Dari Warung Global
Interaktif Bali Post
Hindari
Krisis Air,
Sisakan
Lahan untuk
Resapan
KRISIS
air bersih
di
Bali bukan
merupakan
persoalan
baru
bagi masyarakatnya.
Pulau Bali yang
kecil
dan sarat
beban
ini memang
sudah
diperkirakan akan
mengalami
krisis air
sejalan
dengan tingginya
pertambahan
penduduk
dan
alih fungsi
lahan.
Sangat ironis
Indonesia yang agraris,
hutan
berlimpah dan
lain-lain justru
tidak
punya air. Apa yang
sebenarnya
salah?
Ternyata tidak lain
adalah
karena ulah
manusia
itu sendiri yang
terlalu
serakah dan
teledor yang
hanya
mementingkan kehidupan
sekarang
tanpa
berpikir ke
depannya.
Sudah
jelas krisis air
disebabkan
penggundulan
hutan.
Ini harus
dipikirkan.
Secara
pelan dan
pasti Bali
memang
akan krisis air.
Bahkan
sekarang pun sudah
krisis air.
Sebab,
sekarang semua
bangunan
diisi
dengan beton yang
menyebabkan
resapan air
tidak
ada lagi.
Tidak
ada istilah
terlambat,
untuk
itu kesadaran
dan
tobat adalah
solusinya
dan
dimulai dari
diri
sendiri. Jika
kita
sudah sadar
maka
mulailah untuk
tidak ''menanam
beton''.
Setiap
penduduk yang akan
membangun
rumah
harus menyisakan 33%
lahan
untuk resapan air.
Jadi
sebelum terlambat
marilah
kita hijaukan Bali
ini
kembali dan
beton-beton
di
halaman rumah
hendaknya
dibongkar,
sebab
ini justru
akan
menyusahkan kita.
Marilah
kita mulai
menanam/menghijaukan
hutan
kembali. Ini
sangat
penting untuk
menghindari
kekeringan.
Demikian
terungkap
dalam
acara Warung Global
yang disiarkan
secara
langsung oleh Radio
Global 96,5 FM, Selasa (8/8)
kemarin.
Acara
ini juga
dipancarluaskan
oleh Radio
Genta Bali
dan
Singaraja FM. Berikut
rangkuman
selengkapnya.
------------------------------
Jujur
mengatakan
tak
pernah ada
berita
bahagia di Indonesia
ini.
Lalu apa yang
bisa
kita banggakan
dari
pengelola negara
ini? Indonesia yang
agraris,
hutan
berlimpah dan
lain-lain tidak
punya air.
Apa yang
salah?
Mungkin pengelolaannya
yang tidak
benar
dan tidak
transparan.
Dalam
situasi dan
kondisi
seperti ini
sudah
saatnya pula air kemasan
ditertibkan
kembali, yang
menyedot
ribuan liter air
di mana
ini
hanyalah menguntungkan
suatu
kelompok/pribadi. Semua
tergantung
dari
kepastian dan
kebijakan,
jangan
sampai kita
dibeli
oleh investor.
Sudana
Kendal di
Denpasar
juga
setuju agar air kemasan
distop
dulu. Juga
tidak
kalah pentingnya yang
harus
distop adalah
proyek geothermal
di
Bedugul. Sebab,
ini
menyebabkan air akan
habis.
Menurut
Anton di
Denpasar
dan
Dewa Pacung
di
Gianyar, secara
pelan
dan pasti Bali
memang
akan krisis air.
Bahkan,
sekarang pun sudah
krisis air.
Sebab,
sekarang semua
bangunan
diisi
dengan beton yang
menyebabkan
resapan air
tidak
ada lagi.
Untuk
itu pembangunan
di Bali
ini harus
diatur,
sekian persen
tidak
boleh dibeton.
Ireng
di
Bajra, Kak
Mokoh
di Padangsambian
dan
Agung Purnawijaya
di
Gianyar sependapat
bahwa
penyebab semua
ini
adalah ulah
manusia
itu sendiri yang
terlalu
serakah dan
teledor.
Hanya
mementingkan kehidupan
sekarang
tanpa
berpikir ke
depannya.
Tidak
ada istilah
terlambat,
untuk
itu kesadaran
dan
tobat adalah
solusinya
dan
dimulai dari
diri
sendiri. Jika
kita
sudah sadar
maka
mulailah untuk
tidak
menanam beton.
Setiap
penduduk yang akan
membangun
rumah
mesti menyisakan 33%
lahan
untuk resapan air.
Jadi
sebelum terlambat
marilah
kita hijaukan Bali
ini
kembali dan
beton-beton
di
halaman rumah
hendaknya
dibongkar,
sebab
ini justru
akan
menyusahkan kita.
Sutama
di
Kerobokan dan
Ade di
Denpasar
juga
sependapat bahwa
semua
penduduk yang membangun
janganlah
memakai
beton. Bila
perlu
lahan harus
ditanami
pohon yang
dapat
menyerap air.
Dewa
Winaya
di Tabanan
menilai
penyebab pokok
dari
krisis air adalah
adanya
proyek geothermal di
Bedugul.
Untuk
itu proyek
ini
harus segera
dihentikan.
Apalagi
pada intinya
masyarakat Bali
tidak
setuju. Untuk
itu
para petinggi
di Bali
hendaknya kompak
dalam
menangani hal
ini.
Sementara
itu,
Natri Udiani
di
Denpasar mengatakan
air adalah
salah
satu sumber
daya
alam. Sudah
saatnya DPR-RI
dengan
eksekutif berembuk
untuk
menangani air. Jangan
lagi
berikan kebebasan
kepada
pihak swasta
mengeksploitasi air.
Guatama
di
Tampaksiring melihat
sekarang pun
sudah
krisis air bersih,
sebab
masyarakat terutama
intelektual
kita yang
sudah
menduduki jabatan
yang punya
otoritas
untuk
menentukan nasib
daripada
Pulau Bali
ini
masih setengah
hati
menerapkan otoritas
mereka
demi kepentingan
masyarakat Bali.
Mungkin
karena ada
ewuh
pakewuh. Jika
mereka
memang komit
dengan
apa yang telah
diamanatkan
oleh
masyarakat kepada
mereka
semestinya mereka
harus
mengambil sikap yang
tegas.
Sebab, sudah
jelas
krisis air disebabkan
penggundulan
hutan.
Ini harus
dipikirkan,
marilah
mulai menanam/menghijaukan
hutan
kembali. Ini
sangat
penting untuk
menghindari
kekeringan.
Menurut
Yogi di Negara, air
tidak
pernah habis. Yang
habis
adalah cara
pengelolaannya.
Hutan yang
digunduli
adalah
penyebabnya.
Suarna
di
Kaba-Kaba memberikan
solusi
untuk mengatasi
krisis air,
semua
komponen harus
berjuang.
Petinggi
di Bali
harus segera
mengambil
langkah
untuk menangani
masalah air.
Jangan
lagi tergiur
dengan investor.
Putrawan
di
Denpasar juga
menawarkan
solusi agar air
tidak
habis maka
di
masing-masing rumah,
air hujan
jangan
dibuang ke got
atau ke
jalan.
Buatlah sumur
untuk
menampungnya sehingga
akan
meresap. *
mei