Dari Warung Global
Interaktif Bali Post
Swastakan
PDAM supaya
Servisnya
Baik
MASIH
ada 5306
sambungan
baru PDAM (Perusahaan
Daerah Air
Minum)
Denpasar yang masuk
daftar
tunggu menjadi
pelanggan.
PDAM dari
sejak
berdiri selalu
pengakuannya
susah-susah
dan
sakit mengurus air.
Jangan
sampai PDAM menjadi
perusahaan
sekadar
nama
saja.
Kinerja
dan
sikap mental karyawan
perlu
dibenahi. Hal yang paling
ditakuti
adalah
bila seluruh
sumber air
di Bali
sudah memasuki
krisis air.
Solusinya PDAM
diswastanisasi
saja
kemudian buka
sumber air
baru yang
berkesinambungan,
terarah
dan terukur,
bekerjasama
dengan
instansi lain serta
masyarakat,
seperti
mengelola air laut.
Sekarang
ini
setiap kabupaten
mengelola
airnya
sendiri- sendiri
kenapa
tidak mengelola air
minum
untuk
Bali
secara
keseluruhan?
Demikian yang
terungkap
dalam
acara Warung Global
di Radio Global FM 96,5
yang dipancarluaskan
oleh Radio
Singaraja FM
serta Radio
Genta Bali.
Berikut
rangkuman
selengkapnya.
--------------------------------
Natri
Udiani
di Denpasar
mengatakan
dirinya
sebagai pelanggan
PDAM belum
pernah
mengalami kesulitan
menerima air
dan
semua lancar-lancar
saja.
Tapi
kalau
melihat banyaknya
antrean
sebanyak 500 daftar
sambungan
baru
maka ini
pasti
ada sesuatu yang
tidak
beres, mungkin
masalah
pendanaan, SDM, suplai
air.
Kalau 5000
pelanggan
belum
terpecahkan maka
bukalah
sumur-sumur baru.
Gede
Pande
di Denpasar
mengingatkan PDAM
Denpasar
harus
sadar bahwa
perkembangan
manusia
semakin hari
semakin
banyak kebutuhannya
akan
air begitu
tinggi
tapi pengelolaan air
tidak
mengalami perkembangan,
ini
akan menjadi
masalah.
Solusinya
buka
sumber air baru.
Jeri di
Kuta mengharapkan
wilayah
di Denpasar,
baik
Denpasar timur,
barat,
selatan dan
utara
masing-masing harus
punya
sumber air sendiri
untuk
kepentingan wilayah
sendiri.
Kenapa
Pelanggan PDAM
Denpasar
banyak yang
antre
karena masyarakat
sadar
sumur-sumur yang secara
pribadi
dimiliki sudah
tidak
sehat dan
tidak
layak lagi
untuk
dikonsumsi. Pegawai
PDAM hilangkan mental '79',
masuk
pukul tujuh
pukul 9
baca
koran.
Gung Ngurah
di
Denpasar menilai
sampai
detik ini air
di
rumahnya keluarnya
cuma se-kecrit
dan
lucunya pada
saat
pelanggan sudah
tidur
di tengah
malam
airnya lancar
dan
pada saat
dibutuhkan
pagi
sampai sore tidak
ada air.
Dia
pernah
usul agar kondisi
itu
dibalik, malam
tidak
ngocor paginya
keluar.
Itu
yang tidak
bisa
dilakukan PDAM Denpasar.
Solusinya
sedot air
laut,
buat secara
teknologi agar
bisa
mengubah air asin
menjadi
tawar.
Sementara
itu
Prianus di
Denpasar
mengingatkan,
jangan
sampai PDAM bangkrut
karena
tidak ada
bahan
baku
air lagi.
Air tidak
mengalir
menurut PDAM
penyebabnya
banyak,
salah satu
di
antaranya ada
pipa di
suatu
tempat yang dimatikan
oleh
orang iseng.
Kalau
ada
perubahan status seperti
dari
rumah tangga
tetapi
sudah menjadi
niaga
ini harus
ditertibkan.
Sutama
di
Kerobokan menambahkan,
di
Karangasem sudah
gundul
dan di
dalam
kota
Denpasar
bikinlah
penampungan air
hujan.
Harus
ada
upaya untuk
reboisasi
pada
lokasi-lokasi yang gundul.
Tanah-tanah
pemerintah yang
tidak
produktif bikinkan
penampungan air
saja.
Ariana
di
Denpasar mengatakan
yang antre
saja
sudah ribuan,
setelah
jadi pelanggan
dapat air
atau
tidak juga
belum
jelas.
Jadi yang
antre
dan yang sudah
jadi
pelanggan
sama
nasibnya,
tetap
membutuhkan air. Hal yang paling
ditakuti
adalah
bila seluruh
sumber air
di Bali
memasuki krisis air
serius.
Jangan sampai PDAM
menjadi
perusahaan cuma
sekadar
nama.
Juga
jangan sampai Bali 'mengimpor'
air bersih
dari
daerah lain. Solusinya
buka
sumber air baru yang
berkesinambungan
terarah
dan terukur,
bekerjasama
dengan
instansi lain serta
masyarakat.
Penghijauan
hutan
gundul hindari
eksploitasi
alam yang
berlebihan.
Made Jujur
di
Sanglah mengingatkan,
dari
dulu pertama kali
berdiri PDAM
selalu
pengakuannya susah-susah
dan
sakit mengurus air.
Jadi
kalau ada yang
beri
solusi agar mengajak
swasta
bisa gawat
lagi
karena
akan dibongkar
lagi
jalanan
kota
Denpasar.
Sekarang
ini
setiap kabupaten
mengelola
airnya
sendiri-sendiri, kenapa
tidak
mengelola air minum
untuk
Bali
secara
keseluruhan?
Solusinya
rampingkan
karyawan PDAM,
bina agar
profesional.
Ardana
di
Patih Nambi
Denpasar
menginformasikan
keluhan
pelanggan seperti
dirinya
sudah tidak
terhitung.
Mereka
mengeluhkan
kinerja
dan masalah air PDAM
yang tidak
mengalir.
PDAM malah
memberi
solusi untuk
berhenti
jadi
pelanggan.
Itu
lucu
dan ini
bukan
omongan pejabat yang
baik.
Sudira
di
Batuan lebih
condong
menyoroti sikap
mental karyawan PDAM agar
dibina
dengan baik
sehingga
profesional
.
Pegawai PDAM
terlalu
berjubel atau
kebanyakan
dan ada
yang disiplin
ilmunya
tidak sesuai
dengan yang
digeluti.
Permasalahan
kompleks
lainnya
adalah banyaknya
utang PDAM yang
harus
ditanggung yang jumlahnya
milyaran.
Sementara
itu
Sinda di
Jalan
Siulan menanyakan
planning PDAM secara
keseluruhan
di Bali
kurang.
Pernahkan PDAM
pada
masa-masa lalu
meneliti
dengan
seksama kapan air
di Bali
akan
bisa
bertahan dan
apa
pengganti bila
sumber air
habis?
Apakah
pernah
mengadakan penelitian
yang mendalam?
Kenapa
tidak
meniru inovasi
Jembrana
untuk
meminta bantuan
ke
Jepang untuk
mengelola
teknologi
pengolahan air
laut?
Bukan
solusi
bila yang diganti
adalah
pimpinan dan
manajemen.
Justru
pergantian pimpinan
terlalu
sering nanti
akan
membuat
masalah. Karena
pergantian
pimpinan
seperti
apa pun
sulit
membuat PDAM maju
dan PDAM
sampai
sekarang tetap
segitu-gitu
aja.
*
bram