kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Paing, 23 Agustus 2006

 Bias Bali

 

Memfungsikan Sumber Daya Alam 

Trini chandamsi kavayo viyatire.
Puru upam darsatam visvacaksanam
Apo vata osadhayastani
Ekasmin bhuvana arpitani.
(Atharvaveda XVIII.I.17)

Maksudnya :
Orang bijaksana menganggap tiga benda yang utama menutupi alam semesta terutama bumi ini. Bentuknya berbeda-beda tetapi saling melengkapi. Tiga hal itu adalah air, udara dan tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan. Tiga benda ini tersedia di setiap dunia. 

DALAM Chanakya Nitisastra ada istilah Triji Ratna Permata yang artinya ada tiga ratna permata bumi yaitu air, tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak. Orang bodoh akan menganggap emas perak atau batu-batuan di bumi itu sebagai ratna permata. Dalam kutipan Atharvaveda di atas ada Trini Chanda yang bermakna ada tiga yang indah bersinar di bumi ini yaitu air, udara dan tumbuh-tumbuhan bahan makanan serta obat-obatan sebagai tiga yang membuat bumi ini indah dan bersinar sejuk.

 

Memang kalau air, udara dan tumbuh-tumbuhan itu rusak keberadaannya di bumi ini semua makhluk hidup terutama umat manusia akan hidup penuh derita, hati manusia pun tidak cerah bersinar dalam menghadapi hidup. Dalam ajaran Hindu banyak cara untuk menanamkan agar manusia yakin dan paham bahwa tiga sumber alam itu sangatlah penting untuk dihormati, dipelihara dan dilindungi dari pencemaran. Karena hidup ini akan tidak indah kalau tiga sumber alam itu tidak berfungsi dengan baik karena ulah manusia.

 

Salah satu cara orang-orang suci yang memiliki kemampuan spiritual akan memperoleh imajinasi karena mampu berkomunikasi dengan alam niskala dengan sangat meyakinkan. Orang-orang suci zaman dahulu di Bali dengan kemampuan imajinasi yang menembus aspek sekala dan niskala menyusun suatu cerita-cerita yang bernuansa mistik religius.

 

Misalnya dalam Lontar Prekempa Pura Hulun Danu Batur ada diceritakan tentang berdirinya Pura Luhur Pasatan di Banjar Dangin Pangkung Jangu Desa Pohsanten Kecamatan Mendoyo, Jembrana. Cuplikan singkat cerita dalam lontar tersebut dimuat dalam diktat tentang berdirinya Pura Luhur Pasatan yang disusun oleh Panitia Pembangunan Pura Dang Kahyangan Luhur Pasatan.

 

Dalam diktat tersebut terdapat cukilan singkat Lontar Prekempa Pura Hulun Danu Batur tentang kisah Pura Pasatan tersebut. Diceritakan tatkala kehidupan sosial ekonomi dan budaya rakyat Bali belum stabil Batari Hyang Dewi Dhanuh yang berstana di Pura Hulun Danu Batur itu berkeliling di seluruh Bali. Saat beliau berada di bagian barat Pulau Bali di suatu perbukitan dalam keadaan sangat kering. Keadaan kering tiadanya air itu dalam bahasa Bali disebut kasatan. Hal itu menyebabkan Batari Hyang Dewi Dhanuh sangat kasihan pada rakyat Bali. Karena tanpa air hidup ini akan menjadi tak bersinar. Batari Hyang Dewi Dhanuh pun melakukan tapa brata dengan bergelar Hyang Bahu Daha atau Hyang Bahu Dhari. Kata bahu dalam bahasa Sansekerta artinya banyak dan daha artinya terbakar. Maksudnya Hyang Dewi Dhanuh itu melakukan olah tapa brata untuk mengeksistensikan kesucian (Hyang) beliau untuk mengatasi kekeringan areal yang keadaannya bagaikan terbakar.

 

Dari kekuatan tapa brata  Dewi Dhanuh itu muncul gempa yang dahsyat. Saat itulah Dewi Dhanuh sebagai Hyang Bahu Daha memohon kepada Yang Mahakuasa agar berkenan menciptakan sumber air. Atas olah tapa brata Hyang Bahu Daha itulah Hyang Mahakuasa menciptakan sumber air. Air yang mengalir ke sebelan utara perbukitan yang mulanya kering itu menjadi sumber air panas. Sedangkan yang ke selatan menjadi sumber air dingin. Sumber air yang ke selatan inilah menjadi sumber air untuk mengairi sawah dan ladang.

 

Dalam kisah Tirthayatra Danghyang Dwijendra salah satu episodenya mengisahkan Danghyang Dwijendra sedang berusaha mencari istri dan putra-putrinya di Bali Barat beliau ketemu sebuah perbukitan yang bernama Penguwungan. Di bukit inilah beliau beristirahat. Saat istirahat itu beliau berusaha melakukan konsentrasi rohani untuk segera dapat menemukan istri dan putra-putrinya.

 

Tiba-tiba muncul orang tua berpakaian serba putih. Atas pertanyaan Danhyang Dwijendra beliau menyatakan pada zaman dahulu beliau itu adalah penguasa di daerah tersebut dengan gelar ''Ki Dukuh Sakti Pacekan''. Danghyang Dwijendra mendapat petunjuk dari Ki Dukuh Sakti Pacekan agar Danghyang Dwijendra mencari putra dan putrinya di utara bukit Penguwungan. Setelah memberi petunjuk Ki Dukuh Sakti Pacekan gaib.

 

Petunjuk itu pun diikuti oleh Danghyang Dwijendra dan memang ketemu sebuah perbukitan kering. Di perbukitan yang kasatan atau kering itu ada dua pohon tumbuh tertancap yaitu pohon plawa dan pohon andong yang dahulu ditancapkan oleh Ki Dukuh Sakti Pacekan. Di tempat itulah putra dan putrinya diketemukan. Di perbukitan itu putri Danghyang Dwijendra menangis sampai air mata beliau membasahi batu tersebut. Atas kesidian Danghyang Dwijendra air mata putrinya itu menjadi Merthan Jagat.

 

Di areal batu itu Danghyang Dwijendra menanam ''Batu Mustika'' yang memancarkan lima warna kelima arah penjuru angin. Di tempat inilah kemudian dibangun Pura Luhur Pasatan. Mungkin karena ada sumber air perbukitan yang mulanya kering itu menjadi subur maka memancarlah areal yang rindang karena pepohonan, dari daerah yang subur itulah memancarkan sumber kehidupan yang manjanjikan.

 

Upacara Pujawali di Pura Luhur Pasatan pada Anggar Kasih Julung Wangi. Di Pura Luhur Pasatan terdapat pelinggih Padma Sari, Meru Tumpang Telu sebagai palinggih utama untuk memuja Ida Batara saat meraga Purusa atau Adyatmika Suksma. Di samping pelinggih Meru Tumpang Tiga di areal jeroan pura terdapat pelinggih Sri Sadana, Ulun Danu, Taksu dan pelinggih pelengkap lainnya. Tiga pelinggih inilah sebagai perwujudan Ida Batara secara Wahya atau nyata dalam menuntun umatnya yang bakti mendapatkan kehidupan yang sejahtera lahir batin. Karena itu sistem pemujaan Hindu selalu dengan konsep Wahya dan Adyatmika. * I Ketut Gobyah

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)