Masyarakat Miskin pun Beli Air Rp 1 Juta
Singaraja (Bali Post) -
Keadaan
sangat ironis terjadi di sejumlah dusun di Desa Tembok,
Kecamatan Tejakula, Buleleng. Selama bertahun-tahun
warga yang sudah tergolong miskin harus rela membeli air
seharga lebih dari Rp 1 juta selama musim kering. Jika
tak mampu membeli, warga harus rela mencari air pada
sumber air yang jauhnya hingga tiga kilometer dengan
melewati jalan menanjak.
Pantauan Bali Post di Desa Tembok, Kamis (24/8) sore,
menyebutkan hampir semua wilayah di desa itu tergolong
kekeringan. Namun, di wilayah dataran rendah warga masih
bisa mendapatkan air dari sumur air bawah tanah milik
proyek irigasi dari Uni Eropa. Air itu pun diperoleh
dengan cara membeli yang harganya sekitar Rp 200 per
kubik. Namun, di dataran tinggi yang wilayahnya tak
terjangkau sumur, seperti di Dusun Bulakan, Dusun
Sembung, Dadap Tebel, Linggasana, dan Ngis, warga harus
rela membeli air dengan harga mahal yang dibawa oleh
mobil tangki milik PDAM atau usaha mobil tangki milik
perseorangan.
Harga air per kubik dari mobil tangki itu berbeda-beda.
Nengah Lanus (62) dari Dusun Bulakan mengatakan pada
musim kemarau ia membeli air Rp 32 ribu per tangki yang
cukup dipakai mandi dan memasak selama seminggu untuk
seluruh keluarga. ''Itu pun dipakai dengan cara sangat
irit,'' katanya.
Jadi, selama sebulan Lanus bisa mengeluarkan uang untuk
beli air sebesar Rp 128 ribu. Jika musim kemarau
berlangsung selama delapan bulan, maka uang yang
dikeluarkan bisa mencapai Rp 1 juta lebih.
Di Dusun Dadap Tebel harga air jauh lebih mahal. Seorang
warga mengatakan air dari mobil tangki itu harganya bisa
mencapai Rp 60 ribu per 4 kubik. Susahnya lagi, warga
juga tetap kesulitan mendapatkan air karena mobil tangki
belum tentu mau ke dusun itu meski sudah dipesan berkali-kali.
Sumur Tua
Untungnya di Dusun Ngis masih terdapat beberapa sumur
yang masih bisa mengeluarkan air. Salah satu yang masih
berair adalah sebuah sumur yang diperkirakan dibuat pada
saat jaya-jayanya kebun jeruk pada awal tahun 1970-an
dengan kedalaman sekitar 50 meter. Setiap pagi dan sore
masyarakat yang tak bisa membeli air akan
beriringan mencari air ke sumur tersebut. ''Sumur lain
sebenarnya masih banyak, tetapi hanya sumur ini yang
masih mengeluarkan air,'' kata Yasa.
Warga yang membeli air di Desa Tembok itu sejatinya
bukan warga yang kaya. Jika dilihat dari pemenuhan
kebutuhan sehari-hari, rata-rata dari mereka masih
berada di bawah garis kemiskinan. Keluarga Nengah Lanus
sehari-hari hanya makan nasi cacah (singkong diparut)
yang lebih sering tak dilengkapi lauk-pauk. ''Bagaimana
bisa kaya, tanah kering tak bisa ditanami, maburuh juga
tak bisa,'' kata Lanus.
Tak hanya di Buleleng, Karangasem juga sama. Di beberapa
daerah juga alami kekeringan. Masyarakatnya pun ada yang
membeli air yang cukup mahal.
Tengoklah jeritan warga Banjar Kedampal, Bidong dan
sekitarnya di Desa Datah pegunungan. Warga Bidong dan
masyarakat Kedampal di lereng Gunung Agung sudah mulai
turun gunung. Mereka mencari air di sumur Banjar
Kalangsari dan Banjar Juwuk. Mereka berangkat mengambil
air dengan berjalan kaki melintasi perbukitan, lembah
dan sungai kering mencapai empat sampai enam kilometer.
Di sumber air, mereka tak langsung mendapatkan karena
harus antre atau berebutan. Warga Kedampal dan Bidong
sejak persediaan air mereka di dalam cubang ludes, sudah
berebutan mencari air di sumur kecil Kalangsari dan
Juwuk. ''Guna menghindari antrean atau berebut air di
sumur yang airnya terus mengecil, warga berangkat dini
hari mulai pukul 03.00,'' ujar Wati.
Warga Karangasem
Selain warga Datah pegunungan, warga Karangasem seperti
di Pempatan Kecamatan Rendang, Desa Sebudi Kecamatan
Selat, Kubu pegunungan dan Seraya rutin menjerit karena
krisis air bersih saat musim kemarau. Berdasarkan
pantauan Bali Post, keran-keran umum di Seraya tak ada
airnya. Kondisi itu sudah terjadi sejak beberapa bulan
lalu. Masalahnya, dua mesin pompa air dari sumber mata
air Taman Tirta, Ujung kerap rusak.
Warga di tiga desa Seraya yang tak mampu membeli air
dengan mobil tangki, terpaksa berjalan kaki mencari air
ke sumur di tepi pantai. Mereka mesti berjalan kaki
beberapa kilometer memanggul atau menjunjung ember
berisi air bersih.
Bupati Karangasem Wayan Geredeg saat dihubungi
sebelumnya mengakui sebagian besar wilayah Karangasem
merupakan lahan kering. Selain itu, luas hutan diakui
masih kurang dari ideal yang disyaratkan minimal 32%
dari luas total wilayah. Luas hutan yang ada di
Karangasem 16.639 ha (19,82%).
Guna mengatasi kesulitan air bersih, katanya, sedang
dibangun dua buah embung (danau kecil buatan) di Yeh
Kori dan Nangka, Kecamatan Bebandem dengan anggaran APBD
Karangasem. Sementara dua embung lebih besar
masing-masing di Puragai, Rendang dan di Daya, Kubu juga
sedang dikerjakan dengan bantuan propinsi dan pusat.
(ole/bud)
PDAM di Bali Kesulitan Air
Lakukan Penggiliran dan Tunda
Penyambungan
Denpasar (Bali Post) -
Bali menghadapi ancaman krisis air bersih. Sejumlah PDAM
di Bali debit airnya menurun. Atas kondisi itu, di
sejumlah kabupaten PDAM melakukan penggiliran. Bahkan,
ada yang menunda pemasangan sambungan baru. Demikian
data yang didapat dari sejumlah PDAM di Bali.
Untuk mengatasi hal itu, pengelola PDAM kini terus
melakukan pengeboran. Bahkan, kini PDAM menyasar mata
air menambah pasokannya. Walaupun hal itu berdampak
kekeringan pada sawah, karena sumber airnya berkurang.
Perusahaan Daerah Air Minum Gianyar, misalnya, menunda
pemasangan baru pelanggan untuk mengantisipasi
menurunnya debit air. Di samping menunda pemasangan,
PDAM Gianyar juga mempersiapkan pengaturan aliran air ke
beberapa wilayah di Gianyar.
Dirut PDAM Gianyar Dewa Putu Jati, Kamis (24/8)
mengatakan, kekeringan yang melanda beberapa wilayah di
Bali
sangat mengkhawatirkan pihaknya untuk menyediakan air
untuk masyarakat Gianyar. Bersama dengan stafnya, Dewa
Jati
sempat keliling melihat debit air di beberapa sungai
dan sumber air serta di sumur milik PDAM. Saat ini, PDAM
Gianyar mempunyai 53 sumur untuk menyuplai air ke
masyarakat. Dengan ancaman penurunan debit air ini
setidaknya puluhan calon pelanggan terpaksa akan kami
tunda dahulu. Diakui, saat ini kedalaman sumur milik
PDAM di beberapa titik di antaranya 120 meter hingga 160
meter. ''Dengan jumlah kedalaman itu, mudah-mudahan
persediaan air di Gianyar tidak sampai krodit sekali,''
jelasnya.
Sementara itu, pelayanan PDAM Tabanan baru menjangkau
sekitar 59 persen dari total jumlah masyarakat Tabanan.
Bahkan, di beberapa wilayah seperti Kerambitan, Tegal
Mengkeb, Tibubiu, Pejaten, Sanggulan, jatah air bersih
harus digilir. Hal tersebut terjadi karena
terbatasnya sumber air yang dimanfaatkan oleh PDAM dan
terbatasnya sarana prasarana.
Demikian diungkapkan Dirum PDAM I Nengah Sukarma
didampingi Ketua Badan Pengawas Wira Adnyana. Menurut
Sukarma, ketersediaan air secara umum masih baik
mengingat sebagian besar sumber air yang dimanfaatkan
berasal dari daerah hulu dengan jumlah sekitar 15 mata
air. Sumber air terbesar diambil dari Danau
Beratan. Selain itu mata air Gembrong di Penebel,
Sungai Otan di Selemadeg dan Tukad Nyanyi dirasakan
masih memadai untuk mensuplai sekitar 36 ribu pelanggan
di Tabanan.
Untuk melakukan antisipasi kemungkinan menyurutnya debit
air, rencananya PDAM akan meningkatkan produksi di WTP
Nyanyi, yang merupakan air buangan sungai. Ke
depan pihaknya mengaku akan mengupayakan memperluas
pelayanan dengan mengupayakan sumber-sumber air baru.
Beberapa sumber mata air kini sedang dijajaki dan
diupayakan ada kesepakatan dengan masyarakat setempat.
Koordinasi dengan pihak subak juga terus dilakukan.
Untuk mata air Gembrong, telah ada pembagian melalui SK
Bupati di mana 35 persen air dapat dimanfaatkan untuk
PDAM dengan kisaran 80 hingga 125 liter per detik,
sementara sisanya dimanfaatkan oleh subak.
Di Jembrana juga terjadi hal serupa. Selama bulan Juli
sampai September yang termasuk musim kemarau, debit air
permukaan (air sungai) menurun. Hal ini membuat pasokan
air minum pun ikut terganggu. Pelanggan pun mengeluh
karena kucuran air terutama pada waktu puncak sangat
kecil. Hal ini pun diakui oleh Direktur PDAM Jembrana
Nengah Sugianta yang didampingi Kabag Teknik Sugiyo.
''Kebutuhan air minum di Jembrana 182 liter per detik.
Namun, setiap musim kemarau, selalu saja ada kekurangan
pasokan. Salah satu pemicunya adalah keadaan alam karena
air sungai mengering,'' jelas Sugiyo.
Kebutuhan air yang terus meningkat ini juga tidak
seimbang dengan sumber air yang ada. Kondisi kekurangan
pasokan mulai terjadi lima tahun terakhir. Upaya yang
dilakukan untuk mengatasi kekurangan ini adalah dengan
membuat sumur bor dan memanfaatkan air secara bergiliran
pada waktu puncak yakni pukul 6.00-10.00 dan
pukul16.00-19.00.
Sementara itu, Bupati Badung AA Gde Agung melalui Kabag
Humas Putu Eka Merthawan mengatakan, Pemkab Badung
berkomitmen untuk mengkonservasi hutan agar ketersediaan
air mencukupi. Sementara PDAM Denpasar kini telah
merancang program peduli lingkungan. Program ini
diharapkan akan dapat menekan tingkat kerusakan
lingkungan yang berpengaruh terhadap ketersediaan bahan
baku berupa air. Salah satu kegiatan yang dikemas dalam
program peduli lingkungan tersebut adalah penanaman
pohon.
Plt. Direktur PDAM Denpasar Ir. IGN Eddy Mulya, M.Si.
mengatakan, program ini tidak hanya dilakukan PDAM.
Pihaknya tetap akan melibatkan instansi terkait seperti
Dinas Lingkungan Hidup. ''Rencana ini sudah kami rancang
guna meminimalkan kerusakan lingkungan yang merupakan
sumber kelangsungan operasi PDAM. Sebab, bila lingkungan
rusak, ketersediaan air juga akan berpengaruh. Karena
itu, kepedulian terhadap lingkungan menjadi suatu
keharusan untuk menjaga dan melestarikan sumber-sumber
air permukaan dan air bawah tanah,'' jelas Eddy Mulya,
yang juga Kabag Ekonomi di Pemkot Denpasar ini.
PDAM Denpasar sampai saat ini masih menggunakan sumber
air permukaan dan sumur dalam. Sumber sumur dalam yang
mencapai 14 unit menghasilkan air 863.876 meter kubik
atau 337,26 liter per detik. Sedangkan tiga sumber air
permukaan -- IPA Ayung III, IPA Paket Ayung III di
Blusung, dan IPA Waribang I -- masing-masing mampu
memproduksi 492,52 liter per detik, 56,68 liter per
detik, dan 192,34 liter per detik.
Selain sumber air tersebut, PDAM Denpasar juga membeli
air dari PDAM Gianyar, PDAM Badung, dan PT Tirta
Buanamulia. Dari tiga sumber itu, PDAM Denpasar mendapat
186.051 meter kubik atau 71,76 liter per detik. ''Jadi
total produksi hingga bulan Juni 2006 ini sebesar
2.849.755 meter kubik atau 1.150,56 liter per detik,''
jelas Kabag Teknik PDAM Denpasar Putu Gede Mahaputra.
Melihat kapasitas produksi sebesar itu, PDAM sampai saat
ini belum mampu memenuhi seluruh calon pelanggan yang
masih banyak antre pemasangan sambungan baru. Kasi
Pelayanan PDAM Denpasar Dewa Made Suganda mengatakan,
sampai bulan Juni 2006 ini sedikitnya terdapat 5.306
sambungan yang masih menjadi daftar tunggu. Sedangkan
yang sudah terlayani saluran PDAM mencapai 68,81 persen
dari seluruh wilayah di Denpasar. (kmb12)