kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Kliwon, 11 Agustus 2006

 Mimbar Islam

 

Mengenal dan Berkasih Sayang

Waja'alnaakum syu 'uubaw wafabaaila lita'aarafuu

SETELAH enam dasa warsa kita lalui hidup bersama dalam alam kemerdekaan negeri tercinta ini, justru mulai muncul konflik-konflik "kecil" berskala lokal hingga konflik-konflik sosial yang sekalanya lebih besar, suatu hal yang kerap muncul ke permukaan melalui pemberitaan berbagai media massa kita.

Dalam menyongsong HUT Kemerdekaan RI mendatang, tentu layak kita merenung seraya berupaya dengan optimal dalam mencari solusi terbaik untuk menekan sekecil mungkin konflik yang bisa terjadi. Sehingga segala potensi yang ada dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan anak negeri.

Dengan kemajuan teknologi yang sedemikian canggih dewasa ini, ditambah dengan perubahan kehidupan sosial politik yang ada, bukan tidak mungkin justru membuat kita semakin "tidak kenal" satu sama lain, yaitu dengan pengenalan yang sebagaimana mestinya seperti yang telah dicontohkan oleh generasi terdahulu dari bangsa ini.

Benar, para pendiri Republik ini, memang terdiri dari berbagai suku dan berbagai agama, juga berbagai aliran politik. Namun mereka telah sedemikian saling mengenal satu sama lainnya, termasuk mengenali perbedaan dan persamaan di antara mereka yang mereka sikapi dengan sangat dewasa. Mohammad Yamin, misalnya, bisa saja berdebat dan saling menggebrak meja dengan Soekarno dalam suatu rapat. Namun seusai rapat, mereka pun kembali mesra, bahkan ngobrol penuh  canda. Begitu juga nuansa pergaulan para tokoh lainnya kala itu.

Karena itulah, sungguh bisa dimengerti apabila Allah SWT, dalam konteks menyikapi perbedaan di antara kita, memerintahkan agar kita mengenal (dengan baik) suku atau bangsa yang satu dengan yang lainnya sebagaimana dikutip pada ayat di awal Mimbar ini yang arti selengkapnya sebagai berikut:

"Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal," (Q.S. al-Hujurat [49]: 13).

Tentu saja dalam konteks hubungan antarmanusia (yang berbeda suku, ras dan agama) itu, Allah SWT juga membekali kita dengan aturan (berupa perintah dan larangan) lainnya yang sejatinya merupakan suatu kebenaran universal yang bisa diterima oleh berbagai kalangan manusia di muka bumi ini. Misalnya perintah untuk memelihara hubungan kasih sayang di antara sesama manusia (Q.S. 4: 1).

Sedangkan yang berupa larangan di antaranya adalah agar kita jangan melakukan tindakan saling mengolok-olok (mencela) satu dengan lainnya, juga jangan berprasangka buruk (Q.S. 49: 11-12). Subhanallah, sungguh, aturan yang telah ditetapkan Allah SWT dan yang dicontohkan Rasul-Nya, sejatinyalah untuk kebaikan kita sendiri yang tentunya sangat bermanfaat jika diamalkan dalam konteks hubungan di antara sesama saudara sebangsa.

Adalah Rasulullah SAW yang dengan gemilang memberikan contoh kepada kita, betapa beliau telah berhasil mewujudkan masyarakat yang toleran, saling menghormati dan saling membantu satu sama lain dalam melakukan kebaikan. Termasuk bahu membahu dalam berperang mempertahankan serbuan musuh, kendati mereka berbeda-beda suku, bangsa dan agamanya.

Masyarakat yang dibangun Rasulullah SAW di Madinah itulah yang oleh para sejarawan (termasuk yang non Muslim), menyebutnya sebagai contoh masyarakat sipil yang ideal. Kita pun menyebutnya sebagai masyarakat madani yang "kelahirannya" tentu dirindukan banyak orang itu. Sebuah masyarakat yang saling mengenal (dengan baik) dan saling berkasih sayang satu dengan lainnya.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)