DARI WARUNG GLOBAL INTERAKTIF BALI POST----------------
Izin
Belum
Keluar, Masih
Ada
Celah untuk
Menolak
Di
era globalisasi
dan
canggihnya teknologi
saat
ini, listrik
merupakan
salah
satu kebutuhan vital
bagi
masyarakat.
Tingginya
kebutuhan
akan
listrik
memaksa pemerintah
untuk
mencari sumber-sumber
tenaga
lsitrik untuk
memenuhi
kebutuhan
masyarakat.
Salah
satunya
adalah proyek
geothermal.
Proyek
ini
adalah sebuah
dilema
bagi masyarakat.
Di
satu
sisi proyek
ini
dikhawatirkan berdampak
pada
lingkungan. Di
sisi
lain, Bali sangat
membutuhkan
listrik
dalam jangka
panjang.
Penolakan
masyarakat Bali
terhadap
keberadaan
proyek geothermal
memang
tidak pernah
surut,
kekhawatiran
akan
bencana
dan berbagai
macam
alasan dikemukakan
dan ini
diharapakan
menjadi
bahan pertimbangan
bagi
pemerintah untuk
tidak
memberikan ijin
proyek
ini. Demikian
terungkap
dalam
acara warung Global
yang disiarkan
langsung Radio Global 96,5
FM dipancarluaskan Radio
Genta
Swara Sakti Bali
dan Radio
Singaraja FM.
Berikut
rangkumannya.
=======================================================
Nyoman
Silanawa
Denpasar
menjelaskan
sebetulnya
tahun 1997/1998
kawasan
ini telah
dibor
dan pada
saat
itu mungkin
sudah
ada yang protes.
Tetapi
karena jamannya
berbeda
sehingga protes
tersebut
gaungnya
tidak
kedengaran dan
kalau
memang masyarakat
Bali menolak,
dalam
arti gubernur
tidak
merekomendasi tentu
proyek
ini tidak
akan
jalan.
Sementara
Wayan
Belog di
Denpasar,
Putu
Suwenan di
Pedungan
dan
Agung Purnawijaya
di
Gianyar menyatakan
bahwa
pernyataan Bapak
Gubernur Bali
sepertinya
hanyalah
sebuah
sandiwara saja.
Jika
memang
ditolak, kata
mereka
semestinya gubernur
bersikap
tegas.
Apakah
kata-kata
penolakan
itu
hanya pemanis
penghibur
rakyat?
Sebagai
masyarakat Bali tentu
semua
ingin maju
tetapi
jika memikirkan
generasi yang
akan
datang
dan dampak yang
ditimbulkan
mungkin
lebih baik
tidak
ada listrik
dan
masyarakat Bali akan
lebih
sreg menggunakan
lampu
teplok seperti
dulu.
Atau
mungkin,
kata
mereka bisa
dicarikan
alternatif lain
seperti
pengguunaan batu
bara,
sehingga
kebutuhan
masyarakat
akan
lsitrik dapat
terpenuhi,
tanpa
harus mengorbankan
alam
dan khawatir
terhadap
dampak
lingkungan yang ditimbulkan
oleh
proyek itu.
Pendapat
berbeda
datang dari Yogi
di Negara.
Sebelum
proyek tersebut
jalan
tentu sudah
ada
kajian-kajian yang mendalam
apakah
proyek itu
akan
berdampak
negatif
atau sebaliknya.
Jika
kemudian proyek
tersebut
berdampak
kemudian
akan
dihentikan
di
tengah jalan
tentu
sangat merugikan
pemerintah
pusat
di samping
juga
kebutuhan akan
listrik
di Bali sangat
besar
dan akan
semakin
meningkat.
Oleh
karena
itu sebaiknya
proyek
ini jalan
terus.
Sementara
Jujur
di Sanglah
menegaskan
jika
izin belum
ke luar,
berarti
masih ada
celah
untuk menolak
untuk
memberikan sedikit
perhatian
kepada
pemerintah pusat
dengan
pertimbangann- pertimbangan
bahwa
masyarakat Bali menolak
keberadaan geothermal.
Jika
memang
tidak ada
ewuh-pakewuh
mestinya
tidak
sungkan-sungkan penolakan
itu
tetap dilakukan.
Jika
pengeboran
akan
dilakukan
lagi,
tentu perabasan
hutan
juga akan
dilakukan
lagi.
Mestinya
dari
Pemprop Bali tidak
mengeluarkan
izin.
Jika
dari pusat
mengeluarjkan
izin
tanpa persetujuan
dari
daerah maka
proyek
ini tidak
akan
bisa
jalan.
Made Yadnya
di
Karangasem menyatakan
di era global
dan
canggihnya teknologi,
listrik
merupakan kebutuhan
vital bagi
masyarakat.
Tetapi
jika
proyek tersebut
harus
mengorbankan alam
lebih
baik masyarakat
kembali
ke kehidupan yang
dulu
saja.
Mungkin
bisa
menggunakan tenaga
matahari.
Atau
cari
alternatif lainnya
yang lebih
aman.
Natri
Udiyani
di Denpasar
menambahkan,
jika
diperlukan batu
bara
untuk
pemenuhan daya
listrik,
mungkin
untuk
Bali
kurang
cocok. Karena
batubara
membutuhkan
tempat yang
cukup
luas sehingga
mau
tidak mau
akan
dilakukan
perabasan
hutan
untuk tempat
batu
bara ini.
Alternatif
yang lebih
mudah
mungkin bisa
dilakukan
adalah
menggunakan buah
jarak
dan lain-lain.
(wati)