kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Kliwon, 11 Agustus 2006

 Bali


Dari Warung Global Interaktif Bali Post

Swastakan
PDAM supaya Servisnya Baik 

MASIH ada 5306 sambungan baru PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Denpasar yang masuk daftar tunggu menjadi pelanggan. PDAM dari sejak berdiri selalu pengakuannya susah-susah dan sakit mengurus air. Jangan sampai PDAM menjadi perusahaan sekadar nama saja. Kinerja dan sikap mental karyawan perlu dibenahi. Hal yang paling ditakuti adalah bila seluruh sumber air di Bali sudah memasuki krisis air. Solusinya PDAM diswastanisasi saja kemudian buka sumber air baru yang berkesinambungan, terarah dan terukur, bekerjasama dengan instansi lain serta masyarakat, seperti mengelola air laut. Sekarang ini setiap kabupaten mengelola airnya sendiri- sendiri kenapa tidak mengelola air minum untuk Bali secara keseluruhan? Demikian yang terungkap dalam acara Warung Global di Radio Global FM 96,5 yang dipancarluaskan oleh Radio Singaraja FM serta Radio Genta Bali. Berikut rangkuman selengkapnya.

--------------------------------

Natri Udiani di Denpasar mengatakan dirinya sebagai pelanggan PDAM belum pernah mengalami kesulitan menerima air dan semua lancar-lancar saja. Tapi kalau melihat banyaknya antrean sebanyak 500 daftar sambungan baru maka ini pasti ada sesuatu yang tidak beres, mungkin masalah pendanaan, SDM, suplai air. Kalau 5000 pelanggan belum terpecahkan maka bukalah sumur-sumur baru.

Gede Pande di Denpasar mengingatkan PDAM Denpasar harus sadar bahwa perkembangan manusia semakin hari semakin banyak kebutuhannya akan air begitu tinggi tapi pengelolaan air tidak mengalami perkembangan, ini akan menjadi masalah. Solusinya buka sumber air baru.

Jeri di Kuta mengharapkan wilayah di Denpasar, baik Denpasar timur, barat, selatan dan utara masing-masing harus punya sumber air sendiri untuk kepentingan wilayah sendiri. Kenapa Pelanggan PDAM Denpasar banyak yang antre karena masyarakat sadar sumur-sumur yang secara pribadi dimiliki sudah tidak sehat dan tidak layak lagi untuk dikonsumsi. Pegawai PDAM hilangkan mental '79', masuk pukul tujuh pukul 9 baca koran.

Gung Ngurah di Denpasar menilai sampai detik ini air di rumahnya keluarnya cuma se-kecrit dan lucunya pada saat pelanggan sudah tidur di tengah malam airnya lancar dan pada saat dibutuhkan pagi sampai sore tidak ada air. Dia pernah usul agar kondisi itu dibalik, malam tidak ngocor paginya keluar. Itu yang tidak bisa dilakukan PDAM Denpasar. Solusinya sedot air laut, buat secara teknologi agar bisa mengubah air asin menjadi tawar.

Sementara itu Prianus di Denpasar mengingatkan, jangan sampai PDAM bangkrut karena tidak ada bahan baku air lagi. Air tidak mengalir menurut PDAM penyebabnya banyak, salah satu di antaranya ada pipa di suatu tempat yang dimatikan oleh orang iseng. Kalau ada perubahan status seperti dari rumah tangga tetapi sudah menjadi niaga ini harus ditertibkan.

Sutama di Kerobokan menambahkan, di Karangasem sudah gundul dan di dalam kota Denpasar bikinlah penampungan air hujan. Harus ada upaya untuk reboisasi pada lokasi-lokasi yang gundul. Tanah-tanah pemerintah yang tidak produktif bikinkan penampungan air saja.

Ariana di Denpasar mengatakan yang antre saja sudah ribuan, setelah jadi pelanggan dapat air atau tidak juga belum jelas. Jadi yang antre dan yang sudah jadi pelanggan sama nasibnya, tetap membutuhkan air. Hal yang paling ditakuti adalah bila seluruh sumber air di Bali memasuki krisis air serius. Jangan sampai PDAM menjadi perusahaan cuma sekadar nama. Juga jangan sampai Bali 'mengimpor' air bersih dari daerah lain. Solusinya buka sumber air baru yang berkesinambungan terarah dan terukur, bekerjasama dengan instansi lain serta masyarakat. Penghijauan hutan gundul hindari eksploitasi alam yang berlebihan.

Made Jujur di Sanglah mengingatkan, dari dulu pertama kali berdiri PDAM selalu pengakuannya susah-susah dan sakit mengurus air. Jadi kalau ada yang beri solusi agar mengajak swasta bisa gawat lagi karena akan dibongkar lagi jalanan kota Denpasar. Sekarang ini setiap kabupaten mengelola airnya sendiri-sendiri, kenapa tidak mengelola air minum untuk Bali secara keseluruhan? Solusinya rampingkan karyawan PDAM, bina agar profesional.

Ardana di Patih Nambi Denpasar menginformasikan keluhan pelanggan seperti dirinya sudah tidak terhitung. Mereka mengeluhkan kinerja dan masalah air PDAM yang tidak mengalir. PDAM malah memberi solusi untuk berhenti jadi pelanggan. Itu lucu dan ini bukan omongan pejabat yang baik.

Sudira di Batuan lebih condong menyoroti sikap mental karyawan PDAM agar dibina dengan baik sehingga profesional . Pegawai PDAM terlalu berjubel atau kebanyakan dan ada yang disiplin ilmunya tidak sesuai dengan yang digeluti. Permasalahan kompleks lainnya adalah banyaknya utang PDAM yang harus ditanggung yang jumlahnya milyaran.

Sementara itu Sinda di Jalan Siulan menanyakan planning PDAM secara keseluruhan di Bali kurang. Pernahkan PDAM pada masa-masa lalu meneliti dengan seksama kapan air di Bali akan bisa bertahan dan apa pengganti bila sumber air habis? Apakah pernah mengadakan penelitian yang mendalam? Kenapa tidak meniru inovasi Jembrana untuk meminta bantuan ke Jepang untuk mengelola teknologi pengolahan air laut? Bukan solusi bila yang diganti adalah pimpinan dan manajemen. Justru pergantian pimpinan terlalu sering nanti akan membuat masalah. Karena pergantian pimpinan seperti apa pun sulit membuat PDAM maju dan PDAM sampai sekarang tetap segitu-gitu aja. * bram


 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)