Israel Vs Hizbullah, makin Sengit
Beirut -
Bali
Post/rtr
DIGEMPUR ISRAEL- Bocah Lebanon tampak mencari sesuatu di
reruntuhan sebuah perusahaan yang digempur Israel di
Manara Al- Bekaa, Beirut timur Selasa (25/7) kemarin.
Gempuran
militer Israel yang menginginkan dua tentaranya
dikembalikan di wilayah Lebanon semakin ingar-bingar.
Tentara mereka bertempur saling lepas tembakan melawan
pejuang Hizbullah di sebuah kota di selatan Lebanon. Di
tempat terpisah jet tempur udara mereka melepaskan rudal
yang meratakan sebuah rumah dan menewaskan tujuh warga
sipil.
Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai 12 Juli
lalu, Israel memberikan batasan seberapa jauh tentara
dan tank mereka mampu merangsek masuk ke Lebanon.
Komandan Kolonel Hemi Livni Selasa (25/7) kemarin
mengatakan ia sebenarnya tidak mengetahui rencana "untuk
maju menerobos hingga 70 kilometer ke dalam Lebanon."
Sementara itu di Yerusalem, Menteri Luar Negeri AS
Condoleezza Rice menggelar pembicaraan dengan PM Ehud
Olmert. Perdana Menteri Israel ini kembali menegaskan
jika pihak mereka sebenarnya bertempur melawan Hizbullah.
"Kami
akan menghentikannya. Kami tidak segan untuk mengambil
langkah dan semua usaha terhadap para pejuang yang ingin
melepaskan ribuan roket dan rudal kepada warga sipil,"
tutur Olmert kepada wartawan sebelum berbicara dengan
Rice.
Kobaran perjuangan tak gentar juga dilemparkan oleh
Hizbullah. Dalam sebuah tayangan televisi Al-Manar grup
ini mengatakan para gerilyawannya melakukan pertahanan
habis-habisan di sekitar Bint Jbail, Lebanon selatan,
sebuah lokasi markas besar Hisbullah yang terus dicoba
dikuasai oleh Israel.
"Pejuang
disana melakukan perlawanan sengit dengan tentara elit
(Israel) dari Brigade Golani. Mereka berusaha maju
dibawah serangkaian bombardir dari darat dan udara,"
kata Al-Manar.
Dalam tur fase kedua Rice di Timur Tengah ini, ia
mencoba menerapkan sebuah rencana dengan menekan kedua
belah pihak agar mau menggelar gencatan senjata.
Kemudian pengiriman tentara internasional dan Lebanon di
wilayah Lebanon selatan untuk menghentikan serangan
pejuang Hisbullah menuju Israel.
Namun di Beirut Senin lalu, Rice menemui ketidak
sepahaman. Juru bicara Lebanon Nabih Berri, seorang
politisi Muslim Shiah yang dekat dengan Hisbullah,
menolak rencana Rice. Ia berkilah gencatan senjata
seharusnya segera dilakukan dan masalah lainnya dapat
dirundingkan selanjutnya.
Perdana Menteri Lebanon Fuad Saniora, juga mendukung
seruan Berri sambil memberikan kritik pedas terhadap
Rice, bahwa serangan-serangan Israel sudah membuat
negaranya hancur luluh.
Israel "sudah membuat Lebanon kembali mundur ke masa 50
tahun silam dan hasilnya adalah kehancuran Lebanon,"
ketus Saniora kepada Rice.
Namun setibanya Rice di Israel, ia kemudian memaparkan
bahwa dibutuhkannya keyakinan Hisbullah harus mundur
dari Lebanon selatan sebelum gencatan senjata dilakukan.
(ton/ap)