kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Paing, 28 Agustus 2006

 Bali


DARI WARUNG GLOBAL INTERAKTIF BALI POST----------------

Izin
Belum Keluar, Masih Ada Celah untuk Menolak 

Di era globalisasi dan canggihnya teknologi saat ini, listrik merupakan salah satu kebutuhan vital bagi masyarakat. Tingginya kebutuhan akan listrik memaksa pemerintah untuk mencari sumber-sumber tenaga lsitrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satunya adalah proyek geothermal. Proyek ini adalah sebuah dilema bagi masyarakat. Di satu sisi proyek ini dikhawatirkan berdampak pada lingkungan. Di sisi lain, Bali sangat membutuhkan listrik dalam jangka panjang. Penolakan masyarakat Bali terhadap keberadaan proyek geothermal memang tidak pernah surut, kekhawatiran akan bencana dan berbagai macam alasan dikemukakan dan ini diharapakan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah untuk tidak memberikan ijin proyek ini. Demikian terungkap dalam acara warung Global yang disiarkan langsung Radio Global 96,5 FM dipancarluaskan Radio Genta Swara Sakti Bali dan Radio Singaraja FM. Berikut rangkumannya.

======================================================= 

Nyoman Silanawa Denpasar menjelaskan sebetulnya tahun 1997/1998 kawasan ini telah dibor dan pada saat itu mungkin sudah ada yang protes. Tetapi karena jamannya berbeda sehingga protes tersebut gaungnya tidak kedengaran dan kalau memang masyarakat Bali menolak, dalam arti gubernur tidak merekomendasi tentu proyek ini tidak akan jalan.

 

Sementara Wayan Belog di Denpasar, Putu Suwenan di Pedungan dan Agung Purnawijaya di Gianyar menyatakan bahwa pernyataan Bapak Gubernur Bali sepertinya hanyalah sebuah sandiwara saja. Jika memang ditolak, kata mereka semestinya gubernur bersikap tegas.

 

Apakah kata-kata penolakan itu hanya pemanis penghibur rakyat? Sebagai masyarakat Bali tentu semua ingin maju tetapi jika memikirkan generasi yang akan datang dan dampak yang ditimbulkan mungkin lebih baik tidak ada listrik dan masyarakat Bali akan lebih sreg menggunakan lampu teplok seperti dulu.

 

Atau mungkin, kata mereka bisa dicarikan alternatif lain seperti pengguunaan batu bara, sehingga kebutuhan masyarakat akan lsitrik dapat terpenuhi, tanpa harus mengorbankan alam dan khawatir terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek itu.

 

Pendapat berbeda datang dari Yogi di Negara. Sebelum proyek tersebut jalan tentu sudah ada kajian-kajian yang mendalam apakah proyek itu akan berdampak negatif atau sebaliknya. Jika kemudian proyek tersebut berdampak kemudian akan dihentikan di tengah jalan tentu sangat merugikan pemerintah pusat di samping juga kebutuhan akan listrik di Bali sangat besar dan akan semakin meningkat. Oleh karena itu sebaiknya proyek ini jalan terus.

 

Sementara Jujur di Sanglah menegaskan jika izin belum ke luar, berarti masih ada celah untuk menolak untuk memberikan sedikit perhatian kepada pemerintah pusat dengan pertimbangann- pertimbangan bahwa masyarakat Bali menolak keberadaan geothermal. Jika memang tidak ada ewuh-pakewuh mestinya tidak sungkan-sungkan penolakan itu tetap dilakukan.

 

Jika pengeboran akan dilakukan lagi, tentu perabasan hutan juga akan dilakukan lagi. Mestinya dari Pemprop Bali tidak mengeluarkan izin. Jika dari pusat mengeluarjkan izin tanpa persetujuan dari daerah maka proyek ini tidak akan bisa jalan.

 

Made Yadnya di Karangasem menyatakan di era global dan canggihnya teknologi, listrik merupakan kebutuhan vital bagi masyarakat. Tetapi jika proyek tersebut harus mengorbankan alam lebih baik masyarakat kembali ke kehidupan yang dulu saja. Mungkin bisa menggunakan tenaga matahari. Atau cari alternatif lainnya yang lebih aman.

 

Natri Udiyani di Denpasar menambahkan, jika diperlukan batu bara untuk pemenuhan daya listrik, mungkin untuk Bali kurang cocok. Karena batubara membutuhkan tempat yang cukup luas sehingga mau tidak mau akan dilakukan perabasan hutan untuk tempat batu bara ini. Alternatif yang lebih mudah mungkin bisa dilakukan adalah menggunakan buah jarak dan lain-lain.

(wati)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)