kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 26 Juli 2006

 Mancanegara


Israel Vs Hizbullah, makin Sengit
 

Beirut -
Bali Post/rtr
DIGEMPUR ISRAEL- Bocah Lebanon tampak mencari sesuatu di reruntuhan sebuah perusahaan yang digempur Israel di Manara Al- Bekaa, Beirut timur Selasa (25/7) kemarin.

Gempuran militer Israel yang menginginkan dua tentaranya dikembalikan di wilayah Lebanon semakin ingar-bingar. Tentara mereka bertempur saling lepas tembakan melawan pejuang Hizbullah di sebuah kota di selatan Lebanon. Di tempat terpisah jet tempur udara mereka melepaskan rudal yang meratakan sebuah rumah dan menewaskan tujuh warga sipil.

Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai 12 Juli lalu, Israel memberikan batasan seberapa jauh tentara dan tank mereka mampu merangsek masuk ke Lebanon. Komandan Kolonel Hemi Livni Selasa (25/7) kemarin mengatakan ia sebenarnya tidak mengetahui rencana "untuk maju menerobos hingga 70 kilometer ke dalam Lebanon."

Sementara itu di Yerusalem, Menteri Luar Negeri AS  Condoleezza Rice menggelar pembicaraan dengan PM Ehud Olmert. Perdana Menteri Israel ini kembali menegaskan jika pihak mereka sebenarnya bertempur melawan Hizbullah.

"Kami akan menghentikannya. Kami tidak segan untuk mengambil langkah dan semua usaha terhadap para pejuang yang ingin melepaskan ribuan roket dan rudal kepada warga sipil," tutur Olmert kepada wartawan sebelum berbicara dengan Rice.

Kobaran perjuangan tak gentar juga dilemparkan oleh Hizbullah. Dalam sebuah tayangan televisi Al-Manar grup ini mengatakan para gerilyawannya melakukan pertahanan habis-habisan di sekitar Bint Jbail, Lebanon selatan, sebuah lokasi markas besar Hisbullah yang terus dicoba dikuasai oleh Israel.

"Pejuang disana melakukan perlawanan sengit dengan tentara elit (Israel) dari Brigade Golani. Mereka berusaha maju  dibawah serangkaian bombardir dari darat dan udara," kata Al-Manar.

Dalam tur fase kedua Rice di Timur Tengah ini, ia mencoba menerapkan sebuah rencana dengan menekan kedua belah pihak agar mau menggelar gencatan senjata. Kemudian pengiriman tentara internasional dan Lebanon di wilayah Lebanon selatan untuk menghentikan serangan pejuang Hisbullah menuju Israel.

Namun di Beirut Senin lalu, Rice menemui ketidak sepahaman. Juru bicara Lebanon Nabih Berri, seorang politisi Muslim Shiah yang dekat dengan Hisbullah, menolak rencana Rice. Ia berkilah gencatan senjata seharusnya segera dilakukan dan masalah lainnya dapat dirundingkan selanjutnya. 

Perdana Menteri Lebanon Fuad Saniora, juga mendukung seruan Berri sambil memberikan kritik pedas terhadap Rice, bahwa serangan-serangan Israel sudah membuat negaranya hancur luluh. 

Israel "sudah membuat Lebanon kembali mundur ke masa 50 tahun silam dan hasilnya adalah kehancuran Lebanon," ketus Saniora kepada Rice.

Namun setibanya Rice di Israel, ia kemudian memaparkan bahwa dibutuhkannya keyakinan Hisbullah harus mundur dari Lebanon selatan sebelum gencatan senjata dilakukan. (ton/ap)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)