Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan
Tempat Mohon ''Mertha''
Keberadaan Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan pada awalnya
merupakan Pura Hulun Swi atau Pura Bedugul panyungsungan
krama subak. Tetapi, kini pura yang berada di perbukitan
Dusun Dangin Pangkung Jangu, Poh Santen, Mendoyo ini
menjadi pura penyungsungan umat Hindu yang ada di
Jembrana dan Bali. Bagaimana asal-usul pura tersebut?
===========================================================
Menurut I Wayan Sentra, salah seorang penglingsir Desa
Poh Santen, ditemukannya Pura Dangkhayangan Luhur
Pasatan berawal dari keadaan Subak Pecelengan Pedukuhan
dan Babakan Poh Santen. Ketika itu, subak lanus tidak
pernah menghasilkan (mertha). Selain itu sawah juga
diganggu babi berkepala kuning.
Klian Subak I Gusti Made Rebah bersama krama lalu mohon
petunjuk di Pura Hulun Swi Pura Bedugul Pecelengan
Pedukuhan. Di sana mereka mendapat pawisik, kalau ingin
mendapat mertha, pergilah ke utara ke hutan Pasatan. Di
sana ada batu besar yang diapit pohon plawa dan andong.
Di tempat itulah krama diminta melakukan pemujaan dan
permohonan sesuai dengan keinginan.
Krama subak pun berjalan ke tengah hutan dan menemukan
tempat yang dimaksud dalam pawisik. Tempat tersebut
pertama kali ditemukan Kumpi Sabda. Setelah beristirahat
sejenak, mereka pun bersembahyang. Saat bersembahyang,
muncul sinar dari batu besar yang membuat kaget krama
subak. Usai sembahyang, mereka nunas tirta dan pulang
kembali ke rumah.
Sejak saat itu, wilayah Pesubakan Pecelengan Pedukuhan
dan Babakan Poh Santen mulai menampakkan hasil.
Sebagai wujud syukur dan rasa bakti, krama subak pun
rutin melakukan persembahyangan di tempat tersebut.
Pembangunan pertama dilakukan di batu besar yang
memancarkan sinar. Sebagai pemangku pertama ditunjuklah
Kumpi Sabda pada tahun 1755. Untuk seterusnya, keturunan
Kumpi Sabda-lah yang menjadi pemangku yakni Pan Toyo,
Pan Sider dan kini I Wayan Geder.
Sentra menambahkan, sekitar tahun 1939, hutan Pasatan
masih merupakan hutan rimba. Belum ada jalan menuju pura.
Seiring perkembangan zaman, hutan pun mulai dibuka. ''Pada
tahun 1953 hutan mulai dibuka. Kepada yang membuka hutan,
kami minta wilayah pura seluas timur barat 20 depa dan
utara selatan 50 depa jangan diganggu. Setelah itu, pada
tahun 1971 dilakukan rehab pura secara swadaya,'' tandas
penglingsir yang menjadi klian subak ketiga di Subak
Pedukuhan Pecelengan ini.
Selanjutnya pura ini dijadikan Pura Pesimpangan Hulun
Danu untuk memuliakan dan memuja Ida Sang Hyang Widhi
Wasa dalam perwujudan Dewi Sri yang memberi
kesejahteraan bagi masyarakat. Berikutnya, pura ini
disebut Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan ini.
Pujawali di Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan jatuh pada
Anggara Kliwon (Anggarkasih) Julungwangi. Setiap tahun
sekali, krama subak mengaturkan sarin tahun dan setiap
tiga tahun sekali menyelenggarakan ngusabha.
Sebagai pendukung untuk melaksanakan pujawali, Raja
Jembrana ke-7 Anak Agung Bagus Negara memberikan satu
petak tegal seluas 1985 ha sebagai pelaba pura.
Berikutnya, bukan hanya krama subak yang sembahyang di
Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan, warga dari Mendoyo
Dangin Tukad, Pergung dan Yeh Kuning pun datang
mengaturkan bakti. Saat ini Pura Dangkhayangan Luhur
Pasatan memiliki beberapa pelinggih di antaranya
pelinggih Dewa Ayu Mesari Merthan Jagat, Tedung
Jagat, Hulun Danu Idewa, Taksu, Padma, Meru dan Pepelik
Ratu Nyoman.
Bendesa Pakraman Poh Santen I Gusti Agung Komang
Suryadiasa menambahkan, pengempon Pura Dangkhayangan
Luhur Pasatan adalah Subak Ketengking, Semanggon serta
Pedukuhan/Pecelengan, sedangkan pekandelnya krama Desa
Pakraman Poh Santen.
Pengempon dan pekandel saat ini tengah merencanakan
pembangunan Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan. Wakil
Bendesa Pakraman Poh Santen I Made Sarka ditunjuk
sebagai ketua umum panitia pembangunan. Dia didampingi
beberapa pengurus dan anggota
Sejarah Pasatan
Terkait sejarah Pasatan, ada pawisik yang diterima I
Wayan Kendra, sadeg atau pembantu pemangku. Dia
mendapatkan pawisik itu tidak berurutan namun setelah
dirangkai menjadi suatu yang berkaitan.
Rangkaian tersebut berawal dari Batari Hyang Dewi Dhanuh
berkeliling Bali. Dalam perjalanan di Bali bagian Barat
ditemukan perbukitan yang kering (kasat) karena tak ada
air. Beliau pun berlaku sebagai pertapa bergelar Hyang
Bahu Daha atau Hyang Bahu Dari. Dari yoganya itu, muncul
air dari gunung. Air yang mengalir ke utara menjadi
sumber air panas, sedangkan yang ke selatan berupa air
dingin yang mengairi sawah.
''Beliau juga mayoga mohon putra. Dari yoganya itu
muncul dua putra dari bahu. Salah satunya bernama Hyang
Dukuh Sakti Pacekan. Anaknya ini kemudian berjalan ke
bukit. Di sebuah batu besar. Hyang Dukuh Sakti Pacekan
menancapkan batang plawa dan andong yang diberikan oleh
ibunya. Saat itu juga ada sabda, kapan batu yang diapit
plawa dan andong ini ditemukan, maka lokasinya akan
menjadi khayangan jagat,'' tutur sadeg yang biasa disapa
Mangku Partini ini.
Kisah mengenai babi berkepala kuning ternyata diyakini
oleh krama subak. Babi tersebut merupakan ancangan Hyang
Dukuh Sakti Pacekan. Karena itulah, menurut Mangku
Partini, saat pujawali di Pura Dangkhayangan Luhur
Pasatan, tidak diperkenankan mengaturkan daging babi.
Babi itu ancangan Hyang Dukuh Sakti Pacekan.
Dia
juga menceritakan pawisik mengenai keberadaan Danghyang
Nirarta dalam kaitan dengan Pura Dangkhayangan Luhur
Pasatan. Suatu ketika, Danghyang Nirarta kehilangan
putrinya. Dalam pencarian tersebut, Danghyang Nirarta
bertemu dengan orang tua berpakaian putih yang
memberinya petunjuk untuk berjalan di utara bukit. Orang
tua itu adalah penguasa yang bergelar Hyang Dukuh Sakti
Pacekan.
Singkat cerita, Danghyang Nirarta pun menemukan putrinya
Ida Ayu Swabhawa duduk sambil menangis di batu besar
yang diapit pohon plawa dan andong. Kepada ayahnya, Ida
Ayu Swabhawa mohon ampun dan mohon diberi kasujatmika (ilmu
rahasia kepanditaan) untuk menebus doa. Keinginan ini
pun dipenuhi Danghyang Nirarta. Sesudah diberikan ilmu
itu, Ida Ayu Swabhawa menggaib. Di tempat itu pula
Danghyang Nirarta menanam batu mustika yang memancarkan
lima warna sesuai arah mata angin.
Danghyang Nirarta juga bersabda, ''Karena ananda tidak
mau kembali, terus menangis di atas batu sampai batu
tersebut basah, air mata ananda sebagai Merthan Jagat,
Tedung Jagat, Hulun Danu Idewa dan kapan batu yang
diapit oleh pohon plawa dan andong itu diketemukan,
tempat ini supaya dijadikan panyungsungan jagat.''
Mangku Partini menambahkan, plawa yang berasal dari kata
''pal'' berarti kawitan, sedangkan andong berasal dari
kata ''anda'' dan ''ong'' yang merupakan sastra suci.
Sementara
itu, lontar Puri Agung Negara juga mencantumkan
keberadaan Pura Dangkhayangan Luhur Pasatan. Pada saat
Anak Agung Ngurah Jembrana memerintah, beliau memiliki
dua putra yakni Anak Agung Gde Agung dan Anak Agung Made
Ngurah.
Setelah dua tahun pernikahan, Anak Agung Made Ngurah
tidak juga dikaruniai putra. Anak Agung Ngurah Jembrana
lalu menyelenggarakan pemujaan di Pura Taman Sari, Batu
Agung, Negara. Dalam pawisik yang diterima, Anak Agung
Made Ngurah diminta pergi ke hutan Pasatan dan mencari
sebuah pelinggih yang sudah rusak. Bila menemukan
pelinggih tersebut, bersemedilah mohon kepada Sang Hyang
Widhi agar dianugerahi putra.
Pawisik ini kemudian disampaikan kepada Anak Agung Made
Ngurah yang selanjutnya berangkat bersama rakyatnya pada
tahun 1745. Setelah menempuh perjalanan sambil berburu,
mereka masuk hutan yang penuh pacet. Meski demikian,
perjalanan tetap dilakukan sampai Anak Agung Made Ngurah
menemukan pelinggih yang dimaksud. Dia pun bersemedi dan
memperoleh firasat, keinginannya mendapatkan putra akan
terwujud. Putra yang lahir itu diberi nama Anak Agung
Putu Pasatan. (wah)