Mengenal dan
Berkasih Sayang
Waja'alnaakum
syu 'uubaw wafabaaila lita'aarafuu
SETELAH
enam dasa warsa kita lalui hidup bersama dalam alam
kemerdekaan negeri tercinta ini, justru mulai muncul
konflik-konflik "kecil" berskala lokal hingga
konflik-konflik sosial yang sekalanya lebih besar, suatu
hal yang kerap muncul ke permukaan melalui pemberitaan
berbagai media massa kita.
Dalam menyongsong HUT Kemerdekaan RI mendatang, tentu
layak kita merenung seraya berupaya dengan optimal dalam
mencari solusi terbaik untuk menekan sekecil mungkin
konflik yang bisa terjadi. Sehingga segala potensi yang
ada dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan
kesejahteraan anak negeri.
Dengan kemajuan teknologi yang sedemikian canggih dewasa
ini, ditambah dengan perubahan kehidupan sosial politik
yang ada, bukan tidak mungkin justru membuat kita
semakin "tidak kenal" satu sama lain, yaitu dengan
pengenalan yang sebagaimana mestinya seperti yang telah
dicontohkan oleh generasi terdahulu dari bangsa ini.
Benar, para pendiri Republik ini, memang terdiri dari
berbagai suku dan berbagai agama, juga berbagai aliran
politik. Namun mereka telah sedemikian saling mengenal
satu sama lainnya, termasuk mengenali perbedaan dan
persamaan di antara mereka yang mereka sikapi dengan
sangat dewasa. Mohammad Yamin, misalnya, bisa saja
berdebat dan saling menggebrak meja dengan Soekarno
dalam suatu rapat. Namun seusai rapat, mereka pun
kembali mesra, bahkan ngobrol penuh canda. Begitu
juga nuansa pergaulan para tokoh lainnya kala itu.
Karena itulah, sungguh bisa dimengerti apabila Allah SWT,
dalam konteks menyikapi perbedaan di antara kita,
memerintahkan agar kita mengenal (dengan baik) suku atau
bangsa yang satu dengan yang lainnya sebagaimana dikutip
pada ayat di awal Mimbar ini yang arti selengkapnya
sebagai berikut:
"Hai
sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal," (Q.S. al-Hujurat
[49]: 13).
Tentu saja dalam konteks hubungan antarmanusia (yang
berbeda suku, ras dan agama) itu, Allah SWT juga
membekali kita dengan aturan (berupa perintah dan
larangan) lainnya yang sejatinya merupakan suatu
kebenaran universal yang bisa diterima oleh berbagai
kalangan manusia di muka bumi ini. Misalnya perintah
untuk memelihara hubungan kasih sayang di antara sesama
manusia (Q.S. 4: 1).
Sedangkan yang berupa larangan di antaranya adalah agar
kita jangan melakukan tindakan saling mengolok-olok (mencela)
satu dengan lainnya, juga jangan berprasangka buruk (Q.S.
49: 11-12). Subhanallah, sungguh, aturan yang telah
ditetapkan Allah SWT dan yang dicontohkan Rasul-Nya,
sejatinyalah untuk kebaikan kita sendiri yang tentunya
sangat bermanfaat jika diamalkan dalam konteks hubungan
di antara sesama saudara sebangsa.
Adalah Rasulullah SAW yang dengan gemilang memberikan
contoh kepada kita, betapa beliau telah berhasil
mewujudkan masyarakat yang toleran, saling menghormati
dan saling membantu satu sama lain dalam melakukan
kebaikan. Termasuk bahu membahu dalam berperang
mempertahankan serbuan musuh, kendati mereka
berbeda-beda suku, bangsa dan agamanya.
Masyarakat yang dibangun Rasulullah SAW di Madinah
itulah yang oleh para sejarawan (termasuk yang non
Muslim), menyebutnya sebagai contoh masyarakat sipil
yang ideal. Kita pun menyebutnya sebagai masyarakat
madani yang "kelahirannya" tentu dirindukan banyak orang
itu. Sebuah masyarakat yang saling mengenal (dengan baik)
dan saling berkasih sayang satu dengan lainnya.