Memfungsikan
Sumber Daya Alam
Trini chandamsi kavayo viyatire.
Puru upam darsatam visvacaksanam
Apo vata osadhayastani
Ekasmin bhuvana arpitani.
(Atharvaveda XVIII.I.17)
Maksudnya :
Orang bijaksana menganggap tiga benda yang utama
menutupi alam semesta terutama bumi ini. Bentuknya
berbeda-beda tetapi saling melengkapi. Tiga hal itu
adalah air, udara dan tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan
obat-obatan. Tiga benda ini tersedia di setiap dunia.
DALAM
Chanakya Nitisastra ada istilah Triji Ratna Permata yang
artinya ada tiga ratna permata bumi yaitu air,
tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak. Orang bodoh akan
menganggap emas perak atau batu-batuan di bumi itu
sebagai ratna permata. Dalam kutipan Atharvaveda di atas
ada Trini Chanda yang bermakna ada tiga yang indah
bersinar di bumi ini yaitu air, udara dan
tumbuh-tumbuhan bahan makanan serta obat-obatan sebagai
tiga yang membuat bumi ini indah dan bersinar sejuk.
Memang kalau air, udara dan tumbuh-tumbuhan itu rusak
keberadaannya di bumi ini semua makhluk hidup terutama
umat manusia akan hidup penuh derita, hati manusia pun
tidak cerah bersinar dalam menghadapi hidup. Dalam
ajaran Hindu banyak cara untuk menanamkan agar manusia
yakin dan paham bahwa tiga sumber alam itu sangatlah
penting untuk dihormati, dipelihara dan dilindungi dari
pencemaran. Karena hidup ini akan tidak indah kalau tiga
sumber alam itu tidak berfungsi dengan baik karena ulah
manusia.
Salah satu cara orang-orang suci yang memiliki kemampuan
spiritual akan memperoleh imajinasi karena mampu
berkomunikasi dengan alam niskala dengan sangat
meyakinkan. Orang-orang suci zaman dahulu di Bali dengan
kemampuan imajinasi yang menembus aspek sekala dan
niskala menyusun suatu cerita-cerita yang bernuansa
mistik religius.
Misalnya dalam Lontar Prekempa Pura Hulun Danu Batur ada
diceritakan tentang berdirinya Pura Luhur Pasatan di
Banjar Dangin Pangkung Jangu Desa Pohsanten Kecamatan
Mendoyo, Jembrana. Cuplikan singkat cerita dalam lontar
tersebut dimuat dalam diktat tentang berdirinya Pura
Luhur Pasatan yang disusun oleh Panitia Pembangunan Pura
Dang Kahyangan Luhur Pasatan.
Dalam diktat tersebut terdapat cukilan singkat Lontar
Prekempa Pura Hulun Danu Batur tentang kisah Pura
Pasatan tersebut. Diceritakan tatkala kehidupan sosial
ekonomi dan budaya rakyat Bali belum stabil Batari Hyang
Dewi Dhanuh yang berstana di Pura Hulun Danu Batur itu
berkeliling di seluruh Bali. Saat beliau berada di
bagian barat Pulau Bali di suatu perbukitan dalam
keadaan sangat kering. Keadaan kering tiadanya air itu
dalam bahasa Bali disebut kasatan. Hal itu menyebabkan
Batari Hyang Dewi Dhanuh sangat kasihan pada rakyat
Bali. Karena tanpa air hidup ini akan menjadi tak
bersinar. Batari Hyang Dewi Dhanuh pun melakukan tapa
brata dengan bergelar Hyang Bahu Daha atau Hyang Bahu
Dhari. Kata bahu dalam bahasa Sansekerta artinya banyak
dan daha artinya terbakar. Maksudnya Hyang Dewi Dhanuh
itu melakukan olah tapa brata untuk mengeksistensikan
kesucian (Hyang) beliau untuk mengatasi kekeringan areal
yang keadaannya bagaikan terbakar.
Dari kekuatan tapa brata Dewi Dhanuh itu muncul
gempa yang dahsyat. Saat itulah Dewi Dhanuh sebagai
Hyang Bahu Daha memohon kepada Yang Mahakuasa agar
berkenan menciptakan sumber air. Atas olah tapa brata
Hyang Bahu Daha itulah Hyang Mahakuasa menciptakan
sumber air. Air yang mengalir ke sebelan utara
perbukitan yang mulanya kering itu menjadi sumber air
panas. Sedangkan yang ke selatan menjadi sumber air
dingin. Sumber air yang ke selatan inilah menjadi sumber
air untuk mengairi sawah dan ladang.
Dalam kisah Tirthayatra Danghyang Dwijendra salah satu
episodenya mengisahkan Danghyang Dwijendra sedang
berusaha mencari istri dan putra-putrinya di Bali Barat
beliau ketemu sebuah perbukitan yang bernama Penguwungan.
Di bukit inilah beliau beristirahat. Saat istirahat itu
beliau berusaha melakukan konsentrasi rohani untuk
segera dapat menemukan istri dan putra-putrinya.
Tiba-tiba muncul orang tua berpakaian serba putih. Atas
pertanyaan Danhyang Dwijendra beliau menyatakan pada
zaman dahulu beliau itu adalah penguasa di daerah
tersebut dengan gelar ''Ki Dukuh Sakti Pacekan''.
Danghyang Dwijendra mendapat petunjuk dari Ki Dukuh
Sakti Pacekan agar Danghyang Dwijendra mencari putra dan
putrinya di utara bukit Penguwungan. Setelah memberi
petunjuk Ki Dukuh Sakti Pacekan gaib.
Petunjuk itu pun diikuti oleh Danghyang Dwijendra dan
memang ketemu sebuah perbukitan kering. Di perbukitan
yang kasatan atau kering itu ada dua pohon tumbuh
tertancap yaitu pohon plawa dan pohon andong yang dahulu
ditancapkan oleh Ki Dukuh Sakti Pacekan. Di tempat
itulah putra dan putrinya diketemukan. Di perbukitan itu
putri Danghyang Dwijendra menangis sampai air mata
beliau membasahi batu tersebut. Atas kesidian Danghyang
Dwijendra air mata putrinya itu menjadi Merthan Jagat.
Di areal batu itu Danghyang Dwijendra menanam ''Batu
Mustika'' yang memancarkan lima warna kelima arah
penjuru angin. Di tempat inilah kemudian dibangun Pura
Luhur Pasatan. Mungkin karena ada sumber air perbukitan
yang mulanya kering itu menjadi subur maka memancarlah
areal yang rindang karena pepohonan, dari daerah yang
subur itulah memancarkan sumber kehidupan yang
manjanjikan.
Upacara Pujawali di Pura Luhur Pasatan pada Anggar Kasih
Julung Wangi. Di Pura Luhur Pasatan terdapat pelinggih
Padma Sari, Meru Tumpang Telu sebagai palinggih utama
untuk memuja Ida Batara saat meraga Purusa atau
Adyatmika Suksma. Di samping pelinggih Meru Tumpang Tiga
di areal jeroan pura terdapat pelinggih Sri Sadana, Ulun
Danu, Taksu dan pelinggih pelengkap lainnya. Tiga
pelinggih inilah sebagai perwujudan Ida Batara secara
Wahya atau nyata dalam menuntun umatnya yang bakti
mendapatkan kehidupan yang sejahtera lahir batin. Karena
itu sistem pemujaan Hindu selalu dengan konsep Wahya dan
Adyatmika. * I Ketut Gobyah