangat ironis Indonesia yang agraris, hutan berlimpah dan lain-lain justru tidak punya air. Apa yang sebenarnya salah? Ternyata tidak lain adalah karena ulah manusia itu sendiri yang terlalu serakah dan teledor yang hanya mementingkan kehidupan sekarang tanpa berpikir ke depannya. Sudah jelas krisis air disebabkan penggundulan hutan. Ini harus dipikirkan. Secara pelan dan pasti Bali memang akan krisis air. Bahkan sekarang pun sudah krisis air. Sebab, sekarang semua bangunan diisi dengan beton yang menyebabkan resapan air tidak ada lagi. Tidak ada istilah terlambat, untuk itu kesadaran dan tobat adalah solusinya dan dimulai dari diri sendiri. Jika kita sudah sadar maka mulailah untuk tidak ''menanam beton''. Setiap penduduk yang akan membangun rumah harus menyisakan 33% lahan untuk resapan air. Jadi sebelum terlambat marilah kita hijaukan Bali ini kembali dan beton-beton di halaman rumah hendaknya dibongkar, sebab ini justru akan menyusahkan kita. Marilah kita mulai menanam/menghijaukan hutan kembali. Ini sangat penting untuk menghindari kekeringan. Demikian terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan secara langsung oleh Radio Global 96,5 FM, Selasa (8/8) kemarin. Acara ini juga dipancarluaskan oleh Radio Genta Bali dan Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.

------------------------------

Jujur mengatakan tak pernah ada berita bahagia di Indonesia ini. Lalu apa yang bisa kita banggakan dari pengelola negara ini? Indonesia yang agraris, hutan berlimpah dan lain-lain tidak punya air. Apa yang salah? Mungkin pengelolaannya yang tidak benar dan tidak transparan. Dalam situasi dan kondisi seperti ini sudah saatnya pula air kemasan ditertibkan kembali, yang menyedot ribuan liter air di mana ini hanyalah menguntungkan suatu kelompok/pribadi. Semua tergantung dari kepastian dan kebijakan, jangan sampai kita dibeli oleh investor.

Sudana Kendal di Denpasar juga setuju agar air kemasan distop dulu. Juga tidak kalah pentingnya yang harus distop adalah proyek geothermal di Bedugul. Sebab, ini menyebabkan air akan habis.

Menurut Anton di Denpasar dan Dewa Pacung di Gianyar, secara pelan dan pasti Bali memang akan krisis air. Bahkan, sekarang pun sudah krisis air. Sebab, sekarang semua bangunan diisi dengan beton yang menyebabkan resapan air tidak ada lagi. Untuk itu pembangunan di Bali ini harus diatur, sekian persen tidak boleh dibeton.

Ireng di Bajra, Kak Mokoh di Padangsambian dan Agung Purnawijaya di Gianyar sependapat bahwa penyebab semua ini adalah ulah manusia itu sendiri yang terlalu serakah dan teledor. Hanya mementingkan kehidupan sekarang tanpa berpikir ke depannya. Tidak ada istilah terlambat, untuk itu kesadaran dan tobat adalah solusinya dan dimulai dari diri sendiri. Jika kita sudah sadar maka mulailah untuk tidak menanam beton. Setiap penduduk yang akan membangun rumah mesti menyisakan 33% lahan untuk resapan air. Jadi sebelum terlambat marilah kita hijaukan Bali ini kembali dan beton-beton di halaman rumah hendaknya dibongkar, sebab ini justru akan menyusahkan kita.

Sutama di Kerobokan dan Ade di Denpasar juga sependapat bahwa semua penduduk yang membangun janganlah memakai beton. Bila perlu lahan harus ditanami pohon yang dapat menyerap air.

Dewa Winaya di Tabanan menilai penyebab pokok dari krisis air adalah adanya proyek geothermal di Bedugul. Untuk itu proyek ini harus segera dihentikan. Apalagi pada intinya masyarakat Bali tidak setuju. Untuk itu para petinggi di Bali hendaknya kompak dalam menangani hal ini.

Sementara itu, Natri Udiani di Denpasar mengatakan air adalah salah satu sumber daya alam. Sudah saatnya DPR-RI dengan eksekutif berembuk untuk menangani air. Jangan lagi berikan kebebasan kepada pihak swasta mengeksploitasi air.

Guatama di Tampaksiring melihat sekarang pun sudah krisis air bersih, sebab masyarakat terutama intelektual kita yang sudah menduduki jabatan yang punya otoritas untuk menentukan nasib daripada Pulau Bali ini masih setengah hati menerapkan otoritas mereka demi kepentingan masyarakat Bali. Mungkin karena ada ewuh pakewuh. Jika mereka memang komit dengan apa yang telah diamanatkan oleh masyarakat kepada mereka semestinya mereka harus mengambil sikap yang tegas. Sebab, sudah jelas krisis air disebabkan  penggundulan hutan. Ini harus dipikirkan, marilah mulai menanam/menghijaukan hutan kembali. Ini sangat penting untuk menghindari kekeringan.

Menurut Yogi di Negara, air tidak pernah habis. Yang habis adalah cara pengelolaannya. Hutan yang digunduli adalah penyebabnya.

Suarna di Kaba-Kaba memberikan solusi untuk mengatasi krisis air, semua komponen harus berjuang. Petinggi di Bali harus segera mengambil langkah untuk menangani masalah air. Jangan lagi tergiur dengan investor.

Putrawan di Denpasar juga menawarkan solusi agar air tidak habis maka di masing-masing rumah, air hujan jangan dibuang ke got atau ke jalan. Buatlah sumur untuk menampungnya sehingga akan meresap. * mei

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)