Bali tak
Aman
Lagi
Ungkapan
''Bali Aman'' yang
dulu
sempat menjadi
ikon-nya Bali
untuk
menarik wisatawan
berkunjung
ke Bali
tampaknya kini
hanya
penghias bibir.
Apa
yang diucapkan
orang
tentang ''Bali Aman''
sudah
sangat jauh
melenceng
dari
kenyataan yang sebenarnya.
Ingin
bukti?
Perhatikan
saja
koran yang
sedang
Anda baca (Bali
Post), sepertinya
tiada
hari tanpa
berita-berita
kriminal.
Pada
edisi tanggal 2
Agustus 2006,
misalnya,
di
halaman 5 termuat
sebanyak
sembilan
berita
kriminal yang terjadi
di
lima
kabupaten/kota.
Mulai
dari ''Tajen
di
Dasar Jurang
Digrebek
Polisi (Kintamani)'',
''Rumah Guru
dimasuki
Maling (Buleleng).
''Berita-berita
ini
masih ditambah
lagi
dengan beberapa
berita
dugaan korupsi yang
dilakukan
para
mantan anggota
dewan (DPRD)
periode
masa lalu.
Jika
gempa
dan tsunami dianggap
sebagai
cobaan bersifat
niskala (cobaan
Tuhan),
barangkali bentuk-bentuk
perbuatan
kriminal yang
sering
disebut penyakit
masyarakat
cocok
diistilahkan sebagai
cobaan
sekala (cobaan
nyata) yang
dilakoni
oleh
manusia penghuni
bumi.
Terhadap
masalah
ini apa
yang mesti
kita
lakukan? Jajaran
Kepolisian
pasti
akan
memberikan saran
atau
imbauan agar sistem
keamanan
lingkungan (siskamling)
lebih
diaktifkan lagi.
Selanjutnya
pihak
rohaniwan/agamawan bisa
jadi
akan
memberikan
peringatan
dini agar
kita
selalu ingat/eling
pada
ajaran agama bahwa
mencuri,
membunuh,
merampok,
berzinah,
dan
berjudi adalah
perbuatan
dosa.
Lalu,
pandangan
Anda
bagaimana?
Silakan
buat solusi
masing-masing yang
tentu
saja diawali
oleh
sikap introspeksi (melihat
ke
dalam diri
masing-masing)
dan
sikap retrospeksi (melihat
kembali
apa yang
telah
terjadi) serta
bagaimana
kita
bersikap dan
menyikapi ''Bali
sudah
tak aman
lagi.''
Sesuatu terjadi
karena
ada 'sesuatu' yang
menjadi
faktor penyebab,
seperti
kata pepatah ''Tak
mungkin
ada asap
kalau
tidak ada
api.''
Wayan
Romi
Sudhita
Jl.
Srikandi,
Gg. Melon II
Singaraja