Israel Hentikan
Serangan
Yerusalem
-
Israel
akan
menghentikan
serangan
darat
terbarunya di Lebanon
hingga
akhir pekan
ini,
sebagai pemberian
kesempatan
bagi
terciptanya gencatan
senjata,
ujar
pejabat pemerintahan
Kamis (10/8)
kemarin.
Langkah
ini
dilakukan sehari
setelah
Kabinet Keamanan
Israel
mengesahkan
sebuah
ekspansi besar
pada
konflik yang sudah
berlangsung
selama
satu bulan
itu.
Namun,
prospek
untuk diberlakukannya
resolusi
gencatan
senjata
cepat Dewan
Keamanan PBB
masih
buram, dengan
kondisi AS
dan
Prancis masih
tidak
sepakat dengan
jadwal
penarikan Israel dari
Lebanon.
Prancis
menginginkan Israel
untuk
menarik diri
segera
setelah konflik
berakhir.
Sementara
AS yang mendukung Israel
teguh
dengan pendirian agar
Israel tetap
tinggal
di Lebanon Selatan
hingga
pasukan kuat
internasional
dikerahkan.
Pengiriman
pasukan
itu nantinya
dapat
mengambil waktu
beberapa
pekan
hingga bulan.
Sementara
itu,
dalam pertempuran
Kamis
kemarin, Hizbullah
mengklaim
berhasil
menghancurkan 13 tank Israel
di Lebanon
Selatan,
berita
itu tidak
dikonfirmasi
militer Israel.
Rabu
lalu 15
tentara
Israel
meregang
nyawa
di Lebanon, jumlah
korban
terbanyak yang dialami
tentara Israel
hingga
kini.
Sementara
rudal-rudal Israel
menghantam target yang
tepat
untuk pertama
kalinya.
Rudal
menghantam
sebuah
mercusuar bersejarah
Kamis
kemarin.
Pesawat
mereka
juga menjatuhkan
selebaran
di Lebanon
Utara
sambil memberi
peringatan
kepada
truk-truk yang berjalan
di
pesisir jalan yang
menghubungkan
Lebanon
dengan
Suriah.
Di
Israel, roket
Hizbullah
membunuh
dua
warga Arab Israel, termasuk
seorang
bayi, kata
medis
setempat.
Dalam
pertemuan
intensif
selama
enam jam, menteri-menteri
Israel
menerima
berita
terbaru pada
jumlah
korban militer
mereka.
Staf
senior pemerintah
Kamis
kemarin juga
mengatakan
Perdana
Menteri Ehud
Olmert
memutuskan untuk
menghentikan
operasinya
hingga
akhir pekan.
Kampanye
militer
itu dapat
saja
dimulai lagi
lebih
cepat jika
Hizbullah
melancarkan
serangan
besar.
Menteri
kabinet
Rafi Eitan
menyebutkan
pemerintah
mengambil
keputusan
menunggu.
"Ada
pertimbangan
diplomatik,"
katanya
kepada radio Israel, saat
ditanya
mengenai penundaan
rencana.
"Masih
ada kesempatan
pasukan
internasional akan
tiba di
area ini.
Kami
sebetulnya
tidak
tertarik berada
di
Lebanon
selatan.
Kami
hanya
ingin menciptakan
perdamaian
di
wilayah perbatasan."
Pemerintah
yang menjalankan
misi
perang itu
malah
mendapat kritikan
dari
dalam negeri.
Tentara
dinilai
gagal untuk
menghentikan
kapabilitas
Hizbullah
untuk
menembakkan roket
di
Israel.
Pihak
gerilyawan melepaskan
170 rudal
menuju Israel
Rabu
lalu, hingga
jumlah total
rudal yang
sudah
diberondongkan mencapai
3.500 buah.
Dalam
kritikan itu
terungkap
penekanan
ke
dalam Lebanon tidak
akan
menghentikan
serangan
seperti
itu karena
rudal-rudal
dengan
jarak yang lebih
jauh
masih saja
mampu
mendarat di Israel.
(ton/ap)